Thursday, February 14, 2013

THE IMPOSSIBLE (2012)





Salah satu genre film yang paling gua suka adalah genre disaster.  Namun jangan salah sangka, bukan karena gua suka special effect dari film jenis begini, meskipun terus terang memang untuk adegan disasternya kadang sineas yang terkait mampu menampilkan adegan yang spektakuler.  Tapi bukan itu inti kenapa gua suka film bertema bencana alam.  Yang gua suka adalah koneksi dan interaksi sesama karakter yang ada di film.  Itulah sebenarnya yang menjadi kunci sebuah film bencana mampu menarik minat gua disamping memang special efek yang tentu saja mendukung film tersebut.

Dipenghujung tahun 2004, Asia Tenggara mengalami suatu musibah yang sangat besar.  Tsunami menghantam Aceh dan sebagian pesisir Asia Tenggara.  Memang menunggu waktu sampai ada sineas yang membuat film dengan latar belakang peristiwa itu.  Ada film Korea yang berjudul Haundae, yang mengambil tema Tsunami, tapi terus terang, filmnya tidak jelek tapi kurang berkesan buat gua.  Lalu ada filmnya Clint Eastwood yang berjudul Hereafter,  temanya ada yang menyerempet tsunami yang menimpa pada salah satu karakternya.  Efeknya hmmm…menurut gua lebih realistis dibandingkan Haundae tapi sayangnya belum terlalu mengena di hati juga.  Mungkin juga ada film-film lain yang mengambil tema serupa dan gua tidak mengetahuinya.

Kini, tidak pernah gua dengar sebelumnya, muncul The Impossible yang benar-benar diambil dari kisah nyata, sebuah keluarga yang benar-benar mengalami kejadian Tsunami 2004 di Thailand. Satu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan 3 anak laki-laki mereka. 
Sang ayah dan suami diperankan oleh Ewan McGregor.  Sebenarnya dia mulai terkenal sejak Trainspotting, tapi gua mulai kenal dia di Nightwatch atau Star wars The Phantom Menace ya, gua lupa.  Terus terang aktingnya disini biasa saja, sampe dia mengeluarkan tangisan yang tertahan, dapet banget aktingnya disitu.

INI NIH WAJAH SANG SUTRADARANYA
Namun diatas akting semuanya adalah Naomi Watts, yang menurut gua tampil luar biasa, pantas dia mendapatkan nominasi aktris terbaik di Golden Globe.  Segala yang dipersembahkan Watts disini sangat superb sekali dan bagusnya semua itu didukung oleh penampilan lumayan apik dari anak sulungnya yang diperankan oleh Tom Holland.  Kedua karakter ini memang yang lebih dititikberatkan oleh sang sutradara J.A Bayona berdasarkan pengamatan super teliti dari gua.  Gua belum nonton The Orphanage, jadi gua belum bisa berkomentar banyak tentang bapak sutradaranya.
Meskipun ini berdasarkan kisah nyata tapi tetap aja ada beberapa adegan klise  dengan tujuan membuat penonton menahan nafas dan sedikit gemes.  Tapi buat gua kok adegan-adegan tersebut tidak terkesan pas di film.  Namun harus diakui ada beberapa adegan yang bikin haru, ya itu terutama adegan Ewan nangis terisak-isak.

Satu lagi  yang patut gua acungi jempol adalah adegan tsunaminya yang menurut gua, Di film inilah yang  paling realistis.  Tidak berlebihan efeknya bahkan malahan terlihat sangat nyata.  Bravo buat para kru special efeknya.  Dan adegan tsunaminya mampu memberikan efek betapa berbahayanya bencana ini kepada penonton.

DUET YANG PAS

So saran gua tontonlah film ini, karena disinilah kita bisa lebih merasakan arti sebuah keluarga.  Dan yang bikin gua salut, adalah perintah Maria untuk Lucas agar berbuat sesuatu yang berarti untuk orang lain walaupun diri sendiri sedang berada dalam kesulitan.  So jangan sampai tertimpa kesulitan atau musibah, baru kita menyadari arti dari sebuah keluarga.  Mungkin dengan menonton film ini, bisa memberi kita sebuah masukan yang sangat berharga, walaupun menurut kacamata gua, film ini tidak terlalu superb banget kecuali aktingnya Naomi Watts dan adegan tsunaminya dan oh lupa, satu lagi yaitu adegan nangisnya Ewan.

Monday, January 7, 2013

COMING SOON : EPIC (2013)



Kini 20th Century Fox Animation akan merilis sebuah film animasi lagi setelah sukses dengan empat seri Ice Age.  Dengan sutradara Chris Wedge, beliau pernah menyutradarai Ice Age yang pertama dan Robots.  Bagi yang sudah melihat trailernya, pasti akan sangat terkesan dengan graphisnya.  Hanya waktu gua nonton trailernya, langsung teringat dengan film animasi Pixar yang berjudul A Bug’s Life.  Serba hijau dan serba liliput hehehe.

Berdasarkan buku karangan William Joyce yang berjudul The Leaf Men and The Brave Good Bugs (scriptnya oleh Daniel Shere).  Namun katanya ceritanya banyak yang diubah, hanya karakter-karakternya saja yang sama.  Sebelumnya  Joyce pernah bekerja sama dengan Wedge dalam film Robots.  Ternyata baca di internet, Joyce juga yang membuat konsep karakter untuk A Bug’s Life (tuh kan instinct gua pas deh, gua bilang juga liat trailernya langsung teringat dengan A Bug’s Life).  Karakter utamanya yang bernama Mary Katherine diambil dari nama mendiang anaknya Joyce.  Bercerita tentang seorang gadis yang menciut dan terlibat perang antara the good and the evil dalam sebuah hutan.  Mirip-mirip Arthur dan The Minimoys yah.  Maybe.  Karena gua belum nonton Arthur and The Minimoys.

Pengisi suara Mary adalah Amanda Seyfried.  Gua curiganya dia akan sedikit bernyanyi di film ini, mengingat Seyfried pun bernyanyi di Mamma Mia! dan suaranya cukup bagus apalagi lagu Gimme Gimme Gimme.  Lalu ada Colin Farrell, Josh Hutcherson, Beyonce dan juga penyanyi Steven Tyler.
Sekali lagi Fox bekerja sama dengan Blue Sky studio yang juga membuat Ice Age, Rio, Horton Hears a Who.  Film Epic ini rencananya akan dirilis 24 Mei 2013.  Gua terhanyut liat trailernya karena salah satu faktor lagunya yang menurut gua pas banget.  Lagunya Snow Patrol yang berjudul The Lightning Strike menghiasi trailernya menjadi sangat keren.  Jangan lupa film ini ada dalam format 3D juga.

Ini link trailernya



Saturday, January 5, 2013

THE DESCENDANTS (2011)


Posternya cukup mengandalkan tampang Clooney doang

Salah satu aktor berkharisma Hollywood saat ini, mungkin gua bisa bilang salah satunya George Clooney.  Setelah awal-awal karirnya di pertelevisian, bermain dalam film seri ER.  Dan kini, kebanyakan dia bermain dalam film-film berat yang mengandalkan kekuatan aktingnya.  Salah satu contohnya ya film ini.  Dimana kalo gua tidak salah dia mendapatkan nominasi Golden Globe atau Oscar untuk kategori aktor terbaik dan sayangnya hanya menang di Golden Globe aja.  Lumayanlah.  Tambahan piala setelah dia menang sebagai aktor pembantu terbaik Oscar di Syriana dan menang Golden Globe sebagai aktor terbaik di O Brother, Where Art Thou (2000) dan aktor pembantu terbaik di Syriana (2005).  Gua pribadi suka Clooney di Peacemaker dan Up In The Air.

Tema cerita keluarga yang sebenarnya biasa-biasa saja, tapi mampu tampil dengan memikat berkat kemampuan beraktingnya Clooney yang tidak terlihat mumpuni padahal sangat superb.  Akting seorang suami yang mempunyai dua anak gadis remaja.  Ketika menonton film ini, gua langsung teringat sama salah satu film keluarga Amerika lainnya American Beauty. Well sedikit bocoran, agak-agak 11-12 sih mirisnya, itu sih pendapat gua.  Cerita tentang keluarga yang ternyata agak-agak kacau gitu.

Bisa dibilang film ini memang menyajikan kekuatan Clooney seorang karena bisa dibilang hampir semuanya pemain-pemain baru, mungkin hanya Beau Bridges dan Matthew Lillard yang cukup terkenal dan itupun bisa dibilang muncul sebentar saja.
Setting cerita sebenarnya indah, di Kepulauan Hawaii, yang mana merupakan salah satu destinasi favorit gua yang belum terealisasikan (entah kapan)  Namun ini bukan film tentang pemandangan indah, jadi tidak terlalu banyak diperlihatkan keindahan alam Kepulauan Hawai.  Justru disini diperlihatkan kehidupan masyarakat Hawai yang ternyata sama dengan kehidupan keluarga-keluarga lainnya di Negara-negara lain.  Review kali ini gua lagi senang menggunakan kata-kata kembar seperti film-film, awal-awal, biasa-biasa, agak-agak dan lain-lainnya, hehehe.  Sekedar informasi, film ini berdasarkan novel karangan penulis wanita, Kaui Hart Hemmings

Film Clooney terakhir yang gua tonton Up in The Air memberikan kesan yang mendalam buat gua.  Film ini pun hampir memberikan impact yang sama.  Cerita drama yang kadang-kadang sedikit memberikan candaan satir yang menggelitik gua untuk tertawa, film ini sama sekali tidak membosankan.  Mungkin sedikit dibawah Up in The Air yang setelah menonton masih dapat membuat gua merenung sebentar.

The director Alexander Payne

Sang sutradara Alexander Payne ternyata pernah menggarap About Schmidt, yang dibintangi oleh Jack Nicholson dan Sideways yang diperan utamai oleh Paul Giamatti.  Payne mendapat Oscar lewat Best adapted screenplay lewat film ini dan juga lewat Sideways.  Payne juga menang Golden Globe lewat Best Screenplay untuk Sideways dan About Schmidt.

Si Shailene Woodley yang menurut gua mampu mengimbangi permainan Clooney

Mungkin yang menjadi perhatian penonton adalah anak tertuanya Clooney di film ini Alexandra King yang dimainkan oleh Shailene Woodley (tadinya mau diperankan oleh Amanda Seyfried) tapi lebih cocok Woodley, bengalnya keliatan.  Kelak dia yang akan memerankan Mary Jane Watson di The Amazing Spiderman 2.  Lalu juga ada Nick Krause yang bermain sebagai Sid.  Karakter yang nyeleneh tapi bikin kocak menurut gua.  Ada beberapa bintang tamu seperti Beau Bridges, Matthew Lillard dan Judy Greer.

Sekali lagi, film drama dengan tema yang sebenarnya sudah biasa difilmkan tapi mampu diramu oleh Payne dengan baik sekali.  Hubungan keluarga yang kadang lucu tapi miris dan kadang juga bikin terharu mengalir dengan lancar tanpa dipaksakan.  Dan ingat Hawaii hanya merupakan TKP, bukan panorama Hawaii yang dikedepankan di film ini meskipun kita tetap akan dimanja oleh beberapa pemandangan indah Hawaii.  Dan patut diingat, tempat seindah apapun, kehidupan manusia tetaplah sama, penuh dengan lika-likunya.  Kembali lagi kepada individu masing-masing bagaimana cara menghadapi hidup sehingga hidup kita lebih bernilai sehingga tempat kita tinggal pun akan terasa lebih indah.  Dan untuk gua, film sederhana ini sangat tidak membosankan untuk ditonton.  Sudah menghasilkan 177 juta dolar di peredaran seluruh dunia.

Jika gua ditanya salah satu aktor Hollywood yang aktingnya bagus, lewat film ini tentu saja akan tambah membuat gua menjawab secara otomatis, salah satunya adalah George Clooney.  Dia merupakan salah satu aktor yang memulai dari film-film ringan yang beranjak naik bermain dalam film-film berkualitas.  Bravo for you, Mr. Clooney.  I am waiting for your next project.

Sunday, December 2, 2012

I AM LEGEND (2007)




Terpesona oleh karyanya Francis Lawrence, setelah menonton Constantine yang mana pemeran utamanya adalah Keanu Reeves.  Film tentang apa ya, sebenarnya.  Pengusir hantu atau roh jahat atau tentang detektif dunia gaib.  Well yang pasti Constantine berdasarkan komik keluaran Hellblazer.  Lawrence berhasil membuat film cerdas (menurut gua yang cerdas juga), film yang sangat enak untuk diikuti.  Alurnya bisa dibilang lambat dengan sedikit style yang tidak lumrah.  Beberapa kali tertipu antara apa yang akan terjadi dengan karakter Constantine dan lawan mainnya yang diperankan oleh Rachel Weisz (sebagai tambahan, mereka berdua pernah bertemu dalam Chain Reaction garapan Andrew Davis). 

Makanya begitu mendengar Lawrence membuat film baru yang diperankan oleh Will Smith, gua sangat berantusias dengan proyeknya.  Will Smith mega bintang Hollywood dengan beberapa filmnya yang pemasukannya menembus 100 juta dolar di Amrik saja, bekerja sama dengan Lawrence sutradara baru yang langsung masuk daftar favorit gua.  Hasilnya bam, gua nonton I am Legend di DVD (tragis amat nasib gua)

Gua ga baca sinopsisnya, tapi gua hanya tau bahwa Will Smith akan beraksi solo hampir sepanjang film.  Sangat menarik kan.  Layaknya Tom Hanks di Cast Away, waktu itu belum ada Buried dan 127 Hours.  Apa yang terjadi dengan Smith (Robert) yang tampil sendirian hampir sepanjang film, hanya ditemani seekor anjing?  Hasilnya luar biasa menurut gua.  Sekali lagi gua amazed banget dengan Lawrence.  Ia berhasil membuat sebuah film yang tidak membosankan sepanjang durasinya, tentu saja dengan performa Smith yang bagus.

SINGLE FIGHTER
Memang I Am Legend berbeda genre dengan Cast Away (film yang tidak membosankan juga).  I Am Legend bisa dibilang film yang lebih memerlukan departemen special efek.  Gua sok misterius ya dengan filmnya hehehe, padahal kalo gua ga salah film ini pernah tampil di salah satu stasiun tv swasta kita.  Tapi ga apa-apa, semenjak Cabin in The Wood, gua memang lagi bermisterius ria.
Dari awal, film sudah memberikan perasaan depresi buat gua, apalagi semakin kesini, ekspresi wajah Smith semakin membuat stres.  Bayangkan kita hidup sendirian di kota yang sudah dibilang kosong, ga ada manusianya, bahkan singa pun bisa masuk kota (nyaingin tarzan kayaknya).  Gua mencatat waktunya hampir 40 menitan, Smith beraksi sendiri di depan layar ….pengennya gua tulis layar bioskop, tapi apa daya, gua nontonnya ga di bioskop.  Gua ulangi, Smith beraksi sendiri di depan layar LED 3D 60 inch (itu pengennya gua juga).  Well, sudahlah lupakan tentang layar.  Smith beraksi sendirian hampir 40 menitan, tapi ga juga sih, kalo flashbacknya diitung.  Apalagi ditambah Marge dan Fred. (who are they)

Sebenarnya wabah virus sudah sering difilmkan, misalnya Outbreak yang menjadi favorit gua.  Tapi mungkin impact awal yang diberikan Lawrence dengan kesendirian Smith sudah memberi kesan yang mantap buat yang nonton (terutama gua).  Hampir sepanjang film, gua menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya (ini acara quiz atau nonton film).  Ketegangan demi ketegangan terasa, memang bisa dibilang ini bukan film aksi, layaknya Constantine pun bukan film action.

FRANCIS LAWRENCE LAGI BEKERJA

Namun sayangnya proyek Lawrence berikutnya adalah sekuel dari Hunger Games.  Gua bukannya tidak antusias, tapi gua belum nonton Hunger Games.  Tapi gua yakin kok sekuelnya bakal lebih bagus dari film pertamanya.  Karirnya hampir sama dengan Bay, bermula dari sutradara video klip musik.  Salah satu karya Lawrence adalah lagunya Britney Spears, My Prerogative.  Memang Lawrence berbeda gaya dengan Bay.  Hanya sayang menurut gua, Michael Bay sedikit berlebihan di film-film terakhirnya kecuali The Rock (one of my favorite movies).  Dan sebenarnya Bay yang tadinya ditunjuk membesut film ini sebelum akhirnya malah bikin Bad Boys 2 bareng Smith.

Dari tadi ngomongin Lawrence melulu.  Sehebat-hebatnya Lawrence, kalo tidak didukung oleh aktor yang tepat, maka sia-sialah kehebatannya.  Beruntung ada Will Smith disini, penampilannya luar biasa berakting sendiri (hanya ditemani anjingnya), hampir di sepanjang film.  Mungkin memang Smith lebih terkenal dengan film aksinya, tapi setelah Pursuit of Happyness, Smith membuktikan bahwa dirinya mampu berakting dengan baik.  Sekedar info, proyek-proyek film Smith berikutnya, Hancock 2, Bad Boys 3 dan I, Robot 2.

Ada satu lagi artis terkenal yang tampil di film ini, yaitu Emma Thompson.  Mungkin anda harus jeli untuk melihat munculnya dia dimana. Hehehe.

Hasil dari film ini cukup fantastis, dengan bujet 150 juta dolar, menghasilkan 585 juta dolar di seluruh dunia.  Film ini membuktikan bahwa Smith memang salah satu bintang top Hollywood saat ini.  Mungkin yang mengharapkan banyak adegan aksi akan kecewa dengan film ini.  Selayaknya Constantine, porsi adegan aksi dalam kedua film ini cukup buat gua.  Tidak perlu aksi dahsyat untuk membuat film menjadi bagus di mata gua.  Mungkin dengan tema cerita yang umum pun bisa membuat film menjadi bagus asal diramu dengan pas.

Dengan segala yang terkandung dalam film ini ditambah ending yang menurut gua tidak memaksakan,  gua menobatkan film ini sebagai salah satu favorit gua selain film I, Robot, Constantine, Pursuit of Happyness. 
 
INI COVER BUKU EDISI PERTAMA

Sekedar informasi tambahan, film ini berdasarkan novel karangan Richard Matheson yang berjudul 
sama.  Ternyata beliau ini juga yang menulis Stir of Echoes dan What Dream May Come, dan juga penulis cerita Reel Steel.
Powered By Blogger