Sunday, May 30, 2010

LETHAL WEAPON (1987)

Genre : Drama - Romantis
Directed by : Richard Donner
Produced by : Richard Donner, Joel Silver
Starring : Danny Glover, Mel Gibson, Gary Busey
Written by : Shane Black
Music by : Michael Kamen, Eric Clapton, David Sanborn
Cinematography : Stephen Goldblatt
Edited by : Stuart Baird
Running time : 110 minutes
Budget : US$ 15 millions
Distributed by : WARNER BROS


Lethal Weapon bisa dikatakan awal masuknya Mel Gibson di kancah Hollywood, walaupun sebenarnya orang sudah mengenal dia lewat film Mad Max. Masih muda, jika dibandingkan dengan dalam Edge of Darkness (jauhlah...). Begitu juga Danny Glover dibandingkan dalam 2012. Musuh abadi mereka memang waktu. Seperti yang mereka katakan di Lethal Weapon 3. Karena gua belum pernah nonton film ini sedangkan gua uda nonton film lainnya. Jadi disinilah gua baru mengerti kenapa judulnya Lethal Weapon.

Film tentang polisi yang urakan, berani mati dan ugal-ugalan sangat menarik pada jaman itu seperti Dirty Harry. Mungkin sekarang ini bukan masanya lagi. Jadi waktu gua nonton ini, kebetulan gua belum pernah nonton film perdananya ini, kalo sekuel-sekuelnya gua uda nonton. Gua terbawa oleh rasa kangen akan karakter seperti ini dan terbawa ke dalam cerita. Ditambah, latar belakang Riggs memberikan alasan perangainya seperti itu. Beruntunglah hatinya baik.

Mungkin karena bosan dengan alur cerita pada film-film masa kini, gua puas dengan film ini. Bayangkan film ini dibuat 23 tahun yang lalu, tapi bukan berarti gua tidak terpuaskan. Malahan ada perasaan aneh di benak gua. Perasaan apa itu, biarlah gua simpan sendiri (gayanya...) Untungnya film ini tidak menggunakan CGI sehingga gua tidak mengalami kemunduran tehnologi perfilman. Tapi patut diacungi jempol untuk stunt actionnya.

Sebagai sutradara, Richard Donner yang sebelumnya cukup piawai menggarap Superman the movie beserta spesial efeknya, berhasil “membumi“ dengan film ini. Memang jika dibandingkan dengan sekuel-sekuelnya yang lebih menonjolkan adegan aksinya dan unsur komedinya lebih banyak. Tapi disini unsur dramanya memang sama-sama menonjol. Sebuah film pertama yang berhasil menurut gua. Memiliki dasar yang kuat untuk para lanjutannya. Donner memang pantas untuk menyutradarai keempat film Lethal Weapon.

Gibson dan Glover pun tetap bermain apik sampai jilid empatnya. Bahkan nanti muncul karakter-karakter baru yang menambah suasana “hiruk pikuk“ franchine film ini. Bisa dikatakan juga inilah film yang lebih mengangkat nama Gibson di kancah Hollywood. Mungkinkah akan ada seri ke-5nya? Kita tunggu saja.

Penulis cerita Shane Black, cukup piawai dalam menggabungkan dua karakter berbeda dalam satu film lalu meneruskannya hingga beberapa seri. Walaupun yang seri terakhirnya terselamatkan berkat penampilan Jet Li (menurut gua). Satu hal lagi yang jadi perhatian gua bahwa editor film ini Stuart Baird adalah orang yang nantinya menyutradarai Executive Decision dan U.S. Marshalls. Jangan lupakan juga sang produser Joel Silver, yang kelak menjadi produser The Matrix Trilogy.

Sebagai referensi saja. Lethal Weapon menghasilkan US$ 120 juta di seluruh dunia (di Amrik US$ 65 juta) modalnya US$ 15 juta. Lethal Weapon 2 memperoleh US$ 227 juta (di Amrik US$ 147 juta). Lethal Weapon 3 mendapatkan US$ 321 juta (di Amrik US$ 144 juta) dengan bujet US$ 35 juta. Film terakhirnya mengantongi US$ 285 juta (di Amrik US$ 130 juta) dengan dana yang lebih besar US$ 140 juta.

Monday, May 24, 2010

A WALK TO REMEMBER (2002)

Genre : Drama - Romantis
Directed by : Adam Shankman
Produced by : Denise Di Novi, Hunt Lowry
Starring : Shane West, Mandy Moore, Peter Coyote, Daryl Hannah
Written by : Nicholas Sparks (novel), Karen Janszen (screenplay)
Music by : Mervyn Warren
Cinematography : Julio Macat
Edited by : Emma E. Hickox
Running time : 102 minutes
Budget : US$ 11 millions
Distributed by : WARNER BROS

Dulu gua pernah baca buku berjudul Message in a Bottle (MIAB). Gua juga ga tau kenapa gua baca buku ini. Padahal gua biasanya baca buku sci-fi seperti karangan almarhum Michael Crichton atau novel tentang pengacara karangan John Grisham. Tapi ketika gua membaca MIAB, gua terhanyut oleh ceritanya. (yeah gua ga malu ngakuin, kalo gua jadi suka baca buku romance haha) Mungkin suatu hari nanti gua cerita tentang Horse Whisperer (hehe). Tapi begitu gua nonton film MIAB. Hancur sudah khayalan romantis gua. Memang, buku tidak bisa dibandingkan dengan filmnya karena mereka adalah dua hal yang berbeda. Tapi tetap film “berhutang” kepada buku karena biasanya orang berbondong-bondong menonton film saduran dari buku karena sudah membaca novelnya. Can’t blame the readers. Film yang dibintangi oleh Kevin Costner itu bukan jelek tapi tidak berhasil mewujudkan keromantisan gua. Gua memang orang yang romantis kok. Tanya aja istri gua kalo ga percaya, hehe.

Dan entah kenapa juga, terakhir-terakhir ini gua lagi cenderung pengen nonton film drama romantis. Mungkin ingin mengasah tingkat keromantisan gua ket tingkat yang lebih mumpuni atau mungkin gua ingin meningkatkan nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat. Buset gua mulai melantur. Setelah kemaren, gua nonton While You Were Sleeping. Kini gua nonton A Walk To Remember. Berdasarkan novel karangan Nicholas Sparks yang juga mengarang MIAB. Gua belum baca A Walk to Remember, tapi setelah menonton film ini, gua berniat untuk membacanya.


Kisah cinta remaja yang dikemas secara menarik, meskipun awal film tidak menggambarkan sebuah cerita yang bakal terjalin dengan indah. Sampai akhirnya gua pun terkesima dengan beberapa adegan yang sangat menyentuh. Kredit lebih gua berikan kepada Mandy Moore yang berakting sangat natural dan pas sekali. Padahal basicnya dia adalah seorang penyanyi. Mungkin karena faktor inilah, dipilih Mandy karena ada beberapa adegan yang mengharuskan dia mengeluarkan talentanya. Juga Peter Coyote sebagai ayahnya yang bermain sangat baik. Memperlihatkan sosok ayah yang bijaksana. Dan tentu saja, tepuk tangan gua berikan kepada sang sutradara Adam Shankman. Bravo. Bikin lagi drama romantis based on Nicholas Sparks’ books hehe. Masih ada The Rescue yang belum difilmkan kalo ga salah.


Lagu-lagu indah yang menghiasi hampir sepanjang film menambah nilai sentimentil film. Membawa gua lebih masuk ke dalam atmosfer film. Landon yang diperankan oleh Shane West bisa dianggap berhasil tapi di beberapa adegan agak terlihat bahwa Shane sedikit kurang pas tapi masih okelah.


Menurut penilaian gua, film ini adalah bukan tentang Jamie tapi tentang Landon. Perubahan yang dialaminya dari seorang anak yang bengal menjadi anak yang ingin selalu menjadi lebih baik. Semua itu dikarenakan cinta yang hadir diantara dia dan Jamie. Semua hal buruk di kehidupan Landon berubah berkat cintanya kepada Jamie. Dari cita-citanya, hubungan dengan teman satu gengnya, juga hubungan dengan ayahnya. Maka gua bisa mengatakan bahwa ini adalah kisah cinta remaja yang tidak ringan tapi berbobot. Yang tadinya gua pesimis melihat adegan awal, lambat laun gua terbawa suasana. Jujur saja hal ini terjadi setelah Jamie bernyanyi di panggung sandiwara. Gua seakan-akan terhipnotis oleh indahnya cinta mereka. Dan....lebih baik anda tonton sendiri saja. Yang pasti film ini langsung masuk daftar film drama romantis favorit gua. So very recommended guys!!!

P.S. Tadinya gua hanya suka lagi Cry, tapi kini gua juga jadi suka lagu Only Hope, juga dinyanyikan oleh Mandy Moore.

Wednesday, May 19, 2010

IP MAN 2 (2010)

Genre : Drama - Aksi
Directed by : Wilson Yip
Produced by : Raymond Wong
Starring : Donnie Yen, Sammo Hung, Lynn Hung
Written by : Edmond Wong
Music by : Kenji Kawai
Cinematography : Poon Hang Sang
Edited by : Cheung Ka Fai
Running time : 109 minutes
Budget : US$ 12 millions
Distributed by : MANDARIN FILMS



Sepanjang pengalaman menonton film martial arts Hongkong, sekuel terbaik menurut gua adalah Kungfu Master 2 (Once Upon A Time in China 2) yang dimainkan oleh Jet Li. Tsui Hark berhasil membuat sekuel yang lebih baik dari pelopornya (disutradarai oleh Tsui juga). Tingkat cerita yang dibawa oleh Kungfu Master 2 lebih berbobot. Adegan tarungnya pun menarik, digarap oleh Yuen Wo Ping. Kebetulan juga Kungfu Master 2 ikut diperankan oleh Donnie Yen sebagai musuh Li.

Kembali ke IP Man 2, saat gua menonton film perdananya, gua terperangah melihat fighting scenesnya yang minimalis tapi mantap. Gua uda tau style film-filmnya Donnie seperti Black Protector 4 (In The Line of Duty 4), Tiger Cage 1 dan 2 dan film-film terbarunya seperti SPL atau Flash Point. Memang gaya Yen berbeda dengan Jet Li atau Jackie Chan. Yen bermain cepat dan praktis. Lihatlah perbedaan Blade 2 dengan Blade lainnya dan Highlander : End Game, dimana penata laga di kedua film itu adalah Yen. Tapi yang gua surprise bahwa ternyata penata lagi di IP Man adalah Sammo Hung. Memang dia adalah termasuk aktor laga yang handal, tapi sejauh ini belum ada fighting scene ciptaan Sammo yang membuat gua terkesima. Baru lewat IP Man lah, gua berdecak kagum dan salut pada Sammo. Begitupun sekuelnya ini, masih meng-hire Sammo sebagai penata laga ditambah dia ikut tampil pula. Jelas bukan prestasi yang menurun untuk Sammo, karena gua menikmati adegan fight di film ini. Hanya yang kurang adalah waktu di film pertamanya, musuh Donnie sering dilihat close-up seakan-akan mereka benar-benar kena gebuk atau kena tendang, di film keduanya ini hal itu dikurangi. Teman-teman bakal terkagum-kagum melihat pertarungan di meja bundar. Satu lagi yang membuat gua terkagum-kagum adalah pertarungan pertama dengan calon muridnya yang menurut gua sangat bagus sekali. Mengenai ending film ini, kalo yang pertama gua ga terlalu suka karena ga terlalu spektakuler. Kalo yang kedua, terlalu didramatisir sehingga malah jadi membuat gua bĂȘte.

Berusaha eksis di Hollywood dengan bermaen cameo di kedua film (Blade dan Highlander) lalu bermain jadi antagonis di Shanghai Noon, masih belum bisa mengangkat nama Donnie Yen di kancah Hollywood. Tapi setelah hijrahnya beberapa aktor nomor top Hongkong ke Hollywood seperti Jet Li, Jackie Chan, Chou Yun Fat dan lain-lain. Membuka peluang buat Yen berkiprah di Hongkong dan memang Yen termasuk laris untuk main film-film aksi Hongkong. Lihat saja film-film terakhir yang masuk ke Indonesia seperti Bodyguards and Assasins, 14 Blades semua diperankan oleh Yen. Disini Yen memang pas sekali bermain sebagai Yip Man dan gua pun tidak bisa membayangkan kalo karakter ini dimainkan oleh siapapun bahkan Li sekalipun. Yen is the perfect man for this character. Hampir sulit untuk menilai pemain lain, karena benar-benar Yen adalah magnet yang membuat film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton. Kebijaksanaannya, kerendah hatiannya dan terutama gaya berkelahinya yang cool dan mantap. Sayang sekali Wilson Yip sang sutradara kurang memberikan nilai lebih untuk bobot dramanya, hanya menggugah di awal-awal saja. Begitu juga dengan karakter Simon Yam yang tidak diperlihatkan lebih banyak lagi. Padahal ini bisa menambah bobot cerita. Bagi yang belum nonton film petama, mungkin agak sedikit bingung dengan tokoh yang diperankan Yam karena ini merupakan salah satu benang merah dari film pertama. Yam itu adalah temanYip waktu di Foshan yang sering membantu keluarga Yip.

Menonton film ini membuat gua membandingkannya dengan Iron Man 2. Memang berbeda genre, tapi yang gua perbandingkan adalah kepuasannya. Gua lebih puas nonton IP Man 2 daripada Iron Man 2 yang menurut gua membosankan. Sedangkan IP Man 2 hanya membosankan di bagian akhir. Jadi gua lebih merekomendasikan IP Man 2 buat ditonton. Don’t Miss it!

Gua nonton di Ciwalk XXI ditulis di display bahwa subtitle kurang jelas. Memang banyak yang ga ada subtitle di beberapa adegan tapi tidak membuat gua tidak mengerti jalan ceritanya. Jangan membuat yang lain urung untuk menonton yah. Karena memang jalan ceritanya simple kok.

Monday, May 10, 2010

WHILE YOU WERE SLEEPING (1995)

Genre : Drama - Komedi
Directed by : Jon Turteltaub
Produced by : Roger Birnbaum, Joe Roth
Starring : Sandra Bullock, Bill Pullman, Peter Gallagher, Peter Boyle, Jack Warden
Written by : David G. Sullivan, Fredric LeBow
Music by : Randy Edelman, Diane Warren
Cinematography : Phedon Papamichael Jr.
Edited by : Bruce Green
Running time : 103 minutes
Budget : US$ 18 millions
Distributed by : HOLLYWOOD PICTURES


Who knows the movie called The Vanishing (1992) yang dibintangi oleh Kiefer Sutherland? Or maybe ada yang tau film Love Potion No. 9 (1993)? Ah kalo yang ini mungkin pada tau, film Demolition Man? Kalo tau, mungkin dikarenakan pemainnya adalah Slyvester Stallone. Gua ganti deh pertanyaannya, tau film Speed? Gua yakin pasti pada tau semua. Semua yang gua sebutkan diatas adalah film dimana Sandra Bullock berperan, dan iya setelah Speed lah namanya menjulang naik. Begitu pula dengan Keanu Reeves.


Lewat film ini, Sandra pun makin mengukuhkan namanya di kancah Hollywood. Gimana tidak, dengan bujet US$ 18 juta bisa menghasilkan US$ 182 juta di seluruh dunia (di Amrik US$ 81 juta). Sebenarnya gua uda nonton film ini dulu, tapi penilaian gua hanya di atas rata-rata, tapi kemaren gua nonton lagi dan it turned out to be a very sweet movie. (did I say very sweet?) yeah, I am not ashamed to admit it. Because film ini memang bercerita dengan manis sekali. Sandra pun bermain manis sekali disini. Senyumnya, tatapan matanya, gerak geriknya bahkan tutur katanya. Jelas dia berhasil memesonakan penonton. Sebuah cerita yang simple tapi diramu dengan sangat tepat oleh sang director, Jon Turteltaub. Dialog-dialognya yang lucu, situasi-situasi yang menggemaskan dan yang pasti tidak membosankan untuk ditonton berkali-kali. Ditambah beberapa music score yang sangat mendukung.

Jon mungkin dikenal sekarang sebagai sutradara film dwilogi National Treasure. Sebenarnya gua menyukai dua film Jon yang lain Phenomenon (John Travolta) dan The Kid (Bruce Willis), tapi ntar gua tonton lagi ah, siapa tau persepsinya berbeda kalo nonton lagi. Tapi disini, Jon berhasil membuat penonton (gua) terkesima dengan ringannya adegan demi adegan mengalir, menariknya hubungan antara para karakter. Tawa, gemas dan haru bercampur jadi satu. Tidak banyak film drama romantis seperti ini apalagi jika dibandingkan dengan film-film baru yang mungkin ide ceritanya sudah semakin sulit dijaga keasliannya. Ditambah iringan musik yang selalu membantu menekankan keadaan film apakah lagi gembira, lucu, mengharukan atau lagi jatuh cinta.


Pasangan main Sandra adalah Bill Pullman. Disini dia bermain manis juga. Buset semuanya gua sebut manis. Bahkan tidak bisa dipungkiri, penulis review ini pun orang yang manis (halah…) Kembali ke Bill, kelak dia akan bermain gemilang di Independence Day sebagai Presidan Amerika. Gua suka penampilan simpatik Bill di ID4, bahkan pidatonya menjelang invasi merupakan salah satu momen yang sangat menginspirasi. Sayang bintang terangnya redup setelah ID4. Tidak ada filmnya yang benar-benar memorable. Sori, gua ketinggalan, sebelum ID4, Bill pernah bermain bagus juga di Casper.

Jadi saran gua, bagi seluruh teman-teman yang mengaku orang romantis, tontonlah film ini. Karena jujur ini film romantis banget. Chemistry antara Bill dan Sandra yang terlihat kikuk malah menambah nilai film ini. Dan hebatnya masing-masing karakter membantu keutuhan film ini. Mereka berperan seakan-akan bukan sedang berakting.


Gua membahas film ini dalam rangka menyambut Hari Valentine yang masih 9 bulan lagi (masih jauh kaleee). Penuhilah hari-hari kita dengan kasih sayang. Jika anda sudah punya keluarga, hargailah keluarga anda. This is a movie about family values. Please watch it. :D

Powered By Blogger