Saturday, May 21, 2016

COMING SOON : TEENAGE MUTANT NINJA TURTLES : OUT OF THE SHADOWS




Di tahun 2014, Michael Bay sebagai produser membuat film campuran live action dan CGI Teenage Mutant Ninja Turtles, yang disini dikenal sebagai Kura-Kura Ninja.  Bujet yang dikeluarkan 125 juta dolar dan pendapatannya 493 juta dolar di seluruh dunia.  Dengan penghasilan cukup menguntungkan, tentu saja sekuelnya akan muncul.  Dan hal itu menjadi kenyataan di tahun 2016, perkiraan tanggal 1 Juni akan muncul kelanjutannya dengan sub judul Out of The Shadows.  Tadinya sub judulnya adalah Half Shell. 

Masih memakai deretan bintang yang sama dengan film pendahulunya.  Tentu saja ditambah karakter-karakter baru, salah satunya diperankan oleh Stephen Amell.  Mungkin yang mengikuti serial Arrow tentu kenal siapa itu Amell.  Lalu ada aktris watak Laura Linney.  Penulis naskah juga masih sama yaitu Josh Applebaum dan Andre Nemec.  Hanya sutradara diganti dari Jonathan Liebesman sekarang yang menjadi sutradara adalah Dave Green. Sutradara anyar yang pernah membesut film Earth To Echo.  Yeah saya juga belum pernah denger filmnya. 

Bagi yang sering menonton film animasi tivinya.  Akan muncul karakter baru yaitu Bebop dan Rocksteady (Si Babi Rusa dan Badak) dan juga Krang si alien kecil (katanya)
Format film yang berdurasi 112 menit ini akan muncul juga dalam 3D, IMAX 3D dan 4DX.  



DEADPOOL (2016)





Saya agak sedikit bingung dengan Deadpool alias Wade Wilson.  Karena sebelumnya saya sudah lihat penampilannya di X-Men Origins : Wolverine.  Kebetulan pemerannya sama, Ryan Reynolds.  Mungkin sambil browsing, saya menemukan apakah sebenarnya ceritanya masih nyambung tidak dengan X-Men Origins : Wolverine.  Mudah-mudahan, kalau tidak ada berarti saya akan anggap ini merupakan reboot deh.
Yeah, terus terang ini film gila.  Iya film superhero yang gila.  Bukan gila-gilaan adegan aksinya, hancur-hancuran satu kota. Bukan juga gila-gilaan kemampuan supernya.  Wait, kalau ini bisa jadi, kemampuan super cerewetnya luar biasa sekali.  Dan hal itu yang membuat saya sangat terpikat dengan dialog-dialognya, yang menurut saya kocak-kocak.  Penuh sindiran.  Kalo cerdas tergantung.

Hanya sayangnya, film superhero satu ini bukan konsumsi anak-anak.  Ada adegan yang, bukan ada, tapi cukup banyak yang tidak cocok untuk anak-anak.  Mungkin memang Deadpool adalah superhero yang tidak diperuntukkan untuk anak-anak.  Kata-katanya selain kocak tapi memang sedikit frontal (blak-blakan) dan sedikit kotor.  Ditambah adegan aksinya cukup sadis dan brutal.  Darah bertebaran dimana-mana.  Memang tidak banyak tapi cukup memuaskan. Seperti yang saya bilang tadi, adegan bawelnya itu yang bikin kocak, plus memang cerita dibuat sedikit nyeleneh dengan alur yang sedikit loncat-loncat dan kadang si Deadpool seakan-akan berbicara dengan penonton.



Gaya aneh film ini sudah terlihat dari opening scene yang menampilkan adegan kayak 3 dimensi. Lalu yang lebih uniknya tidak ada nama pemain dan para crew, semua diganti dengan nama panggilan (menurut saya nama sindiran) yang unik. Coba perhatikan kalau pas lagi nonton.  Bahkan saya pernah liat poster Deadpool yang seakan-akan diperlihatkan kalau ini adalah film drama romantis.  Kebetulan memang rilisnya bulan Februari, dimana tanggal 14 adalah hari Valentine.  Sebenarnya cukup romantis juga di beberapa scene.  In kocak way lebih tepatnya hehehe.

Memang Deadpool adalah superhero keluaran marvel comic.  Tapi karena lisensinya dipegang oleh 20th Fox Century, jadi superhero satu ini sementara tidak ada sangkut pautnya dengan Marvel Cinematic Universe.  Atau memang tidak ada yah, saya juga kurang tahu.  Tapi ada sangkut pautnya dengan dunia X-Men.  Karena disini diceritakan ada dua tokoh superhero dari sekolahnya X-Men.  Tapi seperti dialog yang dilontarkan Deadpool, karena bujet filmnya kurang, jadi superhero yang muncul sedikit.  Siapa saja?  Ya tonton saja. 

Mungkin banyolan-banyolan si superhero sinting ini banyak yang tidak dimengerti.  Pertama karena ocehannya kadang diucapkan dengan super cepat tanpa dipikir oleh dia.  Kedua karena isinya kebanyakan sindiran-sindiran, kebanyakan berhubungan dengan dunia film.  Mungkin akan ada beberapa celotehan dia, yang tidak membuat kita tertawa tapi malah membuat kita berpikir.  Tapi so far karena saya banyak nonton film, saya ngertiah semua humor-humor darknya dia. (sombong dikit)

Bagaimana dengan adegan aksinya?  Yang kita cari dari film superhero tentu saja pameran special efek yang memperlihatkan kekuatan super yang bersangkutan. Well, adegan aksinya tidak banyak.  Bisa dibilang kemampuan yang dipamerkan, ya itu kekuatan bawelnya.  Meskipun menurut saya, adegan aksinya cukup menarik, agak sedikit berdarah-darah.  Tapi kalo tentang efek CGI yang menjadi pakem film superhero, film ini terlihat biasa saja.  Mungkin angle-angle kameranya bisa dibilang cukup unik seunik jagoannya sendiri.
Kalau saya perhatikan, cukup banyak juga artis yang nyeberang kubu. Maksudnya Marvel ke DC atau DC ke Marvel.  Nah Ryan Reynolds ini salah satunya.  Setelah dulu pernah berperan sebagai Green Lantern dari kubu DC sekarang berpindah ke Marvel.  Gilanya, hal itu juga disindir ama dia di film ini.  Benar-bener kocak.  Tapi terus terang Reynolds lebih cocok jadi Deadpool daripada Green Lantern.  Good job.



Sekali lagi saya tekankan, kekuatan film ini yang bikin saya suka adalah dialog-dialognya. Thanks to penulis naskahnya, Paul Wernick dan Rhett Reese.  Seakan-akan tidak terbelenggu oleh apapun, mereka membuat dialog “seenaknya” bahkan mengolok-olok studio pembuat film ini meskipun secara garis besar tema film adalah tentang balas dendam (klise).   Sutradaranya Tim Miller pun patut diberi pujian.  Lihat saja hasilnya, dengan bujet 58 juta dolar, meraup penghasilan 362 juta dolar di Amerika saja dan 400 juta dolar di luar Amerika.  Hasil yang cukup fantastis.  Mengingat tidak banyak yang tahu siapa itu Deadpool.  Jelas ini sebuah result film yang solid dan tidak main-main pembuatannya dan bisa memaksimalkan bujet.  Sebuah film pengenalan seorang tokoh superhero yang bisa dibilang sukses besar.

Banyak yang bilang Deadpool itu bukan superhero tapi anti hero.  Jadi kembali kepada hati anda, setelah menonton film ini, apakah benar demikian atau malah anda akan bersimpati padanya.  Dan semuanya akan mempunyai akhir dimana anda suka film superhero sejenis ini atau anda bahkan akan tidak menyukainya atau mungkin anda tidak peduli.  Tapi yang pasti ini bukan film superhero yang seperti biasa.  Sekali lagi jika ingin menonton film superhero yang menghancurkan banyak bangunan atau kota, jangan tonton film ini.  Kalo ingin menyaksikan film superhero dengan balutan twist dan nuansa kelam, jangan tonton film ini.  Kalo ingin melihat film superhero yang memikirkan keselamatan orang banyak, jelas anda salah pilih film.  Kalo ingin menonton film superhero dengan gaya yang cool, berwibawa dan bijaksana, skip saja film ini.

Thursday, May 19, 2016

X-MEN : APOCALYPSE (2016)




Mungkin sebelum MCU (Marvel Cinematic Universe), sudah muncul duluan gang superhero di layar lebar lewat X-Men yang pertama.  Kebetulan X-Men memang komik keluaran Marvel juga.  Lalu muncul sekuelnya X-Men United kemudian lanjut dengan X-Men : The Last Stand.  Meskipun tidak digarap oleh Bryan Singer lagi tapi oleh Brett Ratner. Tapi buat saya, I like The Last Stand. Meskipun di film ini, ada sindiran mengenai film ketiga itu. Hehehe

Kemudian muncul X-Men versi muda dalam X-Men : First Class, sutradaranya bukan Bryan Singer juga tapi oleh Matthew Vaughn.  Baru kemudian Singer come back lewat X-Men : Days of Future Past (DOFP).  Yang menurut saya, itu salah satu cara paling jenius untuk merubah semua jalinan cerita yang sudah tumpang tindih menjadi sebuah cerita baru.  Kenapa tumpang tindih, iya saya lupa menyebutkan beberapa film X-Men yang lain. Ada dua film yang menyangkut X-Men juga yaitu dua filmnya Wolverine.  Ada beberapa cerita yang seakan-akan menjadi tumpang tindih.  Tapi saya tetap enjoy, dengan semua film-film bergenre superhero.


Film yang mengambil setting sekitar satu dekade setelah kejadian di DOFP.  Banyak yang berubah dengan kehidupan para mutan.  Magneto yang diperankan oleh Michael Fassbender, sudah punya istri dan anak.  Charles Xavier (James McAvoy) mendirikan sekolah for the gifted.  Lalu muncul villain baru yang disebut apocalypse.  Yang saya googling, katanya ini salah satu villain kuat di dalam komik keluaran Marvel.  Nice.  Setelah saya baca juga, ternyata ini adalah penutup trilogi kedua dari kisah X-Men baru, penutup dari First Class dan DOFP.  Iya saya baru tahu, maklum tidak mengikuti updatenya.  Dan untuk kali ini, saya tidak menunggu adegan after creditnya, sudah terlalu malam.  Jadi saya tidak tahu adegan apa yang muncul.

Jika dibandingkan dengan Batman V Superman : Dawn of Justice (BVS) dan Captain America : Civil War, promosi X-Men : Apocalypse ini kalah santer.  Mungkin memang seharusnya film ini rilis sebelum kedua film itu dirilis. Sehingga penonton diberi appetizer yang pas.  Bukan berarti film ini jelek, hanya hypenya harus diakui, masih kalah dengan dua film itu.  Menurut saya.  Kecuali mungkin kalo anda fans berat X-Men.

Tapi bisa dibilang disini James McAvoy dan Fassbender memberikan akting yang lebih dari dua film sebelumnya, terutama McAvoy sebagai Profesor X.  Sedangkan yang lain kecuali Mystique, bisa dibilang film ini merupakan “lahirnya” kembali beberapa karakter di X-Men.  Memang bisa dibilang tidak detil karena Singer harus memperkenalkan banyak superhero baru.  Maksudnya karakter lama tapi dibuat muda seakan-akan baru muncul ke kancah per superheroan. Bisa dibilang adegan Quick Silver adalah salah satu adegan terbaik dalam film ini.  Justru menurut saya karakter Jennifer Lawrence agak sedikit lemah, mungkin karena memang skenarionya bukan mengedepankan si Mystique.  Although she is a leader here.


Bryan Singer memang bisa dibilang mengenal X-Men sudah sejak dulu kala, lewat film X-Men pertama. Jadi dunia X-Men cukup dikenalnya.  Jadi sejak DOFP dipegang lagi oleh Singer, saya sudah kasi applause buat karyanya itu.  Bagaimana dengan Apocalypse ini?  Bisa dibilang sedikit lebih lemah dibandingkan dengan DOFP.  Tapi sedikit diatas First Class.  Apalagi setelah tahu ini adalah penutup trilogy kedua X-Men, menurut saya jadi sedikit lebih kurang gegap gempita walaupun ending cukup membahana.  Mungkin dengan para mutan-mutan muda inilah, Singer akan membuat kelanjutan yang baru dari franchise X-Men ini. 

Kalau yang sudah melihat trailer terakhir dari Apocalypse, akan muncul seorang “bintang tamu”  apakah dia mutan muda juga?  Silakan lihat sendiri. Hehehe.  Apakah cameo nya memuaskan seperti Spidey di Civil War. Well, silakan dilihat aja sendiri, saya tidak mau komen disini hehehe.  Tapi adegan klimaks di film ini terasa mirip BVS.  Grafiknya melonjak langsung naik, karena dari awal sampai pertengahan memang adegan aksinya tidak ada yang wah banget (kecuali adegan quick silver).  Baru menjelang akhir tensi meningkat, tapi masih kalah tensinya dibandingkan BVS. Kalo saya mau bilang, Civil War sangat memuaskan, selanjutnya BVS lalu Apocalypse menyusul sesudahnya.

Penampilan Oscar Isaac sebagai apocalypse, yang katanya salah satu villain terkuat kurang tergali disini.  Penonton tidak dibuat “ketakutan” sepanjang film, hanya memang para jagoan kita disini dibuat kalang kabut menghadapinya tapi atmosfer yang diciptakan villain kali ini tidak menakutkan dan tidak menegangkan seperti para robot raksasa yang ada di DOFP.  Justru malah kisah magneto yang menurut saya cukup mengaduk sedikit emosi disini.  Meskipun sayang tidak terlalu diperdalam.  Jadi kalau ingin menonton film ini, yang perlu diingat hanyalah film First Class dan DOFP, karena disitulah titik tolak film ini mengacu, lupakan franchise-franchise X-Men yang lain.  Sehingga tidak membuat bingung dan bertanya-tanya sepanjang film, kenapa kok jadi begini sekarang, kenapa kok jadi begitu.

Akhir kata, seperti saya bilang sebelumnya, seharusnya Apocalypse rilis duluan sebelum BVS dan Civil War.  Karena kalau sebagai hidangan pembuka, Apocalypse akan lebih memuaskan dibandingkan dia menjadi makanan penutup dari ketiga film superhero.  Saya ga tahu apakah akan ada film superhero lagi tahun ini.  Sekali lagi bukan berarti film ini tidak bagus tapi ‘perut’ saya sudah kekenyangan akibat BVS dan Civil War, jadi cita rasa ‘melahap’ Apocalypse sedikit kurang nikmat.  Kenapa kata-katanya kayak review kuliner? Hehehe.  By the way, saya suka karakter Psylocke yang dimainkan oleh Olivia Munn.  She’s hot plate.  Hmmm another culinary terms. hehehe

Wednesday, May 11, 2016

CAPTAIN AMERICA : CIVIL WAR (2016)




Setelah bulan kemaren nonton Batman V Superman (BVS) di bioskop, kini giliran Captain America : Civil War (saya singkat aja nanti jadi Civil War).  Sebenarnya saya bukan penggemar komik.  Superhero yang saya suka adalah Superman.  Itu pun saya sukanya karena dari film bukan dari hasil membaca komik.  Mengenal banyak para tokoh superhero marvel pun karena memang menonton semua film superhero keluaran marvel. Maksudnya yang tergabung dalam Marvel Cinematic Universe.  Jadi saya tidak akan membahas tentang komiknya tapi murni tentang filmnya.

Pertama-tama saya mau komen tentang trailernya dulu dimana trailer terakhir kalau ga salah, muncul superhero yang pake baju terusan (istilah Tony Stark kocak banget). Saya pikir kenapa trailernya mau membocorkan kehadiran superhero satu ini padahal kan bisa menjadi  senjata pamungkas.  Lalu ketika satu lusin superhero saling berhadap-hadapan dan siap bertarung, kok kelihatannya bakal biasa-biasa saja deh.  Ternyata dugaan saya salah besar.  Kemunculan superhero berjaring itu bukan hanya sekedar cameo.  Lalu pertarungan di bandara, yang ditampilkan di trailer paling hanya kurang lebih 10 persennya saja.  Masih banyak kejutan-kejutan lainnya.


Memang Russo brothers (Anthony dan Joe) sang sutradara berhasil meningkatkan kualitas Captain America di Captain America : Winter Soldier.  Tapi saya tidak menyangka, mereka bisa mengupgrade lagi film Captain America.  Segala adegan aksinya selain CGI sangat menegangkan.  Koreografi fightnya luar biasa.  Bahkan kemampuan Black Widow pun ikut terupgrade.  Hanya di awal yang agak mengganggu adalah gerak kameranya yang agak shaky tapi untung makin lama makin berkurang shakynya.  Hebatnya penggunaan CGI pun pas, tidak berlebihan.  Lebih hebatnya lagi, adegan aksi dan cerita pun bisa dipadukan dengan sangat pas sehingga tidak membuat bingung, malahan semakin dibawa masuk ke dalam konflik yang mereka hadapi.   

Mungkin sebagian bingung dengan alur BVS tapi saya yakin disini tidak akan terjadi, dengan catatan anda sudah menonton semua film superheronya Marvel (minimal The Avengers 1 dan 2 dan tentu saja Captain America 1 dan 2).  Lebih hebatnya lagi diantara semuanya, porsi semua superhero disini tidak ada yang berlebihan dan dipaksakan.  Memang nahkodanya terbagi antara Ironman dan Captain America.  Tapi kalau dilihat keseluruhan, semuanya mempunyai peran yang cukup berarti dan bisa dibilang berhasil meninggalkan kesan tersendiri.  Yang saya salut, kok bisa yah ditengah-tengah tawuran dahsyat antar superhero, bisa diselipkan humor-humor yang anehnya tidak terasa dipaksakan.  Ibarat roller coaster, sangat menyenangkan. 

Adegan klimaks di BVS punya kelebihan sendiri karena seakan-akan merupakan “bayaran” atas segala kebingungan dan kebosanan di awal film bagi sebagian penonton. Jadi ibarat grafik, naiknya menjulang tinggi. Dan buat saya itu salah satu pertarungan superhero yang keren.  Tapi pertarungan di bandara di film Civil War ini juga tidak kalah epiknya, merupakan pertarungan yang sulit sebenarnya untuk dilakukan, bukan karena faktor teknisnya tapi lebih kepada pembagian yang sangat pas porsinya. Itu yang saya sangat kagumi.  Russo brothers berhasil melakukannya.  Amazing job.  Tapi jangan khawatir, semua adegan seru di film ini cukup banyak dan menurut saya benar-benar memukau.

Konflik dan pertentangan antara Ironman dan Capam pun diterangkan setahap demi setahap sehingga menurut saya, keduanya mempunyai poin masing-masing yang tidak bisa disalahkan.  Masing-masing punya pandangan yang sekali lagi saya bilang, berhasil “dijelaskan” dengan baik di film ini.  Apalagi penderitaan yang diakibatkan oleh aksi superhero di film-film sebelumnya seakan-akan menjadi boomerang bagi para superhero karena manusia biasa menganggap mereka, sebagian maksudnya menganggap mereka berbahaya.  Sebenarnya idenya hampir mirip dengan BVS.  Hanya BVS tampil kelam sesuai dengan tema yang dibawanya.  Sedangkan Civil War, menampilkannya dengan nuansa yang tidak terlalu dibuat kelam.  Bahkan solusi akhirnya pun menurut saya, memang harus begitu endingnya. 


Bahkan kalau bisa dibilang tidak ada villain yang berarti di Civil War, maksudnya villainnya kalau dilihat dari fisik jelas kalah jauh sangarnya, tangguhnya dibandingkan Doomsday.  Tapi ya itu tadi, begitu lihainya penulis cerita membuat kisah film ini menjadi terlihat menarik.  Bahkan penonton dibuat sedikit terkecoh di bagian akhir.  Jelas ini permusuhan internal yang efeknya lebih heboh daripada serangan dari planet lain, menurut saya.  Kalau serangan dari planet lain menyebabkan luka luar.  Kalau ini luka dalam.

Dengan berat hati I might say, Marvel wins this time.  Yang jelas yang tidak bisa dikalahkan oleh Civil War adalah music scorenya BVS yang memorable.  BVS bagus di sepertiga akhir film selain mengacu pada Justice League, itu yang membuat saya suka BVS.  Sedangkan Civil War bagus secara keseluruhan. 147 menit tidak terasa membosankan.  Bahkan buat saya, Civil War lebih baik dari dua film The Avengers.  Tema yang tidak ringan tapi bisa dibuat ringan dan berbobot.  Sangat apik sekali ceritanya.  Ditambah selipan-selipan perkembangan beberapa karakter, yang memang tidak perlu terburu-buru karena pasti akan lebih digali lagi di film-film MCU berikutnya. Mungkin sekali lagi seperti yang saya bilang.  Adegan akhir di film ini menyebabkan “luka dalam” meskipun secara fisik mungkin adegan akhir kalah spektakuler dibandingkan dengan adegan di bandara.  Tapi saya setuju sekali dengan ending dari film ini.

Seperti biasa, ada dua adegan (after credit scene) yang pertama tidak terlalu lama, tapi yang kedua…lama banget nunggunya.  Sekali lagi salut buat Russo Brothers yang berhasil membuat film yang sebenarnya penuh karakter yang penuh sesak tapi bisa dibuat sedemikian nikmatnya untuk ditonton.  Jangan dilupakan juga penulis naskahnya Christopher Markus dan Stephen McFeely.  This is one of my favorite superhero movies. Of course.  Saya sengaja tidak kasih detil siapa aja superhero yang tampil. Sebenarnya pasti uda tahu dari trailernya hehehe.  Dan yang patut diperhatikan, hasil pendapatan box office filmnya Captain America yang selalu lebih besar tiap film.  Membuktikan bahwa Captain America pantas untuk naik pangkat hehehe.  Dan jelas film terakhir Captain America ini akan mempengaruhi cerita The Avengers berikutnya.