Friday, October 8, 2010

RESIDENT EVIL : AFTERLIFE (2010)



Setelah sekian lama, akhirnya kesampean juga nonton film ini. Mungkin karena sudah cukup lama, yang nonton ga sampe seperempat studio. Mulai bosen dengan Resident Evil? Kalo gua sih hanya sedikit mengendor di RE : Extinction. Alice, sang jagoannya terlalu sakti. Sampe bisa pake kekuatan telekinesis gitu. Males deh.

Karena telanjur di facebook gua pasang foto profile Resident Evil : Afterlife (berikutnya gua singkat jadi Afterlife), mau ga mau akhirnya gua tonton juga film ini, meskipun sejujurnya kemaren gua uda nyuruh mbaknya buka denah kursi yang Legend of The Guardians. Mengingat konsistensi gua di facebook hehehe, akhirnya gua minta yang Afterlife. Tempat favorit gua yaitu lima deret dari depan bagian tengah. Tempat favorit gua ini adalah hasil dari pengamatan menonton sejak tahun 1987 (memang harus diakui, gua sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman :D). Untuk aktor, mereka berperan di layar, untuk sutradara di belakang layar. Untuk gua cukup di depan layar (alias sebagai penonton).


Adegan awal, orang-orang berjalan di bawah guyuran hujan. Keren. Penyerangan Alice di Jepang, cukup keren sampai kesaktian Alice muncul lalu…(tonton sendiri deh). Berikutnya banyak adegan-adegan yang dibuat stylish dan keliatan sekali ditekankan untuk efek 3D (btw, gua nontonnya yang versi 2D). Sejujurnya, sampai mendekati akhir, gua suka dengan Afterlife, hanya memang karakter zombienya tidak terlalu dominan disini dibandingkan dengan 3 film pendahulunya. Bahkan muncul undead yang mulutnya membuka ala villain di Blade 2. Malahan ada Axeman yang kapaknya lebih gede dari senjatanya Cloud di Final Fantasy : Advent Children. Ditambah nanti ada karakter-karakter yang berpakaian putih-putih seperti di The Island. Mungkin Paul W.S Anderson, sang sutradara pernah menonton ketiga film tersebut. Gayanya Anderson memang tidak berubah, dia selalu meramu adegan demi adegan dengan cepat. Hampir terlihat di semua film-filmnya. Diantara semua filmnya, gua paling suka Event Horizon (Sam Neill), film tentang luar angkasa yang cukup menarik buat gua.

Atmosfer dan nuansa horornya terasa di film RE yang pertama, masih terasa di Apocalypse apalagi ada karakter Jill Valentine. Sudah mulai hilang di Extinction (tidak membantu walaupun ada tokoh Claire Redfield). Disini ada karakter baru yang masuk yaitu, Chris Redfield. Yang sedalam-dalamnya dari hati gua bilang, nih karakter kalo ga ada juga ga masalah. Malah dibilang merusak citranya Chris. Wentworth Miller ga banget deh jadi Chris. Tidak berasa kangennya dengan Claire (serasa baru 1 jam saja mereka tidak bertemu). Yang patut dicatat adalah penampilan Spencer Locke sebagai K-Mart yang gua pikir bakal menjanjikan di masa depan. Milla Jovovich sebagai Alice (gua suka potongan rambutnya disini). Claire Redfield diperankan oleh Ali Larter (tadinya gua ga suka, tapi disini cukup bagus kok).

Dejavu abis nonton ini. Yang pertama dejavu ke arah yang lebih positif, karena gua seperti merasa nonton The Matrix. Cukup efektif di beberapa scene tapi sisanya malah berkesan berlebihan dan eksekusi di layar jelek. Dan yang membuat dejavu ke arah yang negatif adalah gua teringat Ultraviolet (kebetulan sama-sama dimainkan oleh Jovovich), betapa spesial efek yang kurang sempurna sehingga membuat film menjadi kurang bagus. Dan sayangnya Violet dejavu yang sering gua rasakan ketika menonton Afterlife.

Alur cerita pun sekarang lebih ke arah konspirasi Umbrella (perusahaan bandel yang sampe 3 film pun belum mati-mati) yang menurut gua semakin jauh dari pakemnya. Penonton (gua) menonton film ini karena unsur horor (zombie) yang harusnya ditawarkan tapi malah menjurus ke teori konspirasi and blah…blah… Sebenarnya melihat Anderson duduk di kursi sutradara lagi membuat gua SEDIKIT berantusias menonton film ini. (gua tekankan sedikit). Format 3D tidak menarik minat gua. Memang ada beberapa bagian yang cukup bagus. Angle kamera yang diambil dari atas waktu pengepungan zombie di penjara bagus (hanya feel seremnya kurang dapet)

Satu lagi yang membuat film ini kurang berkesan. Villain utamanya Wesker, apalagi untuk adegan klimaksnya. What’s going on here? Ibarat makanan utama yang kurang enak ditambah desert yang ga jelas bentuknya.



Kesimpulan gua, nih film berkat stylishnyalah membuat gua menilai film ini lebih baik dari Extinction. And That’s it. Jika ingin menonton versi 3Dnya, silakan, tapi buat gua menonton 2Dnya sudah cukup. Jika anda penggemar gamenya, siap-siap kecewa dengan Chris Redfield. Ngomong-ngomong, kapan nih karakter Leon dan Ada masuk ke filmnya ? (yang menurut gua bakal ada lanjutannya lagi setelah Afterlife)

Ada yang perlu diperhatikan, waktu gua baca credit title, gua melihat ada satu nama yang membuat gua mengingat-ingat, perasaan nih orang ga ada di film tadi, dan ternyata ada sedikit adegan di bagian akhir. Jadi jangan cepat-cepat pulang.

3 comments:

Movfreak said...

Emang adegan slow motionnya berasa berlebihan si
Tapi horrornya jauh lebih bagus daripada extinction dah
:)

Farida Esti ^^ said...

setujuuuuuu afterlife emang lebih baik dari extinction. dan chris sangat-sangat mengecewakan. enggak bangeeeet!

Bang Mupi said...

@Movfreak & Farida : setuju banget :D