Wednesday, November 16, 2011

THE SMURFS (2011)


Waktu gua masih imut dulu (tapi jangan salah sangka dulu, sekarang memang ga imut lagi tapi bermetamorfosis jadi keren), komik termasuk salah satu bacaan gua, selain buku-buku filsafat tingkat tinggi dan buku-buku tebal peneman tidur (maksudnya nemenin doang, bukan dibaca). Ga lah, bacaan gua waktu kecil ya seperti anak-anak kecil kebanyakan. Novel-novel remaja karangan Enid Blyton atau novel misteri favorit gua, Trio Detektif. Kalo komiknya dulu, gua suka sekali dengan Tintin (ini kapan ngomongin Smurf-nya). Nah ada satu komik yang gua kurang suka, nah judulnya yah itu Smurf hehehe. Iya, gua ga terlalu suka smurf. Lho jadi kenapa bisa nonton film ini? Nah ceritanya begini, istri gua yang suka Smurf dan ternyata anak gua juga suka, so karena gua suami dan ayah yang baik, gua pun menemani mereka.

Si manusia biru (bukan Superman yah), ini makhluk biru kecil yang punya satu kata ajaib yang bisa disambungkan dengan kalimat apapun. Yeah, they can smurf their special smurf into any smurf sentence. Artinya apa gua juga ga tau, dan gua juga ga tau kenapa nulis itu….hmm…’gargabe-smell’ sudah menyihir gua rupanya. Adegan awal diperlihatkan desa smurf yang ternyata sangat….kecil tapi full color dengan para penghuninya yang mempunyai nama sesuai dengan sifatnya. Kalo gua jadi penghuni desa smurf pasti nama gua Handsome.

Ibarat cerita dongeng, ada seorang karakter yang zero jadi hero. Ide cerita yang sering digunakan dalam film keluarga. Sebenarnya, pertama kali mendengar bahwa bakal ada film Smurf, dalam benak gua oh ini pasti film animasi murni, layaknya film Tintin. Tapi ternyata agak sedikit kecewa karena film ini tidak demikian. Seandainya tidak digabung dengan karakter manusia mungkin lebih asik untuk dinikmati karena kita seakan-akan dibawa ke dimensi lain, layaknya Avatar (padahal sudah sama-sama biru kan karakternya, kayaknya Smurf setelah sekian lama melewatiwaktu puluhan tahun berevolusi menjadi Na’vi). Walaupun sebenarnya Neil Patrick Harris bermain tidak jelek. Ketika menonton film ini, gua sedikit memutar otak memikirkan siapa yang memainkan si penyihir. Well, akhirnya tertebak setelah hampir 30 menit berpikir. Hank Azaria.

Cerita yang cenderung bukan anak-anak tapi ditujukan untuk anak-anak, bahkan tidak ada karakter anak-anak sama sekali, jelas bingung apakah film ini ditujukan untuk anak-anak atau untuk anak-anak penggemar komik Smurf yang kini sudah bukan anak-anak lagi. Mengerti tidak, anak-anak?

Jika hanya sekedar mewujudkan mimpi masa kecil dimana karakter-karakter smurf menjelma di layar lebar, film ini bisa cukup mewakili, tapi jika ingin mencari tontonan utuh, menurut gua, gua tidak terlalu terkesan. Sekedar menghibur pun tidak termasuk memuaskan. Endingnya pun seperti layaknya film keluarga biasa (gua sih tidak mengkategorikan ini film keluarga). Gua kategorikan film ‘nanggung’. Ide cerita yang sebenarnya tentang orang dewasa yang lupa untuk merasakan kebahagiaan dari hati yang tulus karena tekanan pekerjaan. Bahkan demi pekerjaan rela membuat idealisnya sendiri yang berasal dari hati yang paling dalam. Sayangnya tidak dikedepankan sehingga tidak menjadi kerangka cerita yang punya pondasi yang kuat meskipun mungkin film ini ingin mengingatkan bagaimana dulu waktu masa kanak-kanak, begitu ceria membaca cerita komik smurf, tertawa dan merasa bahagia tanpa ada beban, kini pun meski sudah menjadi manusia dewasa tetap bisa merasakan kebahagiaan polos yang dirasakan saat kita masih kanak-kanak. Tujuan film untuk mengingatkan kita kembali pada keceriaan masa kecil. Hanya sayang, menurut gua tujuannya tidak sampai ke penonton.

Sekedar info, Smurf ini diciptakan oleh Peyo dari Belgia pada tahun 1958. Pertama kali, mereka muncul dalam komik Johan and Pirlouit sebelum akhirnya menjadi komik sendiri setelah itu. Ada 29 komik yang terbit, 16 diantaranya dibuat oleh Peyo. Film ini berbujet 110 juta dolar namun sudah menghasilkan 557 juta dolar di seluruh dunia. Film yang bisa ditonton dalam versi 2D dan 3D ini rencananya akan dibuat sekuelnya yang akan rilis 2013.

Monday, November 7, 2011

TRANSFORMERS : DARK OF THE MOON (2011)



Sukses dengan franchise Transformers 1 dan 2, Michael Bay dan Steven Spielberg kembali merilis jilid yang ketiga. Dari film perdananya mendapat 709 juta dolar di seluruh dunia dengan bujet 150 juta dolar. Lanjutannya pun tidak kalah fantastis penghasilannya 836 juta dolar dari seluruh dunia.

Film pertamanya berhasil menggaet banyak penggemar baru, diluar fans berat robot-robot keluaran Hasbro. Dan akhirnya banyak yang dikecewakan oleh film keduanya yang (ampun deh) ga jelas arahnya mau kemana. Namun banyak orang (termasuk gua) menjadi sedikit antusias melihat trailer dari film ketiganya, yang menurut gua mempunyai magnet yang cukup besar seperti trailer film pertama. Gedung bertingkat yang perlahan-lahan roboh miring cukup membuat hati ingin menonton.

Jika anda sudah kadung cinta dengan tokoh Mikaela atau anda nonton Transformers karena faktor Megan Fox, mungkin anda akan patah hati karena di jilid ketiganya ini tidak ada lagi karakter Mikaela. Digantikan oleh karakter baru yang dimainkan oleh Rosie Huntington-Whiteley yang berperan sebagai kekasih Sam yang baru. Haruskah karakter Sam ada kekasih, lebih baik karakter Mikaela dimatikan di awal film, terus Sam hidup men-jomblo sampe tua karena cinta sejatinya hanya untuk Mikaela. Lebih baik di film ketiga ini, Sam menyelamatkan ayah ibunya kan cukup dramatis juga sebenarnya, dan tidak mengganggu film pertama dan keduanya yang memperlihatkan cinta Mikaela dan Sam yang begitu kuat.

Salah satu kelebihan dari film ini adalah, tidak banyaknya karakter robot yang ditampilkan sehingga tidak terjadi kebingungan layaknya yang terjadi dalam Revenge of the Fallen. Memang Decepticon lebih banyak jumlahnya tapi ragamnya tidak banyak. Dan satu lagi adalah adegan fight antar robotnya yang tidak terlalu cepat (banyak slow motion) sehingga lebih mengesankan buat gua. Bay berarti cukup memperhatikan kritikan-kritikan dari para penonton franchise ini, meskipun memang mungkin masih banyak kekurangan-kekurangannya. Tapi paling tidak, ada yang Bay usahakan untuk lebih baik dari sebelumnya.

Gua uda nonton Skyline dan Battle : Los Angeles. Dan melihat 30 menit terakhir dari film ini , mengingatkan gua akan kedua film itu. Di luar fight robotnya dan robohnya gedung pencakar langit, atmosfer film harusnya lebih ditingkatkan sehingga penonton bisa ikut merasakan, bukannya hanya menunggu kapan robot-robot itu akan berantem lagi. Karena sebenarnya gua suka dengan adegan-adegan yang menjurus ke apocalypse dan ketika gua menonton ini, hanya merasakan awalnya saja, selanjutnya tidak terasa lagi.

Gua tidak pernah nyangka bahwa Bay akan membuat sebuah trilogy. Dulu ketika dia membuat Bad Boys 2, well mungkin hanya ini satu-satunya sekuel yang akan dia buat. Saat dia menggarap Transformers 2, well just another sekuel, there won’t be a third one. Ternyata Bay “berhasil” dibuat (bukan membuat ya) untuk membikin sebuah trilogi. (berkat Spielberg nih hehehe). Sangat-sangat berharap bahwa tidak akan ada jilid berikutnya (tapi sudah terdengar kabar bakal ada kelanjutannya). Dan katanya kalo ga Spielberg yah Bay lagi yang duduk di kursi sutradaranya. Tapi jujur, gua sedikit jenuh dengan penggarapan Transformers di tangan Bay. Secara pribadi, lebih baik diakhir saja sampai jilid 3. Tapi apa mau dikata jika dilihat dari pendapatan film ini sekarang 1,122 milyar dolar di seluruh dunia dan menduduki posisi 4 terlaris di seluruh jagat (kalo di Cybertron, film ini laris ga ya?). Mungkin yang ikut mengkatrol naik pemasukannya adalah faktor film ini yang ada versi 3Dnya.

Namun jika dilihat cast untuk jilid ketiga ini, banyak nama-nama besar yang ikut meramaikan, suasana yang sudah ramai ini. Seperti ada Francis McDormand, John Malkovich dan Patrick Dempsey. Yang menurut gua penampilan-penampilan mereka tidak bisa menyelamatkan film ini.

Terus terang menonton film ini, gua ga ngerti gua mau dibawa kemana, karena menurut indra lima setengah gua, Bay pun bingung di tengah-tengah film, mau dibawa ke arah mana (mungkin karena durasinya cukup panjang). Well, jika diharuskan memilih, gua lebih baik menonton 30 menit bagian akhir saja.