Thursday, April 28, 2016

BATMAN V SUPERMAN : DAWN OF JUSTICE (2016)




Terakhir nonton di bioskop adalah film Man of Steel atau Frozen nya Disney, lupa-lupa ingat.  Yang pasti tidak nonton di bioskop sudah lebih dari setahun.  Sudah lama, iya, memang nasib saya.  Man of Steel kenapa saya nonton di bioskop, jelas karena saya penggemar Superman.  Frozen kenapa nonton di bioskop, karena anak saya mau nonton Frozen.  Sekarang muncul Batman V Superman : Dawn of Justice. (saya singkat BVS aja), jelaslah saya harus nonton di bioskop.  Meskipun banyak kontroversi tentang film ini, yang mulanya membuat saya enggan nonton (alasan aja sebenarnya).  Tapi yang memaksa saya harus nonton adalah dipostingnya japrian saya dengan teman satu grup di forum, dimana saya bilang saya akan nonton film ini minggu depan.  Maka oleh sebab itulah, saya mau tidak mau harus menonton film ini di bioskop.

Mungkin bagi yang sudah baca review saya soal Man of Steel, bisa tahu bahwa saya tidak terlalu menyukai Man of Steel.  Bahkan saya lebih menyukai Superman Returns.  Yang bilang gua penggemar boy band karena lebih menyukai Superman Returns, peduli amat. Hak-hak orang lebih suka yang mana.  Selera tiap orang kan beda-beda.  Ngapain harus dipaksa, toh saya tidak memaksakan orang harus lebih suka Superman Returns.  Marah-marahnya selesai, kembali ke review BVS.

Saya suka superman tapi bukan berarti saya mengikuti komik keluaran DC ini secara kontinyu.  Bahkan saya tidak tahu persis apa yang sudah DC lakukan dengan superhero favorit saya ini juga dengan superhero-superhero lainnya yang tergabung dalam Justice League. Jadi satu-satunya referensi saya adalah novel karangan Roger Stern yang terdiri dari 2 jilid.  Itu satu-satunya referensi saya, dan ternyata beda jauh sama novelnya.  Yah bisa dibilang beda jauh sih hehehehe.  Meskipun mungkin basicnya hampir sama.
Well, mungkin bagi penggemar Batman-nya Nolan, mungkin akan sedikit terusik karena disini dikisahkan kembali masa mudanya Bruce Wayne dimana saat orang tuanya meninggal. Banyak yang mengasumsikan V disini mempunyai arti film kelima dari DC yang mengacu pada Justice League (walaupun saya tidak melihat Batman-nya Nolan mempunyai koneksi dengan Justice League).  Tapi kenapa ada kisah baru yang menceritakan backgroundnya si Bruce.  Ternyata ini ada tujuannya, saudara-saudara.  Watch carefully adegan ini.  Kemudian juga ada sekilas menyinggung cerita di Man of Steel. Jadi saya sarankan sebelum menonton film ini, tonton dulu Man of Steel.

Kembali ke film, banyak yang menganggap V di tengah itu adalah versus.  Mungkin ini juga salah satu ide dari sineas untuk menarik minat penonton. Karena tokoh Superman dan Batman sudah melegenda sekali.  Bisa dibilang dulu apalagi sekarang, orang-orang pasti tahu siapa itu Superman dan Batman.  Makanya hype film ini sangat luar biasa, apalagi calon penonton mengetahui bahwa Superman akan bertarung dengan Batman, Manusia baja bertarung dengan Manusia Kelelawar. Kalau kata Lex Luthor Day vs Night.  Kapan lagi menonton mereka bertarung di film layar lebar, bukan di film animasi yah (karena setahu saya, ada adegan mereka bertarung di salah satu film animasi keluaran DC)

Hype yang luar biasa ini jelas sangat menguntungkan buat film yang bersangkutan, banyak orang menanti-nanti kapan film ini rilis.  Dari pemilihan pemeran Batman pun, orang-orang sudah ramai membicarakannya.  Ketika Ben Affleck terpilih untuk jadi Batman, banyak orang sangsi apakah Affleck bisa menyamai penampilan Bale yang bisa dibilang sangat membekas di benak moviegoers.  Kalau buat saya, bukan faktor itunya yang mengganggu.  Bahkan bisa dibilang dari jaman Batman-nya Michael Keaton, Val Kilmer, George Clooney sampai jamannya Bale, tidak terlalu masalah buat saya.  Banyak juga yah pemeran Batman, belum dihitung dari serial televisi dan film Batman jadul.  Yang mengganggu saya adalah dulu itu Ben Affleck pernah bermain sebagai seorang superhero juga, Daredevil. Yang lucunya  Daredevil itu superhero dari kubu Marvel.  Agak kurang sreg di situ aja.  Kejadian waktu dulu saat Chris Evans jadi Human Torch lalu bermalih rupa menjadi Captain America.  Untung Evans pas banget memainkan karakter si Captain.  But at least kedua karakter itu tetap sama-sama dari marvel.  Terlalu panjang kalau saya sebut aktor atau artis lain yang punya double power hehehe.


Tapi ternyata Affleck bisa membuat image batman yang baru, yang sangar fightnya, brutal. Menurut saya ini fighting batman yang paling keren.  Bagaimana dengan Cavill sebagai Superman?  Sebenarnya sama saja sih dengan performancenya di Man of Steel.  Sebenarnya kalo berdasarkan cerita, beban akting ada di tangan Cavill, karena disini Superman mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Tapi sayang kok saya tidak terlalu dapat feelnya di sini.  Cuma saya suka disini Cavill cukup banyak berperan sebagai Clark Kentnya.  Itu yang tidak terdapat di Man of Steel.  Yang membuat saya kurang menyukai Man of Steel.
Amy Adams sebagai Lois Lane, mungkin karena pengaruh skenario bisa dibilang “peran pembantu” disamping Diane Lane sebagai Martha Kent, juga Laurence Fishburne.  Untuk Jeremy Irons yang berperan sebagai Alfred, meskipun tidak tampil cukup banyak, tapi saya suka karakter Alfred yang dimainkan oleh Irons.  Jangan bandingkan dengan permainan Michael Caine di Batman-nya Nolan, yang cukup dominan di film.  Disini karakter Alfred memang mendapat porsi tidak cukup banyak.

Nah karakter lain yang pastinya sangat membuat penilaian penonton naik untuk film BVS. Hampir semua memuji penampilannya, bisa dibilang hampir semua terpesona adalah karakter yang dimainkan oleh Gal Gadot.  Kehadirannya sangat luar biasa ketika muncul menjadi superhero pertama kali, ditambah musik garapan Hans Zimmer dan Junkie XL menambah kekerenan adegan munculnya superhero satu ini.  Sang villain, mungkin cukup membosankan, dia lagi, dia lagi. Lex Luthor yang selalu muncul di setiap film Superman.  Sebenarnya musuh Superman banyak, tapi tampaknya yang cukup beruntung yah Lex Luthor yang selalu dipilih.  Diperankan Jesse Eisenberg.  Biasanya Lex tampil botak, kini dia tampil berambut dan saya yakin itu bukan rambut palsu.  Lex disini dibuat seperti urakan, cara ngomongnya nyeleneh tapi jelas terlihat jenius.  Mungkin banyak yang tidak suka performance Eisenberg disini, but for me, cukup kerasa kelicikannya.  Namun jangan khawatir, ada musuh lain selain Lex Luthor disini.  Sayangnya sudah dibocorkan lewat trailernya. Sayang sekali jadi tidak surprise.


Bagi penonton awam, hampir sepertiga atau dua pertiga film, alurnya seperti loncat-loncat tidak beraturan, bahkan adegan aksi pun minim sekali.  Cenderung membuat malas dan bisa buat penonton tertidur.  Sebelah saya tertidur buktinya.  Ini memang berat buat Synder, karena “harus” memaksakan unsur Justice League lewat film ini.  Seperti yang kita tahu, Marvel sudah start lebih awal memulai dunianya marvel.  Marvel merilis satu-persatu superheronya yang kemudian semua tergabung dalam The Avengers.  Jadi ketika The Avengers rilis, marvel tidak perlu memperkenalkan lebih detil para superheronya, karena mereka sudah digambarkan di film mereka masing-masing.  Tinggal karakter-karakter tambahan yang perlu diulas.  Nah DC memakai taktik lain, DC melakukan reverse dari tokoh-tokohnya.  Setelah BVS, baru DC membuat film masing-masing untuk sebagian superheronya.  Sebenarnya cukup pas strateginya mengingat mereka “terlambat” dibandingkan marvel.  Hanya sekali lagi saya bilang, beban berat buat Synder.  Lihat saja hasil karya Synder jika tidak dibebani, Watchmen yang terdiri lebih dari satu superhero berhasil menjadi film favorit banyak orang termasuk saya.  Tapi ya itu Watchmen tidak diembel-embeli beban untuk menjadi “Justice League”.  Sedangkan untuk menuju Justice League, DC hanya baru membuat satu film, yaitu Man of Steel.  Bayangkan repotnya Synder.  Banyak yang bilang, mending Nolan aja yang jadi sutradara BVS karena dia sukses dengan Batman.  Well, bukan membela Synder.  Nolan kan hanya membuat film satu superhero, Batman, sedangkan Synder membuat film dengan tiga superhero dan harus berkaitan dengan Justice League.  Makanya ide memperkenalkan superhero lain melalui … kalau saya bilang akan mengurangi keasikan menonton.  Intinya menurut saya, ide memperkenalkan superhero yang lain itu cukup cerdas, mengingat waktu bagi DC yang sudah “terlambat”

Jadi adegan-adegan awal yang terlihat tidak beraturan, terus terang bagi penonton awam yang tidak suka baca komiknya mungkin akan bingung.  Sayang sebenarnya. Tapi bagi saya, saya merasa adegan-adegan yang kesannya tidak berhubungan itu, harusnya akan dimengerti ketika nanti kita menonton film-film DC berikutnya.  Saya harap begitu, jadi sekarang masih dibuat tanda tanya dulu apa maksudnya beberapa adegan tersebut.  Jadi poin kekurangan BVS untuk sementara ini adalah alur cerita awal yang membingungkan banyak orang.  Tapi hampir sepertiga akhir film, jelas inilah yang ditunggu-tunggu penonton.  Adegan aksi yang luar biasa dahsyat.  Bisa dibilang bagi penonton awam, kekesalan mereka di awal terbayar dengan adegan-adegan yang menegangkan yang diiringi oleh musik Hans Zimmer yang menggetarkan.

Bagi saya, BVS kalau dilihat sebagai satu film lepas, BVS hanya mendapatkan pujian di sepertiga paruh akhir film.  Tapi kalau dilihat dari kesinambungannya dengan Justice League, saya cukup puas dengan BVS.  Hanya DC terlalu “ingin” mempromosikan filmnya sehingga trailernya membuat kurangnya surprise ketika menonton filmnya.   Untungnya, saya lihat BVS mendapatkan hasil box office yang lumayan, dimana saya berharap DC tetap “semangat” untuk melanjutkan ke phase Justice League.  Meskipun banyak juga mendapat kritikan tapi saya harap DC lebih memperbaiki kondisinya untuk film-film berikutnya.
So sebagai film Superman, Saya lebih suka ini daripada Man of Steel dan Superman Returns.  Gal Gadot bisa dibilang scene stealer di film ini.  Sepertiga akhir fim bisa dibilang salah satu klimaks film superhero yang paling seru.  Dan terutama “nyambungnya” ke Justice League yang saya suka.  Oh satu lagi, fightnya Batman keren banget.  Dan music score pengiring munculnya Gal Gadot sebagai superhero masih terngiang-ngiang sampai sekarang.