Friday, October 29, 2010

SPEED (1994)


Tidak banyak film yang gua tonton di bioskop lebih dari sekali. Speed merupakan salah satu film yang gua tonton dua kali di bioskop. Begitu gua terkagum-kagum dengan pace film ini yang cepat sehingga membuat film ini terasa seru (non-stop dari awal sampai akhir)

Yang patut diacungi jempol adalah sang sutradara, Jan De Bont. Ditambah ini adalah besutan pertamanya sebagai director dimana sebelumnya dia bekerja sebagai penata kamera film-film aksi seperti Die Hard, The Hunt for Red October, Basic Instinct, Lethal Weapon 3. Hasil pengalamannya sebagai director of photography benar-benar dicurahkan lewat film ini. Lihat saja gerak kameranya yang dinamis, mengambil adegan-adegan menjadi lebih “lincah” yang menambah nilai film ini. De Bont bisa dibilang sangat-sangat berhasil membuat sebuah film aksi dengan cita rasa yang cukup tinggi, sehingga membuat gua memasukkan film ini ke daftar film favorit gua. Bahkan setelah Speed, nama De Bont tambah meroket berkat Twister yang berhasil masuk box office. Hanya sayang film sekuel Speed 2 : Cruise Control (sebenarnya tidak perlu dibuat sekuel) gagal, hal ini parahnya malah menyeret film-filmnya De Bont sedikit merosot seperti The Haunting, sekuel dari Tomb Raider dan rencananya De Bont akan menggarap film kolosal Mulan. Selain menjadi sutradara, De Bont sempat menjadi produser dari film-nya Tom Cruise yaitu Minority Report dan film-nya Christian Bale, Equilibrium.
Satu lagi yang patut diberi pujian adalah Graham Yost sebagai penulis cerita, sudah membuat jalinan cerita yang padat, menegangkan penuh aksi. Karya berikutnya pun masih menarik ceritanya, Broken Arrow dan Hard Rain, lalu satu lagi film yang baru gua tonton, Mission to Mars. Joke-joke di film ini pun segar dan tidak dipaksakan.

Bujet film berdurasi 116 menit ini 28 juta dolar tapi penghasilannya di seluruh dunia cukup fantastis 350 juta dolar. Dengan tidak disangka-sangka, ternyata Speed memperoleh Oscar 1995 lewat Best Sound Effect Editing dan Best Sound. Dan memang music score bikinan Mark Mancina cukup menempel di telinga gua sampe sekarang.

Pemeran utamanya diperankan oleh Keanu Reeves. Setelah mulai terangkat namanya lewat Point Break (sutradaranya Kathryn Bigelow, ring any bells?). Lewat film ini nama Reeves kian melambung. Beruntunglah Reeves karena tadinya peran ini diperuntukan untuk Stephen Baldwin (salah satu adik Alec Baldwin). Kerja keras Reeves melatih ototnya tidak sia-sia bahkan potongan rambutnya yang super pendek menjadi trend waktu itu.

Bisa dibilang film ini jugalah yang mengorbitkan Sandra Bullock. Penampilannya yang “manis“ memang memikat penonton dan membuat audience menyukainya. Bisa dibilang Bullock berhutang budi pada film ini. Karena banyak list Bullock setelah film ini, bahkan penampilan sekilasnya Bullock dalam A Time to Kill menjadi bayaran termahal saat itu.

Yang tidak boleh dilewatkan adalah villainnya yang dimainkan oleh almarhum Dennis Hopper, yang setelah proyek ini, filmnya yang cukup menarik adalah Waterworld.
Hampir bisa dibilang semua pemain penting di film ini menjadi tenar berkat Speed termasuk partnernya Reeves yang dimainkan oleh Jeff Daniels yang bintangnya pun ikut terangkat meskipun kini tenggelam lagi.

So Speed termasuk film favorit gua dengan ide cerita yang menegangkan, bom di bis yang terpicu karena kecepatan bis melebihi 50 mil/jam, lalu kalo kecepatan bis berkurang maka bomnya meledak. Alur cerita seperti itupun sudah cukup memikat, namun cerita bukan hanya itu tapi ada hal-hal lain yang juga tidak kalah menarik. Memang mungkin kualitas para pemerannya bukan sekelas Oscar tapi sudah pasti Speed salah satu pelopor film dengan tema ledak-ledakan (bom). Bahkan waktu itu Speed di juluki kalo diartikan ke Indonesia kira-kira. Film aksi nomor satu.
Ada satu hal yang menganggu gua, gua uda cek di Laserdisc, VCD, DVD, tiap ditayangkan di televise bahkan di versi Betamax. Waktu nyonya tua meledak di bis, sebelumnya Traven (Reeves) diperlihatkan sedang memegang bahunya tapi sepersekian detik kemudian Traven tidak terlihat sedang memegang bahunya. Hal ini yang sedikit mengganggu setiap gua nonton film ini.

Thursday, October 28, 2010

DISTURBIA (2007)


Adegan kecelakaan di awal film cukup mengagetkan. Gua salut dengan adegan kecelakaan mobil Hollywood masa kini. Betul-betul terlihat nyata dan dengan dibantu oleh sound yang dahsyat membuat adegan itu terserap beberapa menit sebelum menghilang. Screenplay yang ditulis oleh Christopher B. Landon dan Carl Ellsworth menawarkan ide lama yang segar di awal film sampai pertengahan film. Lalu semua seakan-akan kembali ke atmosfer usang yang sering menjadi trend film-film sejenis. Atau mungkin ini salah sang sutradara D.J. Caruso, yang sangat bagus di awal tapi terjebak dengan rutinitas film bergenre sama. You know, tokoh antagonis bisa ada dimana-mana dan sangat-sangat kuat. Boring. Untung film hanya berdurasi 105 menit.

Bayangkan semua terjadi di sekitar rumah Kale. Kalo dibuat dengan tidak “pintar“, penonton akan gampang dibuat bosan. Namun hal ini tidak terjadi di paro pertama film. Gua sangat ingin mengikuti apa yang akan tersaji di menit-menit berikutnya. Dan film ini kehilangan “kesaktiannya“ di paro akhir. Bahkan penampilan Ashley (Sarah Roemer) pun tidak membantu lagi. Tidak menggemaskan lagi.


Sang ayah diperankan oleh Matt Craven (dia ini cameo atau bintang tamu yah). Lalu sang ibu diperankan oleh The Trinity, Carrie Ann-Moss. Masih terbayang di benak gua sebagai Trinity. Tendangan melayangnya memang mantap. Well disini dia hanya seorang ibu biasa.

Bahkan kesan pertama gua melihat Mr. Turner (David Morse), adalah tertawa dengan potongan rambutnya Dan sayangnya hal itulah yang terjadi, gua nyengir terus begitu Mr. Turner muncul di layar. Mr. Turner...Mr. Turner...

Sebenarnya film sudah menarik dengan memasukkan peralatan modern yang digunakan oleh Kale dan temannya, Ronnie (Aaron Yoe). Hal ini menambah modernitas dalam film sehingga kaum muda akan tertarik. Dan buat gua, itu sebuah ide yang bagus. Hanya kebodohan-kebodohan kecil yang terlihat rancu (tidak dijelaskan di film) ketika bunyi kaca atau percikan listrik, apakah benar bisa terdengar sampai ke luar. Bikin gua sedikit bingung. Tapi anggaplah terdengar sehingga membuat film ini menjadi lebih mendebarkan. Bisa dibilang, adegan-adegan menegangkannya kurang panjang sehingga kita masih diberi waktu untuk menghela napas. Harusnya tancap terus. Dan bersamaan dengan itu, durasi film dikurangi lagi 15 atau 20 menit. Maka, pas lah ramuan untuk film ini.

Banyak yang mengatakan Disturbia adalah versi baru dari Rear Window-nya Alfred Hitchcock. Gua ga bisa komen karena gua belum nonton film itu.


Walaupun demikian, ada hal-hal bagus di film ini. Di awal, Shia bisa mengekspresikan bagaimana ketika dia melihat ayahnya meninggal. Tanpa dikasih liat pun, kita bisa menebak apa yang terjadi. Juga ketika dia masuk lagi ke ruangan bapaknya, lalu ketika dia merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Gua dapet ekspresinya. Dibandingkan film ini, gua lebih suka duet Caruso dan Shia di film selanjutnya, Eagle Eye.

Gua suka penampilan Shia disini. Dia bisa membuat kita bersimpati. Sikap humorisnya yang malu-malu terlihat. Ketakutannya tergambar dengan pas. Jelas dia memang salah satu bintang masa depan. Film berbujet US$ 20 juta ini berhasil mengeruk US$ 117 juta di seluruh dunia. Dan gua memuji Caruso yang berhasil memaksimalkan bujet untuk membuat film yang menarik (sekali lagi, diluar terperangkapnya film ini dengan film bergenre sama). Di luar hal itu, gua menganggap film ini diatas rata-rata (sedikit aja)

Friday, October 22, 2010

HEIST (2001)


Film tentang pencurian yang langsung teringat dalam benak gua adalah Thomas Crown Affair (TCA)-nya si Pierce Brosnan. Ga tau kenapa ini yang langsung terlintas, mungkin karena kemaren baru baca bahwa film ini bakal ada lanjutannya atau memang karena film ini berkesan untuk gua.


Intrik tipu menipu antar sesama pencuri sangat menarik, dan gua bingung kenapa yah hanya TCA yang gua inget, oh…gua inget satu lagi Entrapment-nya Sean Connery. Heist mempunyai deretan bintang yang cukup menjanjikan, Gene Hackman, Delroy Lindo, Danny Devito dan Sam Rockwell. Nama-nama yang sudah terkenal dengan aktingnya yang tidak perlu diragukan lagi.
Heist memiliki kesempatan yang bagus untuk menjadi film yang menarik hanya dengan modal para bintangnya saja. Hanya sang sutradara terjebak dalam bayangan intrik yang dibikin biar penonton bingung sehingga mengurangi sisi “pencurian”nya yang harusnya cukup menarik.
Inilah salah satu film yang semakin membuktikan jejeran bintang ternama belum tentu menghasilkan film yang bagus, menarik untuk ditonton sepanjang film. Bukannya jelek tapi tidak terlalu melekat di benak gua. Malah selama menonton, gua teringat-ingat adegan-adegan di TCA.

Filmnya termasuk lambat pacenya (walau ga terlalu lambat), adegan tembak-menembak pun tergolong biasa sekali dan bahkan tidak terlihat seru (menurut gua). Hanya yang pemeran cewek yang selalu kebagian nyamar cukup menarik juga triknya. Begitu gua tau nih cewek nyamar untuk apa, gua puji bagian yang ini. Sang sutradara David Mamet terkenal sebagai penulis The Untouchables, Hannibal. Mamet terlalu ‘santai’ dalam menggarap film ini sehingga begitu mendekati klimaks, dia terlalu terburu-buru sehingga menghasilkan ending yang terlihat biasa saja.

Film ‘low profile’ ini berbujet 39 juta dolar tapi hanya mendapatkan 28 juta dolar. Jika anda penggemar film pencurian, film ini bolehlah dikoleksi. Tapi jika anda mengharapkan film bagus dengan kumpulan akting-akting kelas berat, mungkin anda akan kecewa.

Sunday, October 17, 2010

LEGEND OF THE GUARDIANS : THE OWLS OF GA’HOOLE (2010)


Setelah X-Men trilogi selesai dirilis, muncullah spin-off nya yaitu Wolverine. Seakan-akan tidak mau ketinggalan setelah franchise Harry Potter hampir berakhir, muncullah spin-off nya yaitu Legend of The Guardians : The Owls of Ga’Hoole (LOTG:TOOG) (haha…a bad joke). Cerita tentang burung hantu yang bisa bertingkah-laku seperti manusia bahkan bisa berperang.

Judulnya cukup panjang. It’s a mouthful. Ternyata ini berasal dari novel, sebuah trilogi. Novelnya berjudul Guardians of Ga’Hoole karangan Kathryn Lasky. Gua belum pernah baca bukunya. Namun gua cukup ngerti jalan ceritanya karena isinya ga macem-macem (bahkan sedikit predictable or membosankan). Latar belakang masing-masing karakter kurang dalam, mungkin sulit karena dipangkas sedemikian rupa menjadi film dengan durasi 90 menit. Perseteruan dua saudara pun tidak memberikan impact yang membekas buat gua. Sayang sekali, padahal ini salah satu faktor yang cukup menarik.

Film animasi yang ini digarap oleh Zack Synder. Sutradara yang sangat berpotensi menurut gua, gua suka karya-karyanya seperti Dawn of The Dead, 300 dan Watchmen. Bahkan kabarnya dialah yang akan menyutradarai film Superman berikutnya. Setelah menonton film ini, gua bisa membayangkan sebagian besar adegan film Superman nanti. Adegan slow motion. Not bad. I love slow-motion style.

Filmnya sendiri sangat menarik di awal apalagi mengikuti trademark-nya Pixar, selalu ada film pendek di awal. Dan berhubung film ini diproduksi oleh Warner Bros, maka filmnya pun adalah film baru dengan karakter lawas yang sering membuat gua terpingkal-pingkal (dalam bentuk animasi 3D lagi). Sebenarnya agak aneh melihat karakternya berbentuk burung hantu yang kepalanya besar, tidak cantik atau tidak indah tapi berkat “kelihaian” Synder, gerakan mereka apalagi waktu mereka bertarung luar biasa bagus (tidak semuanya sih) tapi yang paling menarik dari film ini selain slow motionnya adalah adegan perang yang cukup keren dan patut dinantikan di penghujung film. Lupakan kedalaman karakter yang mungkin tidak sempat diperdalam di film ini berkat durasinya yang cukup singkat untuk gabungan ketiga novel.

Mengenai tehnik animasinya jelas bagus. Bulu dan mata burungnya terlihat sangat real. Visualisasi laut, badai dan api pun menggetarkan. Hanya kenapa yah waktu gua nonton di Ciwalk XXI, waktu gambar diambil dari jarak jauh terlihat tidak fokus, agak sedikit berbayang-bayang. Tapi terlihat jelas kalo gambar diambil close up. Apakah pengaruh proyektornya yang kurang fokus? Atau karena gua nonton yang versi 2D bukan yang 3D sehingga mempengaruhi ketajaman gambar. (but I don’t think so)

Pengisi suaranya hampir semua tidak tertebak oleh gua, kecuali Hugo Weaving sebagai ayahnya Soren. Suaranya khas sekali. Bahkan suara Helen Mirren pun gua ga nyadar. Hampir semua berlogat Inggris tapi katanya pengisi suaranya kebanyakan aktor/artis Australia. Lagu yang dinyanyikan oleh Owl City dimainkan pada saat momen yang tidak pas, sayang sekali padahal lagunya lumayan asik.
Sudah lama tidak nonton animasi di bioskop setelah Up. Hanya sayang, film ini tidak cukup membuat dahaga gua berkurang. Ada sesuatu yang kurang (But I don’t know what it is). Menurut gua, film ini terlalu “kelam” buat anak-anak (namun tidak terlalu seram). Meskipun sudah banyak kok film animasi yang nonton bukan hanya anak-anak tapi malahan orang dewasa. Itu sudah hal yang lumrah. Gua kurang berkesan dengan para karakternya. Film animasi untuk dewasa seperti Waltz With Bashir masih lebih bagus dari ini. Mungkin Synder agak “grogi” membuat film animasi sehingga film sedikit tanggung walaupun ciri khas Synder masih melekat. Hanya adegan-adegan slow motion lah yang membuat film ini di atas rata-rata. Jika ingin mengajak anak, keponakan atau sepupu yang masih kecil, tolong berpikir lagi. Tapi jika anda penggemar Synder, jelas tiket anda tidak sia-sia karena anda masih bisa merasakan aroma Synder. Itung-itung pemanasan melihat karya Synder dengan karakter yang bisa terbang, karena proyek berikut Synder sesudah Sucker Punch adalah Superman.

Wednesday, October 13, 2010

THE ABYSS (1989)


Gua pikir “pertarungan” pertama antara Ed Harris dan Michael Biehn adalah dalam film The Rock. Ternyata mereka pernah bertemu di film ini sebelumnya. Jika melihat filmography Biehn, sebenarnya dia cukup beruntung bermain dalam film-film bagus garapan sutradara ternama. Sebenarnya dialah jagoan di Terminator, dia pun termasuk seorang protagonis di Aliens. Tapi nasib berkata lain, Biehn tidak kunjung tenar berbeda dengan Arnold Schwarzenegeer yang melesat naik setelah Terminator.


Well, enough about Biehn. Sekarang kita menuju ke kedalaman laut The Abyss. Sutradara film ini bukan sembarangan. Berhasil mencapai puncak tertinggi dalam tangga box office lewat Titanic dan berhasil memecahkan rekornya sendiri lewat Avatar. Iya, James Cameron. Jika dilihat dari tahun rilis film ini, 1989 dan jika kita lihat tehnologi yang dipakai hasilnya sangat luar biasa. Sentuhan magis di bawah air. Memang film yang bersetting di air memerlukan biaya yang tidak sedikit, seperti Waterworld, Speed 2 : Cruise Control termasuk juga Titanic. Dengan beban yang biaya cukup membengkak membuat sulit untuk kembali modal. Lain halnya dengan kasus Titanic yang luar biasa laris. Jadi bisa dibilang Cameron kurang berhasil di film ini, dengan bujet 70 juta dolar, menghasilkan 110 juta dolar dari seluruh dunia.

Mengenai filmnya sendiri tidak jelek, mungkin kurang hingar bingar ala Cameron, malah film ini bisa dibilang film yang tenang (iyalah, setting film kan di bawah air) Tapi tetap spektakuler yang menjadi ciri khas Cameron. Gua dibuat berkesan sekali dengan penggarapan Cameron yang menurut gua cukup sulit. Karena tehnologi belum cukup canggih untuk membuat underwater environment, makanya Cameron membuat fasilitas (2 tangki) yang cukup besar sedalam 12 meter untuk bisa menampung air masing-masing sebanyak 28 juta liter dan 9 juta liter. Ceritanya sendiri sebenarnya berjalan lambat, konflik pun tidak banyak hanya memang alur cerita konsisten.

Sesuai yang gua ceritakan di atas, selain Biehn juga ada Ed Harris. Mr. Ed ini memang sudah menunjukkan aktingnya yang luar biasa disini. Lagipula aktingnya selalu terlihat kuat dalam setiap filmnya. Gua selalu amazed dengan performancenya Harris. Seperti dalam Apollo 13, The Rock dan Truman Show.


Pemeran utama wanitanya adalah Mary Elizabeth Mastrantonio, setelah The Abyss, dia maen di Robinhood : Prince of Thieves dan The Perfect Storm. Terakhir bermain dalam serial TV Law & Order.

Cerita The Abyss sendiri mirip dengan Sphere-nya Dustin Hoffman, maksud gua settingnya yang sama di kedalaman laut. Sphere merupakan adaptasi dari novel karangan almarhum Michael Crichton yang diterbitkan tahun 1987.

Jika kita melihat film-film Cameron dari Terminator, Aliens sampe yang terakhir Avatar. Hampir semuanya memasukkan unsur-unsur yang sama seperti robot mekanik yang jelas di Avatar visualisasinya dipercanggih dan diperindah.

Yang perlu dicatat, film ini ditulis sendiri oleh Cameron dan diproduseri oleh salah satu mantan istri Cameron yaitu Gale Anne Hurd. Jadi menurut gua film sesederhana apapun di tangan Cameron bisa menjadi cukup luar biasa dan membuat gua terkagum-kagum dengan tehnologinya. Menurut gua film ini cukup direkomendasikan karena sedikit sekali film yang bersetting di bawah laut, kalo di laut sih lumayan banyak.

Friday, October 8, 2010

RESIDENT EVIL : AFTERLIFE (2010)



Setelah sekian lama, akhirnya kesampean juga nonton film ini. Mungkin karena sudah cukup lama, yang nonton ga sampe seperempat studio. Mulai bosen dengan Resident Evil? Kalo gua sih hanya sedikit mengendor di RE : Extinction. Alice, sang jagoannya terlalu sakti. Sampe bisa pake kekuatan telekinesis gitu. Males deh.

Karena telanjur di facebook gua pasang foto profile Resident Evil : Afterlife (berikutnya gua singkat jadi Afterlife), mau ga mau akhirnya gua tonton juga film ini, meskipun sejujurnya kemaren gua uda nyuruh mbaknya buka denah kursi yang Legend of The Guardians. Mengingat konsistensi gua di facebook hehehe, akhirnya gua minta yang Afterlife. Tempat favorit gua yaitu lima deret dari depan bagian tengah. Tempat favorit gua ini adalah hasil dari pengamatan menonton sejak tahun 1987 (memang harus diakui, gua sudah cukup lama berkecimpung di dunia perfilman :D). Untuk aktor, mereka berperan di layar, untuk sutradara di belakang layar. Untuk gua cukup di depan layar (alias sebagai penonton).


Adegan awal, orang-orang berjalan di bawah guyuran hujan. Keren. Penyerangan Alice di Jepang, cukup keren sampai kesaktian Alice muncul lalu…(tonton sendiri deh). Berikutnya banyak adegan-adegan yang dibuat stylish dan keliatan sekali ditekankan untuk efek 3D (btw, gua nontonnya yang versi 2D). Sejujurnya, sampai mendekati akhir, gua suka dengan Afterlife, hanya memang karakter zombienya tidak terlalu dominan disini dibandingkan dengan 3 film pendahulunya. Bahkan muncul undead yang mulutnya membuka ala villain di Blade 2. Malahan ada Axeman yang kapaknya lebih gede dari senjatanya Cloud di Final Fantasy : Advent Children. Ditambah nanti ada karakter-karakter yang berpakaian putih-putih seperti di The Island. Mungkin Paul W.S Anderson, sang sutradara pernah menonton ketiga film tersebut. Gayanya Anderson memang tidak berubah, dia selalu meramu adegan demi adegan dengan cepat. Hampir terlihat di semua film-filmnya. Diantara semua filmnya, gua paling suka Event Horizon (Sam Neill), film tentang luar angkasa yang cukup menarik buat gua.

Atmosfer dan nuansa horornya terasa di film RE yang pertama, masih terasa di Apocalypse apalagi ada karakter Jill Valentine. Sudah mulai hilang di Extinction (tidak membantu walaupun ada tokoh Claire Redfield). Disini ada karakter baru yang masuk yaitu, Chris Redfield. Yang sedalam-dalamnya dari hati gua bilang, nih karakter kalo ga ada juga ga masalah. Malah dibilang merusak citranya Chris. Wentworth Miller ga banget deh jadi Chris. Tidak berasa kangennya dengan Claire (serasa baru 1 jam saja mereka tidak bertemu). Yang patut dicatat adalah penampilan Spencer Locke sebagai K-Mart yang gua pikir bakal menjanjikan di masa depan. Milla Jovovich sebagai Alice (gua suka potongan rambutnya disini). Claire Redfield diperankan oleh Ali Larter (tadinya gua ga suka, tapi disini cukup bagus kok).

Dejavu abis nonton ini. Yang pertama dejavu ke arah yang lebih positif, karena gua seperti merasa nonton The Matrix. Cukup efektif di beberapa scene tapi sisanya malah berkesan berlebihan dan eksekusi di layar jelek. Dan yang membuat dejavu ke arah yang negatif adalah gua teringat Ultraviolet (kebetulan sama-sama dimainkan oleh Jovovich), betapa spesial efek yang kurang sempurna sehingga membuat film menjadi kurang bagus. Dan sayangnya Violet dejavu yang sering gua rasakan ketika menonton Afterlife.

Alur cerita pun sekarang lebih ke arah konspirasi Umbrella (perusahaan bandel yang sampe 3 film pun belum mati-mati) yang menurut gua semakin jauh dari pakemnya. Penonton (gua) menonton film ini karena unsur horor (zombie) yang harusnya ditawarkan tapi malah menjurus ke teori konspirasi and blah…blah… Sebenarnya melihat Anderson duduk di kursi sutradara lagi membuat gua SEDIKIT berantusias menonton film ini. (gua tekankan sedikit). Format 3D tidak menarik minat gua. Memang ada beberapa bagian yang cukup bagus. Angle kamera yang diambil dari atas waktu pengepungan zombie di penjara bagus (hanya feel seremnya kurang dapet)

Satu lagi yang membuat film ini kurang berkesan. Villain utamanya Wesker, apalagi untuk adegan klimaksnya. What’s going on here? Ibarat makanan utama yang kurang enak ditambah desert yang ga jelas bentuknya.



Kesimpulan gua, nih film berkat stylishnyalah membuat gua menilai film ini lebih baik dari Extinction. And That’s it. Jika ingin menonton versi 3Dnya, silakan, tapi buat gua menonton 2Dnya sudah cukup. Jika anda penggemar gamenya, siap-siap kecewa dengan Chris Redfield. Ngomong-ngomong, kapan nih karakter Leon dan Ada masuk ke filmnya ? (yang menurut gua bakal ada lanjutannya lagi setelah Afterlife)

Ada yang perlu diperhatikan, waktu gua baca credit title, gua melihat ada satu nama yang membuat gua mengingat-ingat, perasaan nih orang ga ada di film tadi, dan ternyata ada sedikit adegan di bagian akhir. Jadi jangan cepat-cepat pulang.