Sunday, February 22, 2015

JOHN WICK (2014)




Banyak film Keanu Reeves yang masuk daftar film favorit saya. Sebut saja Speed, Matrix Trilogy, Constantine, Replacements, Lake House dan Hardball.  Aktingnya sih biasa saja menurut saya. Hanya memang film-film yang saya sebutkan tadi cukup menarik filmnya. Tanpa promosi yang cukup gencar, muncul film John Wick.

Inti cerita sederhana, balas dendam.  Adegan aksinya juga tidak sespektakuler trilogi The Matrix. Tapi entah kenapa asik banget nonton film ini.  Kata istilah teman gua di grup Bank Movie…senggol tusuk…senggol hajar.  Nah seperti itu kira-kira istilahnya hehehe.  Sudah lama tidak nonton film aksi seasyik ini, tanpa beban, ikut mengalir saja.  Mungkin sejenis dengan The Equalizer-nya Denzel Washington.  Saya suka juga film itu tapi saya lebih suka film ini.

duo directors
Sang sutradara Chad Stahelski dan David Leitch, sering menjadi stuntman memulai debut penyutradaraannya disini.  Mereka berdua berhasil membuat Reeves menjadi seorang jagoan brutal mematikan dan sangat efisien. Gebrakannya pun punya nama Gun-fu style, cukup komikal. Beda ya sama Gun-kata yang dipopulerkan oleh Christian Bale di Equilibrium atau Milla Jovovich di Ultraviolet. Terus terang cocok banget Keanu berperan sebagai John Wick disini.  Bahkan humor disini bisa dibilang dark mengenai dunia hitam underground.  Boleh ditunggu kabarnya akan segera dibuat sekuelnya dengan sutradara dan pemain yang sama. 

Cukup banyak bintang ternama yang maen di film ini, misalnya Willem Dafoe, Adrianne Palicki, Ian Mcshane, John Leguizamo dan Bridget Moynahan. Disini seakan-akan sang sutradara membuat dunia tersendiri tentang dunia kriminal lengkap dengan uang logam emas khusus.  Salah satu villain pun adalah Daniel Bernhardt yang pernah melawan Keanu di Matrix Reloaded bahkan ada juga Juru Kunci yang main di Matrix Reloaded ikut berperan kecil disini.  Tidak heran ternyata sang sutradara dulu pernah menjadi stunt double Keanu di Matrix Reloaded.  Mungkin tadi si Daniel, saya bilang villain yah, mungkin kurang tepat karena disini sebenarnya hampir semuanya bukan orang baik-baik.  Mungkin yang perlu dicatat juga adalah seorang produsernya adalah Eva Longoria, salah seorang cast di serial tivi Desperate Housewives.


Awal film pun tidak dibuat berlama-lama penonton larut dalam aliran drama.  Sesudah cukup porsi dramanya untuk sedikit memberi latar belakang jagoan kita, langsung saja aksi, aksi…dan aksi lagi. Jadi buat saya, nonton John Wick cukup menyenangkan.  Bukan hal yang segar tapi cukup mengasyikan.  Akting Keanu lupakan saja, tonton saja aksinya yang cepat, tidak stylish (maksudnya tanpa slow motion) bahkan cenderung brutal tapi berhasil membuat memuaskan saya.  Bisa jadi Keanu berhasil memunculkan ikon baru sesudah Neo dan Constantine kini dia menjadi JOHN WICK, mudah-mudahan sekuelnya nanti bakal seasyik film pertamanya ini. Let’s see.

Saturday, February 21, 2015

INTERSTELLAR (2014)




Tidak banyak sutradara yang menjadi acuan seseorang untuk menonton sebuah film.  Sebut saja misalnya Steven Spielberg, tidak peduli siapapun pemerannya, pasti orang akan menonton filmnya asal disutradarai oleh dia.  Karena kebanyakan orang itu melihat siapa pemainnya baru berminat untuk nonton. (kebanyakan yah)  Nah salah satu barometer sutradara yang dilihat salah satunya adalah Christopher Nolan.  Trilogi Batman versi baru membuat nama Nolan semakin berkibar.  Memang kalo dilihat karya-karyanya bisa dibilang tidak terlalu “pasaran”  bahkan Batman Begins berhasil membuat saya menobatkan film itu sebagai salah satu film superhero favorit saya, padahal saya suka Superman.  Film Memento pun dibuat dengan cara yang luar biasa unik oleh Nolan.  Honestly, banyak yang memuji Inception tapi untuk saya, saya tidak terlalu memujanya.

Dengan berbekal begitu banyak opini positif tentang Nolan, kini film terbarunya Interstellar pun pasti akan berbeda dari yang lain.  Setelah saya menontonnya, ternyata banyak sekali bintang-bintang yang bermain di film ini; ada Casey Affleck, Matt Damon, Jessica Chastain selain bintang utamanya Matthew McConaughey dan Anne Hathaway dan juga ada Michael Caine. Maaf ya kalo ada yang belum saya sebut namanya. Tuh kan jadi inget ada Wes Bentley. Sorry bro ketinggalan.  Tampaknya semua bintang berlomba-lomba ingin main di filmnya Nolan.


Dengan cast yang demikian wow, jelas dari segi akting jangan ditanya deh.  Dan saya salut banget dengan penampilan Matthew, dia pantas mendapat Oscar tahun lalu kalo liat aktingnya yang sekarang.  Menangis sambil menonton sesuatu di layar kaca.  It’s not easy, man.  Dan ada lagi beberapa adegan yang memang memperlihatkan kepiawaian akting McConaughey.  Terlihat jelas peningkatan kualitas aktingnya dibandingkan dengan film-film terdahulunya.  Sebagai catatan, saya belum nonton Dallas Buyer Club.

Film dimulai dengan…hm bisa dibilang drama keluarga dengan sedikit sisipan ilmiah.  Cukup panjang Nolan membangun dulu fondasi-fondasi awal untuk adegan-adegan selanjutnya, mungkin akan terlihat membosankan namun berkat pengalaman menonton banyak film selama ini (gayanya), saya sudah melihat petunjuk-petunjuk yang akan digunakan untuk pengembangan cerita atau untuk jawaban menjelang ending film.  Jadi mungkin terlihat membosankan, mau tidak mau kita harus memperhatikan detil-detilnya.  For me, jelas tidak membosankan.

Salah satu hal yang mempengaruhi intens adegan-adegan di film ini adalah music scorenya (thanks to Hans Zimmer).  Yang sangat membuat adegan menjadi lebih merasuk ke sanubari, benar-benar pas music scorenya, menambah “nikmatnya” nuansa di film.  Ditambah banyak sekali adegan-adegan “hening” yang menggambarkan suasana kesepian, kesendirian dalam luar angkasa dimana memang sebenarnya menurut ilmu fisika, suara itu hanya bisa merambat lewat zat perantara misalkan udara. Atau mungkin ini tribute untuk filmnya Kubrick, 2001 : A Space Odyseyy (katanya yah) karena saya belum nonton filmnya.

Salah satu yang mungkin agak “mengganggu” adalah istilah-istilah sains yang mungkin agak sedikit membingungkan (tapi saya ngerti kok, suer) dan proses-prosesnya, tapi sekali lagi saran saya nonton aja filmnya dengan seksama tapi itu pun kalo kuat ya menahan konsentrasi lama-lama.  Kalo saya memang suka dengan hal-hal yang berbau science fiction, salah satu yang saya suka yaitu lobang hitam (black hole) yang kebetulan sebenarnya menjadi salah satu tema pokok di film ini.  Juga tentang relativitas waktu.  Meskipun akhir film ini sedikit membingungkan bagi sebagian penonton namun jika ditelaah dari dialog-dialog yang ada di film, itu sudah dijelaskan akan terjadi.  Jadi menurut saya itu sah-sah saja karena sudah dijelaskan di film yang bersangkutan.  Seperti Superman bisa terbang dijelaskan kenapa bisa terjadi demikian, jadi sah-sah saja buat saya.  Jadi sebenarnya jangan dipusingkan soal ending film ini karena menurut saya yang menjadi inti utamanya adalah perjalanan menuju ke ending yang membolak-balikan perasaan dan otak kita.  Saya punya anak perempuan, jadi jelas film ini berhasil membuat saya sesak dada pada beberapa adegan, membayangkan kalau hal itu terjadi pada saya.

Mungkin untuk sekedar membantu (mudahan-mudahan bisa membantu), lupakan tentang definisi waktu yang kita gunakan seperti biasa, lebarkan imajinasi anda dan konsentrasi penuh ketika dialog-dialog dalam film bertutur tentang kata-kata waktu dan gravitasi.  Sedangkan kata black hole jangan terlalu diperhatikan karena itu tervisualisasi dengan jelas di layar.  Well kalo mau diperhatikan juga tidak apa-apa sih, siapa tau masih ada yg belum mengerti apa itu black hole.

Christopher Nolan yang pakai baju hitam

Jadi setelah menonton film ini, saya nobatkan ini menjadi film dari Nolan terfavorit saya, mungkin karena ada faktor hubungan bapak dan anak perempuannya itu juga yang mempengaruhi opini saya.  Music dari Hans Zimmer salah satu faktor yang mempengaruhi juga.  Pas banget, bahkan sebenarnya ketika bukan adegan aksi tapi karena musiknya bisa membuat saya menahan nafas di sela-sela adegan yang hening.  Begitu juga akting McConaughey yang memukau, jadi penasaran pengen liat Dallas Buyer Club.  Tapi mungkin sayangnya bagi sebagian penonton ada yang bingung dengan kerumitan istilah dan proses fisika di film ini.  Mungkin bisa dicoba untuk mencoba untuk menontonnya lagi biar lebih mengerti.  Karena sayang, menurut saya ini film sebenarnya tentang hubungan ayah dan anak yang luar biasa bagus hanya dibalut oleh lapisan science fiction yang mungkin terlihat cukup rumit.  Dua lagi yang saya lupa sebutkan ada aktor senior John Lithgow dan Topher Grace di film ini.  Jempol juga buat Nolan bersaudara yang sudah membuat kisah yang sebetulnya mungkin sudah banyak dibikin jadi sebuah film tapi menjadi sebuah jalinan kisah panjang selama hampir 3 jam yang tidak mudah terlupakan buat saya.  Walaupun saya sedikit merasakan penurunan intensitas di tengah-tengah film.  Atau memang sengaja memperlambat alur sehingga penonton meresapi semua elemen yang terjadi setelah masuk ke black hole.  Asal tidak keburu bosan it works.

Setelah saya baca-baca ternyata film ini mendapat banyak masukan dari seorang ahli fisika bernama Kip Thorne.  Berarti mungkin saja semua ini bisa terjadi dalam kejadian nyata (mungkin di masa depan).  Maybe tapi cukup menakutkan bila itu terjadi. Lalu ada sepenggal puisi “"Do not gentle into that good night, old age should burn and rave at close of day, rage, rage against the dying of the light" tadinya waktu nonton, saya tidak menyadari artinya tapi kalo diterjemahkan…oleh pikiran saya ketika membuat review ini, artinya sangat bagus sekali ternyata. Ini menurut tafsiran saya yah, Jangan menjadi lembut (lemah) ketika malam tiba, justru ketika usia tua, marahlah melawan pudarnya cahaya.  Mungkin ini pas banget, ketika malam tiba, biasanya gelap itu diibaratkan kesulitan, usia tua itu diibaratkan ketidakberdayaan.  Pudarnya cahaya dimisalkan musnah.  Jadi ketika kesulitan tiba, ketika kita tidak berdaya.  Berjuanglah dengan semangat sebelum kehidupan kita musnah atau hilang.  Wow ternyata…saya cerdas (hahaha) ternyata artinya mendalam banget.  Well sekali lagi itu hanya tafsiran saya aja, maaf kalo salah.

Friday, February 13, 2015

THE NEXT THREE DAYS (2010)




Terakhir nonton Russell Crowe waktu jadi bokapnya Superman di Planet Krypton.  Itu tahun 2013.  Lama amat .  Film terakhir dia Noah, saya belum nonton.  Kasian amat.  Sekarang malah nonton film dia yang rilis tahun 2010.  Peduli amat hehehe.

Liat judulnya keren yah. Berasa seperti film futuristik, dimana tokoh utamanya bisa berpindah waktu ke masa depan.  Sayang sekali saudara-saudara, kalian salah (lagian yang bilang saya tapi yang disalahin kalian).  Kalo liat genrenya di imdb.com, crime – drama – romance.  Jadi sama sekali tidak ada unsur science fiction bahkan unsur aksi pun tidak ada di dalam kategori di imdb untuk film ini.  Jadi beware boys/girls/women/men and so on, ini bukan film aksi.

Film diawali dengan adegan penangkapan istri John Brennan (Russell Crowe) yang bernama Lara (Elizabeth Banks) dengan tuduhan pembunuhan.  Saya pikir wah ini pasti bakal seru adegan di pengadilannya ala film-film yang diadaptasi dari novel John Grisham.  Namun saya salah, cerita selanjutnya bisa dibilang drama.  Sampe akhirnya, menjelang akhir baru tegangnya dapet.  Jadi harusnya genrenya menjadi romance-drama-crime.  Mulai melihat ke arah mana jalur filmnya kan?

Ada Diane Kruger di versi Perancis ini

Berdasarkan film Perancis tahun 2008 yang berjudul Pour Elle, saya pikir tadinya berarti Poor Elle (kasihan Elle) ternyata artinya Anything for her.  Keren yah J  Tapi saya belum nonton film versi Perancis-nya jadi belum bisa bandingin bagus yang mana.  Seperti yang saya bilang tadi ini bukan film aksi, jadi adegan memacu…adegan yang benar-benar memacu adrenalin itu kira-kira setengah jam menjelang akhir.  Tapi bagi saya tidak terlalu berdampak demikian, saya hanya merasakan penasaran aja bagaimana ending film ini.  Jadi pertengahan film bisa dibilang cenderung ke drama biasa meskipun ada juga selipan-selipan adegan yang mendebarkan.

Mengenai Russell Crowe, siapa sih yang tidak mengenal Crowe.  Yang bikin saya penasaran adalah pemeran istrinya, dia pernah maen dimana aja yah. Ternyata maen di Hunger Games, kok saya ga nyadar yah dia ada maen di film tersebut.  Ada di Man on a Ledge juga. Hmmm….and finally ingat juga ternyata dia ada maen di triloginya Spiderman (Sam Raimi) sebagai sekretarisnya si redaktur yang sering emosi itu.  Way to go Elizabeth Banks.  Mudah-mudahan karirnya tambah lancar ke depannya.  Untuk Crowe sendiri jelas, kemampuan aktingnya ga usah ditanyakan lagi.  Namun disini kok kerasa kurang simpatik buat saya sih.  Maksudnya saya tidak bisa bersimpati dengan karakter yang dimainkan Crowe disini.  Lebih bersimpati ketika dia berperan sebagai Jor-El di Man of Steel.  Tapi salah satu akting yang patut diacungi jempol adalah ketika dia mematahkan kunci.


Yang patut menjadi perhatian juga adalah munculnya karakter yang dimainkan oleh Liam Neeson dan Olivia Wilde.  Saya tidak akan bilang karakter mereka seperti apa dan apa peran mereka di film ini, biar penasaran. Hehehe


Sang sutradara Paul Haggis kurang berhasil mengikat penonton karena sedikit bertele-tele di pertengahan film, jika tidak tahan mungkin penonton tidak akan terus menonton filmnya sampai habis.  Walaupun banyak yang bilang, adegan menjelang akhir berhasil membayar penantian sepanjang film.  Tapi setidaknya misteri berhasil dijaga sampai menjelang akhir film. Dan for me, mau misterinya terkuak atau tidak, sudah tidak penting lagi karena menurut saya tujuan Haggis bukan ke sana.  Yang Haggis ingin sampaikan disini adalah tentang cinta menurut saya.  Itulah tujuan akhir dari Haggis. (saya sok tau nih)  Yah, saya yakin, Haggis ingin memberi tahu bahwa Love bisa membuat ordinary man menjadi extraordinary man and dilema moral juga.  Di akhir film, sang detektif pun sempat berkata “He is a teacher?”

Ini sih ga nyambung ke review di atas, saya baru tahu kalo Paul Haggis itu yang nulis Casino Royale-nya Daniel Craig.  Satu lagi, ternyata kita bisa belajar banyak dari Youtube, I know that from this movie.  And I just found out that Lara’s attorney adalah seseorang dari Home Alone.

Tuesday, February 10, 2015

THE DEBT (2010)




The Queen, Helen Mirren. Well, saya belum nonton filmnya (jadi ngapain disebutin).  Hanya memang cukup luar biasa karakter yang dimainkan oleh Helen Mirren disini, Ratu Elizabeth.  Hanya sayang saya belum nonton, jadi sementara ini ga bisa komen.  Pertama kali saya melihat penampilan Helen Mirren di National Treasures : Book of Secrets, jadi ibunya Nicolas Cage disitu.  Film yang cukup komersil.  Saya nonton Mirren lagi di RED, maen bareng Bruce Willis.  Salah satu film yang komersil juga, sampai ada sekuelnya.  Nah sekuelnya saya belum nonton.

Dengan tidak mengetahui sama sekali tentang cerita The Debt, saya menonton tanpa ekspektasi apapun.  Dan saya langsung memutuskan diantara ketiga film Mirren yang baru saya tonton, disinilah aktingnya Mirren yang paling oke.  Itu kesimpulan pertama yang pertama kali muncul habis menonton film ini.  Ok that’s it, review selesai.  Gak lah, saya tidak setega itu mengecewakan teman-teman hehehe.


Saya baca-baca di google, ternyata ini film remake dari sebuah film Israel (1997) berjudul Ha-Hov (kalo diterjemahkan ke Bahasa Inggris menjadi The Debt juga).  Saya pikir tadinya ini berdasarkan kisah nyata tapi ternyata bukan.  Kisah tiga orang agen Mossad yang dituturkan dengan flash back antara kejadian sekarang dengan kejadian ketika mereka melakukan misi bertiga.  Dari judulnya mungkin sudah tertebak apa yang terjadi selanjutnya, jadi saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang kisahnya.


Seperti tadi yang saya bilang di atas, performance dari Mirren paling bagus di antara 3 filmnya yang sudah saya tonton.  Jadi penasaran pengen nonton film-film Mirren yang lain.  Aktris peraih Oscar dan Golden Globe sebagai aktris terbaik lewat film The Queen (yang ternyata belum saya tonton) berhasil menampilkan akting seorang agen wanita tua yang masih tough dengan sangat baik.  Pemain lain yang memainkan agen Mossad tua lainnya yaitu Tom Wilkinson dan Ciaran Hinds.  Nah kebetulan aktor dan aktris yang berperan ketika mereka masih muda, yang cukup menarik perhatian adalah Jessica Chastain yang bermain sebagai Mirren muda.  Aktingnya pun cukup bagus.  Emosinya terbaca jelas di mimik wajahnya.  Yang sedikit kurang justru adalah Sam Worthington. Entah kenapa lucu saja tiap liat dia di depan layar beraksi.  Pokoknya ga dapet deh ekspresinya. 

Cerita cinta segitiga ketiga agen ini memang agak sedikit tanggung diceritakan, but well mungkin ketika kita berpikir apa yang terjadi dengan kisah cintanya, kita sudah diberi kejutan lain tentang apa yang terjadi pada misi mereka dahulu.  Dan kemudian kita dibuat lupa dengan kisah cinta mereka karena ada kejutan lain selain itu.


John Madden sang sutradara, pernah dinominasikan sebagai sutradara terbaik lewat Shakespeare in Love, sebenarnya sudah berhasil membuat sebuah thriller yang cukup baik. It’s a fight between good and evil. Cukup menegangkan walaupun bukan adegan aksi tapi beberapa momen cukup membuat kita menahan napas.  It worked.  Karena memang ketiga agen mossad ini bukanlah James Bond.  Jadi jangan berharap mereka melakukan aksi fantastis layaknya agen rahasia yang jago beraksi. Bisa dibilang aksi mereka cukup hening hehehe.  Tapi tetap menegangkan kala menontonnya.

Ketika teman-teman ingin mencari sebuah film aksi spionase yang gegap gempita, janganlah menonton film ini.  Tapi bagi yang suka thriller “hening” yang ketegangannya didapat melalui thrillernya dan cukup smart, film ini bisa memuaskan.  Bagi yang ingin melihat akting bagus dari Helen Mirren dan Jessica Chastain, bolehlah menyaksikan film ini.  Ingin melihat Sam Worthington beraksi atau berakting, hmm..mending liat Man on a Ledge aja deh.
Hampir lupa, yang patut dicatat screenplay-nya ditulis oleh Matthew Vaughn, sutradara Kick Ass dan X-Men : First Class. Ada satu adegan menarik yang perlu dicatat ketika Jesper Christensen (sang antagonis) bermain “psikologi” dengan ketiga agen Mossad muda ini.  Dan jika ada yang nanya, bagus mana sama versi aslinya, well My answer is I don’t know tapi it’s quite worth to watch this Hollywood version.