Friday, October 29, 2010

SPEED (1994)


Tidak banyak film yang gua tonton di bioskop lebih dari sekali. Speed merupakan salah satu film yang gua tonton dua kali di bioskop. Begitu gua terkagum-kagum dengan pace film ini yang cepat sehingga membuat film ini terasa seru (non-stop dari awal sampai akhir)

Yang patut diacungi jempol adalah sang sutradara, Jan De Bont. Ditambah ini adalah besutan pertamanya sebagai director dimana sebelumnya dia bekerja sebagai penata kamera film-film aksi seperti Die Hard, The Hunt for Red October, Basic Instinct, Lethal Weapon 3. Hasil pengalamannya sebagai director of photography benar-benar dicurahkan lewat film ini. Lihat saja gerak kameranya yang dinamis, mengambil adegan-adegan menjadi lebih “lincah” yang menambah nilai film ini. De Bont bisa dibilang sangat-sangat berhasil membuat sebuah film aksi dengan cita rasa yang cukup tinggi, sehingga membuat gua memasukkan film ini ke daftar film favorit gua. Bahkan setelah Speed, nama De Bont tambah meroket berkat Twister yang berhasil masuk box office. Hanya sayang film sekuel Speed 2 : Cruise Control (sebenarnya tidak perlu dibuat sekuel) gagal, hal ini parahnya malah menyeret film-filmnya De Bont sedikit merosot seperti The Haunting, sekuel dari Tomb Raider dan rencananya De Bont akan menggarap film kolosal Mulan. Selain menjadi sutradara, De Bont sempat menjadi produser dari film-nya Tom Cruise yaitu Minority Report dan film-nya Christian Bale, Equilibrium.
Satu lagi yang patut diberi pujian adalah Graham Yost sebagai penulis cerita, sudah membuat jalinan cerita yang padat, menegangkan penuh aksi. Karya berikutnya pun masih menarik ceritanya, Broken Arrow dan Hard Rain, lalu satu lagi film yang baru gua tonton, Mission to Mars. Joke-joke di film ini pun segar dan tidak dipaksakan.

Bujet film berdurasi 116 menit ini 28 juta dolar tapi penghasilannya di seluruh dunia cukup fantastis 350 juta dolar. Dengan tidak disangka-sangka, ternyata Speed memperoleh Oscar 1995 lewat Best Sound Effect Editing dan Best Sound. Dan memang music score bikinan Mark Mancina cukup menempel di telinga gua sampe sekarang.

Pemeran utamanya diperankan oleh Keanu Reeves. Setelah mulai terangkat namanya lewat Point Break (sutradaranya Kathryn Bigelow, ring any bells?). Lewat film ini nama Reeves kian melambung. Beruntunglah Reeves karena tadinya peran ini diperuntukan untuk Stephen Baldwin (salah satu adik Alec Baldwin). Kerja keras Reeves melatih ototnya tidak sia-sia bahkan potongan rambutnya yang super pendek menjadi trend waktu itu.

Bisa dibilang film ini jugalah yang mengorbitkan Sandra Bullock. Penampilannya yang “manis“ memang memikat penonton dan membuat audience menyukainya. Bisa dibilang Bullock berhutang budi pada film ini. Karena banyak list Bullock setelah film ini, bahkan penampilan sekilasnya Bullock dalam A Time to Kill menjadi bayaran termahal saat itu.

Yang tidak boleh dilewatkan adalah villainnya yang dimainkan oleh almarhum Dennis Hopper, yang setelah proyek ini, filmnya yang cukup menarik adalah Waterworld.
Hampir bisa dibilang semua pemain penting di film ini menjadi tenar berkat Speed termasuk partnernya Reeves yang dimainkan oleh Jeff Daniels yang bintangnya pun ikut terangkat meskipun kini tenggelam lagi.

So Speed termasuk film favorit gua dengan ide cerita yang menegangkan, bom di bis yang terpicu karena kecepatan bis melebihi 50 mil/jam, lalu kalo kecepatan bis berkurang maka bomnya meledak. Alur cerita seperti itupun sudah cukup memikat, namun cerita bukan hanya itu tapi ada hal-hal lain yang juga tidak kalah menarik. Memang mungkin kualitas para pemerannya bukan sekelas Oscar tapi sudah pasti Speed salah satu pelopor film dengan tema ledak-ledakan (bom). Bahkan waktu itu Speed di juluki kalo diartikan ke Indonesia kira-kira. Film aksi nomor satu.
Ada satu hal yang menganggu gua, gua uda cek di Laserdisc, VCD, DVD, tiap ditayangkan di televise bahkan di versi Betamax. Waktu nyonya tua meledak di bis, sebelumnya Traven (Reeves) diperlihatkan sedang memegang bahunya tapi sepersekian detik kemudian Traven tidak terlihat sedang memegang bahunya. Hal ini yang sedikit mengganggu setiap gua nonton film ini.

3 comments:

curhatsinema said...

Aku sukaaa film ini. Gak bosan melihatnya meski sudah berkali-kali. Chemistry Bullock dan Reeves benar-benar mantap. Kapan lagi ya bisa nemuin film aksi yang bersahaja kayak film ini?
Aku masih ingat ketika film ini diputar di Wonogiri yang bioskopnya tidak disiplin menerapkan aturan nomer kursi di karcis, kita sampai rebutan masuk buat dapat posisi ueeenak :)

e2p said...

film-film genre action tahun 90-an rata-rata menyuguhkan aksi yang berkelas dan enak dinikmati walau beberapa kali di tonton... dan merupakan eranya jane de bont

Bang Mupi said...

@Curhatsinema : Film aksi yang bersahaja, tepat sekali bro

@E2p : sudah sulit sekarang ini untuk ditemui film-film aksi yang enak ditonton ya bro. :D