Friday, August 14, 2009

HARRY POTTER AND HALF BLOOD PRINCE (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : David Yates

Produced by : David Heyman, David Barron

Starring : Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Michael Gambon, Jim Broadbent, Alan Rickman, Tom Felton, Helena Bonham-Carter

Written by : Steve Kloves (Screenplay), J.K. Rowling (novel)

Music by : Nicholas Hooper, John Williams (themes)

Cinematography : Bruno Delbonnel

Edited by : Mark Day

Running time : 153 minutes

Budget : US$ 250 millions

Distributed by : WARNER BROS

All you need is love. Bahkan wizard paling terkenal seperti Harry Potter pun butuh cinta. Yang paling mencolok dalam film ini dibandingkan dengan semua seri Harry Potter selama ini adalah kisah cinta para karakter utamanya. Menarik karena setelah sekian lama, mereka akhirnya naik ke jenjang yang lebih dewasa. Hal ini masih menjadi menarik sampai pada adegan yang terlalu berlebihan porsinya dalam hal percintaan mereka. Cukuplah kuantitasnya dikurangi sedikit. Sehingga porsinya bisa ditambahkan untuk adegan aksi yang sangat diinginkan oleh para penonton. Tapi sayangnya hal itu tidak menjadi kenyataan. Banyak yang mencela film ini karena kurangnya adegan aksi yang menegangkan. Banyak juga yang mengatakan bahwa film ini terlalu melenceng dari novelnya.

Maafkan saya. Ketika membuat review ini saya baru baca novel jilid pertama sampai empat. Jadi mungkin kata-kata saya ada yang tidak bisa diterima oleh para pecinta Harpot. Sekali lagi saya minta maaf.

Yang sangat terasa adalah nuansa remaja dan nuansa misteri yang terasa berkurang. Dimana sebelumnya, setiap judul film merupakan misteri yang terselubung. Sehingga bagi penonton muggle (yang belum membaca bukunya) penasaran dengan misteri tersebut. Namun setelah Order of Phoenix, nuansa misteri itu sirna. Bahkan disini pun saya jamin, bahwa anda tidak akan merasa terlalu bertanya-tanya siapa itu Half Blood Prince. Karena memang Yates tidak terfokus pada hal itu. Dia terfokus untuk membuat sebuah film yang menjembatani para penonton untuk menuju final dari serial Harry Potter.

Setelah di film-film sebelumnya, Severus Snapes dan Draco Malfoy hanya sebagai peran pembantu saja. Snapes dan Malfoy memegang peranan penting kali ini. Bahkan Tom Felton pemeran Malfoy bisa menggambarkan perubahan sikapnya yang menjadi penyendiri dan menyimpan rasa dendam yang membara. Suasana hatinya ini dibantu oleh visual yang baik oleh Yates. Di atas semuanya mungkin bisa dikatakan film ini adalah duet antara Harry dengan Dumbledore. Disini Dumbledore seakan-akan sudah menetapkan hati, memilih Harry untuk melawan Voldemort.
Sedangkan Ralph Fiennes absen dulu. Perannya digantikan oleh keponakannya Hero Fiennes Tiffin sebagai Voldemort waktu masih kecil lalu Frank Dillane memerankan Voldemort waktu berumur belasan. Dengan senyuman dan pandangan matanya yang menjanjikan kehausan akan ilmu hitam.

Serial Harry Potter menginjak dewasa. Well, iyalah. Setelah enam tahun, otomatis mereka beranjak dewasa. Percintaan Harry dan Ginny. Kecemburuan Hermione kepada Ron. Semua hal ini merupakan babak baru dalam serial Harry Potter dan membawa nafas baru yang cukup mengasyikan untuk dihirup. Dengan bobot yang cukup, bagian ini bisa membuat film sangat menarik. Tapi ketika porsinya ditambah sehingga terlalu berlebihan, malah membuat penonton sedikit muak akan hal ini. Sayang sekali.

Sebenarnya saya kecewa dengan Order of Phoenix. Maka saya agak sedikit waswas ketika Yates ternyata menggarap film Harpot berikutnya. Namun ketakutan saya akan film ini sedikit berkurang. Karena kini di tangan Yates, special efek hanya menjadi sekedar tempelan yang melatarbelakangi kisah drama yang semakin kelam. Dan untuk Half Blood Prince, ramuan ini sangat pas dan mengena di hati. Sehingga saya menambahkan film ini ke daftar film Harry Potter favorit saya setelah Prisoner of Azkaban dan Goblet of Fire.

Yang saya suka dari Half Blood Prince adalah gerak kameranya yang sangat pas dengan setiap adegan. Bahkan saking pintarnya, gerak kamera dan angle kamera bisa membantu penambahan nilai adegan dan suasana hati para karakternya. Adegan di The Burrow ketika Ron dan Hermione menyambut Harry dengan angle diambil dari bawah lalu masing-masing karakter menampakkan diri menyapa Harry, sungguh pandai dan lucu menurut saya. Walaupun adegan aksinya sedikit sekali. Tapi saya cukup menikmati adegan aksi yang ada. Seperti ketika Ginny menyusul Harry mengejar Death Eaters. Lalu adegan jembatan di awal film cukup menggetarkan. Juga permainan Quiditch yang tampak begitu gagah (di luar kekonyolan Ron disini tapi konyol dalam arti positif). Dalam porsi yang tidak banyak tapi berbobot.

Durasi film termasuk lama. Banyak yang bilang film ini bertele-tele. Tapi anehnya saya lebih menikmati film ini, dibandingkan dengan Transformers 2 yang harusnya lebih menyenangkan dengan pameran spesial efeknya yang luar biasa plus adegan aksi yang dahsyat. Mungkin anda akan berpendapat lain dengan saya. Ya itu memang masalah selera. Tidak bisa dipaksakan. Tolong jangan memarahi saya karena saya lebih suka film ini.

Tapi yang harus kita terima bahwa Harry Potter dan kawan-kawan sudah beranjak dewasa sehingga filmnya pun menuju ke arah yang sama sehingga kini Harry Potter bukanlah film untuk anak-anak lagi. Semakin hari, film Harry Potter semakin gelap dan kelam. Disini pun, hampir bisa dikatakan sedikit warna yang ada. Tapi ironisnya, bisa dikatakan ini film Harry Potter yang banyak mengundang tawa. Sangat kontradiktif tapi mungkin ini bertujuan untuk membuat pikiran penonton sedikit rileks bukannya terbawa stress karena tone film ini.

Dengan kabar yang tersiar bahwa Deathly Hallows dibagi menjadi dua bagian. Maka harap bersabar untuk menunggu akhir dari serial Harry Potter yang jadi lebih tertunda. Dan berharaplah bahwa Yates bisa membuat film Harry Potter yang sesuai dengan keinginan para fansnya dan juga yang bukan fans. Meskipun itu mungkin bukan tugas yang mudah untuk Yates.

Monday, July 20, 2009

TRANSFORMERS : REVENGE OF THE FALLEN (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : Michael Bay

Produced by : Steven Spielberg (executive producer), Lorenzo di Bonaventura, Ian Brcye, Tom DeSanto, Don Murphy

Starring : Shia LaBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro

Written by : Roberto Orci, Alex Kurtzman, Ehren Kruger

Music by : Steve Jablonsky, Linkin Park

Cinematography : Ben Seresin

Edited by : Roger Barton, Paul Rubbel, Joel Negron, Thomas Muldoon

Running time : 150 minutes

Budget : US$ 200 millions

Distributed by : PARAMOUNT PICTURES

Jika anda mempunyai khayalan waktu kecil mengenai mainan robot anda yang bisa bergerak leluasa atau mungkin berkelahi dengan robot lain. Transformers adalah salah satu visual nyata dari khayalan anda ditambah bonus, robot anda bisa berubah menjadi benda lain. Dimulai dari berupa mainan robot keluaran Hasbro. Difilmkan dalam live action oleh Michael Bay pada tahun 2007 dengan executive producer-nya Steven Spielberg. Dengan bujet US$ 150 juta menghasilkan kurang lebih US$ 709 juta di seluruh dunia. Dengan crew dan pemeran yang hampir sama dengan film pertamanya dibantu dengan tambahan bujet menjadi US$ 200 juta, Bay melanjutkan sekuelnya dengan judul tambahan Revenge of The Fallen.

Apa perbedaannya dengan film yang pertama? Yang pasti lebih banyak adegan aksi, ledakan lebih besar, robot lebih banyak. Sayangnya kini Megatron (pengisi suara Hugo Weaving) hanya menjadi pembantu seorang robot yang bernama The Fallen (pengisi suara Tony Todd). Ya, penampilannya mirip Predator dalam bentuk raksasa dan badannya berbalut metal. Inilah musuh yang harus dihadapi oleh para Autobots, yang mana BumbleBee dan Ironhide hanya sebagai peran “pembantu”. Nothing more. Disini Optimus Prime lebih berperan dan lebih terlihat hidup dari sebelumnya.

Disini saya suka dengan karakter Lennox, walaupun lebih banyak beraksi di Transformers pertama. Disini karakternya lebih kokoh dari yang pertama. Hanya sayang tidak diberi gerak lebih oleh Bay (atau skenario). Mungkin untuk film selanjutnya, bisalah tokoh Lennox ini diberi peran yang lebih besar, karena tokoh Sam ini sudah terlalu diforsir sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi yang dapat kita lihat dari karakter satu ini. Mudah-mudahan Bay membaca tulisan saya lagi, karena salah satu komentar saya untuk film yang pertama adalah terlalu cepatnya adegan pertarungan antar robot sehingga tidak terlihat jelas bagaimana gerakan mereka dan hal itu diperbaiki oleh Bay dalam sekuelnya ini. Banyak adegan slow motion pada pertarungan antar robot.

Sebenarnya hanya ada beberapa adegan dalam film ini yang membuat saya berkesan. Pesan saya, jangan sampai telat masuk ke dalam bioskop, karena adegan awal di Shanghai termasuk adegan yang menarik. Adegan satu lagi adalah pertarungan Optimus Prime dengan tiga robot dari Decepticons. Adegan ini mengingatkan saya dengan Hulk ketika bertarung dengan tiga anjing raksasa.

Jika anda penggemar Bay, pasti anda sangat mengetahui trademarknya Bay. Antara lain ; slow motion, adegan pesawat atau helikopter dengan background matahari, pergantian adegan tiap beberapa detik, kamera berputar dengan poros salah satu karakter atau dua karakter. Selain itu Bay senang bermain dengan pergerakan kamera dalam mengambil adegan. Terus terang, sebenarnya banyak yang sudah bosan dengan trademark Bay tapi disini menurut saya inilah yang membantu saya untuk tetap bertahan menonton film ini. Jika anda penggemar adegan aksi yang penuh ledak-ledakan, anda pasti tidak akan mengalami kejenuhan seperti saya. Mungkin durasi film yang terlalu panjang adalah salah satu faktor penyebabnya.

Ternyata dengan menambah jumlah berat metalik (tambahan jumlah robot maksudnya) tidak membuat film ini menjadi lebih baik.
Megatron pun tidak terlihat segarang waktu film pertama. Mungkin ini bukan tentang dia tapi The Fallen pun tidak terlihat kemampuan aksinya yang hebat.
Sudah menjadi sedikit trend di Hollywood dimana karakter yang kecil sering terhimpit di tengah-tengah pertarungan karakter-karakter yang lebih besar dengan tujuan untuk membuat penonton menahan napas. Hal ini dapat kita lihat dalam film Jurassic Park terutama yang ketiga. Lalu ketika Kingkong berkelahi dengan T-Rex dimana Naomi Watts berada di tengah mereka. Di film ini bisa kita temui dimana Sam berada ditengah-tengah pertarungan antara Optimus dengan tiga robot lain di hutan.

Pupus sudah harapan saya bahwa film sekuel Transformers ini akan menjadi salah satu film favorit saya tahun 2009 ini. Bolehlah (sampai saat ini), film ini merupakan pengumpul dolar terbanyak tahun ini, tapi menurut saya pribadi, film ini tidak pantas menjadi film paling laku tahun ini. Walaupun mungkin anda akan terpesona dengan segala kecanggihan yang terlihat pada layar, ledak-ledakan yang menggelegar di kuping anda yang membuat pandangan anda tidak pernah lepas dari layar. Sedangkan saya (pandangan sih memang tidak pernah terlepas dari layar) merasakan kejenuhan dan kebosanan akan tontonan yang diberikan Bay kali ini. Durasi film yang harusnya bisa lebih dipersingkat dengan memasukkan adegan-adegan yang perlu saja. (Bay, anda tidak perlu harus selalu memasukkan adegan-adegan lucu di tengah-tengah adegan tegang) Beruntunglah kalau itu memang adegan yang mengundang gelak tawa. Saya hanya tertawa ngakak ketika Leo, teman sekamarnya Sam, tersengat listriknya sendiri. Adegan lainnya hanya mampu membuat saya nyengir kuda dan adegan ‘lucu’ itupun segera terlupakan.

Sejujurnya tidak adil bila saya mengatakan bosan dengan film ini. Sekali lagi saya bilang, adegan awal di Shanghai cukup menggetarkan. Rusak-merusak sebuah kota merupakan ‘keahlian’ Bay. Dia punya jam terbang yang banyak untuk adegan seperti ini. Tidak banyak sutradara yang bisa ‘sekelas’ Bay dalam meramu adegan sejenis. Pertarungan tiga lawan satu di hutan (memang tidak orisinil) tapi dapat membuat saya berdecak kagum dan merasakan semangat Transformers yang sesungguhnya. Sisanya hanya adegan-adegan yang memperpanjang durasi film dan cuma memberikan kesempatan pada robot-robot lain untuk sedikit memperlihatkan sosoknya tanpa peran yang berarti. Bahkan mungkin anda akan sedikit bingung mana pihak lawan atau kawan. Dan ada beberapa robot yang bergabung menjadi sebuah robot besar yang mampu mengisap segala sesuatu di sekelilingnya. Robot ini adalah bintang tamu yang sangat istimewa sebenarnya. Tapi… (tonton sendiri saja deh).

Lupakan jalan ceritanya jika anda menonton film ini. Nikmati saja kemegahan special efek di film ini yang benar-benar dimanfaatkan sedemikian rupa sepanjang film ditambah adegan-adegan aksi yang memang benar-benar eye-candy. Jika anda bisa melakukan hal itu, maka anda akan merasa terpuaskan dengan film ini. Mungkin anda tidak akan merasa jenuh seperti saya. Bahkan mungkin anda akan tergoda untuk menontonnya sekali lagi, lagi dan lagi, terutama untuk para penonton pria. (iya bro, katanya Megan Fox adalah CGI terbaik dari film ini, hehe)
Akhir kata, mungkin ini adalah film terlaris Michael Bay tapi sayangnya bukan yang terbaik.

Thursday, July 2, 2009

PUSH (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : Paul McGuigan

Produced by : Bruce Davey, William Vince, Glenn Williamson

Starring : Chris Evans, Dakota Fanning, Camilla Belle, Djimon Hounsou

Written by : David Bourla

Music by : Neil Davidge

Cinematography : Peter Sova

Edited by : Nicolas Trembasiewicz

Running time : 111 minutes

Budget : US$ 38 millions

Distributed by : SUMMIT ENTERTAINMENT

Sebenarnya Push mempunyai peluang yang bagus tahun ini karena sedikitnya film yang bertemakan super hero yang muncul. Tapi sayangnya hal ini tidak ditunjang oleh skenario film yang bagus. Temanya tidak diambil dari komik walaupun memang masih mengikuti trend X-Men atau mungkin serial Heroes (tapi menurut kabar sebenarnya proyek ini ada sebelum serial Heroes muncul).

Sebenarnya saya menyukai film dengan banyaknya karakter. Namun sayangnya film ini tidak memberikan waktu lebih untuk para penonton mendalami masing-masing karakter.

Disini kita diperkenalkan dengan istilah-istilah seperti Watchers (peramal), Movers (Pemindah benda dengan kekuatan pikiran), Pushers (yang bisa mempengaruhi pikiran orang lain), Shifters (yang bisa mengubah bentuk benda) dan banyak lagi yang lain. Sebenarnya dengan adanya Pushers ini , cerita berpeluang untuk menjadi bertambah rumit dan bisa mengarah ke berbagai sisi yang diinginkan oleh pembuat cerita sehingga menjadi lebih menarik. Tapi sayangnya hal ini tidak dilakukan. Adanya bermacam-macam twist tidak membuat film ini menjadi lebih baik. Hal-hal seperti itu dibiarkan begitu saja lewat. Bukannya meng “PUSH” penonton menikmati film ini malahan membuat penonton bingung dan berpikir keras sampai akhir film.
Sebenarnya klimaks film ini bisa sangat menarik dimana Nick berusaha mengecoh Watcher pihak musuh tidak bisa memprediksi masa depan. Tapi sekali lagi sayangnya sang sutradara, Paul McGuigan tidak bisa mengelola ini menjadi adegan yang menarik untuk diikuti.

Sebenarnya karakter Nick Grant (seorang movers amatiran) yang diperankan oleh Chris Evans disini lebih menarik dibandingkan dengan Johhny Storm dalam Fantastic Four. Sama-sama memiliki kekuatan khusus tapi dengan segala kekurangannya sebenarnya tokoh Nick bisa menarik simpati penonton.

Dakota Fanning berperan sebagai Cassie, disini diceritakan memiliki kemampuan sebagai Watcher (sayangnya kemampuannya ini tidak dimiliki dalam kehidupan nyata sehingga Fanning mau-maunya ambil peran dalam film ini). Memang disini Fanning terlihat lebih dewasa dengan pakaian dan gaya rambutnya. Tapi tidak lebih. Hanya itu yang didapat penonton dari karakter yang dimainkannya. Kata-katanya tentang ramalan kematian para tokoh protagonis tidak membuat kita merasa ikut khawatir dengan nasib para tokoh yang bersangkutan. Juga perhatikan adegan ketika dia mabuk untuk bisa melihat masa depan lebih jelas. Ada apa dengan adegan ini? Apakah dia bermaksud melucu? Tapi Setidak-tidaknya saya tertawa dengan lelucon tentang buah olive.

Camille Belle sebagai Kira pun tidak bisa berbuat banyak padahal dialah tokoh sentral di film ini. Untunglah wajahnya masih membuat segar mata penonton untuk terbuka setidaknya sampai pertengahan film.

Djimon Honshou adalah Henry Carver, seorang pushers seperti Kira. Dialah yang ada dibalik Division yang mengejar-ngejar Kira dengan tas-nya yang diincar oleh banyak pihak. Perlu saya ingatkan, tas ini hanya sekedar alasan untuk semua pihak di film ini untuk mengejarnya. Penonton tidak dibuat penasaran dengan apa isi tas itu. Rasa penasaran itu hanya muncul di awal film dan kemudian menghilang sampai batas penonton tidak peduli lagi dengan isinya. Mengenai aktingnya disini Djimon sangat biasa sekali.

Bila anda berpikiran film ini adalah versi lebih baik dari serial Heroes, well, silakan anda menonton film ini. Tapi bersiap-siaplah untuk kecewa karena nonton film ini seperti makan permen karet. Dimana lama kelamaan permen itu terasa hambar. Mungkin menurut perkiraan anda, setidak-tidaknya adegan aksinya patut dilihat. Hmm, maafkan saya jika saya berkata jujur bahwa adegan aksinya tidak terlihat spektakuler bahkan sangat biasa sekali. Film ini seperti drama ringan tentang manusia yang memiliki kemampuan khusus dengan dibalut sedikit adegan aksi yang biasa saja. Bagaimana dengan twistnya? Memang ada beberapa twist tapi anda tidak akan merasa terbawa oleh twist itu. Hanya sekedar sebagai pelengkap cerita saja. Ditambah banyaknya dialog-dialog yang hanya sekedar diucapkan oleh para karakter tanpa diikuti oleh penjelasan dalam film.

Entah apa yang salah dengan film ini? Idenya yang sudah membosankan sejak adanya X-Men, Heroes atau mungkin Sky High? Atau skenario cerita yang tidak berkembang? Atau akting pemainnya yang standar? Atau sang sutradara kurang bisa meramu semuanya menjadi tontonan yang menarik? Bahkan yang lebih parah, ada yang berkomentar bahwa tolong bawa seorang wiper (yang bisa menghapus memori) ke hadapannya untuk menghilangkan ingatannya tentang film ini. Sebegitu parahkah film ini?
Jangan terlalu diperhatikan kata-kata di atas, semua ini kembali lagi berpulang kepada anda setelah anda menonton film ini.

Satu-satunya yang membuat saya tertarik adalah pengambilan background kota Hongkong, daerah padat dengan gedung-gedung modern dan munculnya credit title di penghujung film (menandakan film sudah berakhir). Well, sebenarnya saya sedikit berbohong. Saya suka adegan ketika Nick menodongkan pistol melayang ke hadapan Carver setelah sebelumnya pistolnya melayang di langit-langit restauran. Memang mengingatkan saya akan adegan ketika Magneto menodongkan pistol ke semua polisi di X-Men pertama. Hanya disini diperlihatkan seakan-akan pistol itu dipegang langsung oleh Nick dan ketika Nick ragu, pistol itu pun ikut bergetar mengikuti keraguan Nick.

Sunday, June 21, 2009

TERMINATOR SALVATION (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : McG

Produced by : Derek Anderson, Viktor Kubicek, Jeffrey Silver, Moritz Borman

Starring : Christian Bale, Sam Worthington, Anton Yelchin, Moon Bloodgood, Bryce Dallas Howard, Helena Bonham Carter

Written by : John Brancato, Michael Ferris

Music by : Danny Elfman

Cinematography : Shane Hurlbut

Edited by : Conrad Buff

Running time : 115 minutes

Budget : US$ 200 millions

Distributed by : COLUMBIA PICTURES (Internasional), WARNER BROS (US)


Jika anda mengikuti saga Terminator, pasti anda mengenal tokoh yang bernama John Connor. Pemimpin kelompok Resistance yang memimpin sisa-sisa umat manusia melawan para robot. Dalam Terminator dan Terminator 2 : Judgment Day, diceritakan bagaimana para mesin kembali ke jaman sekarang untuk mencegah agar John Connor tidak jadi pemimpin di masa yang akan datang. Terminator 1 mengarah pada Sarah Connor sang ibu. Lalu pada Terminator 2, yang menjadi sasaran adalah John Connor waktu masih remaja. Tapi baru di Terminator 3 : Rise of the Machines, diceritakan bagaimana awal mula mesin mengambil alih dan nuklir meledak dimana-mana. Enam tahun setelah film terakhir keluar, muncullah kini installment terbarunya yang diberi judul Terminator Salvation dan disutradarai oleh McG (sutradara dwilogi Charlie’s Angels dan We Are Marshall). Sebenarnya banyak yang meragukan hasil akhir film ini di tangan McG. Kita lihat pendapat anda setelah menonton salah satu film summer blockbuster tahun ini yang diramalkan menjadi salah satu pesaing Transformer 2 : Revenge of the Fallen.

Ide cerita lebih ambisius dari Terminator 3 yang masih mengikuti formula Cameron, dengan cerita yang ditulis oleh (dalam credit title) tertulis nama John Brancato dan Michael Ferris tapi ternyata dipoles lagi oleh Jonathan Nolan dan Paul Haggis.
Di awal film, anda akan terpuaskan dengan gambaran McG dengan situasi sesudah Judgment Day. Adegan awal yang digambarkan sedikit abu-abu cukup membuat suasana after Judment Day terasa. Kegersangan dan kekerasan akibat perang dengan mesin yang berkesinambungan terlihat di layar. Long take yang dipilih oleh McG pun cukup lumayan.

Salah satu kelebihan Salvation ini adalah ledakan-ledakan dahsyat yang melebihi tiga seri sebelumnya. Dan ukuran robot-robotnya yang besar dan lebih bervariasi. Tapi sayang tidak diimbangi dengan cerita yang lebih “besar”. Sehingga TS hanyalah sekedar pameran aksi ledak-ledakan dan robot-robot besar mengikuti Transformer.
Adegan aksi di film ini cukup intense walaupun menurut saya agak sedikit membosankan di akhir film, tapi film ini sudah menyuguhkan adegan-adegan aksi khas summer movies. Sebenarnya bisa dibilang ide film ini hanya secuil kecil dari kepingan-kepingan cerita Terminator Saga, hanya dipoles sedemikian rupa dengan adegan-adegan aksi dan ledakan-ledakan dahsyat untuk menambah durasi film.


Hilangnya konsep mesin waktu dan satu musuh yang sulit untuk dikalahkan membuat film ini tidak seperti film Terminator yang lain. Bahkan musuhnya disini kebanyakan tanpa wajah.
Ada yang mengatakan bahwa villain di film ini justru kurang kuat padahal banyak jenis robot yang diperkenalkan di film ini. Dan memang benar dengan banyaknya variasi robot justru musuh di film ini tidak terfokus atau lebih universal.

Bale berhasil memperlihatkan kepada penonton bahwa dia lelah berperang dengan mesin. Walaupun suaranya mengingatkan kita akan Batman, tapi mimik mukanya menunjukkan dia lelah berperang dengan mesin dan ingin segera mengakhirinya. Tapi dia tidak terlihat seperti “manusia biasa” disini dibandingkan dengan Edward Furlong (pemeran John Connor di Terminator 2) bahkan oleh Nick Stahl (pemeran John Connor di Terminator 3) sekalipun juga.

Kehadiran Marcus yang diperankan oleh Sam Worthington justru yang membuat film ini menarik dibandingkan dengan penampilan Bale. Tapi ironisnya menurut saya, justru kehadiran Marcus ini jugalah yang membuat film ini sedikit tidak “nyambung” dengan seri-seri sebelumnya. Ada yang mengatakan bahwa karakter Marcus lebih human dari John Connor. (sebagai tambahan, inilah kedua kalinya penampilan Bale dicuri, sebelum ini oleh Heath Ledger dalam The Dark Knight). Bryce Dallas Howard sebagai pengganti Claire Daines disini. Sebenarnya karakter ini bisa lebih dimaksimalkan daripada hanya sebagai background dari Bale.
Linda Hamilton (pemeran Sarah Connor di T1 dan T2) menyumbangkan suaranya disini dalam tape yang didengar oleh John.

Mungkin ada yang bertanya kenapa wajah Arnold ditampilkan muda dalam film ini dengan menggunakan CGI. Well, ini karena ceritanya menyambung ke T1 dimana itulah robot yang dikirimkan oleh Skynet ke masa Sarah Connor. (yang dimainkan oleh Arnold waktu masih muda) Justru disini McG memperlihatkan kesinambungan cerita dengan serial Terminator.

Well, inilah yang terjadi jika uang yang berbicara. Terminator 2 merupakan film Terminator yang terbaik. James Cameron sudah membuat sebuah sekuel yang lebih baik. Dan ternyata muncullah Terminator 3 (tapi patut saya akui, saya suka endingnya). Dan kini McG (Terminator dan Terminator 2 termasuk film favoritnya) membuat sekuel atau bisa dibilang prekuel. Sebenarnya idenya cukup menarik karena mungkin kita (saya) berantusias untuk melihat bagaimana sebenarnya kondisi manusia berperang melawan mesin, yang dimana selama ini hanya diperlihatkan sekilas di film-film sebelumnya. Hanya sayang tidak dikembangkan dengan baik sehingga saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali adegan kejar-kejaran, ledak-ledakan, gebuk sana gebuk sini, ledak-ledakan lagi, robot-robot raksasa, ledak-ledakan lagi, tembak-tembakan, ledak-ledakan lagi. Membosankan.

Jadi saran saya, jika anda hanya ingin mencari film full aksi semata maka Salvation ini sangat cocok untuk anda. Tapi jika anda ingin mencari film yang jalan ceritanya bagus dan enak ditonton atau anda tidak ingin merusak “terminator mood” anda, saya tidak terlalu merekomendasikan film ini.
Oh satu lagi saran saya, sebaiknya anda menonton tiga film sebelumnya terlebih dahulu sebelum menonton film ini.

“I’ll be Back” (well, I hope not)

Powered By Blogger