Saturday, February 25, 2012

RISE OF THE PLANET OF THE APES (2011)


Yah judulnya cukup panjang. Rise of The planet of The Apes (ROTPOTA). Pertama kali mendengar ada film ini, gua menduga pasti ini adalah sekuel Planet of The Apes, film garapan Tim Burton yang dibintangi oleh Mark Wahlberg yang dirilis tahun 2001. Rentang waktu yang cukup lama untuk sebuah lanjutan. Tapi ternyata bisa dibilang ini adalah sebuah prekuel dari Planet of The Apes. Terus terang gua suka film itu, dengan pemutar balikan fakta bahwa manusia yang berada di posisi lebih rendah dari kera. Memberikan sebuah pelajaran yang patut untuk dicamkan dalam hati.

Dengan munculnya film ROTPOTA, sebenarnya gua sedikit pesimis, mau dibikin seperti gimana lagi sih, meskipun sempat terlintas oh mungkin ini lanjutannya dari ending Planet of The Apes yang memberi sedikit petunjuk ada bumi yang ternyata dikuasai oleh kera. Sutradaranya pun, gua belum pernah denger Rupert Wyatt. Kecuali nama belakangnya yang sering dibuat film, Wyatt Earp.

Setelah menonton film ini, ternyata hasilnya di luar dugaan gua. Dari awal sampe akhir, gua terus terpaku melihat petualangan si kera sakti (kayak Sun Go Kong aja). Setelah Angels and Demons-nya Tom Hanks, baru kali ini gua merasa lagi betapa iringan musik bisa membuat film menjadi lebih dalam. Disini terasa sekali, musiknya sangat mewakili apa yang sedang dirasakan oleh para karakter-karakter di film ini. Jangan ditanya soal spesial efek, sejak Jurassic Park, apa sih yang tidak bisa dibikin hidup oleh Hollywood. Tapi jika kita melihat behind the scenenya, jelas kredit harus diberikan kepada Andy Serkis yang berkat kerja kerasnya dalam Lord of The Ring sebagai Gollum, semakin berkibar sebagai aktor dibalik berbagai jenis karakter non-human. Contohnya yang lain adalah King Kong. Gua sekedar bertanya apakah Serkis juga bermain sebagai King Kong di film ini?

Emosi penonton dimainkan disini, apalagi buat gua yang ganteng tapi sensitif hehehe. Emosi penonton dibawa masuk ke aura film sehingga kita pun akan memaklumi tindakan-tindakan yang diambil oleh Caesar, bahkan menurut gua Rupert berhasil memadukan adegan demi adegan dengan tidak terburu-buru tapi pas durasinya. Ini bukan film aksi tapi yang jelas film ini seru sekali, bahkan gua menobatkan film ini sebagai film favorit gua tahun 2011.

Lupakan peran pendukung yang lain, seperti James Franco, John Lithgow dan Freida Pinto. Mungkin Tom Felton yang kita kenal sebagai Draco di franchise Harry Potter yang akan sedikit membekas karena tingkahnya yang menyebalkan. Jelas di sini Caesar adalah sang Kaisar yang menguasai seluruh film dan berhasil membuat penonton terkesima. Dan itu bukan hanya berkat kreasi spesial efek tapi berkat bantuan mimik muka dan gerak tubuh Andy Serkis di balik layar.

Kisah film ini mengingatkan gua akan I, Robot dimana karakter yang tadinya tertindas akhirnya memberontak. Selalu membuat perasaan puas pada penonton karena rasa geram mereka terbayarkan dengan keperkasaan kaum tertindas. Jelas kalo ada lanjutannya lagi, gua pasti akan menantikannya. Dan yang pasti I will keep an eye on you, Rupert Wyatt. You did a great job here.

Sebagai tambahan biasanya kalo spesial efek, kita mengenal ILM, kini WETA lah yang bertanggung jawab membuat para kera itu menjadi hidup dan begitu lincah. Dan hasilnya di layar memang terlihat hidup walaupun tidak terlihat alami, jadi hati-hatilah ILM. Juga dengan bujet yang cukup reasonable untuk film-film besar seperti ini (93 juta dolar), film kera ini berhasil meraup 481 juta dolar di seluruh dunia. Hati-hatilah penduduk bumi, kini kita bukan hanya diserang oleh alien bahkan jika kita tidak hati-hati dan semena-mena, makhluk yang kita anggap tidak berdaya pun bisa menguasai kita.

Wednesday, January 25, 2012

SOURCE CODE (2011)


Mungkin banyak yang tidak mengenal siapa Philip K. Dick. Bagi penggemar film pun, mungkin tidak banyak yang mengetahui siapa beliau. Tapi jika disebutkan Blade Runner, Minority Report, Paycheck, nah film-film itu berdasarkan cerpen karya Pak Philip ini. Kesamaan diantara kisah-kisahnya yaitu settingnya yang bisa dibilang futuristik, di masa yang akan datang. Atau paling tidak berhubungan lekat dengan tehnologi yang bisa dibilang hasil daya khayal yang luar biasa hebat. Tapi ternyata film ini bukan berdasarkan cerpennya Philip K. Dick, padahal pertamanya gua menyangka seperti itu.

Film dengan alur seperti ini sangat gua suka. Seperti Groundhog Day yang kejadiannya berulang-ulang terus setiap hari, tapi Source Code berulang-ulang setiap 8 menit. Lebih singkat. Jadi kalo film berdurasi 120 menit maka adegan akan berulang sebanyak 15 kali. (ngapain ya gua ngitung kayak gini). Tapi jangan takut, cerita tidak akan berulang sebanyak 15 kali. Dan cerita pun tidak akan berkisar pengulangan adegan-adegan yang sama. Cerita akan berkembang, berbunga, tumbuh mekar. (apapun istilahnya itu). Sebagai referensi, gua suka film sejenis Groundhog Day, Snake Eyes, Jackie Brown dan Vantage Point. Tapi berbeda dengan ketiga film yang gua sebutkan terakhir, film ini bukan mengambil dari sudut pandang berbagai karakter dalam film. Sedangkan Source Code hanya mengambil sepenggal kisah kehidupan berbagai orang dalam kereta yang sama selama 8 menit. Ga seru dong ceritanya. Ya sekali lagi kalo buat gua sih film sejenis ini sangat menyenangkan. Sangat menggugah selera (emang makanan). Dengan tambahan sedikit bumbu science fiction, film ini cukup masuk ke dalam nalar, bahkan sangat mengasyikan untuk ditonton. Sekali lagi, karena alur seperti ini merupakan salah satu favorit gua. Adegan-adegan yang diulang pun tidak selalu harus 8 menit, bahkan ada beberapa adegan yang hanya dilihat ledakan terakhirnya saja, sehingga penonton tidak bosan.

Yang selalu bikin gua salut dengan film beralur seperti ini, adalah pengambilan gambar dan editingnya, yang entah bagaimana cara kerjanya. Karena dengan kepiawaian para pelaku (kok kayak kriminalitas) kedua aspek tersebut di ataslah yang membuat film menjadi menarik, tentu saja berkat panduan sang sutradara.

Jake Gyllenhaal, yang pertama kali terperhatikan oleh gua lewat The Day After Tomorrow, lalu Brokeback Mountain (tapi gua belum nonton) lalu kembali semakin mengukuhkan namanya di hati gua (hahaha) lewat perannya di Prince of Persia (salah satu film favorit gua based on game). Disini Jake tampil ya cukup lumayan. Ga spesial amat. Cuma kebingungannya di awal cukup meyakinkan. Yang menarik perhatian gua, justru penampilan Michelle Mognahan dan Vera Farmiga. Mognahan berhasil sebagai magnet di film ini dan Vera Farmiga (meskipun tidak terlihat dominan) berhasil sebagai scene stealer dengan hanya banyak terlihat bagian wajahnya saja tapi cukup memberikan karakter yang kuat. Gua mulai suka Vera Farmiga sejak nonton di Up In The Air.

Sebenarnya tema cerita tentang pemboman oleh seseorang sudah sering difilmkan. Tapi lewat tangan sutradara Duncan Jones, dibuat dengan sedikit gaya yang berbeda. Dan hasilnya membuat film ini menjadi salah satu favorit gua tahun 2011. Sedikit tambahan, dengan bujet 32 juta dolar film ini menghasilkan 123 juta dolar di seluruh dunia.

Ya sekali lagi, jangan terpaku pada penilaian gua, karena sudah terbukti beberapa kali, selera gua sedikit berbeda dengan kebanyakan orang-orang. Untuk lebih jelasnya dan biar pastinya, turunkan ekspektasi teman-teman sebelum menonton film ini. Sehingga tidak terlalu kecewa setelah menonton. Ya 8 menit memang singkat tapi dalam 8 menit banyak hal yang bisa terjadi. Jadi jangan sia-siakan 8 menit teman-teman (sedikit wejangan, maklum umur sudah menua setahun tahun ini)

Monday, December 26, 2011

GREEN LANTERN (2011)



Bisa dibilang tahun ini, tahunnya Superhero, tercatat dalam primbon gua, ada Thor, Captain America dan X-Men : First Class dari kubu Marvel, lalu ada Green Lantern dari DC. Dengan gagah berani, Green Lantern sendirian melawan jagoan-jagoan dari Marvel. Untuk melawan dewa, tentara super dan kumpulan mutan, Warner Bros mengucurkan dana 200 juta dolar untuk ‘membentuk’ Hal Jordan menjadi seorang manusia super dengan kemampuan cincin yang luar biasa (mungkin harga logam mulia memang lagi naik, makanya bujetnya mahal banget), yang bisa berubah jadi apapun. Dengan arahan sutradara yang sebenarnya berhasil membuat film James Bond yang bagus seperti Goldeneye dan Casino Royale, yang kebetulan kedua film itu debut kedua pemainnya, Pierce Brosnan dan Daniel Craig menjadi agen rahasia nol nol tujuh.

“Persaingan” antara Marvel dan DC memang semakin memuncak ketika DC dengan ketangguhan Nolan berhasil mengangkat The Dark Knight menjadi film superhero terlaris. Marvel pun berlomba-lomba membuat film berdasarkan komik-komiknya bahkan segera rilis kumpulan para superhero yang tergabung dalam The Avengers, yang menurut gua taktiknya cukup jitu dengan membuat film dari masing-masing karakter sebelum mereka bergabung semua dalam film The Avengers. Tinggal DC yang walaupun unggul dengan perolehan The Dark Knight, tapi tetap kebanyakan film superheronya banyak yang gagal, seperti Superman Returns, yang banyak orang bilang kurang sukses, tapi yang ini sih menurut gua pribadi cukup memuaskan. Watchmen yang menurut gua juga bagus dan kebanyakan orang bilang juga bagus tapi hasilnya di box office kurang memuaskan. Salah satu lagi yang menjadi favorit gua adalah Constantine yang diperankan oleh Keanu Reeves, masuk daftar favorit gua. Hanya dari deretan film-film yang gua sebutkan sebelumnya, mungkin bukan film favorit para pembaca setia blog bangmupi (sekalian berterima kasih kepada para pembaca yang selama ini sudah setia membaca blog gua).

Tapi untuk film superhero keluaran DC yang satu ini, dan kebetulan memang gua tidak terlalu suka Green Lantern, menurut gua memang filmnya kurang bagus bahkan mungkin bisa dibilang sangat nanggung. Padahal disutradarai oleh Martin Campbell yang menurut gua cukup mumpuni ketika membuat Goldeneye, Casino Royale dan Vertical Limit tapi entah kenapa di film ini, tidak jelas arahnya kemana, nanggung. Mau aksi yah gitu-gitu aja aksinya. Mau drama yah kok kurang emosional. Mau komedi, kok dikit banget yang bikin ketawa. Tapi yang pasti film masuk nominasi untuk film yang sangat ramah lingkungan. Karena mengusung tema Go Green. (what a crispy joke)

Satu yang jadi pertanyaan gua, kenapa yang jadi Hal Jordan harus dimainkan oleh Ryan Reynold yang tercatat pernah jadi villain Deadpool di X-Men Origins : Wolverine. Apa ga ada aktor lain yang bisa dicasting untuk jadi Hal Jordan, bukan berarti Reynolds tidak cocok, hanya gengsi dong buat DC, masa pake aktor yang pernah maen di filmnya Marvel. Gua suka Reynolds banget waktu dia maen di Buried, bener-bener solo performance yang luar biasa sekali dari Reynolds. Tapi disini memang terlihat biasa saja aktingnya. Biasanya gua ga suka Blake Lively, tapi disini, dialah yang menjadi penyelamat film ini, itu menurut pengamatan dari kaca mata gua. Mark Strong yang biasanya bermain bagus pun kini terlihat lemah, tidak se-strong biasanya. (padahal dia jadi superhero, malah terlihat aktingnya kurang kuat). Perlu dicatat juga penampilan Peter Sarsgaard sebagai Hector, Tim Robbins dan Angela Basset. Juga ada Geoffrey Rush dan Michael Clark Duncan sebagai pengisi suara.

Dunia superhero bisa terwujud dengan bantuan special efek yang canggih. Disini pun sebenarnya tidak jelek tapi jika melihat dananya 200 juta dolar, gua merasa special efeknya tidak sepadan. Tidak terlalu istimewa. Mengenai cerita, karena gua ga ngikutin komiknya, gua merasa prolog film ini sudah menarik, hanya memang ending filmnya tidak spektakuler bahkan bisa dibilang biasa sekali. Dengan sangat menyayangkan sekali, gua bilang tahun ini DC kalah dengan gempuran superhero dari Marvel. Tapi kita lihat tahun depan ketika The Dark Knight Rises rilis, apakah Batman masih mempunyai “gadget” kuat yang bisa mengalahkan para superhero dari Marvel. I hope so. Biar persaingan menjadi seimbang kembali. Dan gua lebih berharap lagi Man of Steel bisa berjaya di tahun 2013. (lho katanya biar persaiangan seimbang tapi terlihat sekali gua bela DC ya hehehe)

Wednesday, November 16, 2011

THE SMURFS (2011)


Waktu gua masih imut dulu (tapi jangan salah sangka dulu, sekarang memang ga imut lagi tapi bermetamorfosis jadi keren), komik termasuk salah satu bacaan gua, selain buku-buku filsafat tingkat tinggi dan buku-buku tebal peneman tidur (maksudnya nemenin doang, bukan dibaca). Ga lah, bacaan gua waktu kecil ya seperti anak-anak kecil kebanyakan. Novel-novel remaja karangan Enid Blyton atau novel misteri favorit gua, Trio Detektif. Kalo komiknya dulu, gua suka sekali dengan Tintin (ini kapan ngomongin Smurf-nya). Nah ada satu komik yang gua kurang suka, nah judulnya yah itu Smurf hehehe. Iya, gua ga terlalu suka smurf. Lho jadi kenapa bisa nonton film ini? Nah ceritanya begini, istri gua yang suka Smurf dan ternyata anak gua juga suka, so karena gua suami dan ayah yang baik, gua pun menemani mereka.

Si manusia biru (bukan Superman yah), ini makhluk biru kecil yang punya satu kata ajaib yang bisa disambungkan dengan kalimat apapun. Yeah, they can smurf their special smurf into any smurf sentence. Artinya apa gua juga ga tau, dan gua juga ga tau kenapa nulis itu….hmm…’gargabe-smell’ sudah menyihir gua rupanya. Adegan awal diperlihatkan desa smurf yang ternyata sangat….kecil tapi full color dengan para penghuninya yang mempunyai nama sesuai dengan sifatnya. Kalo gua jadi penghuni desa smurf pasti nama gua Handsome.

Ibarat cerita dongeng, ada seorang karakter yang zero jadi hero. Ide cerita yang sering digunakan dalam film keluarga. Sebenarnya, pertama kali mendengar bahwa bakal ada film Smurf, dalam benak gua oh ini pasti film animasi murni, layaknya film Tintin. Tapi ternyata agak sedikit kecewa karena film ini tidak demikian. Seandainya tidak digabung dengan karakter manusia mungkin lebih asik untuk dinikmati karena kita seakan-akan dibawa ke dimensi lain, layaknya Avatar (padahal sudah sama-sama biru kan karakternya, kayaknya Smurf setelah sekian lama melewatiwaktu puluhan tahun berevolusi menjadi Na’vi). Walaupun sebenarnya Neil Patrick Harris bermain tidak jelek. Ketika menonton film ini, gua sedikit memutar otak memikirkan siapa yang memainkan si penyihir. Well, akhirnya tertebak setelah hampir 30 menit berpikir. Hank Azaria.

Cerita yang cenderung bukan anak-anak tapi ditujukan untuk anak-anak, bahkan tidak ada karakter anak-anak sama sekali, jelas bingung apakah film ini ditujukan untuk anak-anak atau untuk anak-anak penggemar komik Smurf yang kini sudah bukan anak-anak lagi. Mengerti tidak, anak-anak?

Jika hanya sekedar mewujudkan mimpi masa kecil dimana karakter-karakter smurf menjelma di layar lebar, film ini bisa cukup mewakili, tapi jika ingin mencari tontonan utuh, menurut gua, gua tidak terlalu terkesan. Sekedar menghibur pun tidak termasuk memuaskan. Endingnya pun seperti layaknya film keluarga biasa (gua sih tidak mengkategorikan ini film keluarga). Gua kategorikan film ‘nanggung’. Ide cerita yang sebenarnya tentang orang dewasa yang lupa untuk merasakan kebahagiaan dari hati yang tulus karena tekanan pekerjaan. Bahkan demi pekerjaan rela membuat idealisnya sendiri yang berasal dari hati yang paling dalam. Sayangnya tidak dikedepankan sehingga tidak menjadi kerangka cerita yang punya pondasi yang kuat meskipun mungkin film ini ingin mengingatkan bagaimana dulu waktu masa kanak-kanak, begitu ceria membaca cerita komik smurf, tertawa dan merasa bahagia tanpa ada beban, kini pun meski sudah menjadi manusia dewasa tetap bisa merasakan kebahagiaan polos yang dirasakan saat kita masih kanak-kanak. Tujuan film untuk mengingatkan kita kembali pada keceriaan masa kecil. Hanya sayang, menurut gua tujuannya tidak sampai ke penonton.

Sekedar info, Smurf ini diciptakan oleh Peyo dari Belgia pada tahun 1958. Pertama kali, mereka muncul dalam komik Johan and Pirlouit sebelum akhirnya menjadi komik sendiri setelah itu. Ada 29 komik yang terbit, 16 diantaranya dibuat oleh Peyo. Film ini berbujet 110 juta dolar namun sudah menghasilkan 557 juta dolar di seluruh dunia. Film yang bisa ditonton dalam versi 2D dan 3D ini rencananya akan dibuat sekuelnya yang akan rilis 2013.

Powered By Blogger