Saturday, December 13, 2008

QUANTUM OF SOLACE

Kelanjutan dari Casino Royale, Bond (Daniel Craig) menculik Mr. White (Jesper Christensen) namun terjadi kejar-kejaran di jalan raya. Mr. White berhasil dibawa kehadapan M (Judi Dench). Tapi karena terjadi penyusupan di MI6, Mr. White berhasil dibunuh. Ternyata ada organisasi rahasia besar yang bernama Quantum yang terlibat semua ini.



Menyamar menjadi seorang penghubung, membuat Bond bertemu dengan Camille (Olga Kurylenko) yang dekat dengan Dominic Greene (Mathieu Amalric), seorang anggota Quantum yang berpura-pura menjadi direktur organisasi lingkungan. Dengan bantuan Mathis (Giancarlo Giannini), Ms. Fields (Gemma Arterton) dan Felix (Jeffrey Wright), apakah Bond berhasil menjatuhkan Quantum? Dan siapakah sebenarnya Camille?

COMMENT

Film ini sekuel langsung dari film Bond sebelumnya, Casino Royale yang menurut saya adalah film terbaiknya Bond. Masih melanjutkan kisah Bond yang kekasihnya Vesper (Eva Green) tewas di film pertama. Di film ini banyak disisipkan dukanya Bond atas peristiwa itu. Lewat adegan-adegan sekilas bagaimana Bond begitu berduka atas meninggalnya Vesper. Mungkin karena sang sutradara Marc Forster terkenal dengan film-film dramanya seperti Monster’s Ball dan Finding Neverland bukan film aksi.

Hanya sayang, banyak adegan aksi di awal film dibuat dengan gaya shaky camera. Sangat mengganggu sekali. Sehingga tidak terlihat jelas bagaimana setiap adegan terjadi. Sangat sayang sekali. Ditambah durasi film yang singkat, membuat film ini harus dipaksakan dengan mengefisienkan semua aspek yang ada, aksinya, dramanya, thrillernya. Sehingga para penonton harus mengikuti irama film yang cepat. Atau mungkin film ini merupakan sekedar jembatan untuk film berikutnya.

Dibandingkan dengan Casino Royale, tidak ada adegan aksi yang memorable banget. Bahkan tidak ada adegan aksi yang benar-benar mendebarkan di film ini. Craig tetap sesuai untuk peran Bond yang brutal. Dench seperti biasa bermain apik sebagai M. Sedangkan Olga mau dibilang pemanis, ga ok, Mau dibilang tough juga, ga ok. Sedangkan villainnya, Mathieu agak terlihat kedodoran di akhir film. Ya mungkin ini semua disebabkan karena durasi film yang singkat sehingga Forster tidak leluasa untuk mengembangkan film ini. Seperti kasus Goldeneye yang spektakuler tapi agak sedikit lemah di Tomorrow Never Dies. Begitupun Casino Royale yang sensasional tapi agak berkurang kualitasnya di Quantum of Solace.

Well, saya hanya kasih satu bintang untuk beberapa adegan emosional yang disisipkan Forster di film ini. I like it when Bond feels sad about Vesper. Showing that Bond adalah seorang manusia juga. Sebenarnya saya ingin memberi satu bintang lagi untuk adegan aksinya yang cukup ‘merusak’ hanya sayang semua tidak bisa dinikmati karena scene bergerak cepat dari satu adegan ke adegan lain. Sayang sebenarnya. 1/5 stars for this movie. Hope the next Bond will be better.

THE DARK KNIGHT


Di akhir Batman Begins, Gordon (Gary Oldman) memperlihatkan kartu Joker kepada Batman (Christian Bale). Maka di film ini, Jokerlah yang menjadi musuh baru Batman.


Diceritakan bahwa Harvey Dent (Aaron Eckhart) dan partnernya Rachel Dawes (Maggie Gyllenhaal) berusaha mendakwa seorang mafia yang bernama Salvatore Maroni (Eric Roberts). Namun karena kurangnya bukti membuat Maroni bebas.




Lalu Bruce Wayne pun sedang mengalami dilema dengan banyaknya Batman palsu yang mencoba memberantas kejahatan dengan main hakim sendiri. Ketika dengan kerja sama Batman, Harvey dan Gordon dalam menangkap hampir semua anggota criminal. Kelompok penjahat yang merasa terancam dengan keadaan ini dengan terpaksa memakai jasa Joker (Heath Ledger) untuk membantu mereka melenyapkan Batman dan kawan-kawannya.


Dengan caranya yang sadis tapi brilian, Joker berhasil memporak-porandakan semua pihak yang ingin memberantas kejahatan di Gotham. Bagaimana cara Bruce Wayne melawan The Joker sementara satu-persatu kawan-kawannya tumbang?

COMMENT
Saya tercengang ketika menonton Batman Begins. Begitu hebatnya Christopher Nolan membuat sosok Batman yang begitu manusiawi dan begitu realistis. Membuat saya menobatkan Batman Begins menjadi film superhero terbaik (dengan berat hati sebenarnya karena saya ngefans dengan Superman). Dan makanya ketika tersiar kabar bahwa yang menjadi Joker adalah Heath Ledger tanpa ragu pun saya sudah memuji pilihan Nolan karena saya yakin Nolan bisa membuat Ledger menjadi sosok Joker yang lebih real dari sebelumnya. Hanya sayang ketika melihat bahwa Katie Holmes digantikan oleh Maggie Gyllenhaal. Apakah tidak ada yang lebih baik?

Well, tidak sia-sia memang, Nolan berhasil membuat The Dark Knight menjadi film superhero terlaris mengalahkan yang lainnya. Dengan modal US$ 185 juta, di Amrik saja sudah meraup US$ 530 juta ditambah US$ 465 juta di seluruh dunia. Sebuah hasil yang menggembirakan bagi Warner Bros.

Hal pertama yang membuat film ini menarik adalah penampilan almarhum Heath Ledger sebagai Joker yang sangat berbeda sekali. Tampil lusuh, sedikit bungkuk, sering mengeluarkan lidah, cara bicaranya ditambah rias wajahnya yang tambah membuat bulu kuduk merinding. Bravo buat Ledger, mudah-mudahan almarhum bisa mendapat piala Golden Globe atau Oscar. Satu bintang untuk Ledger.
Penampilan Michael Caine sebagai Alfred lebih sedikit disini (sayang padahal banyak komentar-komentar lucu yang dilemparkan oleh Caine dalam Batman Begins). Kebalikannya sekarang Gary Oldman yang mendapat porsi lebih banyak.Morgan Freeman tampil biasa seperti dalam film-film lainnya. Aaron Eckhart malah lebih menarik sebelum dia jadi Two Face. Maggie Gyllenhaal bermain standar. Sekilas ada penampilan bintang Hongkong, Edison Chen. Dan Christian Bale tetap cool sebagai Bruce Wayne/Batman hanya terasa sedikit dikalahkan oleh penampilan Joker.

Hal kedua adalah plot ceritanya yang ‘berat’ namun menarik untuk diikuti. Mungkin tidak semua orang bisa menikmati film sepanjang 2,5 jam ini. Bahkan film ini di bagian awal pun terlihat biasa-biasa saja. Setelah hampir berjalan 50 menit, baru film mengeluarkan semua isinya yang kompleks, dari dilema Bruce Wayne, Harvey Dent dan segala tindak-tanduk Joker yang tidak bisa ditebak. Dan bahkan banyak twisted yang tidak bisa ditebak oleh penonton. Dan disini bisa dilihat bahwa TDK bukan sekedar film superhero yang hanya mengumbar adegan aksi seru tetapi juga mengetengahkan karakteristik dari para tokoh-tokohnya. Bagaimana pertentangan batin sang superhero. Dan bagaimana pengorbanan dari seorang pahlawan sesungguhnya. Bahkan ada sebuah adegan yang mempertanyakan apakah seorang manusia berhak mengadili manusia lain. Satu bintang lagi untuk plot cerita yang kompleks tapi mengena.

Salah satu yang saya suka dari Batman versi Nolan adalah peralatannya yang bisa dibilang masuk logika, tidak berlebihan. Dan yang paling saya suka dan tidak disangka-sangka adalah Batpod yang keluar dari Batmobile. Wow ide yang sangat brilian. Terus saya suka iringan musiknya yang seperti alarm gawat darurat dalam beberapa adegan menegangkan. Menambah suasana mencekam. Saya kasih satu bintang lagi untuk kedua poin diatas.

Tapi tetap saja masih ada kekurangan dari film ini. Seperti hubungan asmara antara Bruce, Harvey dan Rachel juga tidak terlalu diekspos padahal ini bisa menjadikan poin yang lebih lagi buat TDK. Dan ada beberapa adegan ‘bodoh’ yang membuat ‘gemas’ penonton. Misalnya ketika Harvey dan Joker berhadapan di rumah sakit. Kenapa Harvey tidak langsung… Dan perasaan waktu di Batman Begins, suara Batmannya tidak serendah di TDK deh.

Well, jika anda mengharapkan adegan aksi yang berlebihan, maka anda akan kecewa. Karena bisa dibilang ini adalah film drama dibalut dengan adegan aksi dalam porsi yang sama. (di IMBD pun dikategorikan Action Crime Drama Thriller) Dan juga bukan untuk konsumsi anak-anak. Saya juga menganggap TDK tidak lebih baik dari Batman Begins karena masing-masing punya kelebihan tersendiri. Dan saya memberi total 3 bintang dari 5 untuk film ini. Dan saya berharap film Superman berikutnya bisa selevel dengan kedua film Batman tersebut. Ayo Superman, jangan mau kalah, bro.

Thursday, December 4, 2008

THE CHRONICLES OF NARNIA : PRINCE CASPIAN

Film diawali dengan Prince Caspian (Ben Barnes) yang melarikan diri dari kerajaan karena ingin dibunuh pamannya, Miraz (Sergio Castellito). Lalu cerita beralih ke Pevensie bersaudara, Peter, Edmund, Susan, Lucy. Yang ceritanya sudah satu tahun berlalu sejak film yang pertama. Disebuah stasiun kereta tiba-tiba angin kencang berhembus lalu mereka tiba di sebuah pantai di Narnia. Kegembiraan mereka tidak lama karena melihat ternyata kerajaan mereka sudah menjadi reruntuhan.


Caspian ternyata dirawat oleh sisa-sisa rakyat Narnia yang bersembunyi di hutan. Lalu Caspian mengajak mereka untuk berperang melawan Telmarine. Ketika bergabung dengan Peter bersaudara, Peter dan Caspian agak sedikit berselisih tentang menyerang Kerajaan Telmarine. Akhirnya usul Peter yang diterima karena memang dia adalah salah satu Raja di Narnia. Namun ternyata penyerangan itu gagal dan banyak yang gugur.


Kemudian Miraz yang sudah mengerahkan tentaranya untuk membumi hanguskan Narnia segera menyerang. Namun karena ingin mengulur waktu, Peter menantang duel King Miraz. Sementara Lucy dan Susan mencari Aslan untuk meminta bantuan. Apakah mereka bertemu dengan Aslan? Bagaimana dengan pasukan Peter yang jauh lebih sedikit jumlahnya dari pasukan Telmarine?

COMMENT
Film pertama yang bertajuk The Lion, The Witch and The Wardrobe berhasil mengumpulkan US$ 745 di seluruh dunia dengan bujet US$ 180 juta. Namun dengan bujet yang lebih tinggi US$ 200 juta, film yang kedua ini hanya menghasilkan US$ 419 juta di seluruh dunia dan hanya US$ 141 juta di Amerika saja. Ada perbedaan yang cukup signifikan antara film yang pertama dengan film yang kedua. Mungkin ini terjadi karena persaingan yang ketat antara film-film musim panas kemaren. Ada Ironman, Indiana Jones : Kingdom of The Crystal Skull, The Dark Knight yang menghasilkan lebih dari US$ 300 juta. Atau mungkin karena film yang kedua ini terasa tidak seheboh yang pertama. Pada film yang pertama kita dibuat sedikit kaget (bagi yang belum membaca bukunya) dengan hewan yang bisa berbicara. Di film ini hal itu tidak menjadi sesuatu yang luar biasa. Dan adegan aksinya pun tidak bisa dibilang spektakuler kecuali adegan penyerangan ke Telmarine dimana para burung yang membawa para jagoan kita melayang diantara menara-menara istana. Sedangkan adegan peperangan di akhir juga tidak membawa suatu hal yang baru. Tidak bisa dibandingkan dengan adegan pengepungan di Two Tower yang cukup mendebarkan.

Andrew Adamson kelihatan agak sedikit tidak fokus dengan film ini. Adegan emosinya tidak kesampaian. Misalnya tokoh Peter yang diperankan William Moseley. Mau tegar kok ga terasa. Terus mau rapuh juga kok cuma sebentar. Sebenarnya dia memegang kunci penting selain Prince Caspian yang menjadi tokoh sentral karena disini diceritakan bahwa Kerajaan Narnia sudah musnah dan Peter sebagai salah satu raja mengemban beban untuk mengembalikan kerajaan dan melindungi rakyatnya. Juga Ben Barnes yang berperan sebagai Prince Caspian, lumayan ganteng sih tapi aktingnya kurang mantap bahkan tidak terlihat tangguh. Apalagi hubungan asmaranya dengan Susan yang diperankan oleh Anna Popplewell, tidak diperlihatkan secara detil oleh Andrew. Sebenarnya ini bisa menjadi sesuatu yang menarik di film ini. Dan sekali lagi, yang sangat mengecewakan adalah adegan perangnya yang mungkin ditunggu-tunggu namun begitu cepat berakhir dan biasa-biasa saja. Tidak terlihat kolosalnya. Dan satu lagi, kok si tikus disini mengingatkan saya dengan si kucing di Shrek.

Well, cukup kecewa dengan film kedua ini. Saya hanya menikmati keindahan alam pantainya di awal film dan adegan penyerangan Peter cs ke Telmarine yang dibantu oleh para burung. Saya kasi satu bintang buat itu. Kita tunggu saja film ketiganya yang berjudul The Voyage of the Dawn Trader. Namun Andrew hanya bertindak sebagai produser saja. Yang didapuk menjadi sutradara adalah Michael Apted yang pernah menggarap film James Bond yang berjudul The World is not Enough.

MAX PAYNE

Film diawali dengan Max Payne (Mark Wahlberg) yang tenggelam di air, entah mati atau hidup. Lalu film beralih ke kejadian sebelum itu. Diceritakan istri dan anak Max yang masih bayi terbunuh. Max yang terbakar dendam, mencari terus siapa pembunuhnya. Untuk mencari informasi, Max datang ke sebuah pesta yang diadakan oleh Trevor Duncan. Disini Max berkenalan dengan Natasha (Olga Kurylenko) dan saudara perempuannya, Mona Sax (Mila Kunis).

Keesokannya, Natasha ditemukan terbunuh dengan dompet Max berada didekatnya. Kontan saja Max dianggap sebagai tersangka dan Mona pun mengincar Max. Celakanya mantan partner Max, Alex Balder (Donal Logue) juga ditemukan tewas di rumah Max.

Teman ayah Max. BB (Beau Bridges) ikut prihatin akan kondisi Max. Lagipula BB ternyata bekerja di tempat yang sama dengan almarhum istri Max. Dengan bantuan Mona dan petunjuk yang diberikan oleh Jason Colvin (Chris O’Donnel), Max mendapat petunjuk tentang seseorang yang bernama Jack Lupino (Amaury Nolasco) yang mungkin menjadi dalang dari pembunuhan keluarganya. Apakah Max berhasil membalas dendam? Sementara dia sendiri dikejar-kejar oleh banyak pihak.

COMMENT
Sutradara film yang diadaptasi dari game ini, adalah John Moore yang pernah menyutradarai Behind Enemy Lines (Owen Wilson). Saya suka gaya John Moore di film itu dengan visualisasi bagaimana sebuah pesawat terbang yang jatuh tertembak rudal dan bagaimana seseorang yang meledak terkena ranjau digambarkan dengan slow motion dan detil yang jelas. Dan di film ini pun, beberapa adegan di shot dengan slow motion dan detil yang jelas. Misalnya visualisasi pemandangan kota dengan taburan salju yang melayang dan si malaikat maut yang tergambar dengan kepakan sayapnya. Namun sayangnya kualitas John Moore mengalami penurunan yang berarti dibandingkan Behind Enemy Lines. Ditambah skenario cerita yang sangat buruk membuat film ini menjadi amburadul. Banyak sekali kejadian yang tidak logis kita temui dalam film ini seakan-akan film ini hanya ingin memasukkan semua unsur yang ada tanpa melihat relasinya. Dan adegan aksinya pun tidak spektakuler bahkan sangat tanggung. Saya seakan-akan melihat sedikit gaya Hongkong disini, dimana para musuh tiba-tiba ada dimana-mana dan sang pemeran utamanya dengan hebatnya bisa menghabisi mereka dengan mudah.

Penampilan Mark Wahlberg bisa dibilang biasa saja. Bahkan tidak terlihat ekspresi seorang suami terbakar dendam karena telah kehilangan istri dan anaknya. Beau Bridges bermain sangat standar sekali. Yang patut dicatat adalah penampilan Chris O’Donnel yang sedikit berbeda namun sayangnya gampang terlupakan. Penyanyi Nelly Furtado pun bermain cameo sebagai istri Alex Balder dan Olga Kurylenko (Quantum of Solace) bermain sebentar di awal film. Dan Mila Kunis (Forgetting Sarah Marshall) bermain tidak meyakinkan sebagai Mona.

Well, sebagai film yang mungkin diharapkan oleh para penonton sebagai film action ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Bahkan adegan aksi yang ada setelah film berjalan satu jam tidak membuat penantian di awal film terbayarkan. Satu-satunya yang menarik dari film ini adalah visualisasinya, dan menurut saya, patut diberi satu bintang. Max…Max, where is your ‘payne’?
Powered By Blogger