Sunday, October 17, 2010

LEGEND OF THE GUARDIANS : THE OWLS OF GA’HOOLE (2010)


Setelah X-Men trilogi selesai dirilis, muncullah spin-off nya yaitu Wolverine. Seakan-akan tidak mau ketinggalan setelah franchise Harry Potter hampir berakhir, muncullah spin-off nya yaitu Legend of The Guardians : The Owls of Ga’Hoole (LOTG:TOOG) (haha…a bad joke). Cerita tentang burung hantu yang bisa bertingkah-laku seperti manusia bahkan bisa berperang.

Judulnya cukup panjang. It’s a mouthful. Ternyata ini berasal dari novel, sebuah trilogi. Novelnya berjudul Guardians of Ga’Hoole karangan Kathryn Lasky. Gua belum pernah baca bukunya. Namun gua cukup ngerti jalan ceritanya karena isinya ga macem-macem (bahkan sedikit predictable or membosankan). Latar belakang masing-masing karakter kurang dalam, mungkin sulit karena dipangkas sedemikian rupa menjadi film dengan durasi 90 menit. Perseteruan dua saudara pun tidak memberikan impact yang membekas buat gua. Sayang sekali, padahal ini salah satu faktor yang cukup menarik.

Film animasi yang ini digarap oleh Zack Synder. Sutradara yang sangat berpotensi menurut gua, gua suka karya-karyanya seperti Dawn of The Dead, 300 dan Watchmen. Bahkan kabarnya dialah yang akan menyutradarai film Superman berikutnya. Setelah menonton film ini, gua bisa membayangkan sebagian besar adegan film Superman nanti. Adegan slow motion. Not bad. I love slow-motion style.

Filmnya sendiri sangat menarik di awal apalagi mengikuti trademark-nya Pixar, selalu ada film pendek di awal. Dan berhubung film ini diproduksi oleh Warner Bros, maka filmnya pun adalah film baru dengan karakter lawas yang sering membuat gua terpingkal-pingkal (dalam bentuk animasi 3D lagi). Sebenarnya agak aneh melihat karakternya berbentuk burung hantu yang kepalanya besar, tidak cantik atau tidak indah tapi berkat “kelihaian” Synder, gerakan mereka apalagi waktu mereka bertarung luar biasa bagus (tidak semuanya sih) tapi yang paling menarik dari film ini selain slow motionnya adalah adegan perang yang cukup keren dan patut dinantikan di penghujung film. Lupakan kedalaman karakter yang mungkin tidak sempat diperdalam di film ini berkat durasinya yang cukup singkat untuk gabungan ketiga novel.

Mengenai tehnik animasinya jelas bagus. Bulu dan mata burungnya terlihat sangat real. Visualisasi laut, badai dan api pun menggetarkan. Hanya kenapa yah waktu gua nonton di Ciwalk XXI, waktu gambar diambil dari jarak jauh terlihat tidak fokus, agak sedikit berbayang-bayang. Tapi terlihat jelas kalo gambar diambil close up. Apakah pengaruh proyektornya yang kurang fokus? Atau karena gua nonton yang versi 2D bukan yang 3D sehingga mempengaruhi ketajaman gambar. (but I don’t think so)

Pengisi suaranya hampir semua tidak tertebak oleh gua, kecuali Hugo Weaving sebagai ayahnya Soren. Suaranya khas sekali. Bahkan suara Helen Mirren pun gua ga nyadar. Hampir semua berlogat Inggris tapi katanya pengisi suaranya kebanyakan aktor/artis Australia. Lagu yang dinyanyikan oleh Owl City dimainkan pada saat momen yang tidak pas, sayang sekali padahal lagunya lumayan asik.
Sudah lama tidak nonton animasi di bioskop setelah Up. Hanya sayang, film ini tidak cukup membuat dahaga gua berkurang. Ada sesuatu yang kurang (But I don’t know what it is). Menurut gua, film ini terlalu “kelam” buat anak-anak (namun tidak terlalu seram). Meskipun sudah banyak kok film animasi yang nonton bukan hanya anak-anak tapi malahan orang dewasa. Itu sudah hal yang lumrah. Gua kurang berkesan dengan para karakternya. Film animasi untuk dewasa seperti Waltz With Bashir masih lebih bagus dari ini. Mungkin Synder agak “grogi” membuat film animasi sehingga film sedikit tanggung walaupun ciri khas Synder masih melekat. Hanya adegan-adegan slow motion lah yang membuat film ini di atas rata-rata. Jika ingin mengajak anak, keponakan atau sepupu yang masih kecil, tolong berpikir lagi. Tapi jika anda penggemar Synder, jelas tiket anda tidak sia-sia karena anda masih bisa merasakan aroma Synder. Itung-itung pemanasan melihat karya Synder dengan karakter yang bisa terbang, karena proyek berikut Synder sesudah Sucker Punch adalah Superman.

2 comments:

Budi Cahyono said...

Ada dua hal tentang film ini bagi saya, pertama sebagai film yang dikhususkan buat anak-anak, akhir2 ini tema yang diusung makin kelam, ada banyak contohnya seperti Shrek 4, n Toy Story 3, semuanya berat. yang kedua sebagai film buatan Snyder tentu film ini menjadi karyanya yang kurang berdarah-darah, saya juga penggemar film Snyder.. hehe

Bang Mupi said...

Gua menantikan Superman nih bro :D