Wednesday, August 18, 2010

THE LAST AIRBENDER (2010)


Dulu gua pikir James Cameron sedang membuat Avatar yang berasal dari serial buatan Nicklodeon itu. Gua sangat berantisipasi sekali. Begitu mendengar ada dua versi Avatar. Yang disadur dari serial tv adalah yang dibuat oleh M. Night Shyamalan, menggunakan judul The Last Airbender (TLA). Gua masih berantisipasi (mungkin turun sedikit). Begitu melihat trailernya dimana Aang berlatih di puncak batu tinggi lalu dibawahnya kapal perang siap mengepung tempat itu. Gairah gua membara lagi (ampun kata-katanya).

Gua belum pernah menonton film serinya. Tapi gua tau sedikit lah. Tentang elemen-elemen api, air dan sebagainya selalu menarik perhatian gua. Menurut gua, serial animasi ini tidak kalah dengan serial silat buatan Hongkong. Mengenai Shyamalan, gua suka dengan Shyamalan sebetulnya bukan karena Sixth Sense melainkan karena film Signs yang menurut gua sangat bagus sekali. Meskipun menurun kualitasnya (kata banyak orang) tapi gua selalu menonton film-filmnya.

Banyak komentar negatif tentang film ini. Untungnya itu tidak mempengaruhi niat gua untuk menontonnya. Dan hasilnya, gua suka film ini. Akting para pemainnya memang kaku, apalagi yang anak-anaknya. Entah kenapa gua memaklumi hal itu. Seperti gua bilang, gua ga nonton film tivinya tapi gua suka premis cerita mengenai elemen-elemen yang ada dibumi. Jelas cerita pasti dipadatkan ke dalam 103 menit. Apakah berbeda jauh dengan aslinya, gua ga tau. Namun yang pasti gua ngerti jalan ceritanya. Dan menurut gua, dasar cerita film ini kuat sekali (iyalah serialnya pun memiliki fan base yang kuat) meskipun dijejalkan dalam durasi satu jam setengah lebih. Gua merasakan aura film ini (ingat bahwa gua ga pernah nonton serialnya). Banyak hal yang tidak diterangkan atau mungkin belum dijelaskan (kembali karena durasi mungkin atau karena akan ada sekuelnya), membuat gua mengira-ngira sendiri tetapi filmnya masih bisa dinikmati.

Yang membuat gua berkesan adalah visualisasi Shyamalan yang seakan-akan menyedot gua masuk ke dunia lain dengan landscape yang indah dan perpaduan bangunan-bangunan yang eksentrik. Ditambah binatang raksasa itu (ampun, gua bahkan tidak tahu namanya) sangat real sekali apalagi waktu dia berenang membawa Aang dan kawan-kawan. (gua googling, namanya Appa dan dia seekor bison raksasa) Salut buat production designer (Philip Messina) dan departemen special efeknya (ILM). Lagian gua suka adegan fighting di film ini yang menggunakan elemen-elemen seperti air, tanah, udara dan api yang sesuai dengan khayalan gua apabila digunakan dalam sebuah pertarungan. (ini yang paling gua suka)


Gua juga suka dengan iringan musiknya yang pas bahkan sedikit menginspirasi. Thumbs up for
James Newton Howard. (sekarang gua lagi denger hand of fate karyanya di Signs)
Di luar faktor cerita, special efek, production designer dan music score, film ini jelas kurang menarik. Akting pemain yang masih mentah (gua jadi berpikir apakah para pemain mengucapkan dialog-dialog yang menarik atau mereka hanya sekedar memberi gambaran/latar belakang kepada penonton apa yang terjadi di dunia mereka). Salah casting department atau Shyamalan punya visi lain?


Kalo alur cerita yang lambat memang ciri khas Shyamalan bahkan adegan pertarungan pun banyak dalam slow motion, namun kedua hal itu malah membuat gua menikmati film ini. Bahkan sebagai penggemar film silat/kungfu, gua suka dengan fighting choreography dalam TLA Adegan akhir mengingatkan gua akan pengepungan Helm’s Deep di Two Towers. Menang mana, ya jelas menang LOTR lah. Tapi ada sesuatu pada adegan itu yang membuat gua bergetar. Jelas bukan karena akting si Noah Ringer sebagai Aang. (sori gua tidak bahas lebih detil mengenai para aktor dan aktrisnya karena banyak yang gua ga tau). Mungkin hanya satu yang gua tau, Del Patev itu pun karena kemaren gua baru nonton Slumdog Millionaire.

Sebut gua aneh atau apa, karena dari sepuluh orang mungkin hanya satu yang bilang film ini bagus atau suka. Gua ga bilang bagus tapi gua hanya suka film ini dan sangat menantikan sekuel berikutnya.

6 comments:

Nitha Yusuf said...

jangan lupa hitung aku juga.. haha... berarti 2 dr 10 yah..
benar sekali!!! buruknya akting pemain agak ketutupan sama elemen yg lain,,, *siap menunggu sekuelnya*

Si Tukang Review said...

Saya langsung nonton serial animasinya habis nonton pilemnya bang. =)

Apakah bang mupi juga begitu?

Bang Mupi said...

@Nitha : wah kita sependapat soal TLA. Dan gua juga ga sabar nunggu sekuelnya :D

@Tukang Review : pengen nonton sih bro, cuma takut jadi kurang rame nonton sekuel TLA ntar.

Anonymous said...

hahaha
aduh bang mumi ini gmn sih..
ni muvi payahnya ga ketulungan jg..
palagi klo fans kartunnya
psti KECEWA....
mudah2 sekuelx gnti sutradara
amin...
syamalan e'e

Bang Mupi said...

waduh nama gua diganti jadi mumi? ckckck...

Well, kembali ke selera masing-masing :D Mungkin salah satu faktor kenapa gua suka karena gua ga nonton serial animasinya.

weizly said...

Jika sampe si director sakit ini yg buat sequel alias book2-nya, gw akan nyewaa hammer girl utk menghantam kepalanya biar sadar akan kerusakan yg sgt tinggi yg dibatnya dlm film ini,, saran saya ini langsung diremake dri bookI saja oleh director lain, (smga nolan), saya memaafkan kebobrokannya di film ini,thehappening(gaminat makanya ga marah) lady on the water (entah film apa ga ngerti) hanya krn dia pernah sgt baik di sixth sense dan THE SIGNS (flm alien terbaaik mnrtku), jgn ampe dia sentuh lagi neh serial,,gw bakar pake fire banding gw..hahahhahaha. Semua dlm film ini kegagalan total kecuali efekCGI, bahkan si dave patel sgt buruk mbawakan sang putra mahkota yg labil..!