Tuesday, June 29, 2010

THE KARATE KID (2010)

Genre : Drama - Family
Directed by : Harald Zwart
Produced by : Jerry Weintraub, Will Smith, Jada Pinkett Smith, James Lassiter, Ken Stovitz
Starring : Jaden Smith, Jackie Chan, Taraji P. Henson
Written by : Christopher Muphrey (screenplay), Robert Mark Kamen (story)
Music by : James Horner
Cinematography : Roger Pratt
Edited by : Kevin Stermer
Running time : 140 minutes
Budget : US$ 40 millions
Distributed by : COLUMBIA PICTURES



We love the 80’s atau sudah habis ide-ide segar di Hollywood. Dua film berturut-turut Karate Kid dan The A-Team adalah produk tahun 80-an. But definitely I love the 80’s or 90’s.


Jarang sekali gua temukan, penonton bertepuk tangan ketika menonton sebuah film. Hal ini gua alami waktu gua nonton film ini. Bagi yang sering menonton film Hollywood jelas mengetahui bahwa ending filmnya sering terjadi pada hampir seluruh film sejenis. Tapi entah kenapa para penonton tetap bertepuk tangan. Ada yang mengatakan Mr. Miyagi dan Daniel-san pasti sangat bangga. Hehe… Padahal banyak yang menyangsikan “kemampuan” dari film ini sebelumnya.


Film remake ini berhasil menciptakan nuansa baru bagi mereka yang tidak pernah mengenal Ralph Macchio. Sedangkan bagi yang sudah menonton versi lama (gua) pun berhasil dihipnotis. Dan hasilnya gua lebih suka versi Jaden Smith ini.


Tidak bisa dipungkiri Jaden adalah salah satu calon bintang masa depan. Dengan dukungan ayahnya, Will Smith (jadi produser di film ini), Jaden punya peluang besar untuk itu. Tapi jangan salah, bisa dibilang disini, Jaden berakting bagus. Namun dalam beberapa adegan gua seperti melihat Will versi kecil. Jaden berhasil memainkan karakter seorang yang lemah dan ketakutan dengan musuhnya. Satu pertanyaan kecil, kemana Luke teman pertamanya di China.


Versi 1984 kental dengan nuansa Jepang. Kini berganti ke China. Miyagi pun berganti menjadi Han. Seharusnya Karate pun berubah menjadi Kungfu. Tapi entah kenapa alasannya, judulnya tetap tidak berganti. Mudah-mudahan dengan alasan untuk penghormatan akan versi Pat Morita. Beruntunglah Jackie Chan tidak berperan sebagai badut disini. Karena jelas sekali, Hollywood tidak mengetahui talenta Chan seutuhnya. Chan bermain sangat baik disini, dalam arti inilah film terbaik Hollywoodnya menurut gua. Han tidak berkata-kata bijak bahkan dia sangat manusiawi sekali. Semoga lewat film ini, para sineas Hollywood terbuka matanya akan talenta Chan sebenarnya. Lihatlah kesatuan guru dan murid lewat permainan dua buah bambu. Salah satu adegan terbaik di film ini menurut gua.

Banyak persamaan dan sekaligus juga perbedaan antara kedua versi. Dibalik semua itu, bisa dibilang film ini berdiri sendiri sehingga gua bisa menikmati nonton film ini. Mungkin durasi terlalu panjang, agak terengah-engah di tengah tapi kembali ke track yang benar hingga akhir film. By the way, jangan berharap ada cuplikan blooper di akhir film layaknya film-film Chan yang lain.

Sang sutradara, Zwart berani mengambil sisi modern dari China seperti gedung Olimpiade baru perlahan-lahan, dia menyorot sisi oriental dari negeri China. Nice moves. Zwart pun berhasil mengeluarkan adegan-adegan yang emosional, memang tidak sepanjang film tapi jelas lebih banyak dari versi dulu. Dan hal itu sangat efektif.


Sebagai sang ibu, Taraji P. Henson yang cukup menarik perhatian gua di Curious Case of Benjamin Button, bermain baik hanya tidak berkembang, mungkin karena skenarionya membatasi ruang geraknya.

Mungkin film ini bisa dijadikan suatu patokan untuk membuat sebuah remake. Yang tidak menghilangkan aspek dari film lamanya tapi juga membuat nuansa baru yang membuat film ini seakan-akan sebuah film baru yang segar. Good job Zwart


Hanya ada sedikit yang mengganjal, jelas ini tentang kungfu namun kenapa judulnya Karate Kid. Mungkin ini tribute untuk film originalnya. Atau ini untuk tujuan komersil agar penonton film originalnya pun akan menonton film ini ditambah calon penonton baru, sehingga akan menambah pundi-pundi dolar lebih banyak lagi.

Saturday, June 12, 2010

(500) DAYS OF SUMMER (2009)

Genre : Drama - Romantis
Directed by : Marc Webb
Produced by : Mason Novick, Jessica Tuchinsky, Mark Waters, Steven J. Wolfe
Starring : Joseph Gordon-Levitt, Zooey Deschanel
Written by : Scott Neustadter, Michael H. Weber
Music by : Mychael Danna, Rob Simonsen
Cinematography : Eric Steelberg
Edited by : Alan Edward Bell
Running time : 95 minutes
Budget : US$ 7,5 millions
Distributed by : FOX SEARCHLIGHT PICTURES

Banyak film drama yang sudah gua tonton. Ketika berpikir bahwa tidak akan ada lagi film drama yang bagus, bahkan ketika melihat trend yang lagi berkembang di Hollywood tentang remake, reboot dan lain-lain, menambah kepesimisan gua tentang film-film bagus. Tapi ternyata salah, akan selalu ada film-film bagus yang tetap dibuat. Mungkin konsep cerita yang sederhana dengan penuturan yang berbeda pun bisa membuat sebuah film menjadi sangat menarik. Salah satu contohnya film ini. Menurut gua ide cerita di film ini sudah biasa terjadi. Boy meets girl. Sudah banyak sekali terjadi di perfilman.

Hanya kini dikemas dengan bungkus yang berbeda dan unik. Film diawali dengan layar dibagi dua menceritakan kisah masa kecil antara pria dan wanita. Unik. Sejujurnya inilah yang selalu ada dalam bayangan gua, ketika kita bertemu dengan pasangan jiwa kita, pernahkah terlintas dalam benak kita, anggap saja kehidupan kita bak layar bioskop. Dulunya terbagi dua antara kehidupan kita dengan kehidupan pasangan kita. Atau mungkin dua layar itu pernah bersatu di suatu tempat namun kita tidak menyadarinya. Dan layar menjadi satu secara utuh saat kita menemukan belahan jiwa kita. Dilihat dari judulnya, harusnya ada 500 hari yang akan dilalui oleh Summer (atau summer disini mungkin hanya berarti musim panas). Lalu muncul angka yang menyebutkan peristiwa hari ke berapa. Unik lagi. Bahkan yang hebatnya angka-angka itu loncat maju mundur, tidak berurutan. Yang membuat penonton (gua) semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Untungnya tidak terjadi kebingungan buat gua dengan kronologis kisah cinta mereka.
Zooey Deschanel bermain pas sekali sebagai Summer. Mata beserta gerak geriknya. Jelas Tom jatuh cinta padanya. Menggemaskan sekaligus menggeramkan dan satu lagi, Summer tidak percaya cinta. Anda akan tergila-gila dengan Summer layaknya seperti Tom.
Sedangkan Joseph Gordon-Levitt yang bermain sebagai Tom adalah seorang pria yang jatuh cinta dengan Summer saat pertama kali berjumpa. He is the right guy for this role. Lewat pandangan matanya pun, kita tahu dia tergila-gila dengan Summer. Dia rapuh pun terlihat dari bahasa tubuhnya. Mungkin judulnya ada kata Summer tapi sebenarnya film ini tentang Tom.


Iringan musik yang hampir selalu menghiasi setiap scene menambah indahnya film ini. Sebenarnya bukan indah sih, romantis pun tidak. Tapi entah kenapa menonton film ini memberikan perasaan aneh sampai pada taraf gua suka film ini. Kenapa tidak? Film ini memberikan penggarapan yang unik tentang cinta. Berbeda dari film-film drama lainnya. Marc Webb menyajikan sesuatu yang lazim dengan cara yang tidak biasa. Dia sudah berhasil membuat gua terpana sepanjang film. Kisah cinta itu bukan sekedar sesuatu yang indah tapi juga harus berdasarkan kenyataan yang ada. Kisah manis dan pahit pun sudah menjadi bumbunya. Yang terjadi pada gua adalah tambah semakin gua masuk ke dalam film sampai akhirnya gua memuji film ini dan memasukkan ke daftar film favorit gua. Betapa indahnya mencoba cara baru untuk menceritakan sebuah kisah klasik dalam perfilman (baca : kisah cinta). Dan sekali lagi, film ini tidak terlihat indah di layar tapi terlihat indah dalam pikiran dan hati gua.

Narasi yang dibacakan oleh Richard McGonagle sangat menarik, perhatikan kata per kata yang cerdas ditambah visualisasi yang unik apalagi waktu pengenalan dengan karakter Summer yang sedang naik sepeda. Brilian. Anda akan menemui banyak sisipan klip-klip yang menarik sehingga menambah nilai film. Gua yakin anda akan terkesima dengan adegan layar dibagi dua antara adegan kenyataan dengan expectation. Keren.

Film ini mendapatkan nominasi Golden Globe untuk best picture dan best actor for Levitt. Sayang ga menang. Premier film ini diadakan di Sundance Film Festival 2009.
So teman-teman, gua merekomendasikan sekali film ini. Ditengah-tengah film-film Hollywood yang sejauh ini sering mengecewakan, gua menganjurkan film ini untuk ditonton. Highly recommended. Hanya agak berkonsentrasilah mengenai urutan hari-hari kisah mereka, karena ini sangat penting. Jika tidak, kita akan merasa bingung dengan jalan ceritanya.

Di awal film dikatakan bahwa this is not a love story. (yeah…right)

Friday, June 4, 2010

PRINCE OF PERSIA (2010)

Genre : Drama - Fantasi
Directed by : Mike Newell
Produced by : Jerry Bruckheimer, Chad Oman, Eric McLeod, Mike Stenson
Starring : Jake Gyllenhaal, Gemma Artenton, Ben Kingsley, Alfred Molina
Written by : Jordan Mechner, Boaz Yakin, Doug Miro, Carlo Bernard
Music by : Harry Gregson-Williams
Cinematography : John Seale
Edited by : Martin Kahn, Martin Walsh
Running time : 116 minutes
Budget : US$ 200 millions
Distributed by : WALT DISNEY PICTURES


Begitu denger film ini mau dibikin, gua langsung inget game jadul yang warna hijau, dimana karakternya loncat, naik lantai terus fighting pake belati. Gua ngiler waktu itu sering liat tapi ga bisa maen karena ga punya PC. Makanya saat mendengar kabar ingin dibuat film, gua langsung antusias. Mendengar Mike Newell yang akan menggarapnya membuat gua lebih bersemangat lagi, karena gua suka gayanya dia di Harry Potter and Goblet of Fire. Ketika gua liat trailernya, gua terpesona dan lebih berharap banyak. Meskipun gua banyak kecewa dengan beberapa film terakhir, gua tetap menunggu film ini. Dan ternyata...filmnya cukup memuaskan, walaupun mungkin bukan film yang bagus-bagus amat.
Pertama kali melihatnya, gua suka aksi lompat-melompatnya. Kata orang-orang itu namanya parkour. Mirip gamenya kata batin gua. Berlanjut dengan aksi Dastan dalam wujud Jake. Badan segede gitu bisa melompat dengan lincah yah. Hebat. Patut gua acungi jempol perubahan fisik dari Jake. Kalo soal akting sih biasa saja disini. Tinggal melihat dari hasil box officenya, apakah film ini akan berlanjut atau tidak. Tapi kalo dilihat dari sisi film adaptasi dari game, Prince of Persia (POP) sudah bisa gua katakan berhasil dan yang hebatnya lagi, nuansa gamenya terasa ama gua. Berbeda dengan Tomb Raider, berhasil namun atmosfer gamenya tidak terasa oleh gua.
Muncul sebentar di Quantum of Solace lalu jadi Io di Clash of The Titans. Seperti yang selalu gua bilang, tahun ini tahunnya Gemma bukan tahun Kuda atau macan atau naga. Kita lihat perkembangan ke depannya karir Gemma. Mungkin Gemma bisa dikatakan salah satu nilai plus film ini selain aksi parkournya tadi.
Yang satu lagi gua puji ya, itu deh si Mike yang berhasil menggarap film ini cukup memuaskan gua. Yang membuat gua suka Goblet of Fire karena gua suka gayanya Mike. So dia berhasil dua kali menurut gua.


Mengenai segi teknis, special efeknya menurut gua termasuk tidak luar biasa mengingat ini adalah film yang diproduseri oleh Jerry Bruckheimer yang tidak segan-segan mengeluarkan dana ekstra untuk kemegahan filmnya. Yang terasa karena gua nonton di blitz PVJ audi 5, sound systemnya yang luar biasa sampai bisa menggetarkan kursi, menambah nuansa ketegangan. Dan landscape yang diambil dari atas membuat pemandangan menjadi lebih indah dan megah.
Melihat hasil box office trilogi Pirates, membuat Jerry kembali bekerja sama dengan Disney. Menurut pribadi gua, Pirates sendiri kurang begitu bagus. Bahkan gua cenderung lebih suka POP. Well, ini memang soal selera.


Kembali ke soal performance para aktornya. Ben Kingsley terlihat biasa sekali. Dan Alfred Molina pun terlihat lebih meyakinkan saat jadi musuh Spiderman. Apalagi saudara-saudaranya Dastan, wah ga banget deh. At least persaudaraan mereka dapat gua rasakan di layar.
Dibalik itu semua, gua cukup terpuaskan oleh film yang berdasarkan game ini. Seperti gua puas dengan Resident Evil dan Tomb Raider. Tinggal kita lihat hasilnya di tangga box office. Dengan bujet US$ 200 juta, di minggu pertamanya hanya mendapatkan US$ 30 juta. Cukup sulit sih untuk mengejar balik modal. Tapi mungkin bisa dibantu dengan pendapatan di seluruh dunianya. Untuk jejeran film summer tahun ini, gua bisa memasukkan POP sebagai film yang lumayan bagus.