Saturday, June 23, 2012
CAPTAIN AMERICA (2011)
Wednesday, April 18, 2012
BATTLESHIP (2012)
Saturday, March 31, 2012
FORREST GUMP (1994)
Sebenarnya gua termasuk orang yang suka baca novel. Dan selama ini, analisa gua bahwa novel pasti lebih rame dari filmnya. Mungkin karena khayalan gua tingkat tinggi (muji diri sendiri dikit). Namun di atas langit ada langit, ternyata khayalan Robert Zemeckis lebih hebat lagi (muji orang lain dikit). Saat gua membaca novel karangan Winston Groom, tidak terbersit akan lahir sebuah film yang luar biasa yang diadaptasi dari novel tersebut. Namun apabila menonton wawancara Robert Zemeckis, ternyata dia tidak pernah membaca novelnya. Zemeckis hanya menginterpretasi screenplay yang ditulis oleh Eric Roth. Kisah yang terentang panjang tentang seorang yang ber IQ di bawah rata-rata, cerita dari saat dia masih kecil sampai dia beranjak dewasa. Gua selalu suka kisah seperti ini. Sebuah cerita kehidupan tentang seorang anak manusia beserta perjuangan-perjuangannya menjalani hidup serta interaksi-interaksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Sungguh, gua banyak belajar dari seorang Forrest Gump. Canda, haru dan terutama cinta sejati yang menjadi benang merah dari film luar biasa ini.
Namun sebagus-bagusnya cerita tanpa diperankan oleh bintang film yang punya talenta luar biasa, hasilnya pun tidak akan maksimal. Disinilah peran Tom Hanks sebagai karakter utama sangat-sangat-sangat luar biasa sekali. (coba hitung ada berapa kali, gua menggunakan kata “luar biasa”) Terus terang gua tidak akan pernah berhenti memuji film luar biasa ini, dan patut diakui penulis review ini pun adalah seorang yang luar biasa. Tapi jangan salah, pembaca review ini pun adalah seorang yang luar biasa. Semua manusia adalah individu-individu yang luar biasa, asalkan kita punya tekad dan fokus yang kuat, kita bisa mengeluarkan semua potensi yang ada dalam diri kita. You could learn that from Forrest Gump. Kenapa gua memuji Tom Hanks, karena memang tanpa dia, mungkin film ini tidak akan memorable buat gua, liat saja dari aksennya, gaya bicaranya, gaya jalannya, sebuah performa akting yang mumpuni. Ya tentu saja, jangan hanya Tom Hanks yang dipuji, penampilan Sally Fields sebagai sang ibu memberi rasa hangat di film ini. Karakter Gary Sinise memberi contoh betapa tekad seseorang bisa merubah hidup seseorang. Jangan lupakan Robin Wright Penn (waktu film ini dibuat kayaknya dia belum jadi nyonya dari Sean Penn), tanpa karakter Jenny film ini akan menjadi hambar dan datar-datar saja bahkan kehilangan gregetnya.
Setiap kali gua selesai menonton film ini, selalu terngiang-ngiang music score dari film ini apalagi dengan adanya visualisasi sebuah (atau sehelai yah?) bulu yang terbang tanpa tujuan sesuai tiupan angin yang membawanya. Seakan-akan bulu ini adalah simbolisme dari kehidupan seorang Forrest Gump (but you could call him Forrest Gump).
Gua yakin hampir semua moviegoers pasti sudah pernah menonton film ini. Kalo belum, tunggu apa lagi. Segeralah menonton film yang mendapat 6 Oscar, untuk Best Actor (sudah sepantasnya), Best Director (yang ini sudah pasti), Best Effect, yang ini mungkin belum gua bahas (gua akan bahas setelah ini), Best Film Editing (hmm…gua ga tau kenapa yang ini bisa menang, tapi tetap gua dukung), Best writing screenplay untuk Eric Roth (He already did a good job, he really deserves it). Sebenarnya Gary Sinise dapat nominasi best supporting actor tapi ga menang. Dengan perkiraan bujet 55 juta dolar, film ini mendapatkan 667 juta dolar di seluruh dunia. Mantap kan.
Sedikit yang tertinggal tadi tentang effect visual di film ini, hmm…anda akan lebih mengagumi ketika melihat behind the scene dari film ini. Salah satunya bagaimana mereka menyatukan cuplikan-cuplikan video lama dengan karakter-karakter di film ini.
Indah, mengharukan, menggemaskan dan menenggelamkan anda ke dalam film ini. Jika sudah nonton, mungkin akan maklum kenapa gua banyak sekali menggunakan kata “luar biasa” (jangan khawatir ini terakhir kali gua menggunakan kata itu). So tunggu apa lagi, tontonlah bagi yang belum nonton. Nonton lagi bagi yang sudah nonton. Dan jangan lupa baca review “luar biasa” (well I lied to you) ini lagi dan kasi komen dong. Ciao.
Saturday, February 25, 2012
RISE OF THE PLANET OF THE APES (2011)

Dengan munculnya film ROTPOTA, sebenarnya gua sedikit pesimis, mau dibikin seperti gimana lagi sih, meskipun sempat terlintas oh mungkin ini lanjutannya dari ending Planet of The Apes yang memberi sedikit petunjuk ada bumi yang ternyata dikuasai oleh kera. Sutradaranya pun, gua belum pernah denger Rupert Wyatt. Kecuali nama belakangnya yang sering dibuat film, Wyatt Earp.
Setelah menonton film ini, ternyata hasilnya di luar dugaan gua. Dari awal sampe akhir, gua terus terpaku melihat petualangan si kera sakti (kayak Sun Go Kong aja). Setelah Angels and Demons-nya Tom Hanks, baru kali ini gua merasa lagi betapa iringan musik bisa membuat film menjadi lebih dalam. Disini terasa sekali, musiknya sangat mewakili apa yang sedang dirasakan oleh para karakter-karakter di film ini. Jangan ditanya soal spesial efek, sejak Jurassic Park, apa sih yang tidak bisa dibikin hidup oleh Hollywood. Tapi jika kita melihat behind the scenenya, jelas kredit harus diberikan kepada Andy Serkis yang berkat kerja kerasnya dalam Lord of The Ring sebagai Gollum, semakin berkibar sebagai aktor dibalik berbagai jenis karakter non-human. Contohnya yang lain adalah King Kong. Gua sekedar bertanya apakah Serkis juga bermain sebagai King Kong di film ini?
Emosi penonton dimainkan disini, apalagi buat gua yang ganteng tapi sensitif hehehe. Emosi penonton dibawa masuk ke aura film sehingga kita pun akan memaklumi tindakan-tindakan yang diambil oleh Caesar, bahkan menurut gua Rupert berhasil memadukan adegan demi adegan dengan tidak terburu-buru tapi pas durasinya. Ini bukan film aksi tapi yang jelas film ini seru sekali, bahkan gua menobatkan film ini sebagai film favorit gua tahun 2011.
Lupakan peran pendukung yang lain, seperti James Franco, John Lithgow dan Freida Pinto. Mungkin Tom Felton yang kita kenal sebagai Draco di franchise Harry Potter yang akan sedikit membekas karena tingkahnya yang menyebalkan. Jelas di sini Caesar adalah sang Kaisar yang menguasai seluruh film dan berhasil membuat penonton terkesima. Dan itu bukan hanya berkat kreasi spesial efek tapi berkat bantuan mimik muka dan gerak tubuh Andy Serkis di balik layar.
Kisah film ini mengingatkan gua akan I, Robot dimana karakter yang tadinya tertindas akhirnya memberontak. Selalu membuat perasaan puas pada penonton karena rasa geram mereka terbayarkan dengan keperkasaan kaum tertindas. Jelas kalo ada lanjutannya lagi, gua pasti akan menantikannya. Dan yang pasti I will keep an eye on you, Rupert Wyatt. You did a great job here.
Sebagai tambahan biasanya kalo spesial efek, kita mengenal ILM, kini WETA lah yang bertanggung jawab membuat para kera itu menjadi hidup dan begitu lincah. Dan hasilnya di layar memang terlihat hidup walaupun tidak terlihat alami, jadi hati-hatilah ILM. Juga dengan bujet yang cukup reasonable untuk film-film besar seperti ini (93 juta dolar), film kera ini berhasil meraup 481 juta dolar di seluruh dunia. Hati-hatilah penduduk bumi, kini kita bukan hanya diserang oleh alien bahkan jika kita tidak hati-hati dan semena-mena, makhluk yang kita anggap tidak berdaya pun bisa menguasai kita.










