Friday, October 2, 2009

G.I. JOE : THE RISE OF COBRA (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : Stephen Sommers

Produced by : Lorenzo di Bonaventura, Bob Ducsay, Brian Goldner

Starring : Channing Tatum, Sienna Miller, Marlon Wayans, Rachel Nichols, Ray Park, Said Taghmaoui, Lee Byung Hun, Joseph Gordon-Levitt, Dennis Quaid, Jonathan Pryce

Written by : (screenplay) Stuart Beattie, David Elliot, Paul Lovett; (story) Michael B. Gordon, Stuart Beattie, Stephen Sommers; (comic book) : Larry Hama

Music by : Alan Silvestri

Cinematography : Mitchell Amundsen

Edited by : Bob Ducsay, Jim May

Running time : 118 minutes

Budget : US$ 175 millions

Distributed by : PARAMOUNT PICTURES

Mengikuti trend X-Men, lupakan kostum yang berwarna warni. Karena dengan alasan, tidak sinkron dengan dunia nyata, maka warna kostum menjadi cool-black (istilah baru hehe). Bagi yang ingin bernostalgia, mungkin akan merasa kurang berkenan. Untunglah tokoh-tokohnya masih tetap seperti serial kartunnya.


Saya tidak mengikuti film animasinya. Tapi menilik dari judulnya, The Rise of Cobra. Sebenarnya sudah awal yang tepat untuk memulai franchise G.I. Joe. Karena Cobra adalah sebuah organisasi yang selalu berseteru dengan pasukan G.I. Joe. Apalagi ditambah ending film mengarah ke sebuah sekuel. Diduga mungkin suatu saat akan seperti X-Men, ada origin dari masing-masing karakter seperti Duke, Ripcord dan Snake Eyes. Tolong jangan deh jika dilihat dari hasil film pionernya ini.

Tahun ini adalah tahunnya Hasbro, perusahaan yang juga memproduksi robot-robot Transformers. Padahal melihat bujet antara kedua film ini yang tidak berbeda jauh. Tapi entah kenapa di pandangan saya, terlihat sekali perbedaan yang signifikan antara keduanya. Terutama sekali dari visual efeknya. Atau mungkin ada unsur kesengajaan karena terlihat sekali visual efek di G.I. Joe seperti animasi. Tapi Transformers pun ada film animasinya juga.


Saya suka karya Sommers sebelumnya, Deep Rising, The Mummy, Mummy Returns dan Van Helsing. Berharap merasakan ketegangan yang saya rasakan ketika menonton film-film tersebut. Tapi ternyata harapan saya hanyalah sebuah mimpi. Sebagai salah satu film yang saya antisipasi tahun ini, G.I. JOE sangat berhasil membuyarkan imajinasi saya tentang sebuah film yang bakal luar biasa di tangan Sommers. Well, Sommers not so summer this year.


Adegan aksi di film ini memang tersebar hampir sepanjang film. Bahkan semua adegan bisa dikategorikan action sequence. Sehingga cerita tidak menjadi kekuatan film. Untuk tidak mengurangi porsi adegan aksi yang ada, maka Sommers menceritakan background dari beberapa karakter lewat adegan flashback yang sejujurnya bisa dikatakan berhasil tetapi sayangnya tidak menambah nilai film ini.

Pace film ini cepat seperti yang Sommers lakukan dalam Van Helsing. Tapi adegan-adegan yang seru tidak menaikkan adrenalin penonton. Penonton (saya) seperti terdiam menatap layar tanpa berekspresi. Bahkan beberapa adegan yang dimaksudkan sebagai twist scene malah sudah tertebak sebelumnya.
Dengan senjata dan peralatan high tech, film ini tampil dengan dialog “low tech”. (Ingat Sommers, penggemar G.I. Joe itu sekarang sudah dewasa)

Ini film yang serba tanggung, hanya mengisi durasi dengan pameran adegan aksi yang tidak berjiwa. Mungkin sulit bagi Sommers mengisi karakteristik setiap tokoh yang terhitung banyak ini ke dalam sebuah film yang memang dikategorikan “film musim panas” (maksudnya hanya penuh ledak-ledakan, adegan aksi dan bujet mahal). Terbayang oleh saya, bagaimana beratnya beban yang ditanggung oleh sutradara pembuat Justice League (kalo memang film itu jadi diproduksi).


Setahu saya, dulu yang menjadi Duke adalah Mark Wahlberg. Entah kenapa sekarang beralih ke Channing Tatum. Body sih ok, tapi tampang bersedihnya ga ada waktu sahabatnya tewas. Malah dia tampil cool berkacamata hitam dalam setelan hitam di bawah guyuran hujan dan naik motor besar.
Marlon Wayans sebagai Ripcord, pada bagian tertentu cukup efektif sebagai badut. Meskipun tidak semua lawakannya lucu. (Dan jangan “takut” ini bukan film sejenis Scary Movie)
Ada ninja di film ini. Bahkan ada dua. Adegan aksi mereka biasa saja tapi cerita flashback mereka cukup menarik. Warna kostum mereka pun kontradiktif. Kostum putih – bad guy. Kostum hitam – good guy. Memakai aktor Lee Byung Hun cukup jitu untuk mewakili penonton Asia. Sayangnya saya jarang menonton film Korea jadi saya tidak tahu apakah Byung Hun ini aktor terkenal di Korea atau bukan.

Dennis Quaid sebagai General Hawk pun tidak bisa berbuat banyak, bahkan terlihat tidak berdaya disini. Entah apakah dalam serial aslinya, dia ahli dalam sebuah pertarungan atau tidak. Karena jelas disini, Hawk terlalu gampang untuk dipecundangi.

Pemanis film ini adalah persaingan antara Sienna Miller dan Rachel Nichols. Dua karakter yang berbeda. Satu ganas dan yang lain cerdas. Bisa dikatakan mereka cukup berhasil memerankan karakternya.

Jika anda menonton semua filmnya Sommers, maka akan banyak cameo dari bintang-bintang di film Sommers sebelumnya. Ada Brendan Fraser, Arnold Vosslo, Kevin J O’Connor.

Mungkin karena keterbatasan waktu atau karena memang bukan bagian itu yang ingin diekspos oleh filmaker. Proses masuknya Duke dan Ripcord dibuat sesingkat mungkin dan tidak semenarik mungkin. Padahal ini bisa menjadi bagian yang menarik dari film. Karena adegan rekrut-mengrekrut biasanya selalu menarik perhatian. Karena ini adalah awal sebuah karakter menjadi sesuatu yang lebih dari sebelumnya. Penonton biasanya menyukai hal itu.

Hampir menyerupai Transformers 2, pada peperangan di akhir film, sulit sekali menentukan mana lawan dan kawan. Bahkan lebih sulit lagi untuk mengkonsentrasikan pikiran pada film. Sekali lagi, penggemar G.I. Joe sudah beranjak dewasa, Bung Sommers. Adegan di Paris lah yang masih menyisakan semangat untuk terus menonton. Adegan aksi yang berlebihan bukanlah sebuah resep mujarab apabila tidak didukung oleh sebuah cerita yang bagus. Tidak selalu harus kompleks untuk membuat sebuah cerita yang menarik. Sebuah ide sederhana pun bisa menjadi sebuah film yang luar biasa jika diramu dengan cerdas.

Banyak yang mengatakan inilah the loudest movie of the year so far. Saya setuju dengan pernyataan itu. Desingan peluru kelas berat, ledakan yang luar biasa (walaupun tidak seluar biasa Terminator Salvation), “ocehan Ripcord” (maaf, ini hanya gurauan saja), adu pedang antar dua ninja. Saking bisingnya suara special efeknya, saya tidak memperhatikan iringan musiknya.

Tapi jangan khawatir, walaupun saya mengatakan film ini tidak luar biasa, bahkan cenderung biasa sekali. Banyak juga kok penonton lain yang sangat menyukai film ini. Itu kembali ke selera anda, bila anda menganggap Transformers 2 atau Terminator Salvation adalah film yang luar biasa, maka hampir pasti anda akan menganggap film ini pun demikian.

Friday, September 11, 2009

WATCHMEN (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : Zack Snyder

Produced by : Lawrence Gordon, Lloyd Levin, David Barron

Starring : Patrick Wilson, Jackie Earle Haley, Jeffrey Dean Morgan, Billy Crudup, Malin Akerman, Carla Gugino, Matthew Goode

Written by : David Hayter, Alex Tse, (comic book) : Dave Gibbons, Alan Moore (uncredite)

Music by : Tyler Bates

Cinematography : Larry Fong

Edited by : William Hoy

Running time : 162 minutes

Budget : US$ 130 millions

Distributed by : WARNER BROS (USA), PARAMOUNT PICTURES (INTERNATIONAL)

Sulit untuk membuat film superhero yang bagus saat ini, karena ada standar baru yang tercipta untuk film bergenre ini. Dengan adanya The Dark Knight dan Ironman, seakan-akan muncul suatu tingkatan baru yang lebih tinggi dalam perfilman Hollywood, untuk membuat film manusia super.



Bagi penggemar komik Watchmen, mungkin bisa menikmati film garapan Zack Synder ini. Tapi bagi yang non fans, siap-siap saja untuk terkantuk-kantuk (waktu saya nonton, bahkan ada yang sudah keluar ketika film belum berakhir). Sisanya yang tidak keluar mungkin sudah tertidur pulas atau mungkin bertanya-tanya setiap saat kapan film ini akan berakhir. Tapi bagi yang menyukai film berat tentu akan sangat menikmati (termasuk saya). Betapa tidak adegan awal, kita akan disuguhi adegan perkelahian yang stylish dan brutal. Kemudian Opening title yang begitu memukau dengan iringan lagu yang menurut hemat saya, seperti menyindir para superhero dalam film ini. Intrik dan konflik yang tidak ringan membalut kisah para pensiunan ‘pahlawan’ ini.

Isu perang dingin antara Rusia dan Amerika mungkin sudah terlihat obsolete. Tapi disinilah tujuan cerita Watchmen. Menyindir sisi-sisi gelap Amerika seperti perang Vietnam dan lain-lain. Meskipun sebenarnya setting cerita film adalah alternative universe. Selain itu juga, motivasinya adalah mengolok-olok para superhero itu sendiri. Menunjukkan betapa mereka juga hanya manusia biasa. (Sebagai tambahan, saya menyebut ini adalah film superhuman bukan superhero). Terlihat juga dari kostum-kostum mereka yang bukannya terlihat gagah malah terlihat seperti badut. Konyol. Bahkan ada superhero yang dimasukan ke rumah sakit jiwa. Kembali lagi kenapa saya menyebut ini film superhuman karena hanya sedikit dari mereka yang memiliki kekuatan super. Bahkan mungkin hanya Dr. Manhattan yang punya kekuatan hebat. Jadi jangan mengharapkan adegan-adegan aksi spektakuler yang menampilkan kehebatan masing-masing karakter. Meskipun memang ada beberapa adegan aksi yang cukup keren yang melibatkan pertarungan tangan kosong.

Jika sebelumnya mungkin kita kebanyakan disuguhkan film-film superhero yang mengandalkan kehebatan atau kekuatan mereka. Disini kita diperlihatkan sisi humanisme dari para karakternya. Maksud saya disini adalah sisi gelap mereka, bukan bagian kepahlawanan mereka. Lihatlah betapa “jahat” dan sinisnya The Comedian (tetapi ini salah satu karakter favorit saya disini). Lalu betapa “cool” sang psikopat Rorschach (karakter favorit saya yang satu lagi). Juga karakter-karakter lain yang sudah pensiun dari urusan “superhero” mereka. Jadi mungkin ini yang menyebabkan beberapa penonton memilih pulang sebelum film berakhir. Mereka telah salah duga tentang film ini.

Apakah berarti film ini jelek? Itu tergantung dari apa yang ingin anda lihat. Menurut saya, film ini sangat menarik. Walau terlihat settingnya yang kuno tapi beban psikologis yang diberikan film ini sangat menarik untuk diikuti. Juga adegan-adegan flashback yang sangat ‘enak’ untuk ditelusuri. Ditambah lagu-lagu oldies yang pas (dimana perasaan saya tergugah oleh lagu The Sound of Silence). Bahkan endingnya pun cukup mengejutkan kesadaran kita. What kind of superhero are they?

Snyder sangat pintar dalam membuat visualisasi film ini menjadi sangat indah. Hmm..indah tampaknya bukan kata yang tepat, karena film ini tidak indah. Banyak adegan mengerikan dan sadis yang muncul, terlalu realistis malah. Enak dilihat, tidak juga. Dr. Manhattan malah terlihat bugil jika tidak dibalut oleh cahaya biru. Mungkin saya bisa katakan film ini dark tapi bukan berarti film ini bertabur kegelapan malam. Cerita yang diusung sangat satir. Beban mental yang dialami oleh superhero yang diekspos tinggi-tinggi. Tidak banyak yang menyukai cerita seperti ini jika tidak diimbangi action sequence yang porsinya cukup banyak. Itulah mungkin salah satu ‘kekurangan’ film ini. Jika anda bisa bertahan sampai akhir film maka anda akan terhenyak menyaksikan tindakan yang sudah dilakukan oleh para jagoan.

Jika anda terpuaskan dengan visualisasi 300 yang benar-benar memukau, maka hal itu sedikit berkurang disini. Ini bukan film dengan pameran visual efek, tapi visual efek disini hanya sebagai penunjang film. Karena bukan itu inti dari film Watchmen. Penantian yang lama di bioskop terbayarkan ketika saya menonton film ini. Inilah salah satu film favorit saya tahun 2009 ini. Hanya sayang, film ini tidak termasuk laku. Dengan bujet yang cukup besar, film ini sementara baru mengumpulkan US$ 107 juta di Amerika dan baru US$ 77 juga di luar Amrik. Di kota saya pun, setelah lama baru diputar tapi cepat menghilang pula.

Friday, August 14, 2009

HARRY POTTER AND HALF BLOOD PRINCE (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : David Yates

Produced by : David Heyman, David Barron

Starring : Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Michael Gambon, Jim Broadbent, Alan Rickman, Tom Felton, Helena Bonham-Carter

Written by : Steve Kloves (Screenplay), J.K. Rowling (novel)

Music by : Nicholas Hooper, John Williams (themes)

Cinematography : Bruno Delbonnel

Edited by : Mark Day

Running time : 153 minutes

Budget : US$ 250 millions

Distributed by : WARNER BROS

All you need is love. Bahkan wizard paling terkenal seperti Harry Potter pun butuh cinta. Yang paling mencolok dalam film ini dibandingkan dengan semua seri Harry Potter selama ini adalah kisah cinta para karakter utamanya. Menarik karena setelah sekian lama, mereka akhirnya naik ke jenjang yang lebih dewasa. Hal ini masih menjadi menarik sampai pada adegan yang terlalu berlebihan porsinya dalam hal percintaan mereka. Cukuplah kuantitasnya dikurangi sedikit. Sehingga porsinya bisa ditambahkan untuk adegan aksi yang sangat diinginkan oleh para penonton. Tapi sayangnya hal itu tidak menjadi kenyataan. Banyak yang mencela film ini karena kurangnya adegan aksi yang menegangkan. Banyak juga yang mengatakan bahwa film ini terlalu melenceng dari novelnya.

Maafkan saya. Ketika membuat review ini saya baru baca novel jilid pertama sampai empat. Jadi mungkin kata-kata saya ada yang tidak bisa diterima oleh para pecinta Harpot. Sekali lagi saya minta maaf.

Yang sangat terasa adalah nuansa remaja dan nuansa misteri yang terasa berkurang. Dimana sebelumnya, setiap judul film merupakan misteri yang terselubung. Sehingga bagi penonton muggle (yang belum membaca bukunya) penasaran dengan misteri tersebut. Namun setelah Order of Phoenix, nuansa misteri itu sirna. Bahkan disini pun saya jamin, bahwa anda tidak akan merasa terlalu bertanya-tanya siapa itu Half Blood Prince. Karena memang Yates tidak terfokus pada hal itu. Dia terfokus untuk membuat sebuah film yang menjembatani para penonton untuk menuju final dari serial Harry Potter.

Setelah di film-film sebelumnya, Severus Snapes dan Draco Malfoy hanya sebagai peran pembantu saja. Snapes dan Malfoy memegang peranan penting kali ini. Bahkan Tom Felton pemeran Malfoy bisa menggambarkan perubahan sikapnya yang menjadi penyendiri dan menyimpan rasa dendam yang membara. Suasana hatinya ini dibantu oleh visual yang baik oleh Yates. Di atas semuanya mungkin bisa dikatakan film ini adalah duet antara Harry dengan Dumbledore. Disini Dumbledore seakan-akan sudah menetapkan hati, memilih Harry untuk melawan Voldemort.
Sedangkan Ralph Fiennes absen dulu. Perannya digantikan oleh keponakannya Hero Fiennes Tiffin sebagai Voldemort waktu masih kecil lalu Frank Dillane memerankan Voldemort waktu berumur belasan. Dengan senyuman dan pandangan matanya yang menjanjikan kehausan akan ilmu hitam.

Serial Harry Potter menginjak dewasa. Well, iyalah. Setelah enam tahun, otomatis mereka beranjak dewasa. Percintaan Harry dan Ginny. Kecemburuan Hermione kepada Ron. Semua hal ini merupakan babak baru dalam serial Harry Potter dan membawa nafas baru yang cukup mengasyikan untuk dihirup. Dengan bobot yang cukup, bagian ini bisa membuat film sangat menarik. Tapi ketika porsinya ditambah sehingga terlalu berlebihan, malah membuat penonton sedikit muak akan hal ini. Sayang sekali.

Sebenarnya saya kecewa dengan Order of Phoenix. Maka saya agak sedikit waswas ketika Yates ternyata menggarap film Harpot berikutnya. Namun ketakutan saya akan film ini sedikit berkurang. Karena kini di tangan Yates, special efek hanya menjadi sekedar tempelan yang melatarbelakangi kisah drama yang semakin kelam. Dan untuk Half Blood Prince, ramuan ini sangat pas dan mengena di hati. Sehingga saya menambahkan film ini ke daftar film Harry Potter favorit saya setelah Prisoner of Azkaban dan Goblet of Fire.

Yang saya suka dari Half Blood Prince adalah gerak kameranya yang sangat pas dengan setiap adegan. Bahkan saking pintarnya, gerak kamera dan angle kamera bisa membantu penambahan nilai adegan dan suasana hati para karakternya. Adegan di The Burrow ketika Ron dan Hermione menyambut Harry dengan angle diambil dari bawah lalu masing-masing karakter menampakkan diri menyapa Harry, sungguh pandai dan lucu menurut saya. Walaupun adegan aksinya sedikit sekali. Tapi saya cukup menikmati adegan aksi yang ada. Seperti ketika Ginny menyusul Harry mengejar Death Eaters. Lalu adegan jembatan di awal film cukup menggetarkan. Juga permainan Quiditch yang tampak begitu gagah (di luar kekonyolan Ron disini tapi konyol dalam arti positif). Dalam porsi yang tidak banyak tapi berbobot.

Durasi film termasuk lama. Banyak yang bilang film ini bertele-tele. Tapi anehnya saya lebih menikmati film ini, dibandingkan dengan Transformers 2 yang harusnya lebih menyenangkan dengan pameran spesial efeknya yang luar biasa plus adegan aksi yang dahsyat. Mungkin anda akan berpendapat lain dengan saya. Ya itu memang masalah selera. Tidak bisa dipaksakan. Tolong jangan memarahi saya karena saya lebih suka film ini.

Tapi yang harus kita terima bahwa Harry Potter dan kawan-kawan sudah beranjak dewasa sehingga filmnya pun menuju ke arah yang sama sehingga kini Harry Potter bukanlah film untuk anak-anak lagi. Semakin hari, film Harry Potter semakin gelap dan kelam. Disini pun, hampir bisa dikatakan sedikit warna yang ada. Tapi ironisnya, bisa dikatakan ini film Harry Potter yang banyak mengundang tawa. Sangat kontradiktif tapi mungkin ini bertujuan untuk membuat pikiran penonton sedikit rileks bukannya terbawa stress karena tone film ini.

Dengan kabar yang tersiar bahwa Deathly Hallows dibagi menjadi dua bagian. Maka harap bersabar untuk menunggu akhir dari serial Harry Potter yang jadi lebih tertunda. Dan berharaplah bahwa Yates bisa membuat film Harry Potter yang sesuai dengan keinginan para fansnya dan juga yang bukan fans. Meskipun itu mungkin bukan tugas yang mudah untuk Yates.

Monday, July 20, 2009

TRANSFORMERS : REVENGE OF THE FALLEN (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : Michael Bay

Produced by : Steven Spielberg (executive producer), Lorenzo di Bonaventura, Ian Brcye, Tom DeSanto, Don Murphy

Starring : Shia LaBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro

Written by : Roberto Orci, Alex Kurtzman, Ehren Kruger

Music by : Steve Jablonsky, Linkin Park

Cinematography : Ben Seresin

Edited by : Roger Barton, Paul Rubbel, Joel Negron, Thomas Muldoon

Running time : 150 minutes

Budget : US$ 200 millions

Distributed by : PARAMOUNT PICTURES

Jika anda mempunyai khayalan waktu kecil mengenai mainan robot anda yang bisa bergerak leluasa atau mungkin berkelahi dengan robot lain. Transformers adalah salah satu visual nyata dari khayalan anda ditambah bonus, robot anda bisa berubah menjadi benda lain. Dimulai dari berupa mainan robot keluaran Hasbro. Difilmkan dalam live action oleh Michael Bay pada tahun 2007 dengan executive producer-nya Steven Spielberg. Dengan bujet US$ 150 juta menghasilkan kurang lebih US$ 709 juta di seluruh dunia. Dengan crew dan pemeran yang hampir sama dengan film pertamanya dibantu dengan tambahan bujet menjadi US$ 200 juta, Bay melanjutkan sekuelnya dengan judul tambahan Revenge of The Fallen.

Apa perbedaannya dengan film yang pertama? Yang pasti lebih banyak adegan aksi, ledakan lebih besar, robot lebih banyak. Sayangnya kini Megatron (pengisi suara Hugo Weaving) hanya menjadi pembantu seorang robot yang bernama The Fallen (pengisi suara Tony Todd). Ya, penampilannya mirip Predator dalam bentuk raksasa dan badannya berbalut metal. Inilah musuh yang harus dihadapi oleh para Autobots, yang mana BumbleBee dan Ironhide hanya sebagai peran “pembantu”. Nothing more. Disini Optimus Prime lebih berperan dan lebih terlihat hidup dari sebelumnya.

Disini saya suka dengan karakter Lennox, walaupun lebih banyak beraksi di Transformers pertama. Disini karakternya lebih kokoh dari yang pertama. Hanya sayang tidak diberi gerak lebih oleh Bay (atau skenario). Mungkin untuk film selanjutnya, bisalah tokoh Lennox ini diberi peran yang lebih besar, karena tokoh Sam ini sudah terlalu diforsir sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi yang dapat kita lihat dari karakter satu ini. Mudah-mudahan Bay membaca tulisan saya lagi, karena salah satu komentar saya untuk film yang pertama adalah terlalu cepatnya adegan pertarungan antar robot sehingga tidak terlihat jelas bagaimana gerakan mereka dan hal itu diperbaiki oleh Bay dalam sekuelnya ini. Banyak adegan slow motion pada pertarungan antar robot.

Sebenarnya hanya ada beberapa adegan dalam film ini yang membuat saya berkesan. Pesan saya, jangan sampai telat masuk ke dalam bioskop, karena adegan awal di Shanghai termasuk adegan yang menarik. Adegan satu lagi adalah pertarungan Optimus Prime dengan tiga robot dari Decepticons. Adegan ini mengingatkan saya dengan Hulk ketika bertarung dengan tiga anjing raksasa.

Jika anda penggemar Bay, pasti anda sangat mengetahui trademarknya Bay. Antara lain ; slow motion, adegan pesawat atau helikopter dengan background matahari, pergantian adegan tiap beberapa detik, kamera berputar dengan poros salah satu karakter atau dua karakter. Selain itu Bay senang bermain dengan pergerakan kamera dalam mengambil adegan. Terus terang, sebenarnya banyak yang sudah bosan dengan trademark Bay tapi disini menurut saya inilah yang membantu saya untuk tetap bertahan menonton film ini. Jika anda penggemar adegan aksi yang penuh ledak-ledakan, anda pasti tidak akan mengalami kejenuhan seperti saya. Mungkin durasi film yang terlalu panjang adalah salah satu faktor penyebabnya.

Ternyata dengan menambah jumlah berat metalik (tambahan jumlah robot maksudnya) tidak membuat film ini menjadi lebih baik.
Megatron pun tidak terlihat segarang waktu film pertama. Mungkin ini bukan tentang dia tapi The Fallen pun tidak terlihat kemampuan aksinya yang hebat.
Sudah menjadi sedikit trend di Hollywood dimana karakter yang kecil sering terhimpit di tengah-tengah pertarungan karakter-karakter yang lebih besar dengan tujuan untuk membuat penonton menahan napas. Hal ini dapat kita lihat dalam film Jurassic Park terutama yang ketiga. Lalu ketika Kingkong berkelahi dengan T-Rex dimana Naomi Watts berada di tengah mereka. Di film ini bisa kita temui dimana Sam berada ditengah-tengah pertarungan antara Optimus dengan tiga robot lain di hutan.

Pupus sudah harapan saya bahwa film sekuel Transformers ini akan menjadi salah satu film favorit saya tahun 2009 ini. Bolehlah (sampai saat ini), film ini merupakan pengumpul dolar terbanyak tahun ini, tapi menurut saya pribadi, film ini tidak pantas menjadi film paling laku tahun ini. Walaupun mungkin anda akan terpesona dengan segala kecanggihan yang terlihat pada layar, ledak-ledakan yang menggelegar di kuping anda yang membuat pandangan anda tidak pernah lepas dari layar. Sedangkan saya (pandangan sih memang tidak pernah terlepas dari layar) merasakan kejenuhan dan kebosanan akan tontonan yang diberikan Bay kali ini. Durasi film yang harusnya bisa lebih dipersingkat dengan memasukkan adegan-adegan yang perlu saja. (Bay, anda tidak perlu harus selalu memasukkan adegan-adegan lucu di tengah-tengah adegan tegang) Beruntunglah kalau itu memang adegan yang mengundang gelak tawa. Saya hanya tertawa ngakak ketika Leo, teman sekamarnya Sam, tersengat listriknya sendiri. Adegan lainnya hanya mampu membuat saya nyengir kuda dan adegan ‘lucu’ itupun segera terlupakan.

Sejujurnya tidak adil bila saya mengatakan bosan dengan film ini. Sekali lagi saya bilang, adegan awal di Shanghai cukup menggetarkan. Rusak-merusak sebuah kota merupakan ‘keahlian’ Bay. Dia punya jam terbang yang banyak untuk adegan seperti ini. Tidak banyak sutradara yang bisa ‘sekelas’ Bay dalam meramu adegan sejenis. Pertarungan tiga lawan satu di hutan (memang tidak orisinil) tapi dapat membuat saya berdecak kagum dan merasakan semangat Transformers yang sesungguhnya. Sisanya hanya adegan-adegan yang memperpanjang durasi film dan cuma memberikan kesempatan pada robot-robot lain untuk sedikit memperlihatkan sosoknya tanpa peran yang berarti. Bahkan mungkin anda akan sedikit bingung mana pihak lawan atau kawan. Dan ada beberapa robot yang bergabung menjadi sebuah robot besar yang mampu mengisap segala sesuatu di sekelilingnya. Robot ini adalah bintang tamu yang sangat istimewa sebenarnya. Tapi… (tonton sendiri saja deh).

Lupakan jalan ceritanya jika anda menonton film ini. Nikmati saja kemegahan special efek di film ini yang benar-benar dimanfaatkan sedemikian rupa sepanjang film ditambah adegan-adegan aksi yang memang benar-benar eye-candy. Jika anda bisa melakukan hal itu, maka anda akan merasa terpuaskan dengan film ini. Mungkin anda tidak akan merasa jenuh seperti saya. Bahkan mungkin anda akan tergoda untuk menontonnya sekali lagi, lagi dan lagi, terutama untuk para penonton pria. (iya bro, katanya Megan Fox adalah CGI terbaik dari film ini, hehe)
Akhir kata, mungkin ini adalah film terlaris Michael Bay tapi sayangnya bukan yang terbaik.
Powered By Blogger