Friday, July 30, 2010

THE SORCERER'S APPRENTICE (2010)


Ada tiga sineas yang menarik perhatian gua dalam The Sorcerer’s Apprentice (TSA). Yang mana dulu yah? Mungkin Jon Turteltaub dulu deh, yang menjadi sutradara film ini. Ada tiga film garapan Jon yang gua suka sekali, yang pertama adalah While You Were Sleeping (Sandra Bullock), Phenomenon (John Travolta) dan yang terakhir The Kid (Bruce Willis). Ada sesuatu di film olahan Jon yang selalu membuat gua tertarik. Filmnya mungkin tidak terlalu sukses secara komersil (tetap menguntungkan) tapi kebanyakan filmnya cukup bagus, di atas rata-rata.


Bintang utama film ini, Nicolas Cage. Jelas bukan aktor sembarangan. Pernah dapat piala Oscar lewat Leaving Las Vegas. Film-filmnya yang gua suka antara lain, tentu saja Face/Off, The Rock, Knowing dan Snake Eyes. Beberapa ada yang berhasil masuk box office tapi ada juga yang terpuruk disana. Bahkan cenderung film-filmnya akhir-akhir ini kurang bombastis kecuali dwilogi National Treasure. Ini ketiga kalinya Cage diarahkan Jon.

Sebagai produser adalah Jerry Bruckheimer. Bruckheimer cukup produktif sebagai produser dan dulu terkenal sekali dengan tangan emas-nya namun kini cenderung mulai luntur emasnya. Mungkin keberuntungannya saja yang berkurang. Lihat saja hasil dari trilogi Pirates of The Carribean bahkan kini rencananya bakal ada lanjutannya lagi. Terlalu memaksakan menurut gua. Dengan Jon, ini kerjasama yang ketiga kalinya lewat dwilogi National Treasure dan film ini. Kalo dengan Cage, sudah bersama-sama sejak The Rock, Con Air, Gone in Sixty Seconds, dwilogy National Treasure dan film ini. Luar biasa sekali.

Catatan yang luar biasa untuk mereka bertiga. Kini musim panas 2010, muncul film mereka yang bercerita tentang penyihir. Mengikuti franchise Harry Potter yang mana bernuansa sihir di jaman modern. Begitu pula premise TSA. Sebenarnya menarik layaknya mitologi Yunani yang dihadirkan dalam dunia modern dalam Percy Jackson. Gua selalu suka ide cerita seperti itu. Khayalan gua bertanding lawan khayalan Hollywood sana. Kebanyakan gua yang menang sih :) tapi kadang kala juga ada fantasi yang tidak terpikirkan oleh gua.

Gua menonton film ini tanpa ekspektasi apapun bahkan gua belum pernah melihat trailernya, jadi sama sekali tidak terbayangkan seperti apa film ini bahkan ceritanya pun tidak tahu menahu. Tapi judulnya bisa memberitahu sedikit tentang film ini, right? Hanya tau sineas yang membuatnya. Does it help? I don’t know. Film sangat, sangat menarik di bagian awal, bahkan gua tidak menyangka begitu panjang rentang waktu ceritanya. Kalo gua baca, ide cerita film ini diambil dari film Fantasia. Pantesan ada adegan sapu-sapu yang bisa membersihkan sendiri. Awalnya adegan ini memukau gua sampai akhirnya malah jadi tidak menarik lagi.

Yang pasti peranan special efek sangat penting sekali. Tidak terlalu istimewa sebetulnya tapi cukup meyakinkan dan menambah nilai film. Burung besi terbang mengingatkan gua akan film Saur Sepuh jaman dulu (kapan ya film ini diremake). Andai ada pertarungan di udara dengan mengendarai burung besi tentu lebih menarik. Adegan naga pun cukup heboh, this is China town but naganya kok bukan Chinese Dragon. But still it’s a scary dragon and a big one of course.

Teringat dengan Harry Potter? Sudah seharusnya dan tolong jangan bandingkan dengan franchise terkenal itu. Maaf, film ini masih kalah. Karakter yang tidak terlalu kuat salah satu faktornya. Dasar cerita yang kurang kokoh bisa ikut disertakan ke dalam faktor kekurangan. Gua berharap para pembuatnya memang tidak berniat untuk mengalahkan ketenaran Harry Potter. Cukup dengan motivasi untuk mengeruk sedikit keuntungan, yang sayangnya hal itu pun sulit untuk terpenuhi. Dengan bujet US$ 160 juta dolar, baru mengumpulkan sekitar 40 jutaan di minggu keduanya. Padahal Cage sebagai Balthazar sudah cukup meyakinkan. Hanya memang cast lain kurang mendukung, Jay Baruchel sebagai Dave menurut gua kurang pas. Alfred Molina sebagai villain pun terlihat kurang kuat dan berkesan maen-maen (atau memang bermaksud kesana tapi it’s not working). Becky, gadis yang dicintai Dave diperankan oleh Teresa Palmer (mirip ama Kristen Stewart mukanya, malah ini lebih cantik menurut gua), sayang aktingnya masih perlu dipoles lagi. Juga ada Monica Belucci yang tampil sebentar, namun cukup mengesankan penampilannya.


Sorry Jon, kali ini gua hanya sekedar puas belaka dengan film ini (tidak lebih dari itu) dan segera melupakan TSA. Kamu sudah berbuat sebisa kamu dengan skenario yang ada. Skenarionya memang terlalu sederhana, perhaps tujuannya memang untuk konsumsi anak-anak, yang mungkin sudah akan terpuaskan melihat jagoannya bisa mengeluarkan gumpalan cahaya dari tangannya, burung besi yang bisa ditunggangi , naga hidup yang berasal dari barongsai. I almost forgot, ada car-chase scene juga (dunia yang terbalik cukup mengesankan).

Buat Bruckheimer, jangan bersedih karena dua film anda musim panas ini sulit untuk balik modal, mudah-mudahan pendapatan dari seluruh dunia bisa menutupinya atau mungkin untung sedikit lah. Bukan salah anda juga, kedua film itu TSA dan Prince of Persia sudah cukup menghibur menurut gua. Mungkin keberuntungan anda saja yang lagi menurun. Teruskan membuat film-film yang menghibur.

Wednesday, July 28, 2010

INCEPTION (2010)



Melihat trailer Inception, gua jadi inget video klipnya Boyzone yang berjudul Everyday I Love You. Tiba-tiba teringat beberapa adegan di video klip mereka. Gua sudah terkagum-kagum dengan Christopher Nolan lewat film Memento yang menurut gua sangat unik. Kembali terkesan lewat film Batman Begins dan langsung menjadikannya film superhero favorit gua (padahal gua suka banget dengan Superman). Nolan tidak menurunkan performa kerjanya lewat The Dark Knight. Jujur sulit bagi gua untuk menganggap The Dark Knight lebih baik dari Batman Begins, karena menurut gua mereka setara bagusnya. Kini lewat film terbarunya Inception, membuktikan lagi bahwa Nolan memang brilian. Dengan ide yang sudah sering difilmkan, Nolan sebagai penulis cerita juga membuat sesuatu yang baru dan lebih kompleks. Yang lebih hebat lagi idenya itu bisa divisualisasikan dengan rapi (gua yakin proses editingnya sulit nih). Tidak banyak sineas yang bisa berbuat seperti itu.



Cukup sudah tentang Nolan, sekarang beralih ke para bintangnya. Leonardo DiCaprio sudah lama beralih dari film-film yang dianggap hanya bermodalkan tampang boyishnya. Di film ini jelas hal itu diperkuat lagi. Leo bermain cukup baik tapi bukan akting terbaiknya. Joseph Gordon-Levitt terlihat lebih dewasa disini tapi gua masih suka penampilan dia di (500) Days of Summer, namun adegan pertarungan di zero gravity menakjubkan sekali. (terbayang sulitnya suting adegan ini)

Yang gua perhatikan di film ini adalah Ellen Page yang terlihat dewasa dan tambah cantik. Berbeda sekali waktu dia tampil di X-Men : The Last Stand. Performancenya disini sih biasa saja menurut gua. Hanya dialah yang mewakili penonton untuk menyelami apa yang terjadi pada Cobb. Satu lagi yang cukup menyita perhatian gua adalah Tom Hardy (denger-denger dia ini nih nanti yang maen di film Mad Max baru). Ken Watanabe lumayan. Cillian Muprhy not bad. Dan eh ternyata ada Tom Berenger (terakhir liat di serial October Road). Gua kelupaan dengan Marion Cottilard sebagai istri Cobb. Juga Michael Caine yang hanya tampil dua scene. Least but not less adalah Pete Postlethwaite sebagai Maurice Fischer.


Musiknya Hans Zimmer cukup membantu walaupun tidak sekuat di The Dark Knight. Satu lagi yang gua suka dari film ini adalah Nolan tidak terlalu mengumbar special efek yang berlebihan. Spesial efek hanya sekedar menjelaskan cerita bukan pamer. Ketika bangunan kota bergerak memang bagus tapi sayang gua sudah melihat yang lebih bagus di Dark City-nya Alex Proyas.

Kita memang butuh konsentrasi untuk menonton film ini dan harus membuka wawasan kita tentang mimpi yang selama ini sering kita alami. Mungkin kita bingung dengan judulnya, jangan khawatir semua akan dijelaskan dalam film. Jangan sampai terlewatkan adegan demi adegan karena mereka saling berkaitan. Tapi untuk lebih memudahkan, perhatikan karakter mana yang dishoot kamera, maka karakter itulah yang lebih dominan dalam adegan berikutnya. Paro akhir film sangat intense bahkan kita harus berkonsentrasi lebih keras untuk memahami adegan demi adegan. (cool huh? You spend some money to buy the ticket and you must think hard after that)

Kerumitan tingkatan mimpi merupakan sebuah ramuan cerita yang bisa mengangkat nilai film ini hanya bisa juga menjadi bumerang sehingga banyak penonton yang mungkin tidak mengerti jalan ceritanya. Tapi paling tidak, penonton akan terbayar oleh visualisasi yang terwujud pada layar yang menurut gua beberapa cukup spektakuler. Jadi jika kalian bingung, ya nonton lagi aja. Jika kalian tertidur ketika menontonnya, jangan salahkan diri anda (mungkin mimpi anda lebih hebat dari mimpinya Nolan hehehe). Dan mungkin juga kita mempunyai persepsi dan kesimpulan yang berbeda setelah selesai menonton. Kita jangan berdebat karena mungkin itulah tujuan Nolan sebenarnya, membiarkan penonton menarik kesimpulan sendiri. (we have been incepted by Nolan). Lagian apapun bisa terjadi di dalam dunia mimpi, bukan? You could be superhero, handsome man, rich man, anything. Dan Nolan sudah menentukan banyak aturan di dunia mimpi tersebut.

Sesuai perhitungan Nolan, 5 menit di dunia nyata sama dengan 1 jam di dunia mimpi. Maka gua mengatakan bahwa gua sudah tertidur selama kurang lebih 12,5 menit di bioskop dan mendapatkan mimpi yang cukup memuaskan meskipun tidak memorable banget. (gua curiga obat yang membuat gua tertidur dioleskan di tiket bioskop yang gua beli hehehe)

Friday, July 23, 2010

NOTTING HILL (1999)


Awalnya gua tertipu dengan judulnya. Gua pikir Nothing eh ternyata Notting. Ternyata Notting Hill adalah nama sebuah distrik di London. Film ini dibintangi oleh Julia Roberts dan Hugh Grant. Gua sebenarnya tidak terlalu suka dengan Julia, tapi film ini masuk dalam deretan film favorit gua. Especially one of my favorite romantic movies.

Roger Michell, sang sutradara berhasil membuat sebuah film yang sangat menarik. Jelas didukung oleh cerita yang ditulis oleh Richard Curtis. Cerita cinta sederhana yang digarap dengan sederhana tapi hasilnya memuaskan penonton (termasuk gua). Banyak dialog-dialog lucu penuh kekikukan yang membuat gua tertawa. Hugh pun bermain bagus disini. Hasilnya pun laris manis, dengan modal US$ 42 juta menghasilkan US$ 363 juta di seluruh dunia. Mengesankan sekali. Itulah kesan yang gua juga dapatkan dari menonton filmnya.


Melihat list di imdb. Tidak banyak daftar film yang sudah dibuat Roger. Hampir semua filmnya gua tidak tahu kecuali Changing Lanes yang dibintangi oleh Ben Affleck dan Samuel L. Jackson. Never mind, setidak-tidaknya gua menyukai Notting Hill. Ditambah iringan musik yang membuat film ini menjadi lebih indah dan romantis.


Julia berperan sebagai Anna Scott seorang artis terkenal. Gua yakin semua sudah mengenal Julia. Sudah banyak film yang dibintanginya. Hanya beberapa yang gua suka selain film ini, yaitu Conspiracy Theory bareng Mel Gibson (tidak banyak yang senang film ini) lalu ada Erin Brockovich yang membuat Julia mendapat Oscar. Itung-itung membantu Julia promosi film terbarunya yang sebagian sutingnya dilakukan di Bali, Eat Pray Love (yang kabarnya beredar bulan Agustus 2010). Sebagai Anna, memang seakan-akan Julia berperan sebagai dirinya dan menurut gua sangat pas sekali. You gonna love Anna here. So adoreable dan sedikit menyebalkan hehe…

William Thacker diperankan oleh Hugh, well, kalian akan bersimpati pada tokoh ini. Pemilik toko yang menjual buku-buku travel. Unik juga. Satu film Hugh yang gua langsung ingat adalah Music and Lyrics. Kalo kalian suka Music and Lyrics pasti kalian akan suka Notting Hill. Dan satu lagi yang sedikit nyeleneh yaitu American Dreamz. Ada satu adegan bagus yang menggambarkan waktu satu tahun Thacker dalam kesepian. Brilian. Lalu juga ketika mereka duduk berdua di taman kemudian angle kamera bergerak ke atas ditambah lagu Ronan Keating “When You Say Nothing at All”

Satu lagi yang menarik dari film ini adalah pemeran pendukungnya yang tidak kalah ciamik penampilannya. Mereka sangat natural sekali disandingkan dengan aktor dan aktris seperti Hugh dan Julia. Patut diacungi jempol. Ditambah bintang tamu seperti Alec Baldwin dan Matthew Modine. Mungkin banyak juga cameo British actors or actress tapi yang gua kenal hanya Emily Mortimer.

Banyak film drama romantis yang gua tonton, tapi sedikit sekali yang enak untuk ditonton berkali-kali. Dan inilah salah satu diantaranya. Kisah manis yang dilantunkan dengan pas dalam waktu 124 menit.

Monday, July 19, 2010

KNIGHT AND DAY (2010)



Sebenarnya Knight And Day (KAD) punya potensi besar di musim panas tahun ini. Liat saja trailernya yang sangat menjanjikan. Kemudian liat para pemerannya. Siapa yang tidak kenal Tom Cruise. Siapa juga yang tidak tahu Cameron Diaz. Sebenarnya chemistry antara Cruise dan Diaz sudah bagus apalagi mereka sudah pernah bertemu dalam Vanilla Sky. Hanya kenapa harus memilih Diaz. Dia sudah pernah beraksi dalam Charlie’s Angels sehingga sedikit pupus mengenai perannya disini sebagai gadis biasa. Kate Winslet mungkin, pokoknya artis yang belum pernah menjadi jagoan di sebuah film aksi, menurut gua lebih pas.


Skenario yang ditulis oleh Patrick O’Neill ini mempunyai premise yang bagus untuk bersaing di tengah-tengah terjangan film-film summer. Andai James Mangold sang sutradara mau sedikit menambahkan durasi untuk setiap adegan aksi yang ada, gua pasti akan terkesan dengan film ini. Sayang sekali bujet US$ 125 juta digunakan untuk adegan aksi yang terkesan “tidak selesai” atau malu-malu untuk menunjukkan potensinya. Kalian punya Cruise, dia melakukan aksinya sendiri di seri Mission Impossible. So push to the limit dong. Memang banyak adegan yang tidak masuk akal tapi seperti gua bilang masalahnya bukan disitu tapi pada “tanggungnya” adegan aksi yang ada sehingga kurang memuaskan penonton. Okelah kalo dikarenakan ini film aksi campur komedi. Tapi apa harus dibuat serba tanggung. Gua lebih suka Mr. and Mrs. Smith. Namun film ini menang di sisi romantisnya (tetap masih termasuk tanggung).

Mengenai performance tidak ada yang istimewa dengan Cruise dan Diaz. Tapi gua melihat bahwa disini Cruise tetap terlihat muda dan gagah. Sedangkan Diaz terlihat sedikit gemuk, walaupun sedikit menua tapi malah lebih cantik menurut gua. Sedangkan Peter Sarsgaard, sejujurnya tidak dimaksimalkan dengan baik. Dia hanya sekedar bintang tamu saja. Sayang sekali. Banyaknya lokasi yang digunakan di film ini pun sirna, tak punya tujuan. Terkesan mubazir. Endingnya pun tidak kuat. Menurut gua, Mangold terlihat bingung kemana arah film ini menuju. Sebetulnya gua berharap banyak ketika melihat adegan aksi di bagian akhir tapi lho kok hanya segitu doang. Untungnya semua adegan aksi disini tidak diambil dengan style shaky camera.


Mungkin gua menganggap film ini sampai taraf fun (menyenangkan) tapi tidak memorable. Bahkan hasil peredaran di minggu kedua baru US$ 45 juta di Amrik saja. Masih jauh dari balik modal. Sebenarnya film ini bisa lebih baik, mengingat bujet besar, bintang kelas atas, premise cerita cukup menarik. Mungkin memang masanya Cruise sudah lewat, dua film terakhirnya Lions For Lambs dan Valkyrie tidak berhasil meraih US$ 100 juta.

Jadi teringat,ada satu adegan yang bikin gua tertawa. Yaitu ketika adegan Cruise dan Diaz di atas mobil. Perhatikan saja, ini bikin gua tertawa keras. Sisanya gua hanya nyengir. Sekedar intermezzo, judulnya kan Knight and Day. Sebenarnya apa artinya? Kalo Knight-nya gua uda nangkep di film tapi kalo Day, nah itu bikin gua bingung. Karakter Diaz kan bernama June, adiknya bernama April. Bukankah harusnya berjudul Knight and Month? Hehe…

Satu-satunya film Mangold yang pernah gua tonton adalah Identity. Yang memang menurut gua termasuk tanggung juga. Kini ditambah lagi KAD. That makes two. Jika kita lihat ternyata Mangold juga yang membuat 3:10 to Yuma (film western-nya Russell Crowe dan Christian Bale), lalu Girl, Interrupted yang membuahkan Angelina Jolie, artis pendukung terbaik.

Waktu nonton, penonton hanya memenuhi setengah studio (mungkin penonton tersedot oleh kekuatan para vampire dan werewolves). Penonton tertawa ketika Diaz disuntik serum kejujuran. Ketika keluar bioskop, ekspresi mereka biasa saja, mungkin yang para wanita masih terbayang-bayang dengan penampilan Cruise. Yang gua akui disini keren sekali. Sedangkan ekspresi muka gua datar berbeda ketika gua pulang nonton The A-Team.

Well, it’s just a fun movie, not memorable. It could have been better, I think. Tapi tetap gua tunggu Mission Impossible 4 jika jadi dibikin.

Sunday, July 4, 2010

DEJA VU (2006)


Sang produser, Jerry Bruckheimer mempunyai logo perusahaan dimana ada sebuah jalan dengan sambaran petir. Petunjuk pertama dari film ini adalah logonya yang diulang dua kali. Terlihat seperti film tentang crime investigation lalu genrenya berubah menjadi science fiction. (gua ga akan bilang terlalu banyak tentang ini) meskipun film ini bisa dibilang bukan genre science fiction karena sedikit sekali mengenai hal itu. Ada juga yang bilang lebih banyak fiksi daripada sainsnya.




Denzel Washington memang seorang bintang besar. Entah karena kemampuannya yang semakin mumpuni atau dia tidak terlihat berakting sama sekali disini. Penampilannya terlihat santai disini (namun bukan kualitas Oscar). Kolaborasinya yang ketiga dengan director Tony Scott setelah Crimson Tide (salah satu favorit gua) dan Man on Fire dan nanti ditambah The Taking of Pelham 123. Sedangkan ini merupakan kerja sama yang kesekian kali antara Scott dengan Bruckheimer setelah Top Gun. Coba gua liat imdb. Sesudah Top Gun ada Beverly Hills Cop 2, Crimson Tide, Enemy of The States.


Sebenarnya ide cerita di film ini adalah favorit gua. Tapi penulis naskah Terry Rossio dan Bill Marsilii membuat ide cerita yang sudah umum menjadi hal baru yang sangat cerdas. Gua sedikit teringat dengan Minority Report. Perhatikan semua adegan di film ini, karena itu akan membantu menyelami film ini sehingga lebih menarik. Ingat ini bukan film aksi.

Film ini bertambah “kuat“ dengan munculnya Sang Batman dari Batman Forever. Val Kilmer. Bukan sebagai pemeran utama tapi sebagai peran pendukung. Dia jadi gemuk disini. Plus akting yang pas (selalu) dari Bruce Greenwood. Meskipun dia sebagai antagonis dan protagonis, gua selalu suka performance dari Greenwood. Satu lagi yang hampir gua lupa, Jim Caviezel yang berperan sebagai Carroll Oerstadt.


Tokoh kunci di film ini adalah Claire yang diperankan oleh Paula Patton. Gua ga pernah denger nama ini, jadi bentar yah…gua cek imdb lagi. Pernah maen di Hitch (tapi tidak terperhatikan oleh gua) dan sesudah ini pun belum ada filmnya yang melejit. Padahal menurut gua tampangnya mirip Hale Berry.


Gua selalu amazed dengan film yang mempunyai genre yang sama seperti Déjà Vu. Bagaimana mereka mengambil suting adegan ini dengan adegan yang lain sehingga terlihat saling berhubungan tanpa kita menyadarinya. Itu salah satu alasan gua suka film sejenis ini. Tolong diingat lagi, ini bukan film aksi. Tidak akan ada ledak-ledakan yang berlebihan mengingat produsernya Bruckheimer.


Filmnya Scott cukup menjanjikan sebenarnya walaupun tidak banyak yang menghasilkan box office yang spektakuler (tapi cukup menguntungkan). Namun film-filmnya cukup memikat gua. Untungnya dia tidak menggunakan style yang dia gunakan di Man on Fire disini. MTV style kata banyak orang. Gua suka Crimson Tide (salah satu film kapal selam terbaik), Gua suka Enemy of The State (menegangkan dari awal sampai akhir), The Taking of Pelham 123, oh hampir gua lupa, Spy Game (salah satu film spy yang gua suka). Déjà vu pun berhasil masuk daftar favorit gua. Dengan bujet US$ 75 juta berhasil meraup US$ 180 juga di seluruh dunia.


Ada hal yang menarik mengenai music scorenya. Perhatikan music yang sama ketika menggambarkan bahwa karakter Doug Carlin yang diperankan Washington sedang jatuh cinta atau dalam posisi sedang terpesona. Gua suka iringan musiknya memberikan kesan romantis disela-sela adegan yang tidak romantis sebetulnya. Pas dan menyentuh.

Film berdurasi 128 menit ini pas sekali buat gua. Adegan aksi yang tidak berlebihan, juga tidak terjebak dalam keruwetan bahasa teknologi (mungkin ada sedikit kebingungan) dan yang pasti tetap asik diikuti dari awal sampe akhir. Karena gua selalu suka film sejenis ini.

Saturday, July 3, 2010

THE A-TEAM (2010)


Film dari tahun 80an lagi. Tapi kini bukan film bioskop tapi diambil dari serial yang terkenal. Kalo ga salah, jamannya TVRI nih. Serial yang didalangi oleh Stephen J. Cannell (ikut dalam kursi produser) disiarkan di Amrik sana pada tahun 1983-1987. Dengan bujet yang cukup besar US$ 110 juta, sang sutradara Joe Carnahan (ikut sebagai penulis bersama Brian Bloom dan Skip Woods) berhasil membuat film yang menegangkan dari awal sampai habis. Bloom pun bermain sebagai Pike di film ini. Adegan klimaks di ending film cukup spektakuler menurut gua (walaupun ada campur tangan CGI). Gua sampe ternganga melihatnya. Ditambah adegan-adegan kocak plus taktik atau strategi cerdas yang bertebaran sepanjang film, membuat gua langsung menobatkan film ini salah satu film favorit gua tahun ini. Meskipun sebenarnya The A-Team bukan termasuk serial favorit gua dulu. Gua hanya taraf menyukai saja bukan fans berat.



Ternyata disini, diceritakan bagaimana terbentuknya tim A ini. Memang cerita berlangsung cepat. Adegan aksi yang mantap ditambah sound yang menggelegar menambah terpacunya adrenalin kita. Hanya sayang kameranya agak shaky sehingga mengurangi ketegangan yang gua alami. Sayang sekali. Bikin gua ga jelas melihat apa yang sedang terjadi.


Adegan awal yang memperkenalkan para tokoh dimana karakter berhenti lalu muncul namanya. Membuat gua seakan-akan bernostalgia, gua kegirangan. Satu lagi yang gua suka adalah bercampurnya eksekusi rencana dengan pembahasan rencana mereka yang berkesinambungan sehingga kita mengerti jalan adegan yang berlangsung.


Sebagai Hannibal adalah Liam Neeson. Tadinya gua agak menyangsikan apakah Neeson bisa menjelma menjadi Hannibal. Memang tidak sih, tapi paling tidak Neeson bisa memberikan citra Hannibal yang baru. Dan it’s ok for me. He looks smart and tough.



Sebagai Face adalah Bradley Cooper. Menurut gua sih Cooper ga ganteng tapi yah…disini bicaranya pas sekali dan again, ga mirip sih tapi disini menurut gua Cooper punya pesona lain sehingga memberikan citra baru buat Face. So no problem buat gua.


Lalu Quinton Rampage sebagai B.A. Jelas badannya besar. Rambut sudah mirip. Hanya sayang sangar dan keketusannya tidak bisa mengalahkan Mr. T. Jadi menurut gua B.A kurang nendang disini.


Dan terakhir yang menurut gua pas banget adalah Murdock yang diperankan oleh Sharlto Copley. Kegilaan dan kelucuannya yang menjadi nilai plus film ini. Mungkin kalian familiar dengan wajahnya, dia yang maen di District 9, salah satu film favorit gua tahun lalu. Dan sekilas wajahnya kok mirip Robert Duvall hanya dalam versi mudanya. Dan gua terbahak-bahak ketika dia menirukan Mel Gibson di Braveheart dan ketika dia bicara bahasa Swahili. Dan teman-teman pasti akan ingat dengan adegan menonton film 3D (kocak banget).


Memang banyak adegan aksi yang menghentak-hentak ditambah iringan musik yang membahana. Tapi ada satu adegan yang menurut gua memang tidak masuk akal, tapi sangat brilian yaitu ketika mereka menyelamatkan diri dengan sebuah tank. Lalu jarang juga, gua liat akhir-akhir ini, adegan klimaks yang spektakuler. Coba nanti lihat adegan dengan kontainer. Luar biasa.



Penampilan Jessica Biel tidak terlalu memukau bahkan menurut gua, kalo digantikan oleh orang lain pun tidak terlalu jadi masalah. Ada juga Patrick Wilson, pendapat gua sama dengan Biel. Perannya tidak terlalu kuat menurut gua.


Kalo gua liat jejeran produsernya, well ga ada Jerry Bruckheimer tuh hehe…Padahal adegan di film ini termasuk gila-gilaan, khasnya Bruckheimer. Namun ternyata ada nama Tony Scott dan Ridley Scott. Hanya sayang film ini tidak bisa berbuat banyak di box office. Setelah bermain beberapa lama, saat ini pendapatan di seluruh dunianya baru cukup untuk balik modal.


Sudah lama gua tidak menonton film full aksi keluaran Hollywood, terakhir mungkin From Paris With Love tapi itu keluaran Perancis. Jadi dahaga gua cukup terpuaskan dengan film ini. Nasehat gua, tontonlah film ini di bioskop dan gua jamin kalian akan merasa puas, walaupun sebenarnya alur cerita dan ide ceritanya biasa saja. Bahkan bisa dibilang tidak ada plot yang berarti disini. Gua tidak merasa bahwa gua bernostalgia dengan serialnya. Malahan gua merasa nonton sebuah tim baru dengan sedikit karakteristik yang sama dengan serialnya.


Theme Song The A-Team hanya muncul beberapa kali dan sayangnya terbenam oleh suara-suara yang lain sehingga mungkin kurang terlalu disadari oleh penonton. Sekarang juga gua uda lupa gimana theme songnya. Sama sekali tidak terbayang di benak gua. Tapi kalo denger, gua pasti tau ini “lagu” mereka.