Friday, December 24, 2010

PREDATORS (2010)


Another movie tentang karakter yang satu ini, dan kalo gua bilang sudah mulai membosankan. Setelah muncul dalam Alien vs Predator yang sebenarnya bisa memberikan nilai lebih namun hanya menelurkan hasil yang biasa-biasa saja bahkan sekuelnya AVP : Requiem yang bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Kini karakter ini kembali bersolo karir lagi, berharap bisa lebih gegap gempita dengan ditambah huruf S di akhir judul sehingga menjadi plural. (alias lebih dari satu)


Setting tempat kembali ke hutan lebat. Tokoh utama diserahkan ke tangan Adrien Brody. Actually bikin gua penasaran apakah lebih menarik jika dimainkan oleh aktor watak Brody. Hasilnya, bagian awal cukup memberi kesan apalagi suara Brody sedikit dibuat lebih berat. Ditambah hasil analisanya yang cukup menarik. Setelah 30 menit lewat, film ini sudah kehilangan daya tariknya. Ide yang cukup jitu untuk tidak menampilkan wujud predator di awal film, cukup menghemat biaya. Nimrod Antal sang sutradara terjebak dengan film-film sejenis, yang pemeran utamanya selalu terpisah. So tipikal. Sebenarnya nama Robert Rodriguez sebagai produser cukup menjanjikan karena biasanya apa yang terjadi dalam karakter-karakter filmnya Rodriguez dan Tarantion sulit ditebak. Namun disini twist yang ada tidak cukup membuat kaget atau bahkan mungkin sudah tertebak.

Laurence Fishburne bermaksud menjadi unik apalagi dengan teman bayangannya, well sudah keduluan oleh Wilson-nya Tom Hanks di Cast Away. Sebagai cameo jelas Fishburne tidak memberikan arti apa-apa apalagi kalo dia dinyatakan sebagai pemeran pendukung, jelas mubazir.

Mungkin Nimrod bermaksud untuk membuat sedikit film Predator yang beda, mungkin terinspirasi oleh Fincher dalam Alien 3, dimana atmosfer film lebih bukan ke sisi aksi atau horror tapi ke aspek psikologinya. Namun menurut gua film ini tanggung banget, apalagi sesudah 30 menit pertama, jelas sudah hilang arah.

Monday, December 20, 2010

THE SOCIAL NETWORK (2010)


Facebook sangat-sangat fenomenal. Hampir semua orang, baik tua dan muda sekarang punya account facebook. Gua juga punya. Dulu sempet bikin tapi hampir tidak pernah digunakan, tapi sekarang tiap connect ke internet pasti facebook-lah yang gua buka pertama kali. Luar biasa.
Berdasarkan buku yang berjudul Accidental Billionaires yang ditulis oleh Ben Mezrich, maka dibuatlah film oleh sutradara David Fincher, yang menceritakan Marc Zuckerberg (creator Facebook).



Di awal film, gua dibuat terkagum-kagum dengan gaya bicara Jesse Eisenberg yang cepat seakan-akan kantong udaranya ga pernah habis. Bahkan dialognya pun terdengar penuh kesinisan ditambah tatapan matanya yang ingin mengatakan kata-kata dari dalam hatinya yang seakan-akan bertentangan dengan apa yang keluar dari mulutnya. Satu poin yang bagus dalam film ini menurut gua. Andrew Garfield (pemeran reboot Spiderman yang lagi diproduksi) cukup bermain baik disini sebagai teman baiknya Zuckerberg yang bernama Eduardo Saverin. Menurut gua, tampaknya dia cocok juga bermain sebagai Peter Parker muda. Pemain lainnya yang cukup menarik perhatian adalah Justin Timberlake sebagai Sean Parker. At least, dia bisa keluar dari bayang-bayang seorang penyanyi. Mungkin ke depannya, Timberlake bisa lebih memerankan karakter yang lebih menguras kualitas aktingnya.


Alur cerita dibuat sedikit bolak-balik. Tidak memusingkan sebenarnya, hanya mungkin agak bingung timelinenya antara kasus dengan Eduardo dan kasus dengan Tyler dan Cameron Winklevoss (katanya pemeran dua karakter ini bukan kembar tapi yang satunya lagi memakai CGI agar wajahnya mirip). Tapi selebihnya cukup bisa dinikmati. Walaupun menurut gua, film ini tidak punya klimaks dan akhir film pun tidak dibuat tuntas. Sejujurnya dibandingkan dengan film Fincher yang sebelumnya The Curious Case of Benjamin Button (TCCOBB). Meskipun gua tidak terlalu suka dengan TCCOBB, gua lebih suka itu daripada The Social Network (TSN). Namun masih cukup menarik buat gua sebagai pengguna Facebook, untuk mengikuti sedikit proses awal terciptanya jejaring sosial ini. Yang menjadi titik utama dari Fincher adalah bukan secara teknis terciptanya Facebook tapi lebih ke sisi pertentangan batin dalam hati Zuckerberg dan alasan utama kenapa Zuckerberg membuat Facebook. Bahkan ini bukan kisah hidup Zuckerberg tapi hanya mengambil momen-momen penting sebelum dan sesudah era facebook tercipta.
Penulis naskah Aaron Sorkin dan Fincher did a good job dan tidak terjebak dengan kerumitan istilah informatika, yang bisa membuat penonton yang awam bingung. Tapi mereka berhasil membuat kesederhaan proses itu (meskipun memang tidak detil) tapi membuat penonton cukup mengerti sedikit proses IT.

Diantara semua filmnya Fincher, yang gua suka (sudah nonton) hanya The Game yang dimainkan oleh Michael Douglas dan Panic Room (Jodie Foster). Orang banyak bilang Fight Club bagus, tapi gua belum pernah nonton, jadi belum bisa kasih komentar. Fincher biasanya banyak bermain di visualisasi apalagi TCCOBB tapi disini tidak terlalu terasa.
Gua penasaran dengan Sorkin, liat di IMDB ternyata dia yang bikin cerita A Few Good Men, dimana menurut gua ini salah satu film terbaiknya Tom Cruise. Eisenberg, hahaha…sori bro, gua belum pernah nonton filmnya dia kecuali ini, tapi kalo kita liat daftarnya dia ada maen di The Village-nya Shyamalan. (nanti gua tonton lagi deh, dia jadi apa disana). Sama dengan Andrew, gua tidak pernah nonton filmnya dia, padahal dia juga maen bareng Cruise di Lions for Lambs. What, gua juga belum pernah nonton satupun filmnya Timberlake. Parah nih gua. Oh kecuali denger suaranya di Shrek The Third.


Perlu dicatat penampilan Joseph Mazello yang jadi temannya Zuckerberg. Mazello ini dulu yang maen jadi Tim di Jurassic Park-nya Spielberg.

Thursday, December 9, 2010

THE ROCK (1996)


Sebenarnya gua suka semua film-filmnya Michael Bay. Tapi diantara sederetan film karya Bay yang memenuhi syarat dari segi komersil dan berbobot. The Rock lah yang menurut gua masuk kategori tersebut.

Ini adalah karya kedua Bay setelah besutan yang pertama (Bad Boys) cukup menarik perhatian moviegoers. Bisa dibilang waktu itu, sedikit sekali promosi film ini di Indonesia. Hampir semua tidak menyadari rilisnya film ini di Indonesia, termasuk gua (mungkin karena waktu itu, Bay belum setenar sekarang).


Dengan kerendahan hati, film ini berhasil membuat gua kagum. Betapa patriotisme gua muncul melihat adegan slow motion di awal film dengan iringan lagu dari Hans Zimmer yang terngiang-ngiang sampai sekarang. Gua bikin review ini juga sambil mendengarkan theme songnya.

Lalu kejar-kejaran antara Sean Connery dan Nicolas Cage di pusat kota cukup destructive dan menegangkan. Tapi di antara semua adegan, yang paling memikat gua adalah debat antara Morrison dengan Hummel di shower room dimana mereka saling berperang kata lalu...(tonton sendiri deh untuk menikmati “indahnya“ adegan ini)



Mengenai editing cepat dan dinamis memang sudah menjadi trademarknya Bay yang menurut gua membuat karya-karyanya memiliki cirikhas. Ditambah angle kamera yang berputar dengan karakter sebagai porosnya. Sedikit slow motion dan sekali lagi music score-nya Zimmer yang memorable. Bukan hanya itu saja, penampilan trio Connery, Cage dan Ed Harris yang menampilkan permainan akting mereka yang mantap. Tapi kalo disuruh milih siapa yang lebih unggul, gua pilih Harris untuk film ini. Btw, gua juga suka penampilan Michael Biehn disini, peran kecil tapi bawa efek “bagus” buat film.

Memang banyak film-film Bay yang lebih berjaya di box office, tapi tetap The Rock lah yang menurut gua yang sukses secara komersil dan mutu.

Tuesday, December 7, 2010

SKYLINE (2010)


Pertama kali liat posternya yang segede gajah di Ciwalk (dengan warna mayoritas biru), gua langsung tertarik dengan posternya yang langsung mengingatkan gua akan film Independence Day atau War of the Worlds. I always like film-film invasi alien tapi yang lebih bersifat universal yah, bukan yang lebih condong ke horor seperti film Alien.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah bujetnya yang cukup murah untuk film sejenis ini. 10 juta dolar. Bandingkan dengan 2012 yang 200 juta dolar. Kenapa gua tekankan dana pembuatannya karena hal ini bisa menjadi salah satu faktor untuk mengagumi film ini. Ide cerita memang bukan hal yang baru, apalagi tahun kemaren gua dibuat terkagum-kagum dengan District 9 yang menggunakan ide sama tapi cerita yang fresh. Strause Brothers (Colin dan Greg) memang pakar dalam special effect. Karena sebelum Aliens Versus Predator : Requiem, mereka mempunyai daftar panjang sebagai ahli special effect. Inilah salah satu masukan untuk sutradara-sutradara film fiksi bagaimana cara meminimkan bujet sehingga bisa digunakan untuk hal-hal lain.


Cerita film ini pun singkat sebenarnya hanya menitikberatkan ke sisi survival-nya. Jumlah pemain pun bisa dibilang sedikit dan bukan dari jejeran pemain terkenal. Mungkin anda akan menganggap biasa semua alien beserta pesawatnya (apalagi kini memang banyak bermunculan film-film yang hanya menampilkan sisi visual efek yang memanjakan mata) tapi perspektif kita akan sedikit berubah jika mengetahui berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk film ini. Yang pasti gua terkesan sekali dengan visualisasi yang tampil di layar bioskop. Tingkat ketegangan pun dapat gua rasakan. Hanya terus terang gua bingung dengan endingnya. Gua bingung apakah gua harus menyukai endingnya atau tidak. Karena di satu sisi, kok kayaknya endingnya bisa dibilang merusak semuanya tapi di sisi lain, gua merasa endingnya tidak jelek juga. Gua jadi inget ending District 9 yang bisa dibilang cukup membikin hati kurang enak (tipe ending yang gua suka).

Mengenai castingnya, gua juga hampir tidak mengenal semuanya. Yang gua tahu hanya Donald Faison karena gua pernah liat dia di Remember The Titans. Yang lainnya adalah manager hotel atau karyawan hotel, gua ga tau namanya, gua liat dia jadi jendral di The Expendables.


Bentuk fisik para kawanan alien disini, memang mengingatkan gua akan berbagai film seperti War of The World, Cloverfield bahkan sampai The Mist. Memang tidak terlihat orisinil tapi cukup memanjakan mata dan menegangkan. Sekali lagi, dengan bujet rendah, Strause Brothers sudah menyajikan visual efek yang luar biasa buat gua. Itulah yang terngiang-ngiang dalam benak gua, hebat dengan biaya segitu tapi sudah bisa membuat film fiksi alien dengan special effect yang tidak terlihat murahan. Bahkan gua sampai melupakan dari segi cerita dan lain-lain.

Gua berandai-andai bagaimana jika Strause Brothers diberi suntikan dana yang lebih besar. Mungkin mereka bisa membuat film ini lebih maksimal, lebih menggema, lebih megah lagi tapi sayangnya tetap dengan standar cerita yang masih biasa-biasa saja.

Friday, November 26, 2010

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 1 (2010)


Gua sudah baca bukunya dari 1 sampai 6. Sengaja gua ga baca dulu seri yang terakhir karena filmnya belum dirilis. Dan hal itu akan semakin lama terwujud karena filmnya dibagi dua dengan alasan karena semua unsur di novel bisa dimasukan secara maksimal ke dalam layar lebar. Tujuan yang baik atau ingin merekrut keuntungan yang lebih banyak. Hopefully karena alasan yang pertama.

Setelah kecewa dengan David Yates yang menggarap Order of Phoenix tapi membuat gua terkagum-kagum dengan Half Blood Prince. Kini Yates tetap memegang kursi sutradara. Terus terang adegan yang paling menyentuh gua adalah di bagian awal ketika Hermione mengeluarkan spell Obliviate (CMIIW). Disusul dengan adegan yang cukup seru di angkasa dan di jalan raya. Sisanya menurut gua… biasa saja dan bisa dibilang cukup membosankan, untung dibantu oleh landscape yang indah dan unik. Well, gua mungkin jangan menyimpulkan dahulu apakah film ini bagus atau tidak karena film ini hanya bagian pertamanya.

Seakan-akan bernostalgia dengan Angels and Demons, gua merasakan music score di film ini sangat mendukung sekali, hanya kok lama-lama tidak terdengar lagi gaungnya. Atau gua tidak terlalu memperhatikan lagi. Mungkin gua lebih terpesona dengan scene pemandangan yang diambil oleh


Memang shot yang diambil oleh Yates tetap keren bahkan dengan adegan tanpa dialog pun sudah cukup menggambarkan kesepian yang dialami oleh ketiga tokoh utama kita ditambah dengan adegan yang diakhiri dengan meredupnya adegan itu menjadi gelap (ada istilah sinema untuk adegan seperti ini ga?) cukup efektif.

Adegan penggambaran tiga bersaudara sebenarnya menarik hanya sayang sudah didahului oleh Hellboy 2 jadi berkesan tidak fresh.

Gua harus mengatakan bahwa untuk menonton film ini, jelas harus membaca bukunya dulu biar lebih memahami karena banyak karakter yang kurang diperkenalkan sehingga mungkin membuat penonton muggle (yang tidak membaca buku) pasti akan sedikit bingung mengenai tokoh-tokoh tersebut. Mungkin penulis naskah Steve Kloves mempunyai beban berat karena harus mengadaptasi lebih detil novelnya. Termasuk karakter-karakter baru dan karakter lama yang muncul kembali. So harap maklum kalo anda yang ga baca novelnya sedikit bingung. Dan kesetiaan pada novelnya mungkin yang menjadi penyebab pace film sangat-sangat lambat. Kalo kecepatan film selambat ini, kayaknya dua atau tiga sekuel lagi pun tidak cukup. (inget ya, gua belum baca novelnya)

Mungkin bagi yang belum baca novelnya agak mengalami kesulitan karena banyak karakter-karakter baru yang dimasukan ke film ini. Dan bahkan hanya tampil sebagai cameo lalu menghilang, mungkin peranannya diteruskan di jilid keduanya. Film ini berfokus pada kesendirian trio Harry-Hermione-Ron.


Jika yang mengikuti franchise ini dari awal, kita serasa melihat sebagian perjalanan hidup dari seorang Daniel Radcliffe, Rupert Grint dan Emma Watson. Menonton waktu mereka masih imut hingga sekarang ketika semua sudah beranjak dewasa. Memang benar bahwa mereka akan terus dikenang sebagai trio Harry-Ron-Hermione. (menghela napas) I am also getting old here. Time goes by. Gua curhat sedikit nih. Boleh kan?


Karakter lain pun banyak yang tampil hanya sekilas. Gua pun merasa kehilangan hubungan antara Ginny dan Harry, yang bagi gua seharusnya ini yang membuat cerita lebih menarik. Bahkan Voldemort pun hanya bintang tamu disini. Hanya Helena Bonham Carter yang masih cukup sakti menebar terror. Dan akting Jason Isaacs cukup lumayan. Alan Rickman tampil sebentar di awal.

Mungkin karena sebelumnya sudah digembar-gemborkan bahwa film ini akan dirilis dalam versi 3D (memang ga jadi sih) jadi banyak gua temukan beberapa adegan yang dibuat untuk membuat versi 3D lebih berasa (dari awal logo Warner Bros pun terlihat bahwa film ini dipersiapkan untuk 3D). Namun semua adegan itu masih cukup efektif untuk diputar dalam bentuk bukan 3D.
Mengenai Hocrux yang dibicarakan di film ini, kok Yates menggambarkannya seperti cincin yang dipegang Frodo yang akhirnya malah mengeluarkan sifat jahat dari pemegangnya. Nuansa seram dan kesepian banyak dibangun oleh Yates disini dengan bahasa gambarnya yang kebanyakan tanpa dialog. Itu hal yang cukup menarik buat gua di film ini. Terlalu bertele-tele di pertengahan film ditambah pace film lambat (atau mungkin memang novelnya juga seperti itu). Di seri ke tujuhnya ini pun film menjadi lebih keras dan lebih seram bahkan mungkin sudah bukan tontonan untuk anak-anak lagi sejak Prisoner of Azkaban.

Banyak adegan yang tidak diperlihatkan tapi diceritakan lewat narasi/dialog makanya tips dari gua, simak dengan penuh konsentrasi semua dialog yang ada di film ini karena banyak detil yang hanya diutarakan lewat dialog. Adegan humor pun banyak yang terlalu dipaksakan menurut gua, tapi tetap ada sedikit yang bisa memancing tawa (humornya lebih banyak di HP 6)

Yang juga patut dipuji dari film ini adalah penggunaan special efek yang sempurna dan termasuk banyak di film ini. Banyak tapi tidak berlebihan. Cukup detil menurut gua karena gua sangat menikmati setiap adegan yang menggunakan efek. Mungkin efek dari kebosenan karena hanya melihat tiga jagoan kita duduk atau beraksi di sekitar tendanya.


Menonton HP 7A ini hanya menarik di bagian awal saja menurut gua, Yates sangat berhasil sekali untuk adegan awal itu (adegan-adegan sebelum Bill Weasley menikah), dan mulai melemah selewat 10-15 menit awal. Hanya angle-angle kameranya lah yang masih membuat gua ingin terus menonton sampai habis. Kekuatan visualisasi dari Yates sangat luar biasa disini. Kekuatan mantra ajaib Potter memang luar biasa. Dengan hasil yang seperti inipun, gua masih tetap menantikan part-2nya.

Tuesday, November 16, 2010

FONG SAI YUK (1993)

Another movie yang gua tonton lebih dari sekali di bioskop. Bahkan untuk film ini, gua nonton tiga kali di bioskop. Mungkin ada yang tidak tahu judulnya karena di Indonesia beredar dengan judul King of Kungfu.

Jet Li memang harus berterima kasih kepada Tsui Hark karena berkat Once Upon a Time in China (Kungfu Master) nama Li kembali berkibar setelah era Shaolin Temple. Kali ini Li bekerja sama dengan Corey Yuen, kalo gua ga salah, inilah awal kerja sama Li dengan Yuen dimana kemudian mereka sering bekerja sama.

Kalo liat dari ide cerita, sudah banyak film martial arts yang menceritakan tentang Fong Sai Yuk. Tapi lewat pengarahan Yuen dan ketenaran Li waktu itu membuat film ini meledak dalam peredarannya. Memang patut gua akui, gua penggemar Li dan itu terjadi setelah gua menonton Kungfu Master. Gua begitu terpesona dengan luwesnya gerakan Li dan gaya akrobatiknya yang luar biasa. Disini pun, gaya pertarungannya tetap mantap hanya lebih kocak karena gaya koreography Yuen lebih jenaka dibandingkan Yuen Wo Ping. Menang Golden Horse dan Hongkong Film Awards untuk best fighting choreography. Gaya penyutradaraannya pun lebih konyol. Tapi untuk film ini, Yuen berhasil membuat sebuah film yang penuh humoris di awal tapi menjadi dramatis menjelang akhir

.

Bantuan dari para pendukung Li pun sangat menunjang. Pemeran ibunya Li (Josephine Siao), sangat kocak tapi kadang-kadang mengharukan. Kalo penggemar film silat jaman dulu beliau sangat populer sekali. Lalu musuh Li pun kali ini tidak sembarangan, jagoan kungfu juga, Chao Wen Cuo (Vincent Zhao). Ironisnya dialah yang menggantikan Li dalam peran Wong Fei Hung di Kungfu Master 4 dan 5.

Cerita patriotik Fong Sai Yuk dibuat dengan ringan tapi agak berat mendekati akhir. Selain perang Wong Fei Hung, peran inilah yang semakin melambungkan nama Li di pasar asia. Disini Li memerankan karakter yang lebih ceria bahkan ada gaya fight yang persis gayanya sebagai Wong Fei Hung. Tapi sebagai tips, lupakan saja sekuelnya yang sangat-sangat merusak film perdananya ini. Hanya adegan perkelahian di lanjutannya yang masih bisa dinikmati.

Wednesday, November 10, 2010

INDEPENDENCE DAY (1996)


Ini contoh salah satu film yang gua tonton dua kali di bioskop dalam dua hari berturut-turut malah. Gua sangat terkesan sekali dengan film yang menurut gua lengkap (ada dramanya, aksinya, haru, patriotik, segala macam ada).

Betapa luar biasa sekali, penampakan piring terbang raksasa pertama kali di layar yang begitu membawa aroma ketakutan yang mencekam. Tidak perlu menampilkan sosok alien untuk menakuti penonton. Visual efek luar biasa yang ditawarkan oleh Roland Emmerich dan Dean Devlin (waktu itu mereka masih bekerja sama). Film yang benar-benar dikemas dengan tidak berlebihan walaupun mungkin banyak yang bertanya-tanya apakah software alien bisa dirasuki oleh software yang digunakan penduduk bumi.

Setelah sukses dengan Universal Soldier (Jean Claude Van Damme), lalu Stargate (Kurt Russell). Emmerich dan Devlin memberikan atmosfer baru tentang alien lewat film ini bahkan Spielberg pun kagum dengan kreasi mereka. Film yang masih sulit ditandingi sampai sekarang padahal Independence Day (ID4) diproduksi 14 tahun lalu.


Mungkin bintang utama film ini adalah UFO super raksasa yang menyerang bumi. Tapi bisa dibilang lewat film ini nama Will Smith naek ke angkasa. Walaupun perannya disini masih harus berbagi dengan Jeff Goldblum dan Bill Pullman. Siapa yang tidak akah terinspirasi oleh pidatonya Pullman sebagai presiden Amerika Serikat. Salah satu pidato yang paling memorable sepanjang sejarah perfilman Hollywood. Hehehe lebay ga yah. Diantara mereka bertiga, memang hanya Smith yang masih terus exist di puncak.



Lihatlah pencapaian ID4, bujet hanya 75 juta dolar tapi meraup 817 juta dolar di seluruh dunia. Percayalah durasi film yang panjang (153 menit) tidak akan membuat anda kebosanan. Jangan dilihat tahun produksi film ini, tapi pencapaian visual efeknya masih spektakuler untuk ukuran jaman sekarang dan memang layak diganjar Oscar untuk Best Visual Effects.
Sangat disayangkan duet Emmerich-Devlin harus bubar setelah mereka membuat Godzilla dan Patriot pasca ID4. Beruntunglah Emmerich masih bertahan dengan 10.000 BC, The Day After Tomorrow dan 2012. Sekuel ID4 yang dulu digembar-gemborkan pun kini tidak kunjung dibuat.

Seakan-akan melepas image film Alien sebagai film horor layaknya James Cameron merubah nuansa alien lewat sekuelnya Aliens. Emmerich-Devlin tidak terpaku pada sosok alien untuk menakuti penonton, melainkan dia menanamkan benih ketakutan universal lewat adegan-adegan yang bahkan tidak mengekspos fisik dari sang alien. It works. (at least for me). Ditambah banyaknya variasi karakter/tokoh yang memang selalu menjadi favorit gua.
Kerinduan akan film sejenis ID4, War of The World mungkin akan sedikit terbayarkan lewat film baru yang akan rilis sebentar lagi Skyline. (mudah-mudahan tidak bikin gua kecewa)

Monday, November 8, 2010

CONSTANTINE (2005)


Lagi, mencoba me-review film-film yang masuk daftar favorit gua sepanjang pengalaman gua di bidang perfilman. Bisa dibilang sudah banyak asam garam yang gua makan selama ini. Asam gua dapet dari asinan yang sering gua makan selama nonton. Garam dari popcorn yang sering menjadi teman nonton gua. Apaan ini?
Kemaren gua sudah membuat review dari Speed yang dibintangi Keanu Reeves, kini gua mencoba film Keanu yang lain yaitu Constantine. Constantine berdasarkan Vertigo comic keluaran Hellblazer. Gua ga tau nih seluk beluk per-komikan. So let’s just get to the movie section. :)

Sutradara film ini, Francis Lawrence, di interviewnya, Lawrence mengatakan bahwa dia baru membaca komiknya ketika dia disodori scriptnya. Namun menurut gua sebagai penonton, Lawrence sudah melakukan hal yang luar biasa dengan Constantine. Unsur dark-nya terasa sekali apalagi ditambah karakter Constantine yang sinis. Unsur horornya memberikan atmosfer lain daripada film-film sejenis. Karena sebenarnya gua ga terlalu suka ditakut-takuti dan diberi shock therapy dengan sound yang tiba-tiba menghentak. Tapi gua sangat menikmati film ini. Penonton tidak perlu ditakut-takuti dengan adegan yang menampilkan make up yang seram atau adegan gory-gory yang tidak perlu untuk membuat mereka merasa ketakutan. Film ini salah satu contohnya. Banyak adegan-adegan “menipu” yang gua suka dari film ini. Itu juga termasuk poin lebih untuk film ini.



Ini kedua kalinya Reeves berpasangan dengan Rachel Weisz setelah Chain Reaction. Chemistry mereka yang terlihat “kikuk” di layar berhasil diperagakan dengan baik oleh mereka berdua. Meskipun jika dilihat bentuk fisik Constantine versi komik berbeda dengan Keanu. Gua bisa bilang Keanu cocok memerankan karakter John Constantine (dalam wujud yang berbeda). Hanya mungkin mimik mukanya kurang sinis. Kata-kata yang keluar dari mulut Constantinelah yang membuat gua menyukai film ini. I always like Reeves, dua film berikutnya patut ditunggu yaitu Passengers dan 47 Ronin.

Weisz tampil baik tapi bukan kualitas Oscar. Interaksinya dengan Reeves tampil cukup menarik. Bahkan banyak adegan yang gua kira bakal terjadi eh...malah ga. Ini yang bikin film ini jadi menggemaskan.

Sebelum tenar di Transformers, mungkin tidak akan menyadari bahwa Shia Labeouf maen di film ini. Karena disini Shia memang hanya sebagai peran pembantu. Sedikit trivia, kalo melihat versi deleted scene, sebenarnya ada Michelle Mognahan maen di film ini. Kalo di versi bioskop, mungkin Mognahan hanya muncul sekilas waktu adegan di rumah sakit ketika para half-breed disiram semprotan air. Nah di deleted Scenes, ada adegan Shia bertemu dalam satu adegan dengan Mognahan. Berarti Eagle Eye bukan pertemuan pertama kali mereka dalam satu scene.
Penampilan Peter Stormare sebagai Lucifer dan Tilda Swinton sebagai Gabriel cukup memberi warna yang positif untuk Constantine.
Film berdurasi 121 menit ini sangat sayang untuk dilewatkan, dengan jalinan cerita yang enak untuk diikuti serta special efek yang bagus dan tidak berlebihan, ditambah script yang kuat dan dialog yang pintar, chemistry antara Reeves dan Weisz yang “kaku”. Jadilah sebuah film bagus yang tidak bosan untuk ditonton lagi dan lagi. Malah gua jadi pengen baca komiknya.
Hasil box officenya adalah 230 juta dolar dari seluruh dunia dengan bujet 100 juta dolar.

Wednesday, November 3, 2010

SAVING PRIVATE RYAN (1998)


Pertama kali, gua nonton film ini. Terasa tidak terlalu menarik. Meskipun memang adegan awal yang sangat mengguncangkan sangat menyerap dalam benak gua (salah satu adegan perang yang sangat luar biasa, menurut gua). Begitu nonton yang kedua kali, adegan awal lebih terasa lagi guncangannya. (tetap salah satu adegan perang yang bagus sekali). Musiknya yang terasa sangat menyentuh sekali, membuat gua langsung menjadikan film ini masuk daftar favorit gua.

Cerita film yang berdasarkan kejadian nyata, hanya nama tokohnya diganti disini. Sesuai judulnya, menyelamatkan prajurit Ryan. Dengan ide cerita yang sederhana, Steven Spielberg membawa kita ‘menikmati’ sebuah film tentang Perang Dunia I. Begitu detilnya Spielberg menggambarkan keadaan perang yang cukup realistis. Sehingga gua merasa benar-benar berada di medan perang yang sesungguhnya. Hampir sama waktu gua menonton karya Spielberg yang lain Schindler’s List (SL). Begitu pandainya Spielberg meramu adegan demi adegan sehingga membuat SL dan Saving Private Ryan (SPR) sangat-sangat penasaran untuk diikuti.

Pemeran utamanya, Tom Hanks sudah tidak diragukan lagi performanya. Sudah menang Oscar lewat Philadelphia dan Forrest Gump. Aktingnya memang bagus tapi tidak istimewa disini. Dengan dukungan aktor-aktor kuat seperti Tom Sizemore, Ted Danson, Matt Damon, Paul Giamatti, Vin Diesel, Giovanni Ribisi dan Edward Burns. Pengen melihat wajah-wajah mereka lebih muda 12 tahun, lihatlah film ini.


Tidak banyak film perang yang bagus, tapi yakinlah bahwa SPR adalah salah satunya. Jika anda menyukai karya Spielberg, SPR harus masuk dalam tontonan anda. Jika anda penggemar Hanks, sangat sayang untuk melewatkan film ini. Film dengan bujet 70 juta dolar dan sudah menghasilkan 481 juta dolar di seluruh dunia.

Sebagai tambahan film ini mendapat Oscar untuk Best Director, Best Cinematography untuk Janusz Kaminski (yang gua perhatikan juga memang pengambilan gambarnya keren banget tapi tidak berlebihan), Best Film Editing, Best Sound Editing dan Best Sound.

Friday, October 29, 2010

SPEED (1994)


Tidak banyak film yang gua tonton di bioskop lebih dari sekali. Speed merupakan salah satu film yang gua tonton dua kali di bioskop. Begitu gua terkagum-kagum dengan pace film ini yang cepat sehingga membuat film ini terasa seru (non-stop dari awal sampai akhir)

Yang patut diacungi jempol adalah sang sutradara, Jan De Bont. Ditambah ini adalah besutan pertamanya sebagai director dimana sebelumnya dia bekerja sebagai penata kamera film-film aksi seperti Die Hard, The Hunt for Red October, Basic Instinct, Lethal Weapon 3. Hasil pengalamannya sebagai director of photography benar-benar dicurahkan lewat film ini. Lihat saja gerak kameranya yang dinamis, mengambil adegan-adegan menjadi lebih “lincah” yang menambah nilai film ini. De Bont bisa dibilang sangat-sangat berhasil membuat sebuah film aksi dengan cita rasa yang cukup tinggi, sehingga membuat gua memasukkan film ini ke daftar film favorit gua. Bahkan setelah Speed, nama De Bont tambah meroket berkat Twister yang berhasil masuk box office. Hanya sayang film sekuel Speed 2 : Cruise Control (sebenarnya tidak perlu dibuat sekuel) gagal, hal ini parahnya malah menyeret film-filmnya De Bont sedikit merosot seperti The Haunting, sekuel dari Tomb Raider dan rencananya De Bont akan menggarap film kolosal Mulan. Selain menjadi sutradara, De Bont sempat menjadi produser dari film-nya Tom Cruise yaitu Minority Report dan film-nya Christian Bale, Equilibrium.
Satu lagi yang patut diberi pujian adalah Graham Yost sebagai penulis cerita, sudah membuat jalinan cerita yang padat, menegangkan penuh aksi. Karya berikutnya pun masih menarik ceritanya, Broken Arrow dan Hard Rain, lalu satu lagi film yang baru gua tonton, Mission to Mars. Joke-joke di film ini pun segar dan tidak dipaksakan.

Bujet film berdurasi 116 menit ini 28 juta dolar tapi penghasilannya di seluruh dunia cukup fantastis 350 juta dolar. Dengan tidak disangka-sangka, ternyata Speed memperoleh Oscar 1995 lewat Best Sound Effect Editing dan Best Sound. Dan memang music score bikinan Mark Mancina cukup menempel di telinga gua sampe sekarang.

Pemeran utamanya diperankan oleh Keanu Reeves. Setelah mulai terangkat namanya lewat Point Break (sutradaranya Kathryn Bigelow, ring any bells?). Lewat film ini nama Reeves kian melambung. Beruntunglah Reeves karena tadinya peran ini diperuntukan untuk Stephen Baldwin (salah satu adik Alec Baldwin). Kerja keras Reeves melatih ototnya tidak sia-sia bahkan potongan rambutnya yang super pendek menjadi trend waktu itu.

Bisa dibilang film ini jugalah yang mengorbitkan Sandra Bullock. Penampilannya yang “manis“ memang memikat penonton dan membuat audience menyukainya. Bisa dibilang Bullock berhutang budi pada film ini. Karena banyak list Bullock setelah film ini, bahkan penampilan sekilasnya Bullock dalam A Time to Kill menjadi bayaran termahal saat itu.

Yang tidak boleh dilewatkan adalah villainnya yang dimainkan oleh almarhum Dennis Hopper, yang setelah proyek ini, filmnya yang cukup menarik adalah Waterworld.
Hampir bisa dibilang semua pemain penting di film ini menjadi tenar berkat Speed termasuk partnernya Reeves yang dimainkan oleh Jeff Daniels yang bintangnya pun ikut terangkat meskipun kini tenggelam lagi.

So Speed termasuk film favorit gua dengan ide cerita yang menegangkan, bom di bis yang terpicu karena kecepatan bis melebihi 50 mil/jam, lalu kalo kecepatan bis berkurang maka bomnya meledak. Alur cerita seperti itupun sudah cukup memikat, namun cerita bukan hanya itu tapi ada hal-hal lain yang juga tidak kalah menarik. Memang mungkin kualitas para pemerannya bukan sekelas Oscar tapi sudah pasti Speed salah satu pelopor film dengan tema ledak-ledakan (bom). Bahkan waktu itu Speed di juluki kalo diartikan ke Indonesia kira-kira. Film aksi nomor satu.
Ada satu hal yang menganggu gua, gua uda cek di Laserdisc, VCD, DVD, tiap ditayangkan di televise bahkan di versi Betamax. Waktu nyonya tua meledak di bis, sebelumnya Traven (Reeves) diperlihatkan sedang memegang bahunya tapi sepersekian detik kemudian Traven tidak terlihat sedang memegang bahunya. Hal ini yang sedikit mengganggu setiap gua nonton film ini.

Thursday, October 28, 2010

DISTURBIA (2007)


Adegan kecelakaan di awal film cukup mengagetkan. Gua salut dengan adegan kecelakaan mobil Hollywood masa kini. Betul-betul terlihat nyata dan dengan dibantu oleh sound yang dahsyat membuat adegan itu terserap beberapa menit sebelum menghilang. Screenplay yang ditulis oleh Christopher B. Landon dan Carl Ellsworth menawarkan ide lama yang segar di awal film sampai pertengahan film. Lalu semua seakan-akan kembali ke atmosfer usang yang sering menjadi trend film-film sejenis. Atau mungkin ini salah sang sutradara D.J. Caruso, yang sangat bagus di awal tapi terjebak dengan rutinitas film bergenre sama. You know, tokoh antagonis bisa ada dimana-mana dan sangat-sangat kuat. Boring. Untung film hanya berdurasi 105 menit.

Bayangkan semua terjadi di sekitar rumah Kale. Kalo dibuat dengan tidak “pintar“, penonton akan gampang dibuat bosan. Namun hal ini tidak terjadi di paro pertama film. Gua sangat ingin mengikuti apa yang akan tersaji di menit-menit berikutnya. Dan film ini kehilangan “kesaktiannya“ di paro akhir. Bahkan penampilan Ashley (Sarah Roemer) pun tidak membantu lagi. Tidak menggemaskan lagi.


Sang ayah diperankan oleh Matt Craven (dia ini cameo atau bintang tamu yah). Lalu sang ibu diperankan oleh The Trinity, Carrie Ann-Moss. Masih terbayang di benak gua sebagai Trinity. Tendangan melayangnya memang mantap. Well disini dia hanya seorang ibu biasa.

Bahkan kesan pertama gua melihat Mr. Turner (David Morse), adalah tertawa dengan potongan rambutnya Dan sayangnya hal itulah yang terjadi, gua nyengir terus begitu Mr. Turner muncul di layar. Mr. Turner...Mr. Turner...

Sebenarnya film sudah menarik dengan memasukkan peralatan modern yang digunakan oleh Kale dan temannya, Ronnie (Aaron Yoe). Hal ini menambah modernitas dalam film sehingga kaum muda akan tertarik. Dan buat gua, itu sebuah ide yang bagus. Hanya kebodohan-kebodohan kecil yang terlihat rancu (tidak dijelaskan di film) ketika bunyi kaca atau percikan listrik, apakah benar bisa terdengar sampai ke luar. Bikin gua sedikit bingung. Tapi anggaplah terdengar sehingga membuat film ini menjadi lebih mendebarkan. Bisa dibilang, adegan-adegan menegangkannya kurang panjang sehingga kita masih diberi waktu untuk menghela napas. Harusnya tancap terus. Dan bersamaan dengan itu, durasi film dikurangi lagi 15 atau 20 menit. Maka, pas lah ramuan untuk film ini.

Banyak yang mengatakan Disturbia adalah versi baru dari Rear Window-nya Alfred Hitchcock. Gua ga bisa komen karena gua belum nonton film itu.


Walaupun demikian, ada hal-hal bagus di film ini. Di awal, Shia bisa mengekspresikan bagaimana ketika dia melihat ayahnya meninggal. Tanpa dikasih liat pun, kita bisa menebak apa yang terjadi. Juga ketika dia masuk lagi ke ruangan bapaknya, lalu ketika dia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Gua dapet ekspresinya. Dibandingkan film ini, gua lebih suka duet Caruso dan Shia di film selanjutnya, Eagle Eye.

Gua suka penampilan Shia disini. Dia bisa membuat kita bersimpati. Sikap humorisnya yang malu-malu terlihat. Ketakutannya tergambar dengan pas. Jelas dia memang salah satu bintang masa depan. Film berbujet US$ 20 juta ini berhasil mengeruk US$ 117 juta di seluruh dunia. Dan gua memuji Caruso yang berhasil memaksimalkan bujet untuk membuat film yang menarik (sekali lagi, diluar terperangkapnya film ini dengan film bergenre sama). Di luar hal itu, gua menganggap film ini diatas rata-rata (sedikit aja)

Friday, October 22, 2010

HEIST (2001)


Film tentang pencurian yang langsung teringat dalam benak gua adalah Thomas Crown Affair (TCA)-nya si Pierce Brosnan. Ga tau kenapa ini yang langsung terlintas, mungkin karena kemaren baru baca bahwa film ini bakal ada lanjutannya atau memang karena film ini berkesan untuk gua.


Intrik tipu menipu antar sesama pencuri sangat menarik, dan gua bingung kenapa yah hanya TCA yang gua inget, oh…gua inget satu lagi Entrapment-nya Sean Connery. Heist mempunyai deretan bintang yang cukup menjanjikan, Gene Hackman, Delroy Lindo, Danny Devito dan Sam Rockwell. Nama-nama yang sudah terkenal dengan aktingnya yang tidak perlu diragukan lagi.
Heist memiliki kesempatan yang bagus untuk menjadi film yang menarik hanya dengan modal para bintangnya saja. Hanya sang sutradara terjebak dalam bayangan intrik yang dibikin biar penonton bingung sehingga mengurangi sisi “pencurian”nya yang harusnya cukup menarik.
Inilah salah satu film yang semakin membuktikan jejeran bintang ternama belum tentu menghasilkan film yang bagus, menarik untuk ditonton sepanjang film. Bukannya jelek tapi tidak terlalu melekat di benak gua. Malah selama menonton, gua teringat-ingat adegan-adegan di TCA.

Filmnya termasuk lambat pacenya (walau ga terlalu lambat), adegan tembak-menembak pun tergolong biasa sekali dan bahkan tidak terlihat seru (menurut gua). Hanya yang pemeran cewek yang selalu kebagian nyamar cukup menarik juga triknya. Begitu gua tau nih cewek nyamar untuk apa, gua puji bagian yang ini. Sang sutradara David Mamet terkenal sebagai penulis The Untouchables, Hannibal. Mamet terlalu ‘santai’ dalam menggarap film ini sehingga begitu mendekati klimaks, dia terlalu terburu-buru sehingga menghasilkan ending yang terlihat biasa saja.

Film ‘low profile’ ini berbujet 39 juta dolar tapi hanya mendapatkan 28 juta dolar. Jika anda penggemar film pencurian, film ini bolehlah dikoleksi. Tapi jika anda mengharapkan film bagus dengan kumpulan akting-akting kelas berat, mungkin anda akan kecewa.

Sunday, October 17, 2010

LEGEND OF THE GUARDIANS : THE OWLS OF GA’HOOLE (2010)


Setelah X-Men trilogi selesai dirilis, muncullah spin-off nya yaitu Wolverine. Seakan-akan tidak mau ketinggalan setelah franchise Harry Potter hampir berakhir, muncullah spin-off nya yaitu Legend of The Guardians : The Owls of Ga’Hoole (LOTG:TOOG) (haha…a bad joke). Cerita tentang burung hantu yang bisa bertingkah-laku seperti manusia bahkan bisa berperang.

Judulnya cukup panjang. It’s a mouthful. Ternyata ini berasal dari novel, sebuah trilogi. Novelnya berjudul Guardians of Ga’Hoole karangan Kathryn Lasky. Gua belum pernah baca bukunya. Namun gua cukup ngerti jalan ceritanya karena isinya ga macem-macem (bahkan sedikit predictable or membosankan). Latar belakang masing-masing karakter kurang dalam, mungkin sulit karena dipangkas sedemikian rupa menjadi film dengan durasi 90 menit. Perseteruan dua saudara pun tidak memberikan impact yang membekas buat gua. Sayang sekali, padahal ini salah satu faktor yang cukup menarik.

Film animasi yang ini digarap oleh Zack Synder. Sutradara yang sangat berpotensi menurut gua, gua suka karya-karyanya seperti Dawn of The Dead, 300 dan Watchmen. Bahkan kabarnya dialah yang akan menyutradarai film Superman berikutnya. Setelah menonton film ini, gua bisa membayangkan sebagian besar adegan film Superman nanti. Adegan slow motion. Not bad. I love slow-motion style.

Filmnya sendiri sangat menarik di awal apalagi mengikuti trademark-nya Pixar, selalu ada film pendek di awal. Dan berhubung film ini diproduksi oleh Warner Bros, maka filmnya pun adalah film baru dengan karakter lawas yang sering membuat gua terpingkal-pingkal (dalam bentuk animasi 3D lagi). Sebenarnya agak aneh melihat karakternya berbentuk burung hantu yang kepalanya besar, tidak cantik atau tidak indah tapi berkat “kelihaian” Synder, gerakan mereka apalagi waktu mereka bertarung luar biasa bagus (tidak semuanya sih) tapi yang paling menarik dari film ini selain slow motionnya adalah adegan perang yang cukup keren dan patut dinantikan di penghujung film. Lupakan kedalaman karakter yang mungkin tidak sempat diperdalam di film ini berkat durasinya yang cukup singkat untuk gabungan ketiga novel.

Mengenai tehnik animasinya jelas bagus. Bulu dan mata burungnya terlihat sangat real. Visualisasi laut, badai dan api pun menggetarkan. Hanya kenapa yah waktu gua nonton di Ciwalk XXI, waktu gambar diambil dari jarak jauh terlihat tidak fokus, agak sedikit berbayang-bayang. Tapi terlihat jelas kalo gambar diambil close up. Apakah pengaruh proyektornya yang kurang fokus? Atau karena gua nonton yang versi 2D bukan yang 3D sehingga mempengaruhi ketajaman gambar. (but I don’t think so)

Pengisi suaranya hampir semua tidak tertebak oleh gua, kecuali Hugo Weaving sebagai ayahnya Soren. Suaranya khas sekali. Bahkan suara Helen Mirren pun gua ga nyadar. Hampir semua berlogat Inggris tapi katanya pengisi suaranya kebanyakan aktor/artis Australia. Lagu yang dinyanyikan oleh Owl City dimainkan pada saat momen yang tidak pas, sayang sekali padahal lagunya lumayan asik.
Sudah lama tidak nonton animasi di bioskop setelah Up. Hanya sayang, film ini tidak cukup membuat dahaga gua berkurang. Ada sesuatu yang kurang (But I don’t know what it is). Menurut gua, film ini terlalu “kelam” buat anak-anak (namun tidak terlalu seram). Meskipun sudah banyak kok film animasi yang nonton bukan hanya anak-anak tapi malahan orang dewasa. Itu sudah hal yang lumrah. Gua kurang berkesan dengan para karakternya. Film animasi untuk dewasa seperti Waltz With Bashir masih lebih bagus dari ini. Mungkin Synder agak “grogi” membuat film animasi sehingga film sedikit tanggung walaupun ciri khas Synder masih melekat. Hanya adegan-adegan slow motion lah yang membuat film ini di atas rata-rata. Jika ingin mengajak anak, keponakan atau sepupu yang masih kecil, tolong berpikir lagi. Tapi jika anda penggemar Synder, jelas tiket anda tidak sia-sia karena anda masih bisa merasakan aroma Synder. Itung-itung pemanasan melihat karya Synder dengan karakter yang bisa terbang, karena proyek berikut Synder sesudah Sucker Punch adalah Superman.

Wednesday, October 13, 2010

THE ABYSS (1989)


Gua pikir “pertarungan” pertama antara Ed Harris dan Michael Biehn adalah dalam film The Rock. Ternyata mereka pernah bertemu di film ini sebelumnya. Jika melihat filmography Biehn, sebenarnya dia cukup beruntung bermain dalam film-film bagus garapan sutradara ternama. Sebenarnya dialah jagoan di Terminator, dia pun termasuk seorang protagonis di Aliens. Tapi nasib berkata lain, Biehn tidak kunjung tenar berbeda dengan Arnold Schwarzenegeer yang melesat naik setelah Terminator.


Well, enough about Biehn. Sekarang kita menuju ke kedalaman laut The Abyss. Sutradara film ini bukan sembarangan. Berhasil mencapai puncak tertinggi dalam tangga box office lewat Titanic dan berhasil memecahkan rekornya sendiri lewat Avatar. Iya, James Cameron. Jika dilihat dari tahun rilis film ini, 1989 dan jika kita lihat tehnologi yang dipakai hasilnya sangat luar biasa. Sentuhan magis di bawah air. Memang film yang bersetting di air memerlukan biaya yang tidak sedikit, seperti Waterworld, Speed 2 : Cruise Control termasuk juga Titanic. Dengan beban yang biaya cukup membengkak membuat sulit untuk kembali modal. Lain halnya dengan kasus Titanic yang luar biasa laris. Jadi bisa dibilang Cameron kurang berhasil di film ini, dengan bujet 70 juta dolar, menghasilkan 110 juta dolar dari seluruh dunia.

Mengenai filmnya sendiri tidak jelek, mungkin kurang hingar bingar ala Cameron, malah film ini bisa dibilang film yang tenang (iyalah, setting film kan di bawah air) Tapi tetap spektakuler yang menjadi ciri khas Cameron. Gua dibuat berkesan sekali dengan penggarapan Cameron yang menurut gua cukup sulit. Karena tehnologi belum cukup canggih untuk membuat underwater environment, makanya Cameron membuat fasilitas (2 tangki) yang cukup besar sedalam 12 meter untuk bisa menampung air masing-masing sebanyak 28 juta liter dan 9 juta liter. Ceritanya sendiri sebenarnya berjalan lambat, konflik pun tidak banyak hanya memang alur cerita konsisten.

Sesuai yang gua ceritakan di atas, selain Biehn juga ada Ed Harris. Mr. Ed ini memang sudah menunjukkan aktingnya yang luar biasa disini. Lagipula aktingnya selalu terlihat kuat dalam setiap filmnya. Gua selalu amazed dengan performancenya Harris. Seperti dalam Apollo 13, The Rock dan Truman Show.


Pemeran utama wanitanya adalah Mary Elizabeth Mastrantonio, setelah The Abyss, dia maen di Robinhood : Prince of Thieves dan The Perfect Storm. Terakhir bermain dalam serial TV Law & Order.

Cerita The Abyss sendiri mirip dengan Sphere-nya Dustin Hoffman, maksud gua settingnya yang sama di kedalaman laut. Sphere merupakan adaptasi dari novel karangan almarhum Michael Crichton yang diterbitkan tahun 1987.

Jika kita melihat film-film Cameron dari Terminator, Aliens sampe yang terakhir Avatar. Hampir semuanya memasukkan unsur-unsur yang sama seperti robot mekanik yang jelas di Avatar visualisasinya dipercanggih dan diperindah.

Yang perlu dicatat, film ini ditulis sendiri oleh Cameron dan diproduseri oleh salah satu mantan istri Cameron yaitu Gale Anne Hurd. Jadi menurut gua film sesederhana apapun di tangan Cameron bisa menjadi cukup luar biasa dan membuat gua terkagum-kagum dengan tehnologinya. Menurut gua film ini cukup direkomendasikan karena sedikit sekali film yang bersetting di bawah laut, kalo di laut sih lumayan banyak.

Friday, October 8, 2010

RESIDENT EVIL : AFTERLIFE (2010)



Setelah sekian lama, akhirnya kesampean juga nonton film ini. Mungkin karena sudah cukup lama, yang nonton ga sampe seperempat studio. Mulai bosen dengan Resident Evil? Kalo gua sih hanya sedikit mengendor di RE : Extinction. Alice, sang jagoannya terlalu sakti. Sampe bisa pake kekuatan telekinesis gitu. Males deh.

Karena telanjur di facebook gua pasang foto profile Resident Evil : Afterlife (berikutnya gua singkat jadi Afterlife), mau ga mau akhirnya gua tonton juga film ini, meskipun sejujurnya kemaren gua uda nyuruh mbaknya buka denah kursi yang Legend of The Guardians. Mengingat konsistensi gua di facebook hehehe, akhirnya gua minta yang Afterlife. Tempat favorit gua yaitu lima deret dari depan bagian tengah. Tempat favorit gua ini adalah hasil dari pengamatan menonton sejak tahun 1987 (memang harus diakui, gua sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman :D). Untuk aktor, mereka berperan di layar, untuk sutradara di belakang layar. Untuk gua cukup di depan layar (alias sebagai penonton).


Adegan awal, orang-orang berjalan di bawah guyuran hujan. Keren. Penyerangan Alice di Jepang, cukup keren sampai kesaktian Alice muncul lalu…(tonton sendiri deh). Berikutnya banyak adegan-adegan yang dibuat stylish dan keliatan sekali ditekankan untuk efek 3D (btw, gua nontonnya yang versi 2D). Sejujurnya, sampai mendekati akhir, gua suka dengan Afterlife, hanya memang karakter zombienya tidak terlalu dominan disini dibandingkan dengan 3 film pendahulunya. Bahkan muncul undead yang mulutnya membuka ala villain di Blade 2. Malahan ada Axeman yang kapaknya lebih gede dari senjatanya Cloud di Final Fantasy : Advent Children. Ditambah nanti ada karakter-karakter yang berpakaian putih-putih seperti di The Island. Mungkin Paul W.S Anderson, sang sutradara pernah menonton ketiga film tersebut. Gayanya Anderson memang tidak berubah, dia selalu meramu adegan demi adegan dengan cepat. Hampir terlihat di semua film-filmnya. Diantara semua filmnya, gua paling suka Event Horizon (Sam Neill), film tentang luar angkasa yang cukup menarik buat gua.

Atmosfer dan nuansa horornya terasa di film RE yang pertama, masih terasa di Apocalypse apalagi ada karakter Jill Valentine. Sudah mulai hilang di Extinction (tidak membantu walaupun ada tokoh Claire Redfield). Disini ada karakter baru yang masuk yaitu, Chris Redfield. Yang sedalam-dalamnya dari hati gua bilang, nih karakter kalo ga ada juga ga masalah. Malah dibilang merusak citranya Chris. Wentworth Miller ga banget deh jadi Chris. Tidak berasa kangennya dengan Claire (serasa baru 1 jam saja mereka tidak bertemu). Yang patut dicatat adalah penampilan Spencer Locke sebagai K-Mart yang gua pikir bakal menjanjikan di masa depan. Milla Jovovich sebagai Alice (gua suka potongan rambutnya disini). Claire Redfield diperankan oleh Ali Larter (tadinya gua ga suka, tapi disini cukup bagus kok).

Dejavu abis nonton ini. Yang pertama dejavu ke arah yang lebih positif, karena gua seperti merasa nonton The Matrix. Cukup efektif di beberapa scene tapi sisanya malah berkesan berlebihan dan eksekusi di layar jelek. Dan yang membuat dejavu ke arah yang negatif adalah gua teringat Ultraviolet (kebetulan sama-sama dimainkan oleh Jovovich), betapa spesial efek yang kurang sempurna sehingga membuat film menjadi kurang bagus. Dan sayangnya Violet dejavu yang sering gua rasakan ketika menonton Afterlife.

Alur cerita pun sekarang lebih ke arah konspirasi Umbrella (perusahaan bandel yang sampe 3 film pun belum mati-mati) yang menurut gua semakin jauh dari pakemnya. Penonton (gua) menonton film ini karena unsur horor (zombie) yang harusnya ditawarkan tapi malah menjurus ke teori konspirasi and blah…blah… Sebenarnya melihat Anderson duduk di kursi sutradara lagi membuat gua SEDIKIT berantusias menonton film ini. (gua tekankan sedikit). Format 3D tidak menarik minat gua. Memang ada beberapa bagian yang cukup bagus. Angle kamera yang diambil dari atas waktu pengepungan zombie di penjara bagus (hanya feel seremnya kurang dapet)

Satu lagi yang membuat film ini kurang berkesan. Villain utamanya Wesker, apalagi untuk adegan klimaksnya. What’s going on here? Ibarat makanan utama yang kurang enak ditambah desert yang ga jelas bentuknya.



Kesimpulan gua, nih film berkat stylishnyalah membuat gua menilai film ini lebih baik dari Extinction. And That’s it. Jika ingin menonton versi 3Dnya, silakan, tapi buat gua menonton 2Dnya sudah cukup. Jika anda penggemar gamenya, siap-siap kecewa dengan Chris Redfield. Ngomong-ngomong, kapan nih karakter Leon dan Ada masuk ke filmnya ? (yang menurut gua bakal ada lanjutannya lagi setelah Afterlife)

Ada yang perlu diperhatikan, waktu gua baca credit title, gua melihat ada satu nama yang membuat gua mengingat-ingat, perasaan nih orang ga ada di film tadi, dan ternyata ada sedikit adegan di bagian akhir. Jadi jangan cepat-cepat pulang.

Friday, September 24, 2010

PASSENGER 57 VS DROP ZONE

Sudah jarang liat Wesley Snipes di layar bioskop. Kebanyakan filmnya kini straight to DVD. Mungkin film terakhirnya berjudul Brooklyn’s Finest (gua belum nonton). Kebetulan kemaren gua nonton berturut-turut dua filmnya Snipes, yaitu Passenger 57 (1992) dan Drop Zone (1994). Sekedar nostalgia, dulu gua nonton Passenger 57 (P57) dalam bentuk LaserDisc.
Sedangkan Drop Zone (DZ) dulu pertama kali nonton lewat VCD.
Banyak yang bilang bahwa karir Snipes mulai memuncak lewat P57. Film yang bercerita tentang pembajakan pesawat yang lumayan seru. Diarahkan oleh Kevin Hooks. Kini kebanyakan Hooks banyak berperan dalam film serial TV seperti Prison Break, 24 atau Bones. Sebelum ada Air Force One, P57 termasuk film pembajakan yang cukup bagus meskipun tidak bisa dibilang spektakuler.
Mengenai DZ, hampir sama masih mengenai hal-hal yang berhubungan dengan ketinggian, lebih tepatnya mengenai skydivers. Digarap oleh John Badham. According to his filmography, jelas Badham lebih unggul dibandingkan Hooks. Ada Saturday Night Fever, Bird on a Wire (Mel Gibson) lalu Nick of Time (Johnny Depp) juga ada Point of No Return yang merupakan remake dari La Femme Nikita kalo gua ga salah. Dan menurut opini gua, memang DZ lebih menarik daripada P57. Sayangnya Badham pun sekarang hanya berkecimpung di dunia pertelevisian, dari Heroes, Criminal Minds, The Beast sampe Psych.

Mengenai bintang utamanya Snipes. Penampilan dia lebih baik di DZ daripada P57. Aksi tarungnya lebih mantap, jelas sesuai dengan karakternya yang seorang Marshall (ya kebalikan dari perannya disini, di U.S Marshall, Snipes yang diburu oleh tim Marshall yang dipimpin oleh Tommy Lee Jones). Soal akting jangan ditanya, Snipes jelas tidak dilirik Oscar. Kalo soal kemampuan bertarung terbaik Snipes menurut gua jelas dipegang oleh Blade 2, itupun menurut gua karena berkat penata laganya yaitu Donnie Yen dan sang sutradara Guillermo Del Torro. Yang kedua mungkin waktu Snipes beraksi di Art of War. (lucunya waktu naek pesawat di P57, Snipes membaca buku The Art of War). Sayangnya Snipes kini banyak beraksi di film-film kelas 2 seperti Jean Claude Van Damme dan Steven Seagal.
Lewat P57, banyak aktor aktris yang sekarang termasuk terkenal seperti Elizabeth Hurley, Bruce Greenwood dan Tom Sizemore. Bisa dibilang ini film Hollywood pertamanya Hurley. Film ini berhasil meraup 44 juta dolar di Amrik dan mendapat rating 5,5/10 di imdb.

Sedangkan DZ meraih 28 juta dolar di Amrik dengan bujet 45 juta dolar, sedangkan di imdb dapet score 5,2/10. Tapi menurut gua film ini lebih bagus dari P57, bahkan musiknya pun sangat bagus, apalagi adegan skydivingnya cukup menegangkan. Bisa dikatakan levelnya sedikit di bawah Terminal Velocity-nya Charlie Sheen.

Sedangkan antagonisnya di P57, Bruce Payne cukup keji sebagai villain (tatapan matanya menakutkan) dan di DZ, Gary Busey masih kalah setingkat dibandingkan Payne tapi untung tampangnya memang sudah licik.
Gua bikin review ini untuk mengangkat kembali nama Snipes di kancah perfilman Hollywood (hehe gayanya). Cukup mengejutkan jika melihat hasil box officenya Snipes bahwa tidak ada filmnya yang berhasil mencapai 100 juta dolar. Namun ternyata Snipes berhasil exist di Hollywood untuk beberapa waktu. Pencapaian paling tinggi di Amrik yaitu Blade 2 (82 juta dolar).

Monday, September 13, 2010

SKY CAPTAIN AND THE WORLD OF TOMORROW (2004)


Judulnya panjang yah. Bahkan mungkin terlihat tidak nyambung antara Kapten Angkasa dan Dunia Masa Depan. Film petualangan yang dibalut science fiction ini sebenarnya sangat menjanjikan jika tidak dibuat dengan black and white style ditambah brown (menyebabkan tidak terlihat kemegahan filmnya) seperti Sin City. Namun dijamin anda akan terperangah oleh visualisasi yang ditampilkan. Ceritanya sangat simple sekali (tidak jelek sebenarnya)

Sang sutradara, Kerry Conran. Film ini adalah debutnya. Termasuk luar biasa untuk ukuran sebuah karya awal. Andaikan film ini dibesut oleh Zack Synder mungkin hasil box officenya bisa lebih tinggi lagi. Mungkin film ini adalah salah satu film yang sutingnya hampir semuanya di dalam studio menggunakan blue screen. Para aktor pun tidak tahu bagaimana akan jadinya film mereka.


Hal pertama yang menarik gua setelah menonton film ini adalah adegan humor yang cukup efektif dan membuat gua tertawa. Tidak banyak tapi cukup efektif. Itu nilai plus film ini selain nilai artistik yang dibawa oleh film ini yang menurut gua sangat menarik sekali. Hanya sayang hitam-putih-coklat-nya membuat adegan terlihat tidak wah. Unik iya tapi tidak spektakuler jadinya.



Duet Jude Law dengan Gwyneth Paltrow sangat dinamis. Anda akan menyukai interaksi mereka berdua yang saling menyembunyikan perasaan mereka hanya sayangnya hal ini hanya diselipkan sekilas dengan singkat di antara adegan-adegan lain. (jadi tidak terlalu dominan). Angelina Jolie hanya tampil dalam beberapa scene (dan sayangnya tidak bisa menjadi scene stealer). Dengan kecanggihan teknologi pun, almarhum Sir Laurence Olivier dapat tampil di film ini. (kapan ya Indonesia bisa mengejar kecanggihan Hollywood, bahkan Hongkong pun belum bisa menandingi mereka)


Sedangkan cerita jelas menghibur saja tanpa beban apapun. Padahal esensi cerita di bagian akhir bisa ke arah yang lebih universal. Lebih ke arah patriotisme dan melibatkan emosi masyarakat dunia. Mungkin itu bukan tujuan awal film. Jadi kita hanya bisa menontonnya saja tanpa berharap lebih di bagian itu.



Conran mungkin kurang beruntung saja karena filmnya hanya mengumpulkan 57 juta dolar di seluruh dunia dengan dana yang lumayan besar yaitu 70 juta dolar. Jelas sebagai debutnya, Conran sudah sangat berhasil membuat suatu kreasi baru di dunia perfilman. Sampai sekarang belum ada lagi karyanya Conran. Jika Conran membaca tulisan ini, jangan menyerah, buatlah lagi karya baru, mungkin dengan modal yang lebih kecil. Semacam film pendek bisalah. Don’t give up, bro.