Monday, September 12, 2011

I AM NUMBER FOUR (2011)




Sebenarnya D.J. Caruso membesut Disturbia dulu baru Eagle Eye, tapi gua nontonnya terbalik. Eagle Eye dulu baru Disturbia. Lebih suka Eagle Eye sih, karena intensitas ketegangannya lebih memacu adrenalin, sedangkan Disturbia lebih ke thriller dan sebenarnya di awal sudah ditata dengan apik hanya sayang menjelang akhir, terjebak dengan kebodohan-kebodohan genre film sejenis ini. Tapi menurut pandangan gua yang biasanya ga pernah salah haha (ya biasanya 30% saja yang tidak benar, nah yang 70% nya ga pernah betul), Caruso punya potensi untuk menjadi sutradara yang nyantai tapi nendang (emang pemain bola). Hal itu yang gua rasakan waktu menonton karya terakhirnya. Based on novel karangan siapa yah, (gua lihat imdb dulu deh) Jobie Hughes dan James Frey. I am Number Four berhasil menjadi sebuah film yang awalnya biasa saja namun akhirnya pun tetap menjadi biasa saja.




Dengan poster keren, sang jagoan yang diperankan oleh Alex Pettyfer dengan sinar biru di tangannya. Gagah. Menarik perhatian. Setelah menonton filmnya, gua rasa pasti cerita di novel lebih keren lagi, hanya Caruso belum bisa memaksimalkannya ke dalam layar. Mungkin karena sulit mengadaptasi sebuah novel ke dalam sebuah skenario film. Adegan aksinya hanya menarik ketika John berlari dan melompat dengan lincahnya (untung ga ada jaring yang keluar dari tangannya), terus ada satu iringan musik yang berulang kali muncul yang membuat suasana hati terbawa arus film. Teresa Palmer kurang berhasil membawa film ini terangkat, meskipun harus diakui kemunculannya dalam adegan aksi cukup “mencerahkan”. She can fight dan wajahnya lebih cantik dari Kristen Stewart (agak mirip Stewart). Porsi adegan cintanya terasa nanggung. Berlebihan seperti Twilight pun bikin eneg, kekurangan pun bisa membuat atmosfer film kurang kuat. Para musuhnya ternyata hanya menakutkan di bagian awal saja. Akhir film ini tidak berhasil membuat gua berantusias menunggu kelanjutannya, karena gua dengar nih novel terdiri dari beberapa jilid.



Tapi jangan maen-maen dengan produser film ini, Michael Bay ( I wonder kenapa bukan dia yang nyutradarain film ini). Yang terkenal dengan adegan ledak-ledakan yang dahsyat tapi untuk film-film yang diproduserinya, dia tidak menonjolkan ledakan-ledakan yang heboh bahkan cenderung sederhana (masalah bujet kali yah).






Kesimpulan gua, ceritanya sebenarnya bisa berkembang menjadi bagus, mungkin Caruso terpentok oleh naskah sehingga tidak bisa lebih berkembang lagi. Atau mungkin memang cerita bakal semakin seru di jilid keduanya (kalo jadi dibuat). Dulu sebenarnya gua berharap banyak dengan Alex Pettyfer (kayak gua manajernya aja), setelah dia tampil keren di Alex Rider : Operation Stormbreaker (2006) dan dia dia tidak banyak bermain setelah itu.

2 comments:

WewW said...

Sebuah film yang diawali dengan biasa dan akhir yang biasa pula.. hahaha.. Kocak banget pas baca bagian itu bang.. Tapi emang bener adanya sih. Walaupun gw akuin, gw terhibur juga lha ama pelem ini. :D

Bang Mupi said...

lumayan sih, ada Teresa Palmer bro :)