Tuesday, February 16, 2010

LEGION (2010)

Genre : Action - Horror

Directed by : Scott Stewart

Produced by : David Lancaster, Mitchel Litvak

Starring : Paul Bettany, Lucas Black, Tyrese Gibson, Dennis Quaid, Adrianne Palicki, Kate Walsh

Written by : Peter Schink, Scott Stewart

Music by : John Frizzel

Cinematography : John Lindley

Edited by : Steven Kemper

Running time : 100 minutes

Budget : US$ 26 million

Distributed by : SCREEN GEMS


Begitu lihat posternya, kesan yang pertama yang saya pikirkan adalah unik. Malaikat bersayap tapi di kedua tangannya memegang senjata. Sejujurnya saya suka sekali dengan premis ceritanya. Kiamat. Entah kenapa saya selalu suka dengan genre cerita seperti ini. Tapi biasanya film seperti ini dibagi dua. Kiamat oleh bencana alam dan kiamat oleh hal lain. Nah film ini adalah apocalypse yang disebabkan oleh sesuatu diluar bencana alam.


Saya tidak akan menceritakan apa penyebab bencananya, tapi jelas ide cerita film ini cukup langka. Dan sudah terbayang dalam benak saya bahwa akan terjadi sebuah pertarungan mati-matian umat manusia dalam mencegah kiamat ini. Imajinasi saya ternyata benar. Awal film dibuat kelam dibawah guyuran hujan dan kilatan petir. Jelas sesuai dengan jalan cerita. Seperti biasa kita diperkenalkan dengan karakter-karakter lain yang akan mengisi perannya sepanjang film. Lalu mulailah gebrakan pertama. Jantung saya mulai berdebar-debar diiringi musik yang mulai menghentak-hentak. Adegan berikutnya luar biasa menegangkan. Salah satu adegan seru yang pernah saya tonton. Batin saya merasa bahwa ini adalah pilihan film yang tepat yang saya tonton hari itu. Film sedikit menurun ritmenya. Lalu ada sedikit lagi lonjakan. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang menarik.

Lenyap sudah bayangan cerita kiamat yang ada di pikiran saya. Yang pasti isi film ini hanya menarik di awal saja, jadi saran saya jangan sampai telat masuk bioskop. Tapi yang pasti anda boleh meninggalkan bioskop sebelum film berakhir.

Padahal jika dilihat dari deretan castnya, ada nama Paul Bettany. Mungkin memang dia tidak pernah bermain film aksi, tapi jelas selama ini dia sudah bermain cukup apik. Tapi penampilannya disini cukup “cool” Lalu ada Dennis Quaid yang makin laris saja. Kedua nama ini sebenarnya sudah merupakan modal yang cukup untuk membuat sebuah film menjadi menarik (ditambah premis cerita yang di atas rata-rata). Hanya sayang ide cerita yang menarik tidak dikembangkan lebih baik. Karakter-karakter yang ada pun tidak dibuat lebih mengesankan. Mereka hanya sekedar tampil untuk menceritakan masa lalu mereka dan kemudian mati. Sudah selesai tugas mereka sebagai aktor/aktris. Jelas ini menurut saya adalah kekurangan dari skenario yang tidak berkembang ke arah yang lebih baik.

Jika melihat “sayap” di film ini, saya langsung teringat dengan Contantine dimana hampir memiliki alur cerita yang sama. Tapi alangkah beda, sayapnya dalam bentuk visual maupun “sayap” dalam pengertian eksekusi cerita. Constantine jelas ide ceritanya malah lebih klise tapi dibuat dengan ramuan yang lebih pas. Sedangkan Legion mempunyai ide yang brilian tapi ramuannya malah mengurangi rasa.

Mungkin Legion mempunyai misi yang tersembunyi. Bayi yang sedang dikandung oleh Charlie. Lalu semua ini terjadi di Paradise Falls. Hanya sayang mungkin karena buruknya film ini, semua hal tersebut benar-benar tersembunyi dan tidak tersangkut di benak penonton. Setelah menonton pun, mereka hanya berkomentar, “That’s it!”

Untunglah sound film ini mendukung. Musik cukup setia memandu setiap adegan dengan pas. Spesial efek pun tidak terlalu dipaksakan. Dengan bujet yang hanya US$ 26 juta, film ini jelas tidak menghamburkan dananya untuk spesial efek yang berlebihan. Mobil-mobil yang diledakkan pun terlihat bukan mobil mahal. Para pemerannya pun bisa dihitung dengan jari, diluar pemain figuran. Padahal District 9 menghabiskan biaya yang tidak jauh US$ 30 juta. Tapi terlihat sekali betapa bagusnya spesial efek film itu.

Sang sutradara, Scott Stewart sering bekerja di belakang layar dalam bagian visual effect seperti film The Lost World : Jurassic Park, Harry Potter and Goblet of Fire, Superman Returns, Pirates of The Carribean : Dead Man’s Chest, Ironman. Tidak buruk untuk bagian awal film, hanya cara meramu Scott di pertengahan film seakan-akan terjebak dengan film yang bergenre sejenis. Tidak harus dengan pola yang sama Bung Scott. Buatlah gaya anda sendiri. Karena anda sudah mempunyai modal, ide cerita yang bagus. Sayang sekali Scott tidak memberi detil yang cukup kepada penonton, apa saja yang bisa dilakukan oleh karakter Gabriel dan Michael. Sehingga mungkin penonton pun akan bingung mengenai konklusi dari ending film. Dan banyak hal lain yang tidak dijelaskan di film ini.

Paul Bettany, ternyata dia menjadi pengisi suara Jarvis di Ironman. Saya tidak pernah mengetahui hal ini. Saya suka Bettany ketika dia bermain (tentu saja) di A Beautiful Mind. Suaranya yang dingin cukup khas. Kemudian berduet lagi dengan Russell Crowe di Master and Commander : Far Side of The World. Sayang penampilan mereka berdua termasuk biasa saja disana. Lalu bermain di The Davinci Code. Kini mencoba film aksi dengan melakukan baku tembak dan baku hantam di film ini. Sebenarnya Bettany cukup bermain bagus disini, hanya naskah cerita yang membatasi gerakannya. Dan ternyata Bettany masih akan bekerja sama lagi dengan Scott untuk proyek berikutnya Priest yang akan dirilis 2011. (masih bergenre action-horror). Semoga kerjasama mereka yang kedua ini akan lebih baik.

Dennis Quaid, semenjak cerai dengan Meg Ryan. Karir aktor berkharisma satu ini menanjak laris manis. Bermain dalam film-film besar seperti The Day After Tomorrow, G.I. Joe : The Rise of Cobra. Film Quaid yang saya suka adalah Frequency dan The Day After Tomorrow.

Jika anda penggemar serial Private Practice atau Grey’s Anatomy, maka akan mengenali sosok Kate Walsh yang berperan sebagai Dr. Addison. Dia berakting sedikit berbeda disini.

Jadi kesimpulannya, jangan sampai telat masuk karena hal-hal yang bagus hanya terjadi di awal film lalu terjun ke jurang kebosanan setelah pertengahan film. Dan dari endingnya bisa ditebak bahwa akhir film memberi jalan untuk sebuah sequel.

Tuesday, February 9, 2010

THE SPY NEXT DOOR (2010)

Genre : Action - Komedi

Directed by : Brian Levant

Produced by : Robert Simonds

Starring : Jackie Chan, Amber Valletta, Madeline Carroll, Will Shadley, Billy Ray Cyrus

Written by : Jonathan Bernstein, James Greer, Gregory Poirier

Music by : David Newman

Cinematography : Dean Cundey

Edited by : Lawrence Jordan

Running time : 89 minutes

Budget : unknown

Distributed by : LIONSGATE

Who doesn’t know Jackie Chan? Aktor laga ini sudah sangat terkenal di Asia. Sudah puluhan film yang dibintanginya. Diawal karirnya dia sempat hanya menjadi seorang stuntman. Mulai main dalam beberapa film tapi sinarnya masih belum terlihat. Tapi ketika dia maen di Snake and The Eagle’s Shadow dan Drunken Master, gayanya mulai terbentuk. Dengan paduan kungfu akrobatik ditambah dengan gaya komedi, mulailah Chan menapakkan karirnya di perfilman Hongkong. Ketegangan aksi Chan dalam film ditambah dengan dia melakukan adegan berbahaya sendiri tanpa menggunakan stuntman. Kita bisa mengetahui hal ini dengan cuplikan adegan shooting di akhir film yang selalu menjadi trademark filmnya Chan. Muncullah film-filmnya yang terkenal seperti Police Story (1-3), Project A (1 &2), Armour of God 1 dan 2 (disini berjudul Operation Condor), kemudian film-film lainnya yang banyak mengambil setting di luar Hongkong, misalnya Rumble in The Bronx, First Strike, Who am I dan lain-lain. Perlu dicatat, produser Hollywood mulai melirik Chan ketika Rumble in The Bronx diputar di bioskop Amerika dan meraih keuntungan yang lumayan.


Ketika hijrah ke Hollywood, film pertama Chan adalah Rush Hour, berpasangan dengan Chris Tucker. Ternyata cukup mendapat perhatian, yang kemudian dilanjutkan dengan sekuelnya yang ternyata meraih penghasilan tertinggi kedua di Amerika tahun itu. Dan akhirnya kini sudah mencapai jilid 3. Juga ada dwilogi Shanghai Noon dan Shanghai Knight, lalu 80 Days Around The World, The Tuxedo. Hanya perlu dicatat, keberadaan Chan di Hollywood sering dianggap sebagai aktor komedi, terlihat dari semua film Hollywoodnya yang didominasi oleh kelucuan khas Chan tapi minus adegan-adegan aksi berbahaya yang sering dilakukan Chan dalam film-film Hongkongnya. Jadi menurut saya pribadi, tidak ada film Hollywood-nya Chan yang betul-betul menarik.

Kini usia Chan sudah mulai menua. Adegan aksi pun sudah mulai dikurangi. Hal ini pun terlihat dari film-film Hongkongnya yang terbaru seperti New Police Story, The Myth dan Shinjuku Incident (tapi walaupun begitu masih tetap lebih bagus dari film Hollywoodnya). Sekarang adalah film terbarunya. Sebuah film keluarga. Diarahkan oleh Brian Levant yang pernah membuat The Flinstones dan Beethoven. Dan jangan berharap akan melihat aksi spektakuler Chan tanpa menggunakan stuntman. Jika anda berharap ingin melihat hal itu, saran saya lebih anda tidak menonton film ini. Tapi jika anda menginginkan sebuah film untuk keluarga anda, mungkin film ini akan mewujudkan keinginan anda.



Chan pun termasuk aktor yang jarang beradegan mesra dengan lawan mainnya. Bahkan untuk berciuman bibir termasuk jarang dan biasanya hal itu dilakukan untuk sekedar lucu-lucuan saja. Yang saya tahu, dia pernah berciuman dalam film Police Story 3, Twin Dragons, The Medallion (mungkin masih ada film lain yang saya lupa). Disini pun beliau beradegan ciuman lagi. Terasa aneh melihat dia beradegan seperti itu karena dia pernah diwawancara dan menjawab lebih sulit melakukannya daripada melakukan aksi tanpa stuntman.

Hanya sayang disini performa Chan tenggelam oleh karakter Ian yang menurut saya sangat memberi jiwa pada film ini. Adegan-adegan dialah yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Jika tidak ada Ian, saya akan pulang dengan muka cemberut dan mencela diri sendiri kenapa menonton film ini tanpa berpikir panjang (terlalu berlebihan ya hehe…).

Satu yang layak diperhatikan di awal film adalah cuplikan-cuplikan dari film-film Chan terdahulu. Yang banyak terlihat adalah potongan adegan dari Armour of God 2 (Operation Condor) juga ada The Tuxedo. Mungkin ingin menguatkan karakter Chan disini yang berperan sebagai seorang agen rahasia.

Chan disini terlihat tua dan gemuk. Aktor kelahiran tahun 1954 ini memang sudah main banyak film. Mungkin karena faktor usia, dia sering bermain lebih aman atau mungkin karena faktor film ini adalah produksi Hollywood makanya dia melakukan adegan yang aman-aman saja. Daftar film Hollywood Chan berikutnya adalah remake Karate Kid dengan Jaden Smith.

Salah satu yang menonjol di Hitch menurut saya adalah Amber Valletta. Disini Valetta bermain sebagai ibu anak-anak yang punya hubungan dengan Chan. Jika ditelusuri di imdb.com ternyata Valletta pernah bermain di What Lies Beneath.

Pemain lain yang patut dicatat adalah Billy Ray Cyrus. Yang jelas dia adalah ayah dari Miley Cyrus (Hanna Montana). Disini dia berperan sebagai partner Chan di agensi.




Ada 3 pemeran cilik yang bermain disini, tapi saya hanya tertarik dengan satu orang. Will Shadley. Dialah pemeran Ian yang menurut saya adalah nyawa film ini. Memang daftar filmnya belum panjang dan biasanya dia hanya jadi pengisi suara dari film-film seperti serial Avatar : The Last Airbender, serial Dirty Sexy Money.

Di film ini sebenarnya perkelahian antara Chan dengan anak muda agen Rusia sebenarnya bisa dibuat lebih menarik. Hanya sayang tidak dikembangkan tapi sekali lagi mungkin karena ini adalah film keluarga.

Jika anda penggemar film aksi Chan, saya tidak menganjurkan untuk menonton film ini. Jika anda penggemar film keluarga, saya sedikit merekomendasikan film ini. Yang sejujurnya menurut saya lebih bagus dari The Pacifier-nya Vin Diesel. Tapi banyak yang bilang sebaliknya juga. Jika anda penggemar Chan, anda tentu sudah tahu saran saya. Dibalik segala kekurangan dan kelebihan film ini, saya menangkap beberapa momen atau nilai keluarga yang tidak saya temui di Pacifier. Dan hal itu yang membuat saya cukup menyukai film ini. Saya ulang lagi, dan hal itu yang membuat saya CUKUP menyukai film ini.

Dan jangan lupa seperti film-film Chan yang lain, ada cuplikan bloopers di akhir film yang biasanya cukup menghibur.

Saturday, January 16, 2010

AVATAR (2009)

Genre : Drama – Science Fiction

Directed by : James Cameron

Produced by : James Cameron, Jon Landau

Starring : Sam Worthington, Zoe Saldana, Stephen Lang, Michelle Rodriguez, Giovanni Ribisi, Sigourney Weaver

Written by : James Cameron

Music by : James Horner

Cinematography : Mauro Fiore

Edited by : James Cameron, John Refoua, Stephen E. Rivkin

Running time : 162 minutes

Budget : US$ 237 millions

Distributed by : 20th Century Fox

Sedikit latar belakang, saya nonton film ini dua kali dengan urutan versi 2D dulu baru versi 3D.

Siapa yang dijuluki King of The World? Dialah James Cameron karena film garapannya, Titanic menduduki posisi nomor satu di tangga box office. Hampir dikalahkan oleh The Dark Knight tahun 2008. Tapi tampaknya sang Pangeran Kegelapan belum sanggup menenggelamkan “kapal legendaris” tersebut. Setelah hamper satu dekade, kini Cameron muncul dengan film baru yang katanya menggunakan terobosan baru di dunia perfilman. Apakah pemasukannya dapat mengalahkan karyanya sendiri di tangga box office? Sejauh ini, pendapatan diseluruh dunia sudah di peringkat 2, dan tampaknya laju film ini masih akan terus bergerak kencang di minggu-minggu berikutnya. Salah satu hal yang menyebabkan Avatar menanjak kencang karena film ini dibuat dua versi dan orang yang sudah menonton versi 2D akan penasaran dengan versi 3D, termasuk saya.

Sulit sekali bagi seorang moviegoers untuk tidak mengenal siapa itu James Cameron. Dialah yang menghasilkan dwilogi Terminator yang fenomenal, dan menurut saya pribadi diantara Alien, Aliens, Aliens 3 dan Alien Resurrection. Film Aliens yang disutradarai oleh Cameron yang paling seru. Dilanjutkan dengan The Abyss, True Lies dan di puncak segalanya adalah Titanic.

“Menganggur” sekian lama, ternyata Cameron sedang mempersiapkan film Avatar ini yang sebenarnya konsep film ini sudah lama ada, hanya tehnologi untuk membuatnya yang belum ada. Maka baru sekarang muncullah film ini. Sebagai pengingat juga, Avatar ini bukanlah berdasarkan serial kartun keluaran Nicklodeon, ini film yang berbeda. Walaupun Avatar yang berdasarkan serial tersebut juga akan difilmkan oleh M. Night Shyamalan dengan judul The Last Airbender.


Alhasil, banyak yang terpikat oleh visualisasi yang diciptakan oleh Cameron. Alam Pandora yang begitu indah beserta isinya yang sebenarnya mirip dengan campuran berbagai habitat di bumi. Tapi oleh Cameron dipadu sedemikian rupa sehingga menjadi suatu bentuk yang baru. Indah, tergantung apakah anda sering maen game bergenre RPG. Jika sering mungkin visualisasi di film ini sering anda temui di berbagai game tersebut. Kehalusan graphis memang bisa dikategorikan sangat halus dan hidup. Seharusnya perpaduan live action dan CGI yang diacungi jempol. Cameron sangat lihai menyatukan dua elemen itu menjadi sebuah karya yang menakjubkan mata anda. Aspek-aspek yang ada di film sebelumnya diulang kembali oleh Cameron dengan tambalan disana-sini sehingga menjadi barang baru. Ide cerita pun bisa dikatakan gabungan antara The Matrix, Dances With Wolves, Pocahontas dan sedikit mirip Eragon. Ada yang mengatakan bahwa film ini adalah Dances With Aliens.

Mengenai tehnologi yang digunakan Cameron dalam membuat film ini, tadinya saya pun beranggapan apanya yang canggih dari film ini. Karena waktu saya melihat film gabungan live action dan CGI ini, saya tidak terlalu berkesan karena visualisasi seperti ini pernah saya lihat di film Dinosaur-nya Disney. Tapi begitu melihat behind the scene Avatar, pembuatan film ini lebih sulit dan tehnologi yang digunakan adalah penyempurnaan dari Smeagol-nya Lord of The Rings. Melihat para aktor dan artis yang harus menggunakan baju bertitik-titik, dimana mereka benar-benar melakukan aksi yang tercetak pada film, mimik muka mereka langsung terekam di komputer. Saya baru memberi sedikit nilai lebih untuk film ini. Kalo saya tidak salah, nama tehnologi yang digunakan di film ini adalah E-Motion. (silakan anda cari di google untuk lebih jelasnya)

Soal cerita, banyak yang mengatakan bahwa ceritanya simpel sekali, hanya dibalut visualisasi yang luar biasa. Tapi apa salahnya dengan cerita yang sederhana? Titanic pun alur ceritanya sangat “merakyat” (sudah sering difilmkan) tapi hasilnya luar biasa menguntungkan. Diibaratkan makanan, Avatar seperti tempe yang diramu sedemikian rupa sehingga terlihat seperti Steak. Mengenai rasanya kembali kepada anda, apakah anda akan mengidolakan Avatar sebagai film paling dahsyat tahun 2009 atau anda akan kecewa dengan alur cerita yang begitu biasa.

Bagaimana dengan akting para pemerannya? Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver sangat sulit untuk dinilai karena sebagian besar mereka dibalut dengan warna biru sebagai suku Na’vi. Yang terlihat “murni” hanyalah Stephen Lang, Giovanni Ribisi dan Michelle Rodriguez. Saya tidak akan bilang akting mereka bagus, tapi anda mungkin akan merasa sebal dengan karakter yang dimainkan oleh Stephen Lang.




Saya tahu Sam Worthington baru dari film Terminator Salvation yang menurut saya penampilannya malah menenggelamkan performance Christian Bale, sebentar lagi akan muncul dalam film kolosal Clash of The Titans. Bintang Worthington sedang bersinar dan beruntungnya film-film yang dia bintangi meraih penghasilan di atas US$ 100 juta.
Zoe Saldana, perhatian saya tertuju pada dia baru pada Star Trek, jadi pacarnya si Spock muda. Padahal sebelumnya dia pernah bermain dalam film Pirates of The Carribean dan Vantage Point.
Mengenai Sigourney Weaver, ini kedua kalinya dia bekerja sama dengan Cameron setelah Aliens. Tapi mungkin karena faktor usia, Sigourney tidak beraksi disini. Kini jagoan wanitanya dialihkan ke Michelle Rodriguez. Hanya menurut saya, Michelle tidak bermain maksimal disini. Sayang sekali. Padahal Michelle berpotensi untuk jadi salah satu bintang aksi wanita di Hollywood.
Sang antagonis, diperankan oleh Stephen Lang. Pertama kali saya nonton dia tampil tanpa nama dalam film Shadow Conspiracy (aktor utamanya : Charlie Sheen). Satu lagi penggemar antagonis dimainkan oleh Giovanni Ribisi. Pemeran adiknya Phoebe dalam serial komedi Friends.




Jadi pendapat saya setelah menonton 2D baru 3D adalah tidak terlihat bedanya yang signifikan, yang ada malah mata perih setelah satu jam pertama. Tapi yang terlihat lebih indah dalam versi 3D adalah segala bentuk di dunia Pandora yang mengeluarkan sinar, sangat menakjubkan melihatnya dalam versi 3D. Sedangkan pemandangan lainnya di dunia Pandora malah lebih indah dilihat dalam versi 2D. Mungkin satu keuntungan lagi menontonnya dalam versi 2D dulu adalah subtitle Indonesia, sehingga kita lebih mengerti jalan ceritanya karena versi 3D tidak terdapat subtitle Indonesia.
Satu pengamatan saya ketika menonton Avatar. Siapkan diri anda untuk masuk ke dunia mimpi, dimana disini adalah Pandora beserta seluruh isinya. Dan siapkan diri anda untuk kembali ke dunia nyata setelah film ini berakhir. Karena seakan-akan mimpi indah anda berakhir dan anda segan untuk mengakhiri petualangan indah di Pandora. Dan saya yakin anda akan tertahan sebentar di tempat duduk anda, enggan untuk beranjak.

Sedikit tertinggal, saya harus mengakui tadinya saya menyangka yang menyanyikan lagu “I See You” adalah Celine Dion karena suaranya mirip tapi ternyata dinyanyikan oleh Leona Lewis.

Sunday, December 13, 2009

2012 (2009)

Genre : Drama – Science Fiction

Directed by : Roland Emmerich

Produced by : Harald Kloser, Mark Gordon, Larry Franco

Starring : John Cusack, Amanda Peet, Thandie Newton, Woody Harrelson, Danny Glover, Oliver Platt

Written by : Roland Emmerich, Harald Kloser

Music by : Harald Kloser, Thomas Wander, James Seymour Brett

Cinematography : Dean Semler

Edited by : David Brenner, Peter S. Elliot

Running time : 158 minutes

Budget : US$ 200 millions

Distributed by : COLUMBIA PICTURES

Ini salah satu film yang saya antisipasi tahun 2009. Setelah sukses dengan Independence Day, duet Roland Emmerich dan Dean Devlin kian berkibar di Hollywood. Sebelum ini mereka cukup sukses mengarahkan Jean Claude Van-Damme dalam film Universal Soldier (1992). Lalu diperkuat lagi oleh Stargate (1994) dan puncaknya memang ID-4 yang menurut Spielberg pun sebuah film Alien yang sulit “ditandingi”. Mengantongi US$ 817 juta dengan bujet hanya US$ 75 juta pada tahun 1996. Lalu kemudian setelah Godzilla (1998) yang kurang sukses (menurut banyak orang), kalo saya sih mengagumi film mereka yang bercerita tentang monster raksasa yang “disadur” dari monster asal Jepang ini. Bahkan masih sedikit film masa kini yang bisa menandingi kecanggihan teknologi Godzilla. Kemudian The Patriot (2000) yang dibintangi oleh Mel Gibson. Berbeda dari pakem mereka yang cenderung mengambil genre science fiction, The Patriot bisa dibilang film drama kolosal. Namun entah kenapa ketika The Day After Tomorrow (2004) Emmerich tidak berduet lagi dengan Devlin. Tapi ternyata The Day After Tomorrow (TDAT) mengeruk sukses. Maka Emmerich menjadi lebih konfiden dalam membuat 10.000 BC (2008) dan kini setelah beberapa kali mengalami pengunduran rilis. Maka tepat tanggal 13 November 2009, 2012 muncul di bioskop Indonesia.

Emmerich yang diberi gelar sebagai master of disaster, dengan instingnya yang luar biasa segera membuat cerita yang diadaptasi dari perhitungan kalender suku Maya. Mengenai kalender suku Maya, Emmerich hanya mengambil kulit luarnya saja. Hanya sebatas itu. Jika anda ingin mengetahui banyak tentang hal tersebut lewat film ini, lupakan saja niat anda.

Film mengambil waktu yang terentang cukup panjang dari kebanyakan film Emmerich, yaitu dari 2009, terus bergulir 2010, lalu tidak berlama-lama, 2011 dan tibalah 2012. Cukup lama, empat tahun.

Berbeda dengan film-film Emmerich sebelumnya. Emmerich tidak terlalu menggebu-gebu untuk segera menghancurkan kota. Kali ini, bagian awal dibuat naik turun dengan durasi yang cukup lama, dan pengenalan karakter-karakter sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menggoncangkan Los Angeles dengan gempa dahsyat. Jika anda mengikuti semua film Emmerich, maka tidak sulit untuk menemukan pengulangan adegan-adegan dari film sebelumnya atau bahkan film-film lain. Hanya jangan takut, Emmerich meramunya sehingga menjadi serupa tapi tak sama. Setelah sering menghancurkan di beberapa filmnya, jelas Emmerich sudah ahli dalam hal ini. (practice makes perfect, telah terbukti)



Sudah lama saya terkagum-kagum dengan trailer 2012. Saya sudah menyimpulkan bahwa ini akan menjadi film disaster paling dahsyat yang pernah ada. Dugaan saya sedikit keliru. Well, sebenarnya melenceng jauh. Yang sesuai dengan prediksi saya, hanyalah adegan gempa di Los Angeles yang memang sangat luar biasa. Saya jamin anda akan menahan napas selama adegan itu berlangsung. Terus terang, inilah adegan disaster paling menakjubkan yang pernah ada dalam sejarah Hollywood. Entah berapa lama waktu, usaha dan materi yang telah tercurah untuk adegan gempa ini. Saya sangat mengaguminya. Kerja yang sangat luar biasa dan hasilnya pun sangat-sangat tidak mengecewakan.



Sebenarnya 2012 memiliki banyak faktor untuk menjadi sebuah film yang lebih baik. Ada John Cusack, Thandie Newton, Oliver Platt dan Danny Glover. Suntikan dana yang besar. Banyaknya karakter layaknya sebuah film disaster sebenarnya sangat menarik untuk dikembangkan. I don’t know why, malah karakter Jackson Curtis yang diperankan oleh Cusack malah terlihat kurang menarik. Lebih menarik sosok Adrian yang dimainkan oleh Chiwetel Ejiofor. Sebenarnya dia lah tokoh sentral di film ini. Sedangkan Curtis hanyalah pemain dimana “pusat bencana” terjadi. Anda akan mengerti apabila sudah menontonnya. (ini hanya gurauan)
Satu lagi karakter yang menarik dalam film ini, Charlie Frost yaitu karakter yang dijiwai oleh Woody Harrelson. Menarik melihat Woody memainkan sosok esentrik yang dengan berani menyiarkan siaran radio rahasia yang mengatakan tentang kiamat dunia. Tapi sejujurnya tidak ada karakter yang benar-benar kuat dalam film ini. Bahkan “disaster-disaster”-nya pun kurang bertenaga kecuali sekali lagi gempa di Los Angeles yang sangat sensasional.




Sedikit berbeda dengan TDAT yang menurut saya adalah antiklimaks. Film ini tidak demikian. Masih banyak yang akan terjadi setelah anda pikir bahwa yang buruk sudah lewat. Hanya banyak yang berpikir bahwa paro akhir film kurang “nendang” dibandingkan paro awal. Tapi sekali lagi, menurut saya film ini tidak antiklimaks seperti TDAT. Diluar adegan gempa, sebenarnya saya lebih menikmati adegan-adegan disaster di TDAT. Hanya sekali lagi, jangan pejamkan mata anda dengan earthquake sequence dalam film ini. Sangat menakutkan. Selain dibandingkan dengan TDAT, mungkin sebagian orang akan membandingkannya dengan Knowing karya Alex Proyas yang dimainkan oleh Nicolas Cage. Kedua film ini memiliki tema yang hampir sama. Solar Flare. Dulu banyak yang bilang tidak menyukai Knowing tapi kini banyak juga yang lebih memuji Knowing daripada 2012. Secara pribadi, saya lebih suka ending Knowing dibandingkan ending 2012. Ini pendapat pribadi. Entah mana yang anda lebih suka. Tiap penonton mempunyai pendapat yang berbeda.

Selayaknya film disaster biasanya melibatkan sisi kemanusiaan. Bercampurnya sifat-sifat manusia dalam menghadapi bencana. Inilah yang sering dikedepankan dalam film bergenre serupa. Seperti dalam Armageddon, hubungan ayah dengan anak perempuannya. TDAT, hubungan ayah dengan putranya. Disini adalah banyak sekali hubungan orang tua dengan anaknya. Sayangnya tidak terlalu kuat digambarkan disini. Seakan-akan hanya berupa pajangan untuk mengisi kekosongan film yang berdurasi cukup lama. Penonton pun tidak diberi adegan-adegan yang membuat perasaan takut dalam menghadapi akhir dunia. Emmerich bisa dikatakan kurang sukses dalam mengaduk-aduk emosi penonton. Apalagi di bagian paro akhir film yang cenderung mengalir tanpa adanya percikan-percikan yang mengena di benak penonton. Ditambah humor-humor yang diselipkan terasa kering. Hanya satu kekocakan yang mungkin paling diingat penonton (saya tidak akan memberitahukan adegan yang mana). Adegan pidato sang presiden di ID-4 yang memorable tidak bisa dibandingkan dengan adegan pidatonya presiden Thomas Wilson (Danny Glover). Pidato beliau lewat begitu saja.




Sedikit yang saya tangkap dari film ini. Sindiran dan pandangan Emmerich. Misalnya ketika kapal perang Amerika sendiri yang menghantam White House ketika Tsunami melanda. Novel yang dikarang oleh Jackson Curtis “Farewell Atlantis” seakan-akan mengingatkan apakah Legenda Atlantis akan terjadi lagi pada bumi kita sekarang. Begitu juga pesawat Air Force One yang menghantam salah satu….(saya tidak akan menyebutkannya disini). Juga mungkin Emmerich ingin menjabarkan tentang takdir disini karena hebatnya Emmerich merangkai semua karakter dalam satu benang merah yang terlihat seperti keberuntungan.

Jadi dengan fenomenalnya 2012, setelah menontonnya, saya tidak menyarankan agar anda berdesak-desak, atau antri berjam-jam untuk film ini. Lebih baik tunggu antusias penonton menurun barulah anda menontonnya. Karena mungkin anda akan kecewa dengan ekspektasi anda akan film ini. Tapi jika memang anda sangat ingin melihat betapa luar biasa visual efek dari 2012, anda mungkin akan terhibur olehnya. Jadi jika anda memang berniat menontonnya, sangat disayangkan jika anda tidak menontonnya di bioskop karena dengan segala visual efek dan sound systemnya akan lebih mantap jika ditonton di layar lebar dengan sound system yang menggelegar.

Powered By Blogger