Sunday, July 23, 2017

REAL STEEL (2011)



Kembali lagi membahas film lama yang sudah saya tonton beberapa kali tapi belum pernah saya coba bikin reviewnya.  Film basi iya tapi ga basi-basi amat, lagipula bagi penggemar film,  ga ada istilah film basi, bahkan film tahun-tahun jebot yang tidak berkelir pun masih dinikmati.  Iya kan?

Film ini bisa disebut film olahraga jaman sekarang, memakai gadget atau stick atau apapun itu, karena jelas anak-anak sekarang “berolahraga” dengan gadget.  Nah kini karakternya digantikan dengan robot yang benar-benar ada bukan dalam bentuk virtual.  Meskipun bisa dibilang film tentang olahraga boxing tapi keseluruhan film bukan terpaku pada hal itu.  Memang asyik melihat robot-robot saling beradu jotos seperti dalam Transformers.  Tapi sejujurnya setelah Transformers yang pertama, film-film lanjutannya entah kenapa sudah tidak terlalu menarik lagi.  Jadi awalnya agak pesimis ketika menonton film ini.  Tapi ketika pertarungan pertama berlangsung, Wait!!! Film ini ternyata beda, cukup menarik karena faktor manusianya cukup berperan dalam pertarungan.  Ditambah kerumitan berikutnya dengan munculnya karakter anak kecil yang ternyata anak dari peran utamanya yang diperankan oleh Hugh Jackman.  Sudah biasa cerita seperti ini tapi ternyata disinilah kekuatan film ini jika dibandingkan dengan Transformers. 

Shawn Levy sebagai sutradara mungkin tidak seheboh Michael Bay dalam meramu gegap gempitanya pertarungan para robot.  Mungkin pengaruh bujet atau pengaruh ukuran robotnya yang memang lebih mini dibandingkan para Autobots dan Decepticon.  Tapi dalam pertarungan emosi jelas film ini lebih unggul daripada Transformers.  Disinilah Saya lebih peduli dengan nasib Robot Atom yang terlihat tidak berdaya tapi kita dibuat percaya bahwa Atom mempunyai semangat juang yang luar biasa.  Saya terbawa masuk ke dalam aura sang robot yang mempunyai bentuk tidak gagah bahkan bisa dibilang bentuknya cupu sekali.  Mungkin berikutnya Optimus Prime harus dibuat dengan bentuk yang tidak keren dan gagah sehingga penonton bisa lebih simpatik dengan Optimus Prime.

Beberapa kali saya nonton film ini tapi pas yang terakhir ini saya menontonnya, Saya cukup terharu dengan adegan akhirnya.  Hubungan perjuangan ayah untuk anaknya terlihat jelas di adegan akhir.  Well, sekali lagi saya bilang saya terharu menontonnya.  Mungkin itulah kelebihan Real Steel, yang artinya Besi (logam) yang sungguhan.  Dan menurut saya, julukan itu bukan buat Atom tapi juga buat karakter yang dimainkan oleh Hugh Jackman.  Tidak perlu adamantium untuk menjadi seseorang dengan karakter yang strong sekuat logam.  Hugh Jackman pun berhasil lepas dari tokoh Wolverine meskipun badan gagahnya tetap tidak bisa ditutupi tapi setidaknya ada momen dimana dia terlihat “brengsek”.


Yang menarik dari film ini tampilnya Dakota Goyo sebagai anak Hugh.  Aktingnya kok bagus ya, berbakat nih anak. Chemistry dengan Hugh Jackman pun oke.  Sayangnya karirnya tidak terlihat mulus setelah film ini.  Melihatnya membuat saya teringat dengan karakter Anakin muda di Star Wars : The Phantom Menace.  Permainannya ciamik tapi selepas itu tidak naik-naik karirnya.  Sayang sekali.  Tipe rambut mereka di film pun mirip.  Hadeuh.

Visual effect di film ini bagus, seperti yang saya bilang tidak gegap gempita seperti pertarungan para robot di Transformers tapi para robot itu terlihat hidup dan nyata.  Adegan pertarungan di arena tinju pun dibikin cukup menarik dengan gerakan robotnya yang terlihat mulus.  Sekali lagi ini bukan film robot yang merusak jalan raya, gedung pencakar langit.  Ini film tentang boxing antar para robot.  Sudah cukup dahsyat apabila ada adegan tubuh mereka hancur lebur atau dicabik-cabik, tidak perlu sampai menghancurkan ring tinju atau gedung tempat ring tinju itu berada.  Namun hasilnya lebih memuaskan saya.  Jelas terbukti, bobot cerita sangat menentukan apakah sebuah film berhasil memuaskan penontonnya atau tidak.   Meskipun asal cerita berasal dari cerpen pendek berjudul “Steel” karangan Richard Matheson tapi berhasil dikembangkan dengan baik oleh Dan Gilroy dan Jeremy Leven dan naskahnya oleh John Gatins.



Cerita tentang hubungan ayah dan anak pun sudah sering diceritakan di banyak film, tapi asalkan dibalut dengan pas dan menarik toh tetap berhasil membuat film menjadi nikmat untuk dinikmati.    Tapi sekali lagi Dakota Goyo dan Atom yang berhasil menjadi bintang di film ini.  Shawn Levy berhasil membuat film keluarga yang cocok  ditonton oleh seluruh keluarga dan semoga ada pesan moral yang bisa diambil dari film ini.  Yang tadinya Shawn berkecimpung di genre komedi tapi ternyata dia berhasil meramu film yang berbalut sedikit science fiction.

Saturday, July 22, 2017

OUR TIMES (2015)




Wow lama banget saya ga nulis review. Satu tahun lebih.  Please forgive Me.  Kegalauan di masa muda hahaha.  Banyak film yang sudah ditonton sebenarnya, baik film baru atau film lama.  Tapi ya itu kemalasan untuk menulis review menguasai diriku yang lemah ini.  Akhirnya dengan kebulatan tekad yang ga bulet-bulet amat, saya berjuang keras untuk mengisi kekosongan blog ini setelah sekian lama.  Pilihan review jatuh pada film Our Times produksi Taiwan.

Nonton film ini berasa nonton pengalaman pribadi hanya disini tokoh utamanya cewek diperankan oleh Vivian Sung. Who is she? Saya juga ga tau, sudah lama saya tidak berkiblat di perfilman Mandarin, banyak aktor dan aktris baru yang tidak saya kenal.  Kembali ke jalan cerita.  Pasti pada inget dong waktu kita SMA, pasti lagi seneng-senengnya mengidolakan seseorang, biasanya artis yang kita idolakan.  Nah disini pun sama, karakter utama mengidolakan Andy Lau (kayak Saya)  Tapi cerita bukan tentang mengejar-ngejar tokoh idola tapi lebih ke lika liku kisah cinta SMA.  Ada cowo ganteng, cewe cantik idola, sayangnya saya tidak masuk kategori itu.  Tapi nostalgia tetap terasa, seperti jaman sepatu roda, pager dan cinta remaja.


Ide cerita sebenarnya sangat sederhana, seperti film Thailand sejenis Crazy Little Thing Called Love, tapi kemasannya dibuat sangat menarik terutama buat saya.  Sedihnya, kocaknya, konyolnya, bahkan saat-saat belajar menghadapi ujian.  Tapi di atas segalanya, cerita cintanya yang paling menarik.  Di film ini, kita diingatkan lagi bagaimana rasanya jatuh cinta tapi yang kita cintai menyukai orang lain.


Seperti yang saya bilang, sangat sederhana ceritanya tapi tidak membosankan untuk diikuti sampai akhir.  Bahkan endingnya pun menurut saya, sangat menyentuh saya.  Bagaimana endingnya bisa menyentuh? Ya tonton  aja sampai akhir.  Karakter-karakternya pun bermain natural layaknya anak SMA yang lagi galau, lagi nakal-nakalnya dan lagi mencari jati diri.  Yang pasti film ini, saya rekomendasikan untuk ditonton.  So sweet.  Bahkan jaman dulu ada surat kaleng waktu kita masih remaja (kita, gua aja kali hahaha) muncul di film ini.  Ya dengan setting tahun 90an, Saya merasakan nostalgia yang pas di film ini.  Tidak panjang lebar review saya, karena seperti yang saya bilang, saya tidak tahu tentang aktor dan aktrisnya karena pada gres semua sedangkan saya angkatan lama.

Satu lagi guys, disini ada walkman.  Mungkin kebanyakan pada ga tau walkman itu apa, itu salah satu alat hiburan saya waktu jaman saya SMA hehehe.  So siap-siap bernostalgia bagi teman-teman yang waktu tahun 90an, lagi belajar di SMA.

Saturday, May 21, 2016

COMING SOON : TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES : OUT OF THE SHADOWS




Di tahun 2014, Michael Bay sebagai produser membuat film campuran live action dan CGI Teenage Mutant Ninja Turtles, yang disini dikenal sebagai Kura-Kura Ninja.  Bujet yang dikeluarkan 125 juta dolar dan pendapatannya 493 juta dolar di seluruh dunia.  Dengan penghasilan cukup menguntungkan, tentu saja sekuelnya akan muncul.  Dan hal itu menjadi kenyataan di tahun 2016, perkiraan tanggal 1 Juni akan muncul kelanjutannya dengan sub judul Out of The Shadows.  Tadinya sub judulnya adalah Half Shell. 

Masih memakai deretan bintang yang sama dengan film pendahulunya.  Tentu saja ditambah karakter-karakter baru, salah satunya diperankan oleh Stephen Amell.  Mungkin yang mengikuti serial Arrow tentu kenal siapa itu Amell.  Lalu ada aktris watak Laura Linney.  Penulis naskah juga masih sama yaitu Josh Applebaum dan Andre Nemec.  Hanya sutradara diganti dari Jonathan Liebesman sekarang yang menjadi sutradara adalah Dave Green. Sutradara anyar yang pernah membesut film Earth To Echo.  Yeah saya juga belum pernah denger filmnya. 

Bagi yang sering menonton film animasi tivinya.  Akan muncul karakter baru yaitu Bebop dan Rocksteady (Si Babi Rusa dan Badak) dan juga Krang si alien kecil (katanya)
Format film yang berdurasi 112 menit ini akan muncul juga dalam 3D, IMAX 3D dan 4DX.  



DEADPOOL (2016)





Saya agak sedikit bingung dengan Deadpool alias Wade Wilson.  Karena sebelumnya saya sudah lihat penampilannya di X-Men Origins : Wolverine.  Kebetulan pemerannya sama, Ryan Reynolds.  Mungkin sambil browsing, saya menemukan apakah sebenarnya ceritanya masih nyambung tidak dengan X-Men Origins : Wolverine.  Mudah-mudahan, kalau tidak ada berarti saya akan anggap ini merupakan reboot deh.
Yeah, terus terang ini film gila.  Iya film superhero yang gila.  Bukan gila-gilaan adegan aksinya, hancur-hancuran satu kota. Bukan juga gila-gilaan kemampuan supernya.  Wait, kalau ini bisa jadi, kemampuan super cerewetnya luar biasa sekali.  Dan hal itu yang membuat saya sangat terpikat dengan dialog-dialognya, yang menurut saya kocak-kocak.  Penuh sindiran.  Kalo cerdas tergantung.

Hanya sayangnya, film superhero satu ini bukan konsumsi anak-anak.  Ada adegan yang, bukan ada, tapi cukup banyak yang tidak cocok untuk anak-anak.  Mungkin memang Deadpool adalah superhero yang tidak diperuntukkan untuk anak-anak.  Kata-katanya selain kocak tapi memang sedikit frontal (blak-blakan) dan sedikit kotor.  Ditambah adegan aksinya cukup sadis dan brutal.  Darah bertebaran dimana-mana.  Memang tidak banyak tapi cukup memuaskan. Seperti yang saya bilang tadi, adegan bawelnya itu yang bikin kocak, plus memang cerita dibuat sedikit nyeleneh dengan alur yang sedikit loncat-loncat dan kadang si Deadpool seakan-akan berbicara dengan penonton.



Gaya aneh film ini sudah terlihat dari opening scene yang menampilkan adegan kayak 3 dimensi. Lalu yang lebih uniknya tidak ada nama pemain dan para crew, semua diganti dengan nama panggilan (menurut saya nama sindiran) yang unik. Coba perhatikan kalau pas lagi nonton.  Bahkan saya pernah liat poster Deadpool yang seakan-akan diperlihatkan kalau ini adalah film drama romantis.  Kebetulan memang rilisnya bulan Februari, dimana tanggal 14 adalah hari Valentine.  Sebenarnya cukup romantis juga di beberapa scene.  In kocak way lebih tepatnya hehehe.

Memang Deadpool adalah superhero keluaran marvel comic.  Tapi karena lisensinya dipegang oleh 20th Fox Century, jadi superhero satu ini sementara tidak ada sangkut pautnya dengan Marvel Cinematic Universe.  Atau memang tidak ada yah, saya juga kurang tahu.  Tapi ada sangkut pautnya dengan dunia X-Men.  Karena disini diceritakan ada dua tokoh superhero dari sekolahnya X-Men.  Tapi seperti dialog yang dilontarkan Deadpool, karena bujet filmnya kurang, jadi superhero yang muncul sedikit.  Siapa saja?  Ya tonton saja. 

Mungkin banyolan-banyolan si superhero sinting ini banyak yang tidak dimengerti.  Pertama karena ocehannya kadang diucapkan dengan super cepat tanpa dipikir oleh dia.  Kedua karena isinya kebanyakan sindiran-sindiran, kebanyakan berhubungan dengan dunia film.  Mungkin akan ada beberapa celotehan dia, yang tidak membuat kita tertawa tapi malah membuat kita berpikir.  Tapi so far karena saya banyak nonton film, saya ngertiah semua humor-humor darknya dia. (sombong dikit)

Bagaimana dengan adegan aksinya?  Yang kita cari dari film superhero tentu saja pameran special efek yang memperlihatkan kekuatan super yang bersangkutan. Well, adegan aksinya tidak banyak.  Bisa dibilang kemampuan yang dipamerkan, ya itu kekuatan bawelnya.  Meskipun menurut saya, adegan aksinya cukup menarik, agak sedikit berdarah-darah.  Tapi kalo tentang efek CGI yang menjadi pakem film superhero, film ini terlihat biasa saja.  Mungkin angle-angle kameranya bisa dibilang cukup unik seunik jagoannya sendiri.
Kalau saya perhatikan, cukup banyak juga artis yang nyeberang kubu. Maksudnya Marvel ke DC atau DC ke Marvel.  Nah Ryan Reynolds ini salah satunya.  Setelah dulu pernah berperan sebagai Green Lantern dari kubu DC sekarang berpindah ke Marvel.  Gilanya, hal itu juga disindir ama dia di film ini.  Benar-bener kocak.  Tapi terus terang Reynolds lebih cocok jadi Deadpool daripada Green Lantern.  Good job.



Sekali lagi saya tekankan, kekuatan film ini yang bikin saya suka adalah dialog-dialognya. Thanks to penulis naskahnya, Paul Wernick dan Rhett Reese.  Seakan-akan tidak terbelenggu oleh apapun, mereka membuat dialog “seenaknya” bahkan mengolok-olok studio pembuat film ini meskipun secara garis besar tema film adalah tentang balas dendam (klise).   Sutradaranya Tim Miller pun patut diberi pujian.  Lihat saja hasilnya, dengan bujet 58 juta dolar, meraup penghasilan 362 juta dolar di Amerika saja dan 400 juta dolar di luar Amerika.  Hasil yang cukup fantastis.  Mengingat tidak banyak yang tahu siapa itu Deadpool.  Jelas ini sebuah result film yang solid dan tidak main-main pembuatannya dan bisa memaksimalkan bujet.  Sebuah film pengenalan seorang tokoh superhero yang bisa dibilang sukses besar.

Banyak yang bilang Deadpool itu bukan superhero tapi anti hero.  Jadi kembali kepada hati anda, setelah menonton film ini, apakah benar demikian atau malah anda akan bersimpati padanya.  Dan semuanya akan mempunyai akhir dimana anda suka film superhero sejenis ini atau anda bahkan akan tidak menyukainya atau mungkin anda tidak peduli.  Tapi yang pasti ini bukan film superhero yang seperti biasa.  Sekali lagi jika ingin menonton film superhero yang menghancurkan banyak bangunan atau kota, jangan tonton film ini.  Kalo ingin menyaksikan film superhero dengan balutan twist dan nuansa kelam, jangan tonton film ini.  Kalo ingin melihat film superhero yang memikirkan keselamatan orang banyak, jelas anda salah pilih film.  Kalo ingin menonton film superhero dengan gaya yang cool, berwibawa dan bijaksana, skip saja film ini.