Friday, December 24, 2010

PREDATORS (2010)


Another movie tentang karakter yang satu ini, dan kalo gua bilang sudah mulai membosankan. Setelah muncul dalam Alien vs Predator yang sebenarnya bisa memberikan nilai lebih namun hanya menelurkan hasil yang biasa-biasa saja bahkan sekuelnya AVP : Requiem yang bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Kini karakter ini kembali bersolo karir lagi, berharap bisa lebih gegap gempita dengan ditambah huruf S di akhir judul sehingga menjadi plural. (alias lebih dari satu)


Setting tempat kembali ke hutan lebat. Tokoh utama diserahkan ke tangan Adrien Brody. Actually bikin gua penasaran apakah lebih menarik jika dimainkan oleh aktor watak Brody. Hasilnya, bagian awal cukup memberi kesan apalagi suara Brody sedikit dibuat lebih berat. Ditambah hasil analisanya yang cukup menarik. Setelah 30 menit lewat, film ini sudah kehilangan daya tariknya. Ide yang cukup jitu untuk tidak menampilkan wujud predator di awal film, cukup menghemat biaya. Nimrod Antal sang sutradara terjebak dengan film-film sejenis, yang pemeran utamanya selalu terpisah. So tipikal. Sebenarnya nama Robert Rodriguez sebagai produser cukup menjanjikan karena biasanya apa yang terjadi dalam karakter-karakter filmnya Rodriguez dan Tarantion sulit ditebak. Namun disini twist yang ada tidak cukup membuat kaget atau bahkan mungkin sudah tertebak.

Laurence Fishburne bermaksud menjadi unik apalagi dengan teman bayangannya, well sudah keduluan oleh Wilson-nya Tom Hanks di Cast Away. Sebagai cameo jelas Fishburne tidak memberikan arti apa-apa apalagi kalo dia dinyatakan sebagai pemeran pendukung, jelas mubazir.

Mungkin Nimrod bermaksud untuk membuat sedikit film Predator yang beda, mungkin terinspirasi oleh Fincher dalam Alien 3, dimana atmosfer film lebih bukan ke sisi aksi atau horror tapi ke aspek psikologinya. Namun menurut gua film ini tanggung banget, apalagi sesudah 30 menit pertama, jelas sudah hilang arah.

Monday, December 20, 2010

THE SOCIAL NETWORK (2010)


Facebook sangat-sangat fenomenal. Hampir semua orang, baik tua dan muda sekarang punya account facebook. Gua juga punya. Dulu sempet bikin tapi hampir tidak pernah digunakan, tapi sekarang tiap connect ke internet pasti facebook-lah yang gua buka pertama kali. Luar biasa.
Berdasarkan buku yang berjudul Accidental Billionaires yang ditulis oleh Ben Mezrich, maka dibuatlah film oleh sutradara David Fincher, yang menceritakan Marc Zuckerberg (creator Facebook).



Di awal film, gua dibuat terkagum-kagum dengan gaya bicara Jesse Eisenberg yang cepat seakan-akan kantong udaranya ga pernah habis. Bahkan dialognya pun terdengar penuh kesinisan ditambah tatapan matanya yang ingin mengatakan kata-kata dari dalam hatinya yang seakan-akan bertentangan dengan apa yang keluar dari mulutnya. Satu poin yang bagus dalam film ini menurut gua. Andrew Garfield (pemeran reboot Spiderman yang lagi diproduksi) cukup bermain baik disini sebagai teman baiknya Zuckerberg yang bernama Eduardo Saverin. Menurut gua, tampaknya dia cocok juga bermain sebagai Peter Parker muda. Pemain lainnya yang cukup menarik perhatian adalah Justin Timberlake sebagai Sean Parker. At least, dia bisa keluar dari bayang-bayang seorang penyanyi. Mungkin ke depannya, Timberlake bisa lebih memerankan karakter yang lebih menguras kualitas aktingnya.


Alur cerita dibuat sedikit bolak-balik. Tidak memusingkan sebenarnya, hanya mungkin agak bingung timelinenya antara kasus dengan Eduardo dan kasus dengan Tyler dan Cameron Winklevoss (katanya pemeran dua karakter ini bukan kembar tapi yang satunya lagi memakai CGI agar wajahnya mirip). Tapi selebihnya cukup bisa dinikmati. Walaupun menurut gua, film ini tidak punya klimaks dan akhir film pun tidak dibuat tuntas. Sejujurnya dibandingkan dengan film Fincher yang sebelumnya The Curious Case of Benjamin Button (TCCOBB). Meskipun gua tidak terlalu suka dengan TCCOBB, gua lebih suka itu daripada The Social Network (TSN). Namun masih cukup menarik buat gua sebagai pengguna Facebook, untuk mengikuti sedikit proses awal terciptanya jejaring sosial ini. Yang menjadi titik utama dari Fincher adalah bukan secara teknis terciptanya Facebook tapi lebih ke sisi pertentangan batin dalam hati Zuckerberg dan alasan utama kenapa Zuckerberg membuat Facebook. Bahkan ini bukan kisah hidup Zuckerberg tapi hanya mengambil momen-momen penting sebelum dan sesudah era facebook tercipta.
Penulis naskah Aaron Sorkin dan Fincher did a good job dan tidak terjebak dengan kerumitan istilah informatika, yang bisa membuat penonton yang awam bingung. Tapi mereka berhasil membuat kesederhaan proses itu (meskipun memang tidak detil) tapi membuat penonton cukup mengerti sedikit proses IT.

Diantara semua filmnya Fincher, yang gua suka (sudah nonton) hanya The Game yang dimainkan oleh Michael Douglas dan Panic Room (Jodie Foster). Orang banyak bilang Fight Club bagus, tapi gua belum pernah nonton, jadi belum bisa kasih komentar. Fincher biasanya banyak bermain di visualisasi apalagi TCCOBB tapi disini tidak terlalu terasa.
Gua penasaran dengan Sorkin, liat di IMDB ternyata dia yang bikin cerita A Few Good Men, dimana menurut gua ini salah satu film terbaiknya Tom Cruise. Eisenberg, hahaha…sori bro, gua belum pernah nonton filmnya dia kecuali ini, tapi kalo kita liat daftarnya dia ada maen di The Village-nya Shyamalan. (nanti gua tonton lagi deh, dia jadi apa disana). Sama dengan Andrew, gua tidak pernah nonton filmnya dia, padahal dia juga maen bareng Cruise di Lions for Lambs. What, gua juga belum pernah nonton satupun filmnya Timberlake. Parah nih gua. Oh kecuali denger suaranya di Shrek The Third.


Perlu dicatat penampilan Joseph Mazello yang jadi temannya Zuckerberg. Mazello ini dulu yang maen jadi Tim di Jurassic Park-nya Spielberg.

Thursday, December 9, 2010

THE ROCK (1996)


Sebenarnya gua suka semua film-filmnya Michael Bay. Tapi diantara sederetan film karya Bay yang memenuhi syarat dari segi komersil dan berbobot. The Rock lah yang menurut gua masuk kategori tersebut.

Ini adalah karya kedua Bay setelah besutan yang pertama (Bad Boys) cukup menarik perhatian moviegoers. Bisa dibilang waktu itu, sedikit sekali promosi film ini di Indonesia. Hampir semua tidak menyadari rilisnya film ini di Indonesia, termasuk gua (mungkin karena waktu itu, Bay belum setenar sekarang).


Dengan kerendahan hati, film ini berhasil membuat gua kagum. Betapa patriotisme gua muncul melihat adegan slow motion di awal film dengan iringan lagu dari Hans Zimmer yang terngiang-ngiang sampai sekarang. Gua bikin review ini juga sambil mendengarkan theme songnya.

Lalu kejar-kejaran antara Sean Connery dan Nicolas Cage di pusat kota cukup destructive dan menegangkan. Tapi di antara semua adegan, yang paling memikat gua adalah debat antara Morrison dengan Hummel di shower room dimana mereka saling berperang kata lalu...(tonton sendiri deh untuk menikmati “indahnya“ adegan ini)



Mengenai editing cepat dan dinamis memang sudah menjadi trademarknya Bay yang menurut gua membuat karya-karyanya memiliki cirikhas. Ditambah angle kamera yang berputar dengan karakter sebagai porosnya. Sedikit slow motion dan sekali lagi music score-nya Zimmer yang memorable. Bukan hanya itu saja, penampilan trio Connery, Cage dan Ed Harris yang menampilkan permainan akting mereka yang mantap. Tapi kalo disuruh milih siapa yang lebih unggul, gua pilih Harris untuk film ini. Btw, gua juga suka penampilan Michael Biehn disini, peran kecil tapi bawa efek “bagus” buat film.

Memang banyak film-film Bay yang lebih berjaya di box office, tapi tetap The Rock lah yang menurut gua yang sukses secara komersil dan mutu.

Tuesday, December 7, 2010

SKYLINE (2010)


Pertama kali liat posternya yang segede gajah di Ciwalk (dengan warna mayoritas biru), gua langsung tertarik dengan posternya yang langsung mengingatkan gua akan film Independence Day atau War of the Worlds. I always like film-film invasi alien tapi yang lebih bersifat universal yah, bukan yang lebih condong ke horor seperti film Alien.

Satu hal yang harus diperhatikan adalah bujetnya yang cukup murah untuk film sejenis ini. 10 juta dolar. Bandingkan dengan 2012 yang 200 juta dolar. Kenapa gua tekankan dana pembuatannya karena hal ini bisa menjadi salah satu faktor untuk mengagumi film ini. Ide cerita memang bukan hal yang baru, apalagi tahun kemaren gua dibuat terkagum-kagum dengan District 9 yang menggunakan ide sama tapi cerita yang fresh. Strause Brothers (Colin dan Greg) memang pakar dalam special effect. Karena sebelum Aliens Versus Predator : Requiem, mereka mempunyai daftar panjang sebagai ahli special effect. Inilah salah satu masukan untuk sutradara-sutradara film fiksi bagaimana cara meminimkan bujet sehingga bisa digunakan untuk hal-hal lain.


Cerita film ini pun singkat sebenarnya hanya menitikberatkan ke sisi survival-nya. Jumlah pemain pun bisa dibilang sedikit dan bukan dari jejeran pemain terkenal. Mungkin anda akan menganggap biasa semua alien beserta pesawatnya (apalagi kini memang banyak bermunculan film-film yang hanya menampilkan sisi visual efek yang memanjakan mata) tapi perspektif kita akan sedikit berubah jika mengetahui berapa jumlah uang yang dikeluarkan untuk film ini. Yang pasti gua terkesan sekali dengan visualisasi yang tampil di layar bioskop. Tingkat ketegangan pun dapat gua rasakan. Hanya terus terang gua bingung dengan endingnya. Gua bingung apakah gua harus menyukai endingnya atau tidak. Karena di satu sisi, kok kayaknya endingnya bisa dibilang merusak semuanya tapi di sisi lain, gua merasa endingnya tidak jelek juga. Gua jadi inget ending District 9 yang bisa dibilang cukup membikin hati kurang enak (tipe ending yang gua suka).

Mengenai castingnya, gua juga hampir tidak mengenal semuanya. Yang gua tahu hanya Donald Faison karena gua pernah liat dia di Remember The Titans. Yang lainnya adalah manager hotel atau karyawan hotel, gua ga tau namanya, gua liat dia jadi jendral di The Expendables.


Bentuk fisik para kawanan alien disini, memang mengingatkan gua akan berbagai film seperti War of The World, Cloverfield bahkan sampai The Mist. Memang tidak terlihat orisinil tapi cukup memanjakan mata dan menegangkan. Sekali lagi, dengan bujet rendah, Strause Brothers sudah menyajikan visual efek yang luar biasa buat gua. Itulah yang terngiang-ngiang dalam benak gua, hebat dengan biaya segitu tapi sudah bisa membuat film fiksi alien dengan special effect yang tidak terlihat murahan. Bahkan gua sampai melupakan dari segi cerita dan lain-lain.

Gua berandai-andai bagaimana jika Strause Brothers diberi suntikan dana yang lebih besar. Mungkin mereka bisa membuat film ini lebih maksimal, lebih menggema, lebih megah lagi tapi sayangnya tetap dengan standar cerita yang masih biasa-biasa saja.