Thursday, July 2, 2009

PUSH (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : Paul McGuigan

Produced by : Bruce Davey, William Vince, Glenn Williamson

Starring : Chris Evans, Dakota Fanning, Camilla Belle, Djimon Hounsou

Written by : David Bourla

Music by : Neil Davidge

Cinematography : Peter Sova

Edited by : Nicolas Trembasiewicz

Running time : 111 minutes

Budget : US$ 38 millions

Distributed by : SUMMIT ENTERTAINMENT

Sebenarnya Push mempunyai peluang yang bagus tahun ini karena sedikitnya film yang bertemakan super hero yang muncul. Tapi sayangnya hal ini tidak ditunjang oleh skenario film yang bagus. Temanya tidak diambil dari komik walaupun memang masih mengikuti trend X-Men atau mungkin serial Heroes (tapi menurut kabar sebenarnya proyek ini ada sebelum serial Heroes muncul).

Sebenarnya saya menyukai film dengan banyaknya karakter. Namun sayangnya film ini tidak memberikan waktu lebih untuk para penonton mendalami masing-masing karakter.

Disini kita diperkenalkan dengan istilah-istilah seperti Watchers (peramal), Movers (Pemindah benda dengan kekuatan pikiran), Pushers (yang bisa mempengaruhi pikiran orang lain), Shifters (yang bisa mengubah bentuk benda) dan banyak lagi yang lain. Sebenarnya dengan adanya Pushers ini , cerita berpeluang untuk menjadi bertambah rumit dan bisa mengarah ke berbagai sisi yang diinginkan oleh pembuat cerita sehingga menjadi lebih menarik. Tapi sayangnya hal ini tidak dilakukan. Adanya bermacam-macam twist tidak membuat film ini menjadi lebih baik. Hal-hal seperti itu dibiarkan begitu saja lewat. Bukannya meng “PUSH” penonton menikmati film ini malahan membuat penonton bingung dan berpikir keras sampai akhir film.
Sebenarnya klimaks film ini bisa sangat menarik dimana Nick berusaha mengecoh Watcher pihak musuh tidak bisa memprediksi masa depan. Tapi sekali lagi sayangnya sang sutradara, Paul McGuigan tidak bisa mengelola ini menjadi adegan yang menarik untuk diikuti.

Sebenarnya karakter Nick Grant (seorang movers amatiran) yang diperankan oleh Chris Evans disini lebih menarik dibandingkan dengan Johhny Storm dalam Fantastic Four. Sama-sama memiliki kekuatan khusus tapi dengan segala kekurangannya sebenarnya tokoh Nick bisa menarik simpati penonton.

Dakota Fanning berperan sebagai Cassie, disini diceritakan memiliki kemampuan sebagai Watcher (sayangnya kemampuannya ini tidak dimiliki dalam kehidupan nyata sehingga Fanning mau-maunya ambil peran dalam film ini). Memang disini Fanning terlihat lebih dewasa dengan pakaian dan gaya rambutnya. Tapi tidak lebih. Hanya itu yang didapat penonton dari karakter yang dimainkannya. Kata-katanya tentang ramalan kematian para tokoh protagonis tidak membuat kita merasa ikut khawatir dengan nasib para tokoh yang bersangkutan. Juga perhatikan adegan ketika dia mabuk untuk bisa melihat masa depan lebih jelas. Ada apa dengan adegan ini? Apakah dia bermaksud melucu? Tapi Setidak-tidaknya saya tertawa dengan lelucon tentang buah olive.

Camille Belle sebagai Kira pun tidak bisa berbuat banyak padahal dialah tokoh sentral di film ini. Untunglah wajahnya masih membuat segar mata penonton untuk terbuka setidaknya sampai pertengahan film.

Djimon Honshou adalah Henry Carver, seorang pushers seperti Kira. Dialah yang ada dibalik Division yang mengejar-ngejar Kira dengan tas-nya yang diincar oleh banyak pihak. Perlu saya ingatkan, tas ini hanya sekedar alasan untuk semua pihak di film ini untuk mengejarnya. Penonton tidak dibuat penasaran dengan apa isi tas itu. Rasa penasaran itu hanya muncul di awal film dan kemudian menghilang sampai batas penonton tidak peduli lagi dengan isinya. Mengenai aktingnya disini Djimon sangat biasa sekali.

Bila anda berpikiran film ini adalah versi lebih baik dari serial Heroes, well, silakan anda menonton film ini. Tapi bersiap-siaplah untuk kecewa karena nonton film ini seperti makan permen karet. Dimana lama kelamaan permen itu terasa hambar. Mungkin menurut perkiraan anda, setidak-tidaknya adegan aksinya patut dilihat. Hmm, maafkan saya jika saya berkata jujur bahwa adegan aksinya tidak terlihat spektakuler bahkan sangat biasa sekali. Film ini seperti drama ringan tentang manusia yang memiliki kemampuan khusus dengan dibalut sedikit adegan aksi yang biasa saja. Bagaimana dengan twistnya? Memang ada beberapa twist tapi anda tidak akan merasa terbawa oleh twist itu. Hanya sekedar sebagai pelengkap cerita saja. Ditambah banyaknya dialog-dialog yang hanya sekedar diucapkan oleh para karakter tanpa diikuti oleh penjelasan dalam film.

Entah apa yang salah dengan film ini? Idenya yang sudah membosankan sejak adanya X-Men, Heroes atau mungkin Sky High? Atau skenario cerita yang tidak berkembang? Atau akting pemainnya yang standar? Atau sang sutradara kurang bisa meramu semuanya menjadi tontonan yang menarik? Bahkan yang lebih parah, ada yang berkomentar bahwa tolong bawa seorang wiper (yang bisa menghapus memori) ke hadapannya untuk menghilangkan ingatannya tentang film ini. Sebegitu parahkah film ini?
Jangan terlalu diperhatikan kata-kata di atas, semua ini kembali lagi berpulang kepada anda setelah anda menonton film ini.

Satu-satunya yang membuat saya tertarik adalah pengambilan background kota Hongkong, daerah padat dengan gedung-gedung modern dan munculnya credit title di penghujung film (menandakan film sudah berakhir). Well, sebenarnya saya sedikit berbohong. Saya suka adegan ketika Nick menodongkan pistol melayang ke hadapan Carver setelah sebelumnya pistolnya melayang di langit-langit restauran. Memang mengingatkan saya akan adegan ketika Magneto menodongkan pistol ke semua polisi di X-Men pertama. Hanya disini diperlihatkan seakan-akan pistol itu dipegang langsung oleh Nick dan ketika Nick ragu, pistol itu pun ikut bergetar mengikuti keraguan Nick.

4 comments:

Linda Belle said...

udh ntn tp jelek deh...

Bang Mupi said...

iya Linda, emang jelek nih film

perrysword said...

sangat direkomendasikan utk tidak ditonton

Bang Mupi said...

haha...I agree.