Tuesday, November 16, 2010

FONG SAI YUK (1993)

Another movie yang gua tonton lebih dari sekali di bioskop. Bahkan untuk film ini, gua nonton tiga kali di bioskop. Mungkin ada yang tidak tahu judulnya karena di Indonesia beredar dengan judul King of Kungfu.

Jet Li memang harus berterima kasih kepada Tsui Hark karena berkat Once Upon a Time in China (Kungfu Master) nama Li kembali berkibar setelah era Shaolin Temple. Kali ini Li bekerja sama dengan Corey Yuen, kalo gua ga salah, inilah awal kerja sama Li dengan Yuen dimana kemudian mereka sering bekerja sama.

Kalo liat dari ide cerita, sudah banyak film martial arts yang menceritakan tentang Fong Sai Yuk. Tapi lewat pengarahan Yuen dan ketenaran Li waktu itu membuat film ini meledak dalam peredarannya. Memang patut gua akui, gua penggemar Li dan itu terjadi setelah gua menonton Kungfu Master. Gua begitu terpesona dengan luwesnya gerakan Li dan gaya akrobatiknya yang luar biasa. Disini pun, gaya pertarungannya tetap mantap hanya lebih kocak karena gaya koreography Yuen lebih jenaka dibandingkan Yuen Wo Ping. Menang Golden Horse dan Hongkong Film Awards untuk best fighting choreography. Gaya penyutradaraannya pun lebih konyol. Tapi untuk film ini, Yuen berhasil membuat sebuah film yang penuh humoris di awal tapi menjadi dramatis menjelang akhir

.

Bantuan dari para pendukung Li pun sangat menunjang. Pemeran ibunya Li (Josephine Siao), sangat kocak tapi kadang-kadang mengharukan. Kalo penggemar film silat jaman dulu beliau sangat populer sekali. Lalu musuh Li pun kali ini tidak sembarangan, jagoan kungfu juga, Chao Wen Cuo (Vincent Zhao). Ironisnya dialah yang menggantikan Li dalam peran Wong Fei Hung di Kungfu Master 4 dan 5.

Cerita patriotik Fong Sai Yuk dibuat dengan ringan tapi agak berat mendekati akhir. Selain perang Wong Fei Hung, peran inilah yang semakin melambungkan nama Li di pasar asia. Disini Li memerankan karakter yang lebih ceria bahkan ada gaya fight yang persis gayanya sebagai Wong Fei Hung. Tapi sebagai tips, lupakan saja sekuelnya yang sangat-sangat merusak film perdananya ini. Hanya adegan perkelahian di lanjutannya yang masih bisa dinikmati.

2 comments:

hakimicture said...

Waktu zaman masih pake laserdisc, saya dan teman sekelas cuma numpang nonton film ini tempat tetangga. Habis nonton kadang dire-enact dengan efek seperti filmnya, pake tepung atau bedak, terus barang yang lumayan agak lemah seperti kardus disusun buat tumpuan jatuhnya, hahaha ....

Bang Mupi said...

keren hehehe...