Sunday, September 15, 2013

MAN OF STEEL (2013)




Sebenarnya nontonnya uda lama banget.  Pertama kali muncul di layar lebar Indonesia, tanggal 13 Juni 2013, gua uda nonton.  Tapi karena kesibukan “menyelamatkan dunia”, akhirnya dengan tekad kuat sekuat baja, gua mencoba membuat review tentang Manusia baja ini.

Salah satu superhero favorit gua ya Superman ini.  Well, mungkin bukan salah satu, tapi dia lah favorit gua.  Dari jaman Superman The Movie, dimana Superman/Clark Kent dimainkan oleh almarhum Christopher Reeve lalu diperankan oleh Brandon Routh dalam Superman Returns, yang walaupun banyak tidak disukai oleh banyak orang, gua tetap suka.  Walaupun banyak muncul film superhero yang bisa dibilang sangat luar biasa seperti trilogi Batmannya Nolan, gua tetap tidak berpindah ke lain hati.  Ya namun tidak bisa dihindari Trilogi Batmannya Nolan sudah membuat sebuah standar baru bagaimana sebuah film superhero harus dibuat.

Karena gua suka Superman, bisa dibilang review ini mungkin agak sedikit subyektif, bukan agak dikit, mungkin banyak hal-hal yang subyektifnya.  Tapi jangan takut, yang baca review gua, biasanya review gua kan tidak menceritakan isi ceritanya.  Lagian, mungkin kebanyakan sudah pada tau tentang sejarahnya Superman.  Namun mungkin baru di film ini diceritakan lebih detil awal mulanya di planet krypton.  Membuat reboot Superman ini menjadi sesuatu yang sudah terlihat beda di awal.


No red underwear this time

Mengenai pemerannya sendiri, Henry Cavill.  Awalnya gua ga terlalu sreg dengan dia.  Menurut gua Brandon Routh sudah cocok kok menjadi superman dan Clark Kent di Superman Returns.  Tapi setelah melihat foto dan cuplikan trailernya, penilaian gua sedikit berubah, Cavill cocoklah jadi Superman.  Tapi apabila dia menjadi Clark Kent, nah penilaian gua terbukti memang dia tidak cocok, tapi ini menurut gua yah.  Sedangkan Amy Adams menurut gua sangat cocok menjadi seorang Lois Lane, wartawan cerdas dan tangguh  (dan tidak terlintas dalam pikiran gua untuk membandingkannya dengan Margot Kidder atau Kate Bosworth)  karena Adams memainkan perannya dengan pas menurut gua.  Karakter-karakter lainnya, misalnya Perry White kini diperankan aktor kulit hitam, Laurence Fishburne, perbedaan yang cukup signifikan.  Juga karakter teman kerjanya Jim Olsen digantikan oleh Jenny Olsen.  Mungkin pergantian beberapa karakter ini ingin memberikan nuansa baru bagi cerita Manusia Baja ini.  Tapi tidak mengganggu sebenarnya karena peran mereka bisa dibilang sangat minim. 

Peran yang menonjol adalah sang Ayah dari Superman.  Baik yang di krypton atau di bumi.  Dan sekedar trivia, kedua pemeran ayahnya pun sama-sama pernah memerankan karakter RobinHood di film.  What a coincidence.  Beruntung Clark Kent tidak tumbuh jadi Green Arrow.  Ayah biologis diperankan oleh Russell Crowe.  Ayah di bumi dimainkan oleh Kevin Costner.  Melihat penampilan mereka, well, gua lebih  terkesan dengan Costner karena beliau tampil lebih kharismatik menurut gua.  Akting sih biasa aja, yang gua maksud karakteristiknya disini lebih oke.

Sang villain diperankan oleh Michael Shannon.  Gua hanya hapal mukanya waktu dia tampil konyol di Bad Boys 2, so dia berhasil menurut gua memerankan karakter General Zod yang bisa dibilang bukannya jahat tapi “sangat mengabdi” pada pekerjaannya.

Perbedaan antara semua film Superman dengan Man Of Steel, well thanks to kemajuan teknologi.  Adegan kreasi komputernya jangan ditanya, pasti oke punya.  Tapi yang bikin heboh adalah adegan-adegan pertarungan “antar dewa” eh “antar alien” benar-benar tervisualisasikan dengan baik disini.  Anda akan terkagum-kagum atau terhenyak shock melihat adegan pertarungannya yang bener-bener dahsyat menurut gua.  Nah adegan-adegan inilah yang tidak terdapat di semua film Superman termasuk Superman Returns yang sebenarnya dibuat pada saat teknologi Hollywood sudah maju.  Jangan bayangkan pertarungan Superman dengan para tawanan krypton ini akan seperti di Superman II, sangat-sangat jauh berbeda.

Sebagai film yang gua antisipasi tahun ini, jelas lah karena gua penggemar Superman.  Film ini cukup berhasil membuat gua terpuaskan walaupun ada sedikit yang mengganjal, yang membuat gua tidak terlalu mengagung-agungkan film ini.  Namun kalo gua kasi tau apa hal yang mengganjal itu, takutnya akan membuat spoiler.  Jadi lebih baik gua simpan dalam sanubari gua yang paling dalam saja.

Zack Synder the director

Tapi harus diakui, Zack Synder sebagai seorang sutradara dengan Nolan sebagai sang produser, sudah banyak memuaskan para penggemar Superman dengan adegan-adegan dahsyat pertempuran antar para alien.  (yups Superman itu alien bukan manusia bumi).  Synder pun berhasil memadukan adegan-adegan flashback dengan sangat efektif.  Dengan hasil keuntungan yang tidak mengecewakan sebenarnya walaupun tidak bombastis amat.  Dengan sangat yakin, gua bakal menyaksikan sekuel dari Man of Steel di tahun-tahun yang akan datang.  But I still have to say, good work to Synder and Nolan for making a good superman movie.  (not great just good) and in a different style.
Kenapa gua bilang different style? Pertama film ini meskipun lebih menonjolkan bahwa Superman itu adalah, well mungkin lebih cocok Kal-El adalah seorang alien bukan mahkluk bumi, namun disini segalanya dibuat serealistis mungkin (tapi tidak bisa dihindari, dia masih tetap keturunan alien).  Disini pun Superman tampil sedikit sangar dan ganas.  Dan Forest of Solitude-nya itu ternyata #%@&()(( , sangat-sangat masuk di akal malahan.
Sebenarnya di Superman Returns pun, Bryan Singer sudah membuat nuansa Superman sedikit “gelap”.  Tapi mungkin bagi yang sangat mengenal Batman-nya Nolan yang dark, nuansa itu sedikit terasa disini, tapi memang Superman tidak bisa terlalu dipaksakan dengan tone dark karena dasarnya Superman itu lebih ke nuansa ceria.  Tapi ya ga apa-apalah kalo sedikit dibuat gelap buat gua, lagipula kalo nonton film di bioskop kan gelap-gelapan juga.
Satu hal yang sedikit mengganggu sebenarnya, judul film ini Man of Steel, dan isi film memang betul-betul menceritakan segala sesuatu tentang manusia baja, well harusnya judulnya Alien of Steel ya hehehe.    Jadi mungkin bagi yang belum mengenal siapa saja sih, karakter-karakter yang ada dalam kisah Superman mungkin agak sedikit kurang puas, karena cerita tidak memberikan ruang lebih untuk para karakter-karakter “kecil” lain.
Jadi makanya kesimpulan gua, Man of Steel adalah “pelengkap” dari film-film Superman sebelumnya, karena kalo tidak menonton film-film Superman sebelumnya, mungkin agak sedikit bingung dan kurang menikmati film ini.  Sedangkan tanpa Man of Steel, film-film Superman sebelum ini terasa kurang “nyawa” untuk mempretasikan kekuatan Superman yang ternyata benar-benar kuat.
Bagi yang sangat menyukai theme song Superman, dimana biasanya diputar di awal dan akhir, ketika Superman terbang dengan gagahnya setelah selesai “menyelamatkan dunia” kini tidak ada lagi theme song itu di Man of Steel.  Ya memang lagu tersebut tidak cocok kalo diputar di Man of Steel, mungkin itu juga yang membuat terasa ada yang kurang buat gua di film MOS.  Sebenarnya ada satu lagi hal yang kurang di MOS jika kita lihat film-film Supes sebelumnya, dimana sebenarnya hal itu salah satu daya tarik dari film Superman.  Tapi tidak akan gua bahas disini karena takut akan spoiler.  So sebagai film musim panas atau reboot Superman, Man of Steel cukup bertaji dan kabarnya akan ada sekuelnya yang bakal lebih heboh, judul sementara Batman Superman atau apa yah.  Intinya ada Superman sih :)

Thursday, February 14, 2013

THE IMPOSSIBLE (2012)





Salah satu genre film yang paling gua suka adalah genre disaster.  Namun jangan salah sangka, bukan karena gua suka special effect dari film jenis begini, meskipun terus terang memang untuk adegan disasternya kadang sineas yang terkait mampu menampilkan adegan yang spektakuler.  Tapi bukan itu inti kenapa gua suka film bertema bencana alam.  Yang gua suka adalah koneksi dan interaksi sesama karakter yang ada di film.  Itulah sebenarnya yang menjadi kunci sebuah film bencana mampu menarik minat gua disamping memang special efek yang tentu saja mendukung film tersebut.

Dipenghujung tahun 2004, Asia Tenggara mengalami suatu musibah yang sangat besar.  Tsunami menghantam Aceh dan sebagian pesisir Asia Tenggara.  Memang menunggu waktu sampai ada sineas yang membuat film dengan latar belakang peristiwa itu.  Ada film Korea yang berjudul Haundae, yang mengambil tema Tsunami, tapi terus terang, filmnya tidak jelek tapi kurang berkesan buat gua.  Lalu ada filmnya Clint Eastwood yang berjudul Hereafter,  temanya ada yang menyerempet tsunami yang menimpa pada salah satu karakternya.  Efeknya hmmm…menurut gua lebih realistis dibandingkan Haundae tapi sayangnya belum terlalu mengena di hati juga.  Mungkin juga ada film-film lain yang mengambil tema serupa dan gua tidak mengetahuinya.

Kini, tidak pernah gua dengar sebelumnya, muncul The Impossible yang benar-benar diambil dari kisah nyata, sebuah keluarga yang benar-benar mengalami kejadian Tsunami 2004 di Thailand. Satu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan 3 anak laki-laki mereka. 
Sang ayah dan suami diperankan oleh Ewan McGregor.  Sebenarnya dia mulai terkenal sejak Trainspotting, tapi gua mulai kenal dia di Nightwatch atau Star wars The Phantom Menace ya, gua lupa.  Terus terang aktingnya disini biasa saja, sampe dia mengeluarkan tangisan yang tertahan, dapet banget aktingnya disitu.

INI NIH WAJAH SANG SUTRADARANYA
Namun diatas akting semuanya adalah Naomi Watts, yang menurut gua tampil luar biasa, pantas dia mendapatkan nominasi aktris terbaik di Golden Globe.  Segala yang dipersembahkan Watts disini sangat superb sekali dan bagusnya semua itu didukung oleh penampilan lumayan apik dari anak sulungnya yang diperankan oleh Tom Holland.  Kedua karakter ini memang yang lebih dititikberatkan oleh sang sutradara J.A Bayona berdasarkan pengamatan super teliti dari gua.  Gua belum nonton The Orphanage, jadi gua belum bisa berkomentar banyak tentang bapak sutradaranya.
Meskipun ini berdasarkan kisah nyata tapi tetap aja ada beberapa adegan klise  dengan tujuan membuat penonton menahan nafas dan sedikit gemes.  Tapi buat gua kok adegan-adegan tersebut tidak terkesan pas di film.  Namun harus diakui ada beberapa adegan yang bikin haru, ya itu terutama adegan Ewan nangis terisak-isak.

Satu lagi  yang patut gua acungi jempol adalah adegan tsunaminya yang menurut gua, Di film inilah yang  paling realistis.  Tidak berlebihan efeknya bahkan malahan terlihat sangat nyata.  Bravo buat para kru special efeknya.  Dan adegan tsunaminya mampu memberikan efek betapa berbahayanya bencana ini kepada penonton.

DUET YANG PAS

So saran gua tontonlah film ini, karena disinilah kita bisa lebih merasakan arti sebuah keluarga.  Dan yang bikin gua salut, adalah perintah Maria untuk Lucas agar berbuat sesuatu yang berarti untuk orang lain walaupun diri sendiri sedang berada dalam kesulitan.  So jangan sampai tertimpa kesulitan atau musibah, baru kita menyadari arti dari sebuah keluarga.  Mungkin dengan menonton film ini, bisa memberi kita sebuah masukan yang sangat berharga, walaupun menurut kacamata gua, film ini tidak terlalu superb banget kecuali aktingnya Naomi Watts dan adegan tsunaminya dan oh lupa, satu lagi yaitu adegan nangisnya Ewan.

Monday, January 7, 2013

COMING SOON : EPIC (2013)



Kini 20th Century Fox Animation akan merilis sebuah film animasi lagi setelah sukses dengan empat seri Ice Age.  Dengan sutradara Chris Wedge, beliau pernah menyutradarai Ice Age yang pertama dan Robots.  Bagi yang sudah melihat trailernya, pasti akan sangat terkesan dengan graphisnya.  Hanya waktu gua nonton trailernya, langsung teringat dengan film animasi Pixar yang berjudul A Bug’s Life.  Serba hijau dan serba liliput hehehe.

Berdasarkan buku karangan William Joyce yang berjudul The Leaf Men and The Brave Good Bugs (scriptnya oleh Daniel Shere).  Namun katanya ceritanya banyak yang diubah, hanya karakter-karakternya saja yang sama.  Sebelumnya  Joyce pernah bekerja sama dengan Wedge dalam film Robots.  Ternyata baca di internet, Joyce juga yang membuat konsep karakter untuk A Bug’s Life (tuh kan instinct gua pas deh, gua bilang juga liat trailernya langsung teringat dengan A Bug’s Life).  Karakter utamanya yang bernama Mary Katherine diambil dari nama mendiang anaknya Joyce.  Bercerita tentang seorang gadis yang menciut dan terlibat perang antara the good and the evil dalam sebuah hutan.  Mirip-mirip Arthur dan The Minimoys yah.  Maybe.  Karena gua belum nonton Arthur and The Minimoys.

Pengisi suara Mary adalah Amanda Seyfried.  Gua curiganya dia akan sedikit bernyanyi di film ini, mengingat Seyfried pun bernyanyi di Mamma Mia! dan suaranya cukup bagus apalagi lagu Gimme Gimme Gimme.  Lalu ada Colin Farrell, Josh Hutcherson, Beyonce dan juga penyanyi Steven Tyler.
Sekali lagi Fox bekerja sama dengan Blue Sky studio yang juga membuat Ice Age, Rio, Horton Hears a Who.  Film Epic ini rencananya akan dirilis 24 Mei 2013.  Gua terhanyut liat trailernya karena salah satu faktor lagunya yang menurut gua pas banget.  Lagunya Snow Patrol yang berjudul The Lightning Strike menghiasi trailernya menjadi sangat keren.  Jangan lupa film ini ada dalam format 3D juga.

Ini link trailernya



Saturday, January 5, 2013

THE DESCENDANTS (2011)


Posternya cukup mengandalkan tampang Clooney doang

Salah satu aktor berkharisma Hollywood saat ini, mungkin gua bisa bilang salah satunya George Clooney.  Setelah awal-awal karirnya di pertelevisian, bermain dalam film seri ER.  Dan kini, kebanyakan dia bermain dalam film-film berat yang mengandalkan kekuatan aktingnya.  Salah satu contohnya ya film ini.  Dimana kalo gua tidak salah dia mendapatkan nominasi Golden Globe atau Oscar untuk kategori aktor terbaik dan sayangnya hanya menang di Golden Globe aja.  Lumayanlah.  Tambahan piala setelah dia menang sebagai aktor pembantu terbaik Oscar di Syriana dan menang Golden Globe sebagai aktor terbaik di O Brother, Where Art Thou (2000) dan aktor pembantu terbaik di Syriana (2005).  Gua pribadi suka Clooney di Peacemaker dan Up In The Air.

Tema cerita keluarga yang sebenarnya biasa-biasa saja, tapi mampu tampil dengan memikat berkat kemampuan beraktingnya Clooney yang tidak terlihat mumpuni padahal sangat superb.  Akting seorang suami yang mempunyai dua anak gadis remaja.  Ketika menonton film ini, gua langsung teringat sama salah satu film keluarga Amerika lainnya American Beauty. Well sedikit bocoran, agak-agak 11-12 sih mirisnya, itu sih pendapat gua.  Cerita tentang keluarga yang ternyata agak-agak kacau gitu.

Bisa dibilang film ini memang menyajikan kekuatan Clooney seorang karena bisa dibilang hampir semuanya pemain-pemain baru, mungkin hanya Beau Bridges dan Matthew Lillard yang cukup terkenal dan itupun bisa dibilang muncul sebentar saja.
Setting cerita sebenarnya indah, di Kepulauan Hawaii, yang mana merupakan salah satu destinasi favorit gua yang belum terealisasikan (entah kapan)  Namun ini bukan film tentang pemandangan indah, jadi tidak terlalu banyak diperlihatkan keindahan alam Kepulauan Hawai.  Justru disini diperlihatkan kehidupan masyarakat Hawai yang ternyata sama dengan kehidupan keluarga-keluarga lainnya di Negara-negara lain.  Review kali ini gua lagi senang menggunakan kata-kata kembar seperti film-film, awal-awal, biasa-biasa, agak-agak dan lain-lainnya, hehehe.  Sekedar informasi, film ini berdasarkan novel karangan penulis wanita, Kaui Hart Hemmings

Film Clooney terakhir yang gua tonton Up in The Air memberikan kesan yang mendalam buat gua.  Film ini pun hampir memberikan impact yang sama.  Cerita drama yang kadang-kadang sedikit memberikan candaan satir yang menggelitik gua untuk tertawa, film ini sama sekali tidak membosankan.  Mungkin sedikit dibawah Up in The Air yang setelah menonton masih dapat membuat gua merenung sebentar.

The director Alexander Payne

Sang sutradara Alexander Payne ternyata pernah menggarap About Schmidt, yang dibintangi oleh Jack Nicholson dan Sideways yang diperan utamai oleh Paul Giamatti.  Payne mendapat Oscar lewat Best adapted screenplay lewat film ini dan juga lewat Sideways.  Payne juga menang Golden Globe lewat Best Screenplay untuk Sideways dan About Schmidt.

Si Shailene Woodley yang menurut gua mampu mengimbangi permainan Clooney

Mungkin yang menjadi perhatian penonton adalah anak tertuanya Clooney di film ini Alexandra King yang dimainkan oleh Shailene Woodley (tadinya mau diperankan oleh Amanda Seyfried) tapi lebih cocok Woodley, bengalnya keliatan.  Kelak dia yang akan memerankan Mary Jane Watson di The Amazing Spiderman 2.  Lalu juga ada Nick Krause yang bermain sebagai Sid.  Karakter yang nyeleneh tapi bikin kocak menurut gua.  Ada beberapa bintang tamu seperti Beau Bridges, Matthew Lillard dan Judy Greer.

Sekali lagi, film drama dengan tema yang sebenarnya sudah biasa difilmkan tapi mampu diramu oleh Payne dengan baik sekali.  Hubungan keluarga yang kadang lucu tapi miris dan kadang juga bikin terharu mengalir dengan lancar tanpa dipaksakan.  Dan ingat Hawaii hanya merupakan TKP, bukan panorama Hawaii yang dikedepankan di film ini meskipun kita tetap akan dimanja oleh beberapa pemandangan indah Hawaii.  Dan patut diingat, tempat seindah apapun, kehidupan manusia tetaplah sama, penuh dengan lika-likunya.  Kembali lagi kepada individu masing-masing bagaimana cara menghadapi hidup sehingga hidup kita lebih bernilai sehingga tempat kita tinggal pun akan terasa lebih indah.  Dan untuk gua, film sederhana ini sangat tidak membosankan untuk ditonton.  Sudah menghasilkan 177 juta dolar di peredaran seluruh dunia.

Jika gua ditanya salah satu aktor Hollywood yang aktingnya bagus, lewat film ini tentu saja akan tambah membuat gua menjawab secara otomatis, salah satunya adalah George Clooney.  Dia merupakan salah satu aktor yang memulai dari film-film ringan yang beranjak naik bermain dalam film-film berkualitas.  Bravo for you, Mr. Clooney.  I am waiting for your next project.