Sunday, June 21, 2009

TERMINATOR SALVATION (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : McG

Produced by : Derek Anderson, Viktor Kubicek, Jeffrey Silver, Moritz Borman

Starring : Christian Bale, Sam Worthington, Anton Yelchin, Moon Bloodgood, Bryce Dallas Howard, Helena Bonham Carter

Written by : John Brancato, Michael Ferris

Music by : Danny Elfman

Cinematography : Shane Hurlbut

Edited by : Conrad Buff

Running time : 115 minutes

Budget : US$ 200 millions

Distributed by : COLUMBIA PICTURES (Internasional), WARNER BROS (US)


Jika anda mengikuti saga Terminator, pasti anda mengenal tokoh yang bernama John Connor. Pemimpin kelompok Resistance yang memimpin sisa-sisa umat manusia melawan para robot. Dalam Terminator dan Terminator 2 : Judgment Day, diceritakan bagaimana para mesin kembali ke jaman sekarang untuk mencegah agar John Connor tidak jadi pemimpin di masa yang akan datang. Terminator 1 mengarah pada Sarah Connor sang ibu. Lalu pada Terminator 2, yang menjadi sasaran adalah John Connor waktu masih remaja. Tapi baru di Terminator 3 : Rise of the Machines, diceritakan bagaimana awal mula mesin mengambil alih dan nuklir meledak dimana-mana. Enam tahun setelah film terakhir keluar, muncullah kini installment terbarunya yang diberi judul Terminator Salvation dan disutradarai oleh McG (sutradara dwilogi Charlie’s Angels dan We Are Marshall). Sebenarnya banyak yang meragukan hasil akhir film ini di tangan McG. Kita lihat pendapat anda setelah menonton salah satu film summer blockbuster tahun ini yang diramalkan menjadi salah satu pesaing Transformer 2 : Revenge of the Fallen.

Ide cerita lebih ambisius dari Terminator 3 yang masih mengikuti formula Cameron, dengan cerita yang ditulis oleh (dalam credit title) tertulis nama John Brancato dan Michael Ferris tapi ternyata dipoles lagi oleh Jonathan Nolan dan Paul Haggis.
Di awal film, anda akan terpuaskan dengan gambaran McG dengan situasi sesudah Judgment Day. Adegan awal yang digambarkan sedikit abu-abu cukup membuat suasana after Judment Day terasa. Kegersangan dan kekerasan akibat perang dengan mesin yang berkesinambungan terlihat di layar. Long take yang dipilih oleh McG pun cukup lumayan.

Salah satu kelebihan Salvation ini adalah ledakan-ledakan dahsyat yang melebihi tiga seri sebelumnya. Dan ukuran robot-robotnya yang besar dan lebih bervariasi. Tapi sayang tidak diimbangi dengan cerita yang lebih “besar”. Sehingga TS hanyalah sekedar pameran aksi ledak-ledakan dan robot-robot besar mengikuti Transformer.
Adegan aksi di film ini cukup intense walaupun menurut saya agak sedikit membosankan di akhir film, tapi film ini sudah menyuguhkan adegan-adegan aksi khas summer movies. Sebenarnya bisa dibilang ide film ini hanya secuil kecil dari kepingan-kepingan cerita Terminator Saga, hanya dipoles sedemikian rupa dengan adegan-adegan aksi dan ledakan-ledakan dahsyat untuk menambah durasi film.


Hilangnya konsep mesin waktu dan satu musuh yang sulit untuk dikalahkan membuat film ini tidak seperti film Terminator yang lain. Bahkan musuhnya disini kebanyakan tanpa wajah.
Ada yang mengatakan bahwa villain di film ini justru kurang kuat padahal banyak jenis robot yang diperkenalkan di film ini. Dan memang benar dengan banyaknya variasi robot justru musuh di film ini tidak terfokus atau lebih universal.

Bale berhasil memperlihatkan kepada penonton bahwa dia lelah berperang dengan mesin. Walaupun suaranya mengingatkan kita akan Batman, tapi mimik mukanya menunjukkan dia lelah berperang dengan mesin dan ingin segera mengakhirinya. Tapi dia tidak terlihat seperti “manusia biasa” disini dibandingkan dengan Edward Furlong (pemeran John Connor di Terminator 2) bahkan oleh Nick Stahl (pemeran John Connor di Terminator 3) sekalipun juga.

Kehadiran Marcus yang diperankan oleh Sam Worthington justru yang membuat film ini menarik dibandingkan dengan penampilan Bale. Tapi ironisnya menurut saya, justru kehadiran Marcus ini jugalah yang membuat film ini sedikit tidak “nyambung” dengan seri-seri sebelumnya. Ada yang mengatakan bahwa karakter Marcus lebih human dari John Connor. (sebagai tambahan, inilah kedua kalinya penampilan Bale dicuri, sebelum ini oleh Heath Ledger dalam The Dark Knight). Bryce Dallas Howard sebagai pengganti Claire Daines disini. Sebenarnya karakter ini bisa lebih dimaksimalkan daripada hanya sebagai background dari Bale.
Linda Hamilton (pemeran Sarah Connor di T1 dan T2) menyumbangkan suaranya disini dalam tape yang didengar oleh John.

Mungkin ada yang bertanya kenapa wajah Arnold ditampilkan muda dalam film ini dengan menggunakan CGI. Well, ini karena ceritanya menyambung ke T1 dimana itulah robot yang dikirimkan oleh Skynet ke masa Sarah Connor. (yang dimainkan oleh Arnold waktu masih muda) Justru disini McG memperlihatkan kesinambungan cerita dengan serial Terminator.

Well, inilah yang terjadi jika uang yang berbicara. Terminator 2 merupakan film Terminator yang terbaik. James Cameron sudah membuat sebuah sekuel yang lebih baik. Dan ternyata muncullah Terminator 3 (tapi patut saya akui, saya suka endingnya). Dan kini McG (Terminator dan Terminator 2 termasuk film favoritnya) membuat sekuel atau bisa dibilang prekuel. Sebenarnya idenya cukup menarik karena mungkin kita (saya) berantusias untuk melihat bagaimana sebenarnya kondisi manusia berperang melawan mesin, yang dimana selama ini hanya diperlihatkan sekilas di film-film sebelumnya. Hanya sayang tidak dikembangkan dengan baik sehingga saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali adegan kejar-kejaran, ledak-ledakan, gebuk sana gebuk sini, ledak-ledakan lagi, robot-robot raksasa, ledak-ledakan lagi, tembak-tembakan, ledak-ledakan lagi. Membosankan.

Jadi saran saya, jika anda hanya ingin mencari film full aksi semata maka Salvation ini sangat cocok untuk anda. Tapi jika anda ingin mencari film yang jalan ceritanya bagus dan enak ditonton atau anda tidak ingin merusak “terminator mood” anda, saya tidak terlalu merekomendasikan film ini.
Oh satu lagi saran saya, sebaiknya anda menonton tiga film sebelumnya terlebih dahulu sebelum menonton film ini.

“I’ll be Back” (well, I hope not)

Wednesday, June 3, 2009

ANGELS AND DEMONS (2009)

Genre : Drama - Thriller

Directed by : Ron Howard

Produced by : Brian Grazer, John Calley

Starring : Tom Hanks, Ayelet Zurer, Ewan McGregor, Stellan Skarsgard, Armin Muehler-Stahl

Written by : David Koepp, Akiva Goldsman; Dan Brown (novel)

Music by : Hans Zimmer

Cinematography : Salvatore Totino

Edited by : Daniel P. Hanley, Mike Hill

Running time : 138 minutes

Budget : US$ 150 millions

Distributed by : COLUMBIA PICTURES, SONY PICTURES

Setelah The Da Vinci Code kini kembali novel karya Dan Brown difilmkan. Masih dengan tokoh utama Robert Langdon. Walaupun sebenarnya novel Angels and Demons lebih dulu keluar daripada Da Vinci Code tapi filmnya mengambil kisah sesudah Da Vinci Code. Masih ditangani oleh sutradara Ron Howard, kini film mengambil lokasi di Vatikan dengan cerita kematian Paus ditambah dengan penculikan empat kardinal. Keadaan bertambah rumit karena masing-masing kardinal akan dibunuh tiap satu jam. Dan klimaksnya, Vatikan akan diledakkan dengan bom. Tapi anda tidak perlu khawatir untuk menonton Da Vinci Code dulu sebelum menonton film ini karena ceritanya tidak saling terkait. Dan bila dibandingkan dengan Da Vinci Code, film ini tidak banyak menampilkan dialog-dialog yang panjang.

Film dimulai dengan iringan musik yang agak sedikit berubah dan lebih cepat dari film sebelumnya. Hal ini sudah memberi kesan bahwa pace film ini akan berlangsung cepat. Dan memang anda akan disuguhi adegan-adegan yang cepat sehingga anda tidak diberi waktu untuk beristirahat karena dari teka-teki yang satu langsung menuju ke teka-teki yang lain. Seperti menonton National Treasure-nya Nicolas Cage, hanya di film ini lebih bersifat relijius.

Ada tiga hal yang membuat saya menyukai film ini. Yang pertama adalah music score-nya yang sangat mendukung, sehingga meningkatkan nilai ketegangan film. Yang kedua adalah betapa indahnya gedung-gedung yang terekam oleh kamera. (mungkin salah satu propaganda pariwisata). Kerja hebat dari production designer, Allan Cameron. Dan yang terakhir adalah betapa cerdasnya Howard dalam menggambarkan keadaan Vatikan dan agama Katholiknya sehingga penonton bisa mencerna segala sesuatu tanpa mengerutkan kening. (saya belum baca novelnya) Dan tambahan keterangan yang perlu dimasukkan dengan ‘sukarela’ diutarakan oleh Langdon tanpa ditanya oleh pihak yang bersangkutan.

Sebenarnya pemecahan teka-teki disini sudah berkurang keasikannya ditengah film karena sudah tertebak solusinya. Namun Howard berhasil menyuguhkan hal lain ketika saya agak sedikit bosan. Walaupun ada beberapa karakter yang memang dihadirkan agar menjadi calon “tersangka” yang dikira-kira oleh penonton. Tipikal film dengan tema sejenis. Namun Howard berhasil menyimpan misteri sampai penghujung film. Hanks bermain lebih ceria dan lebih enerjik disini. Entah itu karena pengaruh model rambutnya yang baru atau karena disini dia tidak menjadi buronan. Tapi sayang aktingnya bukan kualitas Oscar disini. Dan ini adalah sekuel pertama hasil kerja sama antara Hanks dengan Howard. Setelah sebelumnya mereka pernah bekerja sama dalam Splash, Apollo 13. Ewan berhasil memerankan seorang camerlengo yang kalem tutur katanya dan emosi yang tersimpan dengan baik.
Ayelet sebagai seorang ilmuwan, terlihat hanya sebagai pelengkap Langdon untuk menyusuri jalan-jalan di Vatikan. Tapi ada yang mengatakan bahwa ini seperti film Seven-nya Brat Pitt dimana para tokoh utama mencari dari korban yang satu ke korban yang lain.

Sekali lagi, salut untuk Hans Zimmer dengan aransemen musiknya yang menurut saya memberi ‘jiwa’ dalam film ini. Menambah ritme film. Juga untuk Salvatore sebagai peƱata kamera dengan ‘gambar’ indah dan artistik gedung-gedung di Vatikan.

Banyak dialog yang membuat saya tertarik dengan film ini. Seperti percakapan Langdon dengan Camerlengo pertama kali. Dan juga percakapan akhir antara Langdon dengan Kardinal Strauss. Sangat mengena sekali. Dan sekali lagi, Howard dengan praktis, bisa memberikan pengertian kepada penonton tentang seluk beluk Vatikan tanpa membuat penonton terbingung-bingung. Bravo, Howard! Dijamin, setelah anda menonton film ini, pasti anda akan mendapatkan sedikit pengetahuan tentang Vatikan, diluar anda puas atau tidak dengan film ini.

Sebagai tambahan, perhatikan huruf-huruf yang membentuk kata-kata seperti illuminati, air, fire, earth dan water. Dan apakah anda setuju jika science dan religion bisa disatukan?

Tuesday, May 19, 2009

X-MEN ORIGINS : WOLVERINE (2009)

Genre : Action - Fantasy – Science Fiction

Directed by : Gavin Hood

Produced by : Hugh Jackman, Lauren Shuler Donner, Ralph Winter, John Palermo

Starring : Hugh Jackman, Liev Schreiber, Danny Huston, Dominic Mognahan, Ryan Reynolds

Written by : David Benioff, Skip Woods

Music by : Harry Gregson-Williams

Cinematography : Donald McAlpine

Edited by : Nicolas De Toth, Megan Gill

Running time : 107 minutes

Budget : US$ 150 millions

Rated : PG – 13 (for intense scenes of action/violence and partial nudity)

Distributed by : 20TH CENTURY FOX


Pada tahun 2000, Sutradara Bryan Singer membesut film X-Men dan berhasil meraup penghasilan US$ 296 juta di seluruh dunia. Dilanjutkan dengan X2 : X-Men United yang meraih total pendapatan US$ 407 juta. Beralih ke tangan sutradara Brett Ratner, X–Men : The Last Stand berhasil mendapatkan US$ 459 juta. Dari trilogi X-Men ini, nama Hugh Jackman terkenal sebagai Wolverine. Dan kini, 3 tahun setelah peluncuran installment terakhir. Muncullah kisah baru yang khusus menceritakan asal mula Wolverine. Disutradarai oleh Gavin Hood, yang pernah menjadi aktor dalam beberapa film dan pernah menyutradarai Rendition (2007) yang dibintangi oleh Reese Witherspon dan Jake Gyllenhaal.


Bercerita awal mula kehidupan Wolverine sampai dia menggunakan nama tersebut dan bagaimana dia memiliki cakar adamantium. Jadi bisa dibilang ini adalah sebuah prekuel. Kelemahan dari sebuah prekuel adalah penonton sudah mengetahui sebagian kisah dari sebagian karakter di masa yang akan datang. Maka jika tidak diramu dengan baik maka akan menjadi bumerang untuk film itu sendiri. Namun lewat film ini akan terjawab pertanyaan-pertanyaan yang terbersit dalam benak kita tentang asal-usul Wolverine. Apakah anda terpuaskan atau tidak, itu kembali kepada anda sendiri
.

Saya bukan penggemar komiknya. Tapi saya menonton trilogi X-Men. Ada beberapa kerancuan yang saya
temukan. Misalnya Sabretooth yang tidak mengenali Wolverine di film pertama X-Men tapi ternyata disini dikisahkan bahwa dia bersaudara dengan Wolverine. Lalu Cyclops yang tidak mengenali Wolverine dalam X-Men pertama padahal dia pernah ditolong oleh Wolverine dalam film ini. Tolong koreksi saya jika saya salah, karena sekali lagi saya bukan penggemar komiknya. Tapi saya pun terkagum-kagum dengan adegan aksi beberapa mutant disini. Seperti Zero dengan gaya menembaknya yang keren. Juga adegan Wade dengan pedangnya (sebelum jadi Deadpool) ketika keluar dari elevator. Wolverine pun terlihat perkasa dengan cakar adamantiumnya yang sanggup membelah apapun. Hanya sayang tidak terlihat terlalu buas . Malah lebih terlihat stylish seperti ketika dia berjalan santai dengan background helikopter yang terbakar. Hanya sayang, pengenalan dengan tokoh Gambit tidak dibuat memorable meskipun tidak dapat dibilang jelek. Walaupun sudah absen di tiga film sebelumnya, ternyata Gambit masih belum diberikan porsi yang banyak.

Hugh Jackman memang sudah melekat dengan Wolverine. Sulit untuk mencari penggantinya yang pas. Namun disini saya lebih terkesan dengan penampilan Liev Schreiber sebagai Sabretooth. Kebengisannya terlihat dari
pandangan mata dan nyengiran mulutnya. Beberapa pertempuran mereka terlihat begitu beringas. Salut untuk kerja para stuntman-nya. Namun Hood terlihat kehabisan ide untuk menggambarkan bagaimana mereka bertarung, Wolverine hanya berteriak dan Sabretooth cuma menggeram. Terkam sana terkam sini. Merusak semua property yang ada. Atau ini hanya untuk menunjukan kebuasan mereka berdua. Taylor Kitsch cukup pas bermain sebagai Gambit. Juga dengan Daniel Henney sebagai agen Zero (mengingatkan saya akan Russell Wong). Juga Lynn Collins yang berperan cukup bagus sebagai Silver fox mengingatkan saya dengan Michelle Mognahan. Kita lihat kelanjutan dari karir mereka di Hollywood. Lalu ada Ryan Reynolds sebagai Wade/Deadpool (kecerewetannya disini mengingatkan akan perannya yang lain dalam Blade 3 : Trinity). Juga tidak ketinggalan, permainan Dominic Mognahan yang terkenal sebagai Pippin di LOTR sebagai Bolt (yang sayangnya gampang terlupakan).


Film memang menarik di awal, dimana kita dibawa kepada petualangan James (Logan) dan Viktor sebagai tentara yang berperang pada setiap pertempuran seperti dalam Perang Dunia. Namun film menjadi sedikit kendor di bagian akhir karena hanya berisi adegan aksi yang berkesan ingin menunjukkan klimaks dari film. Penuh adegan asal seru tapi tidak mengesankan. Ditambah akhir seperti dipaksakan agar ‘menyambung’ dengan X-Men yang pertama. Walaupun ada sedikit twisted di akhir film yang cukup mengejutkan namun tidak membantu ending film ini. Sangat disayangkan ketajaman cakar adamantium tidak diimbangi dengan script yang sedikit tumpul. Adegan pertarungan tinju antara Wolverine dengan Blob pun terkesan hanya ‘mengisi’ waktu dan cuma ‘membantu’ jalan cerita.
Namun bagi anda yang memang ingin melihat bagaimana para mutant diluar X-Men Trilogy beraksi, anda memilih film yang tepat. Bahkan ada yang mengatakan film ini adalah pameran show aksi para superhero (mutant).

Ada beberapa pengambilan gambar yang menarik buat saya, misalnya pemandangan-pemandangan indah yang diambil dari angle jauh dan kamera yang bergerak dari atas lalu menerobos pepohonan mengikuti arah gerak mobil. Kerja yang bagus, Donald McAlpine. Mengenai asal usul nama Wolverine pun cukup menarik diikuti.

Well sebagai film summer tahun ini, Wolverine cukup mempunyai ‘cakar’ yang kuat. Walaupun tidak sekuat Ironman apalagi jika dibandingkan dengan The Dark Knight. Padahal ini menceritakan asal mula seorang superhero, seharusnya dibuat agar lebih menarik dan melekat ke dalam benak penonton. Kita tunggu X-Men Origins berikutnya yang menceritakan tentang Magneto.
Satu pesan saya, jangan keluar sebelum credit title berakhir karena ada adegan tambahan.

Sunday, April 19, 2009

KNOWING (2009)

Genre : science Fiction - thriller

Directed by : Alex Proyas

Produced by : Todd Black, Jason Blumenthal, Steve Tisch

Starring : Nicolas Cage, Rose Bryne, Lara Robinson, Chandler Canterbury

Written by : Ryne Douglas Pearson (story),

Alex Proyas, Stuart Hazeldine, Juliet Snowden, Stiles White, Ryne Douglas Pearson (screenplay)

Music by : Marco Beltrami

Cinematography : Simon Duggan

Edited by : Richard Learoyd

Running time : 120 minutes

Budget : US$ 50 millions

Rated : PG - 13 (for disaster sequences, disturbing images and brief language)

Distributed by : SUMMIT ENTERTAINMENT

Pada tahun 2002, ada sebuah film yang berjudul Signs, garapan M. Night Shyamalan. Ada percakapan menarik antara Mel Gibson sebagai Graham dengan Joaquin Phoenix sebagai Merril. Ketika UFO terlihat dimana-mana. Merril menanyakan pada Graham tentang pendapatnya. Graham menjawab, ada dua jenis manusia. Yang pertama adalah orang yang berpikir bahwa UFO itu adalah sebuah keajaiban. Graham menyebutnya mereka adalah miracle man. Mereka berpikir bahwa segala sesuatu ada maksudnya. Lalu jenis yang lain adalah manusia yang berpikir bahwa itu adalah sebuah kebetulan, suatu kejadian acak tanpa arti apapun. Dan manusia berusaha sendiri tanpa perlindungan siapapun. Mereka merasa they are alone, nobody will help them. They are on their own.
Which one are you?

Pertanyaan ini terlontar kembali saat menonton film ini. Film berkutat tentang takdir atau masa depan yang sudah tercatat atau mungkin masa depan bisa diubah. Cerita mengenai masa depan yang terpapar dalam sehelai kertas yang berisikan deretan angka-angka. Kertas yang terkubur dari tahun 1959, ternyata berisi tanggal bencana, jumlah korban dan beserta lokasinya. Seperti tragedi 9/11, kecelakaan pesawat dan lain-lain.

Saya suka karya Alex Proyas seperti Dark City dan I,Robot. Dan saya pun menyukai Knowing. Dibuat dengan tone yang kelam. Jika anda membayangkan film ini seperti Next, film Nicolas Cage dengan tema yang mirip, anda tidak salah berpikir demikian. Namun ternyata, film ini berbeda jauh bahkan saya bisa bilang film ini lebih baik. Dari adegan disaster yang mencekam (saya tidak pernah menonton trailernya), terkejut dengan adegan bencana yang disajikan, begitu dahsyat dan realistis. Ditambah pemikiran-pemikiran yang bertebaran sepanjang film yang membuat kita berpikir.

Cage bisa dibilang berhasil memerankan karakternya kali ini. Suami yang ditinggal istrinya, berdua dengan anak laki-lakinya, Caleb. Cage berperan sebagai John Koestler, seorang professor astrophysics yang mengajar di MIT. John cenderung mempercayai ilmu pengetahuan. Cage cukup terlihat pas dengan karakter yang dimainkan. Sebenarnya penampilan Cage dalam Next tidak buruk. Tapi jika dibandingkan disini, performa Cage lebih meyakinkan.

Lucinda, penulis deretan angka tersebut dimainkan oleh Lara Robinson, juga memainkan peran Abby. Lucinda berhasil membawa penonton di awal film ke dalam atmosfer horror (teringat dengan Samara dalam The Ring). Tapi ini bukan film horor, ini film science fiction. Misteri pun sudah dibuka sebelum akhir film. Namun solusi memang hanya tersedia di akhir film. Sejujurnya saya suka dengan endingnya yang cukup lain. Namun pada kenyataannya, penonton belum tentu suka dengan apa yang disajikan di akhir film.

Rose Bryne, yang bisa kita lihat dalam serial Damages berperan sebagai anak perempuan Lucinda yang bernama Diana. Penampilannya tidak dominan di sini, hanya membantu karakter John dalam mengungkapkan apa yang sudah ada. Diana hanya menjalani dan mengikuti takdirnya disini.

Mungkin agak sedikit membosankan di bagian depan. Namun begitu anda melihat adegan bencana yang begitu “tiba-tiba”, anda akan terbangun dari kebosanan. Walaupun sebenarnya adegan sudah menarik ketika John berhasil menyimpulkan deretan angka tersebut. Patut diakui screenplay yang ditulis beramai-ramai ini, menarik dari ide ceritanya yang memang cenderung termasuk yang disukai penonton. Tapi tidak banyak adegan yang menghadirkan special effect mungkin mengecoh penonton yang mengira ini adalah film disaster seperti Armageddon dan sejenisnya. Adegan demi adegan berlangsung lambat. Di awal ,memang film ini tentang bencana tapi menjelang akhir, film berubah haluan menjadi science fiction dengan balutan religius. Film sedikit kehabisan bahan bakar dengan mengulur waktu dengan adegan-adegan yang sebenarnya hanya membuat jengkel penonton (adegan bodoh). Jangan lupa rasakan “kepanasan” yang menerpa anda pada bagian penghujung film. Membuat film seakan-akan lebih lamban daripada yang terlihat pada layar. Namun demikian, yang saya tangkap, Proyas tidak membuat akhir film menjadi klimaks dengan adegan aksi yang mengguncang penonton tapi membiarkan imajinasi penonton lebih merasakan apa yang terjadi dengan para karakter. Makanya sekali lagi, saya tekankan, ending film ini akan meninggalkan kesan yang berbeda-beda bagi para penonton, (kembali lagi ke pertanyaan awal, which one are you?)
Powered By Blogger