Thursday, August 13, 2015

ARROW SEASON ONE EPISODE 2 (2012)



 Lanjut ke episode 2, masih melanjutkan penasaran dengan ending dari episode pilotnya.  Kini episode 2 mengambil judul honor thy father.  Masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan 5 tahun, Oliver menghilang.  Mulai muncul ungkapan “You failed the city” yang bakal jadi trademarknya si Arrow di kemudian hari.  Kisah cintanya dengan Laurel masih bikin penasaran.  Ending dari episode 2 ini dijamin tetap menimbulkan rasa penasaran untuk lanjut ke episode 3.  Adegan aksinya masih tetap memukau.  Bahkan ada sedikit gregetan melihat hubungan Oliver dengan bodyguardnya. Yang jelas bukan hubungan cinta, jangan khawatir hehehe.  Entah kenapa saya sedikit dejavu dgn salah satu adegan disini, mengingatkan saya pada karakter Bruce Wayne di trilogi Batman. 

Mungkin bagi penggemar X-Men akan sedikit bergembira atau mungkin sedikit bersedih, ada bintang tamu Kelly Hu, yah dulu dia maen jadi Deathstrike di X-Men 2, kini dia jadi jagoan Triad.  Apakah dia punya kekuatan super? Tonton aja filmnya.


Sekarang sedikit, kita mengenal Katie Cassidy pemeran Laurel Lance disini.  Liat di imdb, ternyata dia pernah maen beberapa film bioskop seperti Click, Taken dan beberapa serial TV seperti New Melrose Place, Supernatural dan Harper’s Island.  Bahkan proyek ke depannya, dia akan maen di Legends of Tomorrow, masih serial tentang superhero. Yeah bikin terus film-film tentang superhero. I like it.

Wednesday, April 15, 2015

ARROW SEASON ONE EPISODE 1 (2012)




Dalam dunia komik superhero, ada 2 kubu besar yang mempunyai nama besar, yaitu Marvel dan DC.  Seperti kita tahu, Marvel sekarang punya banyak film layar lebar yang saling berkolaborasi satu sama lain yang tergabung dalam Avengers.  Sebenarnya DC pun mempunyai gabungan para superhero yang terbentuk dalam Justice League.  Namun karena beberapa dekade terakhir, DC telat memulai startnya maka terlihatlah Marvel yang lebih unggul di layar lebar.  Namun di layar televisi, telah muncul kisah Smallville yang sudah selesai di Season ke sepuluh.  Yang seperti kita tahu, Smallville menceritakan sepak terjang Clark Kent sebelum menjadi Superman.  Bila kita mengikuti kisah Smallville maka disitu ada sebuah karakter Green Arrow yang diperankan oleh Justin Hartley.  Menurut saya, dia sudah cocok memerankan tokoh Oliver Queen yang kaya raya dengan sedikit gaya playboynya.  Namun entah kenapa kini muncul serial yang menceritakan superhero Green Arrow tapi tidak dimainkan oleh Justin.

Green Arrow versi Justin Hartley

Namun melihat kisah pilot dari serial ini, bisa terlihat DC ingin memperlihatkan sosok Green Arrow yang baru.  Yang dimulai ketika Oliver Queen akhirnya bisa kembali lagi setelah terdampar selama 5 tahun di sebuah pulau terpencil.  Bentuk tubuh memang lebih macho, Stephen Amell yang memerankan Green Arrow kali ini.  Dengan kemampuan fight yang luar biasa, membuat episode perdana Arrow ini berhasil menarik minat saya untuk lanjut ke episode berikutnya.  Dengan sedikit intrik, kemisteriusan dan kisah cinta yang terlihat bakal complicated di episode-episode berikutnya.  Dan sedikit adegan tidak terduga di penghujung episode pertama ini cukup membuat rasa penasaran muncul.

Sedikit tentang pemeran utama Stephen Amell, banyak maen di serial televisi antara lain Private Practice, CSI walaupun bisa dibilang bukan peran utamanya.  Untuk pemeran lainnya akan saya bahas di episode-episode berikutnya.  So untuk pembuka kisah superhero Green Arrow, episode perdananya ini mampu berbicara banyak.  Mari kita lihat bagaimana perkembangan cerita di episode-episode selanjutnya.

Tuesday, April 14, 2015

THE DARJEELING LIMITED (2007)




Honestly nama sutradara film ini sering tertukar-tukar di benak saya. Ada sutradara yang bernama Paul Thomas Anderson, ada juga Paul WS Anderson aja, juga ada Wes Anderson.  Tapi untuk kali ini, Wes Anderson yang akan saya bahas karena The Darjeeling Limited ini adalah karyanya.  Mungkin banyak teman-teman yang sudah menonton karyanya namun saya hanya baru menonton satu film karya Wes Anderson sebelum yang sekarang, yaitu Moonrise Kingdom.  Judulnya menarik sekali, saya tadinya menyangka ini adalah film fantasy tentang sebuah kerajaan di negeri antah berantah lengkap dengan pangeran, ksatria dan seorang puteri yang cantik.  Well, salah banget.  Film ini bersetting jaman sekarang dan tidak ada hubungannya dengan sebuah kerajaan manapun.  Saya langsung berkomentar ketika menonton film itu adalah gerak kameranya yang sangat unik.  Uniknya seperti apa, tonton aja deh. 


Kembali ke The Darjeeling Limited.  Film ini dibuat lebih dulu sebelum Moonrise Kingdom.  Deretan aktor terkenalnya memang tidak sebanyak Moonrise Kingdom.  Disini hanya ada Owen Wilson, Adrien Brody, Jason Schwartzman dan Bill Murray sebagai cameo dan jika anda beruntung mendapatkan cuplikan film pendek, masih berhubungan dengan film ini, nah disitu ada Natalie Portman. 

Cerita berlokasi di sebuah kereta di India beserta perjalanan di dalam kereta.  Sebagian besar.  Membosankan?  Well tergantung.  Tapi saya bisa bilang ini bukan film semua orang.  Tensi cerita bisa dibilang datar sepanjang film, tidak ada klimaks.  Tapi untuk saya cukup menarik, meskipun masih lebih asik Moonrise Kingdom. 

Cukup menarik melihat penampilan Owen Wilson di luar film-film popcornnya.  Tapi bukan berarti performancenya dahsyat, tapi setidak-tidaknya cukup menarik.  Gerak kameranya ada yang seperti di Moonrise Kingdom, hanya tidak banyak.  Well, melihat gerak kamera di Moonrise Kingdom pun sudah bikin saya tertawa.  Tapi disini tampang kebingungan ketiga saudara pun cukup membuat tawa.


Sekali lagi setting kebanyakan mengambil tempat di sebuah kereta, yang bernama Darjeeling Limited.  Membosankan? (eh udah tadi ditulis).  Banyak kejadian unik di kereta dan karakter-karakter yang unik selain ketiga bersaudara tadi.  Memang setelah membaca banyak (padahal dikit sih), Wes Anderson memang selalu menampilkan karakter-karakter unik dalam filmnya.  Serta situasi-situasi yang terlihat canggung atau kaku tapi mengundang tawa (buat saya yah).  Lewat dua film Wes, saya sudah bisa melihat ketidakbiasaan Wes Anderson dalam membuat sebuah film.  Cerita yang diambil sebenarnya biasa saja, maksudnya seperti kehidupan sehari-hari.  Tapi di tangan Wes, menjelma menjadi seperti sebuah “dongeng”.  Bisa dengan gerak kamera dan angle-anglenya, juga bisa dengan “keheningan” sebuah adegan.  Tapi yang saya lihat, tidak ada lonjakan-lonjakan dalam ceritanya.  Datar.  Tapi sekali lagi tidak membosankan. (buat saya)

Film yang bisa dibilang bertema road trip ini mungkin bisa membuat mengantuk jika tidak terbiasa dengan gayanya Wes (kayak saya sudah terbiasa aja, padahal baru nonton 2 filmnya).  Tapi berkat Moonrise Kingdom lah, saya meyakini dari awal film ini, pasti ada sesuatu yang istimewa.  Istimewanya apa?  Saya juga tidak tahu hehehe.  Tapi setidak-tidaknya saya tidak tertidur sampai film selesai.  Saya ada tertawa, terus juga ada terharu (sedikit). Jadi sebenarnya saya suka atau tidak?  Sudah pasti suka lah, tapi kalau dibandingkan dengan Moonrise, I prefer Moonrise.  Saya juga ingin mencoba film-film Wes yang lain, yang katanya hampir unik-unik semua.  So jangan coba menonton film ini, jika pada terbiasa menonton film-film komersil, karena sekali lagi film ini bukan untuk semua orang.

Sunday, February 22, 2015

JOHN WICK (2014)




Banyak film Keanu Reeves yang masuk daftar film favorit saya. Sebut saja Speed, Matrix Trilogy, Constantine, Replacements, Lake House dan Hardball.  Aktingnya sih biasa saja menurut saya. Hanya memang film-film yang saya sebutkan tadi cukup menarik filmnya. Tanpa promosi yang cukup gencar, muncul film John Wick.

Inti cerita sederhana, balas dendam.  Adegan aksinya juga tidak sespektakuler trilogi The Matrix. Tapi entah kenapa asik banget nonton film ini.  Kata istilah teman gua di grup Bank Movie…senggol tusuk…senggol hajar.  Nah seperti itu kira-kira istilahnya hehehe.  Sudah lama tidak nonton film aksi seasyik ini, tanpa beban, ikut mengalir saja.  Mungkin sejenis dengan The Equalizer-nya Denzel Washington.  Saya suka juga film itu tapi saya lebih suka film ini.

duo directors
Sang sutradara Chad Stahelski dan David Leitch, sering menjadi stuntman memulai debut penyutradaraannya disini.  Mereka berdua berhasil membuat Reeves menjadi seorang jagoan brutal mematikan dan sangat efisien. Gebrakannya pun punya nama Gun-fu style, cukup komikal. Beda ya sama Gun-kata yang dipopulerkan oleh Christian Bale di Equilibrium atau Milla Jovovich di Ultraviolet. Terus terang cocok banget Keanu berperan sebagai John Wick disini.  Bahkan humor disini bisa dibilang dark mengenai dunia hitam underground.  Boleh ditunggu kabarnya akan segera dibuat sekuelnya dengan sutradara dan pemain yang sama. 

Cukup banyak bintang ternama yang maen di film ini, misalnya Willem Dafoe, Adrianne Palicki, Ian Mcshane, John Leguizamo dan Bridget Moynahan. Disini seakan-akan sang sutradara membuat dunia tersendiri tentang dunia kriminal lengkap dengan uang logam emas khusus.  Salah satu villain pun adalah Daniel Bernhardt yang pernah melawan Keanu di Matrix Reloaded bahkan ada juga Juru Kunci yang main di Matrix Reloaded ikut berperan kecil disini.  Tidak heran ternyata sang sutradara dulu pernah menjadi stunt double Keanu di Matrix Reloaded.  Mungkin tadi si Daniel, saya bilang villain yah, mungkin kurang tepat karena disini sebenarnya hampir semuanya bukan orang baik-baik.  Mungkin yang perlu dicatat juga adalah seorang produsernya adalah Eva Longoria, salah seorang cast di serial tivi Desperate Housewives.


Awal film pun tidak dibuat berlama-lama penonton larut dalam aliran drama.  Sesudah cukup porsi dramanya untuk sedikit memberi latar belakang jagoan kita, langsung saja aksi, aksi…dan aksi lagi. Jadi buat saya, nonton John Wick cukup menyenangkan.  Bukan hal yang segar tapi cukup mengasyikan.  Akting Keanu lupakan saja, tonton saja aksinya yang cepat, tidak stylish (maksudnya tanpa slow motion) bahkan cenderung brutal tapi berhasil membuat memuaskan saya.  Bisa jadi Keanu berhasil memunculkan ikon baru sesudah Neo dan Constantine kini dia menjadi JOHN WICK, mudah-mudahan sekuelnya nanti bakal seasyik film pertamanya ini. Let’s see.

Saturday, February 21, 2015

INTERSTELLAR (2014)




Tidak banyak sutradara yang menjadi acuan seseorang untuk menonton sebuah film.  Sebut saja misalnya Steven Spielberg, tidak peduli siapapun pemerannya, pasti orang akan menonton filmnya asal disutradarai oleh dia.  Karena kebanyakan orang itu melihat siapa pemainnya baru berminat untuk nonton. (kebanyakan yah)  Nah salah satu barometer sutradara yang dilihat salah satunya adalah Christopher Nolan.  Trilogi Batman versi baru membuat nama Nolan semakin berkibar.  Memang kalo dilihat karya-karyanya bisa dibilang tidak terlalu “pasaran”  bahkan Batman Begins berhasil membuat saya menobatkan film itu sebagai salah satu film superhero favorit saya, padahal saya suka Superman.  Film Memento pun dibuat dengan cara yang luar biasa unik oleh Nolan.  Honestly, banyak yang memuji Inception tapi untuk saya, saya tidak terlalu memujanya.

Dengan berbekal begitu banyak opini positif tentang Nolan, kini film terbarunya Interstellar pun pasti akan berbeda dari yang lain.  Setelah saya menontonnya, ternyata banyak sekali bintang-bintang yang bermain di film ini; ada Casey Affleck, Matt Damon, Jessica Chastain selain bintang utamanya Matthew McConaughey dan Anne Hathaway dan juga ada Michael Caine. Maaf ya kalo ada yang belum saya sebut namanya. Tuh kan jadi inget ada Wes Bentley. Sorry bro ketinggalan.  Tampaknya semua bintang berlomba-lomba ingin main di filmnya Nolan.


Dengan cast yang demikian wow, jelas dari segi akting jangan ditanya deh.  Dan saya salut banget dengan penampilan Matthew, dia pantas mendapat Oscar tahun lalu kalo liat aktingnya yang sekarang.  Menangis sambil menonton sesuatu di layar kaca.  It’s not easy, man.  Dan ada lagi beberapa adegan yang memang memperlihatkan kepiawaian akting McConaughey.  Terlihat jelas peningkatan kualitas aktingnya dibandingkan dengan film-film terdahulunya.  Sebagai catatan, saya belum nonton Dallas Buyer Club.

Film dimulai dengan…hm bisa dibilang drama keluarga dengan sedikit sisipan ilmiah.  Cukup panjang Nolan membangun dulu fondasi-fondasi awal untuk adegan-adegan selanjutnya, mungkin akan terlihat membosankan namun berkat pengalaman menonton banyak film selama ini (gayanya), saya sudah melihat petunjuk-petunjuk yang akan digunakan untuk pengembangan cerita atau untuk jawaban menjelang ending film.  Jadi mungkin terlihat membosankan, mau tidak mau kita harus memperhatikan detil-detilnya.  For me, jelas tidak membosankan.

Salah satu hal yang mempengaruhi intens adegan-adegan di film ini adalah music scorenya (thanks to Hans Zimmer).  Yang sangat membuat adegan menjadi lebih merasuk ke sanubari, benar-benar pas music scorenya, menambah “nikmatnya” nuansa di film.  Ditambah banyak sekali adegan-adegan “hening” yang menggambarkan suasana kesepian, kesendirian dalam luar angkasa dimana memang sebenarnya menurut ilmu fisika, suara itu hanya bisa merambat lewat zat perantara misalkan udara. Atau mungkin ini tribute untuk filmnya Kubrick, 2001 : A Space Odyseyy (katanya yah) karena saya belum nonton filmnya.

Salah satu yang mungkin agak “mengganggu” adalah istilah-istilah sains yang mungkin agak sedikit membingungkan (tapi saya ngerti kok, suer) dan proses-prosesnya, tapi sekali lagi saran saya nonton aja filmnya dengan seksama tapi itu pun kalo kuat ya menahan konsentrasi lama-lama.  Kalo saya memang suka dengan hal-hal yang berbau science fiction, salah satu yang saya suka yaitu lobang hitam (black hole) yang kebetulan sebenarnya menjadi salah satu tema pokok di film ini.  Juga tentang relativitas waktu.  Meskipun akhir film ini sedikit membingungkan bagi sebagian penonton namun jika ditelaah dari dialog-dialog yang ada di film, itu sudah dijelaskan akan terjadi.  Jadi menurut saya itu sah-sah saja karena sudah dijelaskan di film yang bersangkutan.  Seperti Superman bisa terbang dijelaskan kenapa bisa terjadi demikian, jadi sah-sah saja buat saya.  Jadi sebenarnya jangan dipusingkan soal ending film ini karena menurut saya yang menjadi inti utamanya adalah perjalanan menuju ke ending yang membolak-balikan perasaan dan otak kita.  Saya punya anak perempuan, jadi jelas film ini berhasil membuat saya sesak dada pada beberapa adegan, membayangkan kalau hal itu terjadi pada saya.

Mungkin untuk sekedar membantu (mudahan-mudahan bisa membantu), lupakan tentang definisi waktu yang kita gunakan seperti biasa, lebarkan imajinasi anda dan konsentrasi penuh ketika dialog-dialog dalam film bertutur tentang kata-kata waktu dan gravitasi.  Sedangkan kata black hole jangan terlalu diperhatikan karena itu tervisualisasi dengan jelas di layar.  Well kalo mau diperhatikan juga tidak apa-apa sih, siapa tau masih ada yg belum mengerti apa itu black hole.

Christopher Nolan yang pakai baju hitam

Jadi setelah menonton film ini, saya nobatkan ini menjadi film dari Nolan terfavorit saya, mungkin karena ada faktor hubungan bapak dan anak perempuannya itu juga yang mempengaruhi opini saya.  Music dari Hans Zimmer salah satu faktor yang mempengaruhi juga.  Pas banget, bahkan sebenarnya ketika bukan adegan aksi tapi karena musiknya bisa membuat saya menahan nafas di sela-sela adegan yang hening.  Begitu juga akting McConaughey yang memukau, jadi penasaran pengen liat Dallas Buyer Club.  Tapi mungkin sayangnya bagi sebagian penonton ada yang bingung dengan kerumitan istilah dan proses fisika di film ini.  Mungkin bisa dicoba untuk mencoba untuk menontonnya lagi biar lebih mengerti.  Karena sayang, menurut saya ini film sebenarnya tentang hubungan ayah dan anak yang luar biasa bagus hanya dibalut oleh lapisan science fiction yang mungkin terlihat cukup rumit.  Dua lagi yang saya lupa sebutkan ada aktor senior John Lithgow dan Topher Grace di film ini.  Jempol juga buat Nolan bersaudara yang sudah membuat kisah yang sebetulnya mungkin sudah banyak dibikin jadi sebuah film tapi menjadi sebuah jalinan kisah panjang selama hampir 3 jam yang tidak mudah terlupakan buat saya.  Walaupun saya sedikit merasakan penurunan intensitas di tengah-tengah film.  Atau memang sengaja memperlambat alur sehingga penonton meresapi semua elemen yang terjadi setelah masuk ke black hole.  Asal tidak keburu bosan it works.

Setelah saya baca-baca ternyata film ini mendapat banyak masukan dari seorang ahli fisika bernama Kip Thorne.  Berarti mungkin saja semua ini bisa terjadi dalam kejadian nyata (mungkin di masa depan).  Maybe tapi cukup menakutkan bila itu terjadi. Lalu ada sepenggal puisi “"Do not gentle into that good night, old age should burn and rave at close of day, rage, rage against the dying of the light" tadinya waktu nonton, saya tidak menyadari artinya tapi kalo diterjemahkan…oleh pikiran saya ketika membuat review ini, artinya sangat bagus sekali ternyata. Ini menurut tafsiran saya yah, Jangan menjadi lembut (lemah) ketika malam tiba, justru ketika usia tua, marahlah melawan pudarnya cahaya.  Mungkin ini pas banget, ketika malam tiba, biasanya gelap itu diibaratkan kesulitan, usia tua itu diibaratkan ketidakberdayaan.  Pudarnya cahaya dimisalkan musnah.  Jadi ketika kesulitan tiba, ketika kita tidak berdaya.  Berjuanglah dengan semangat sebelum kehidupan kita musnah atau hilang.  Wow ternyata…saya cerdas (hahaha) ternyata artinya mendalam banget.  Well sekali lagi itu hanya tafsiran saya aja, maaf kalo salah.