Sunday, August 26, 2012

THE DARK KNIGHT RISES (2012)



Sudah lama gua tidak nonton di bioskop bareng istri gua, jadi moment ini termasuk kejadian langka dan cukup beruntung setelah selama ini, gua seringnya mereview film-film yang sudah tidak beredar lagi di bioskop sekarang gua bisa mereview film yang lagi trend. (pesta 7 hari 7 malam karena peristiwa istimewa ini).  Thanks to my sister and her husband karena uda ngejagain anak gua hehehe. Sering-sering yah :)

Yang seperti sudah kita ketahui, hype film terakhir dari trilogi Batman karya Nolan ini begitu luar biasa.  Bayangkan film pertamanya begitu membuat para moviegoers langsung menjadikan standar utama bagaimana sebuah film superhero harus dibuat.  Gua pun terkagum-kagum bagaimana Christopher Nolan mampu membuat reboot Batman yang begitu luar biasa, begitu realistis dan dewasa.  Memang pendapatan Batman Begins di box office tidak begitu bombastis, tapi momentum yang dihasilkan oleh film pertamanya ini begitu memorable.  Efeknya terjadi pada film kedua The Dark Knight yang berhasil menjadi film superhero terlaris, meskipun harus diakui salah satu faktornya adalah kematian dari sang pemeran Joker, Heath Ledger yang ikut mendongkrak pemasukan film ini.  Semua langsung mendapuk Nolan sebagai sutradara yang jempolan karena berhasil membuat The Dark Knight menjadi film yang sangat berbobot. Hasil dari peredarannya diseluruh dunia 1 milyar dolar lebih (dengan bujet 185 juta dolar).  Sedangkan Batman Begins 372 juta dolar dengan dana hanya 150 juta dolar.

Dengan modal kedua film pertamanya, banyak orang yang berharap sangat tinggi untuk film yang katanya merupakan penutup dari trilogi Batman versi Nolan.  Dengan beberan yang sedikit lewat trailer-trailernya, yang terus terang semakin membuat para moviegoers semakin penasaran.  Dan sekali lagi betapa beruntungnya gua berhasil menonton film ini di bioskop.  Beruntung karena berhasil nonton di bioskop, bukan beruntung karena ini adalah film yang luar biasa hehehe.

Adegan awal mengingatkan gua akan pembajakan pesawat terbang di film Cliffhanger garapan Renny Harlin.  Kata teman gua bro Handa Lesmana (ya gua menjanjikan akan menyebut nama lengkapnya di review gua berikutnya), adegan awal ini sangat mengagumkan ketika dia menonton di IMAX Jakarta.  Apa yang membedakan adegan ini dengan versi Renny, yang pasti gelegar suaranya yang berbeda, ditambah efek suara dari Bane yang menyeramkan menurut gua.

Salah satu yang menarik dari film superhero bagi gua adalah sisi sang jagoan diluar seragam kebesarannya.  Seperti yang beberapa kali terucapkan di film ini, Batman itu hanya sebuah simbol.  I agree.  Seragam itu hanya sebuah lambang, yang membuat mereka menjadi seorang pahlawan adalah sesuatu yang ada di dalam diri mereka.  Ini yang diungkapkan kembali oleh Nolan. Hal ini yang gua tidak dapatkan ketika menonton The Dark Knight, hanya pada bagian akhir di film TDK, gua merasakan kepahlawanan Bruce Wayne. Dalam film ini, memang Bale banyak terlihat sebagai seorang Bruce Wayne daripada sosok Batman.  Itu yang gua suka.  Bagi yang ingin segera melihat sang pahlawan berkostum muncul, mungkin harus sangat sabar karena setelah 30 menit film berjalan, Sang superhero belum muncul di layar. 



Gua juga sangat tertarik dengan karakter Seline Kyle di bagian awal, yang terlihat sangat menguasai layar dengan trik dan kecerdikannya yang luar biasa, hanya sayang hal itu menghilang setelah setengah film berjalan.  Bagian awal Catwoman berhasil menjadi scene stealer buat gua. 
Beruntung juga ada Blake (dimainkan oleh Joseph Gordon Levitt) yang menjadi scene stealer kedua buat gua setelah Anne Hathaway.  Levitt berhasil mencuri perhatian ketika dia bermain dalam Inception.  He did it again this time.  Sementara Tom Hardy yang bermain sebagai Bane, well suaranya memang serak-serak menakutkan, meskipun tidak menakutkan seperti Joker, tapi di awal film, sosok Bane berhasil membuat atmosfer yang menyeramkan yang menambah suasana menonton lebih mencekam.
 Ada karakter lain yang bernama Miranda Tate yang dimainkan oleh Marion Cotillard.  Joseph, Marion, Tom Hardy, Michael Caine, bahkan Cillian Murphy ikut bergabung lagi dalam garapan Nolan kali ini setelah Inception.  Maybe next time, film Nolan jangan menggabungkan aktor-aktris tersebut karena takutnya penonton menjadi bosan.  Semua memang menampilkan performa akting yang baik tapi sekali lagi menurut gua scene stealer di film ini yah, Joseph dan Anne.  Gua suka karakter mereka apalagi di ending film.  (biar bikin penasaran)

Satu lagi yang patut diberi acungan jempol adalah iringan musik dari Hans Zimmer yang mendominasi setiap scene dan hebatnya memberi impact lebih ke setiap adegan.  Bravo for Hans Zimmer.  Gua jadi lebih menikmati film seperti menikmati Angels and Demons karena dibantu oleh music scorenya.

Dengan bujet 250 juta dolar, Nolan diberi keleluasaan untuk menciptakan adegan demi adegan yang kebanyakan tidak memakai CGI.  Bahkan The Bat terlihat sederhana bentuknya tapi fungsinya luar biasa.  Selalu ada saja “mainan” baru Batman muncul.  Itulah hebatnya Nolan selalu membuat hal yang baru tentang Batman.  Memang disini tidak terlalu bermain kucing sumput dengan Bane dibandingkan waktu Batman bermain petak umpet dengan The Joker.  Memang The Joker adalah salah satu kelebihan dari The Dark Knight dan keseraman karakter The Joker yang sangat sempurna sekali dimainkan oleh almarhum Heath Ledger.  Hanya sayang durasi film terlalu lama.  Nah kenapa gua suka The Dark Knight Rises karena banyaknya karakter yang muncul dan menurut gua durasi waktunya pas untuk memperkenalkan karakter-karakter tersebut.  Jadi semua karakter mendapat porsi yang pas bahkan Michael Caine sebagai Alfred tampil mengharukan di akhir film.


Beruntung Bale tidak lagi di bawah bayang-bayang sang villain karena disini Bale cukup dominan memeran peranan sebagai Bruce Wayne.  Bale cukup beruntung karena dia berperan sebagai Batman dalam tiga film Batman, tidak seperti Michael Keaton (Batman, Batman Returns), Val Kilmer (Batman Forever), George Clooney (Batman and Robin).  Dan Nolan pun berhasil menjadi sutradara trilogi Batman berturut-turut, menyaingi Sam Raimi di Spiderman.  Nolan  memakai Bane sebagai musuh Batman karena ingin menguji Batman secara mental dan fisik dan terbukti Batman memang berjuang sangat keras melawan Bane, bahkan film ini berdurasi hampir beberapa bulan kalo menurut timeline-nya dari Bane muncul sampai penyanderaan kota Gotham.  Kalo baca di internet, Nolan mendefinisikan Batman Begins sebagai Fear, lalu The Dark Knight sebagai Chaos, dan The Dark Knight Rises ini sebagai pain.

Ada satu adegan yang buat gua ketawa ngakak, waktu Batman ditinggalin tiba-tiba oleh Catwoman.  Batman berkata “So that’s what that feels like”  karena biasanya dia yang tiba-tiba ninggalin orang-orang seperti Gordon.  Memang Nolan jago banget bikin komedi yang menyindir, seperti karakter Lucius yang mengatakan bahwa ini ada yang warna hitamnya ketika menawarkan The Bat kepada Bruce Wayne.

Nolan in action
Christopher Nolan bersama saudaranya, Jonathan Nolan dan penulis David S. Goyer memulai kisah film ini setelah 8 tahun setelah The Dark Knight.  Bruce menyendiri di “kastilnya”, makanya cocok diberi judul tambahan Rises.  Dan gua yakin pasti banyak yang membandingkan antara Bane dan The Joker, dan secara tidak langsung pasti membanding antara almarhum Heath Ledger dan Tom Hardy.  Secara akting, gua pun akan memilih Heath karena jelas dia berhasil membuat sosok The Joker menjadi momok yang menakutkan sepanjang film.  Tom Hardy bukannya tidak sukses, dia sangat berhasil di awal-awal film sampe di penghujung film, yang menurut gua “ya kok cuma gitu doang”  Tom Hardy rela menaikkan berat badannya 15 kg demi menghidupkan peran Bane.  Jelas terlihat berbeda dibandingkan waktu gua nonton dia di This Means War.  Tapi ya apa mau dikata, mungkin yang membuat nilai minus dari film ini adalah villainnya yang tentu saja, semua akan membandingkannya dengan villain di film sebelumnya, The Dark Knight. 

Sulit untuk membandingkan mana yang paling baik di antara ketiga film Batman garapan Nolan.  Dengan berat hati gua memutuskan bahwa The Dark Knight Rises adalah film favorit gua di antara ketiganya.  Akhir kata, gua menutup review ini dengan mengambil quote yang paling gua suka dari trilogi ini.


Alfred Pennyworth: Why do we fall, sir? So that we might learn to pick ourselves up.

Sunday, August 12, 2012

MISSION IMPOSSIBLE : GHOST PROTOCOL (2011)




Salah satu film laris yang berasal dari serial televisi adalah Mission Impossible.  Franchise kebanggaan Tom Cruise ini laris manis mencetak uang di peredarannya di seluruh dunia.  Film pertama disutradarai oleh Brian De Palma dan berhasil meraup 457  juta dolar di seluruh dunia, dilanjutkan dengan sekuelnya (digarap oleh John Woo) hasilnya lebih tinggi lagi, 546 juta dolar di seluruh dunia.  Bagaimana dengan seri yang ke-3nya?  Sedikit lebih berkurang pendapatannya 397 juta dolar tapi masih tetap untung dengan bujet 150 juta dolar.  Sebagai tambahan sutradaranya adalah J.J. Abrams dan di installment yang terakhirnya ini, dia duduk sebagai produser.

Kursi sutradara kini diduduki oleh Brad Bird.  Sutradara film animasi Ratatouille dan The Incredibles.  Jadi bisa dibilang ini adalah film pertama live action buat Brad.  Did he do a good job?  Well, I’ll answer that later. (sok misterius)  Tapi terus terang, gua ga terlalu suka Ratatouille dan The Incredibles. Namun bagi yang sudah menonton The Incredibles, bisa dibilang film tersebut ada beberapa adegan aksi superhero.  Jadi Brad sedikit banyak sudah mempunyai serangkaian aksi dalam benaknya, hanya tinggal diimplementasikan ke dunia nyata lewat film ini.

Jika anda sudah bosen dengan penampilan Tom Cruise di franchise Mission Impossible, mungkin perlu berpikir ulang.  Karena menurut gua penampilannya di film ini tetap maksimal bahkan dia benar-benar bergelantungan di ketinggian gedung Burj Dubai tanpa memakai stuntman (bisa dilihat di behind the scenes).  Benar-benar perlu nyali dan mental yang luar biasa, and I must admit he has those characters.  Beruntung berkat film ini, yg cukup meraih box office lumayan. 694 juta dolar di seluruh dunia, dengan dana 145 juta dolar, nama Tom Cruise terangkat kembali.  Jadi wajar kalo bakal ada jilid kelimanya. 

Simon Pegg kini jatah di layarnya lebih banyak dibandingkan seri ketiga.  Ving Rhames (well) coba saja tonton film ini, apakah dia muncul atau tidak.  Sang istri yang dulu diperankan oleh Michelle Mognahan, apakah dia juga muncul di film ini?  Kalo gua kasi tau nanti spoiler, jadi lebih baik bagi yang belum nonton, tonton aja deh.  Sebenarnya tidak rugi menonton film ini, tapi karena gua mungkin sudah banyak makan asam garam (kembali sombong lagi hehehe), film ini agak kurang gregetnya.  Meskipun pakem Mission Impossible yang sebenarnya kerja sama tim, disini diperlihatkan kerja sama mereka, tidak seperti Mission Impossible 2 yang terlihat sekali one man show for Ethan Hunt.  
Mungkin kedepannya Paula Patton akan bermain film aksi lagi
Sebagai tambahan di timnya Ethan, ada Paula Patton yang pernah bermain dalam Dejavu bersama Denzel Washington.  Juga ada Jeremy Renner yang setelah The Hurt Locker tambah laris manis.  Namun tidak bisa dipungkiri, bintangnya film ini tetap Cruise.
Salah satu kelemahan film ini adalah villainnya yang menurut gua kurang kuat.  So far yang terbaik menurut gua, masih Philip Seymour Hoffman di film yang ketiga.  Intriknya pun tidak “mengagetkan” Namun sekali lagi pasti semua akan menahan napas melihat aksi Cruise di ketinggian.  Ini sekali lagi salah satu kelebihan Ghost Protocol.  Salah satu lagi kelebihannya film ini adalah penghasilannya menjadi yang tertinggi diantara semua franchisenya.

Banyak adegan-adegan yang ditampilkan seakan-akan tribute untuk film-film Mission Impossible sebelumnya.  Bahkan pria yang memberikan topeng untuk dipakai oleh Hunt adalah orang yang sama yang memberikan topeng itu pada Hunt di film pertama.  Hanya theme song yang menjadi ciri khas Mission Impossible agak sedikit berubah bahkan cuplikan-cuplikan adegan yang biasanya menjadi ciri khas film serial tivinya, sedikit memberikan bocoran tentang adegan-adegan yang akan terjadi.  Sebenarnya bagus tapi malah mengurangi kenikmatan menonton.

INGAT YAH GUA BUKAN AGEN PROPERTINYA BURJ BUILDING
Jika diharuskan memilih adegan favorit (siapa yang suruh milih), tetap adegan favorit gua di ketinggian hotel.  Benar-benar butuh kelihaian dan perhitungan tingkat tinggi (ya iyalah kan adegannya di ketinggian). Dan sebagai informasi, gua bukan agen property yang memasarkan Burj building (takutnya semua salah paham, kenapa gua selalu mempromosikan adegan di gedung tersebut)

 Ngomong-ngomong, kalo ditanya siapa yang paling jago diantara semua agen IMF, gua akan memilih Benji (Simon Pegg) karena dia selalu berhasil melarikan diri dengan cara yang tidak sesulit apa yang dialami oleh Ethan Hunt.  Dari ledakan yang pertama, Hunt kena ledakan sampe dibawa ke rumah sakit, sedangkan Benji bisa selamat, entah dengan cara spionase apa.  Ketika mobil Hunt ditembaki dan tercebur ke sungai, Benji entah berada dimana berhasil dengan gampang tiba di gerbong kereta.  Luar biasa kan.  Jadi jelas Benji lebih jago dan lebih lihai dari Ethan Hunt. Maka  sebaiknya untuk jilid yang kelima, gua sarankan Benji yang  jadi pemimpin misi IMF.

Siapa yang terpesona dengan gadget-gadget di film ini?  Gua perhatikan semakin canggih aja nih alat-alat IMF, mungkin gadget-gadget ini yang menjadi salah satu yang membuat keasyikan sendiri ketika menonton, walau mungkin memang agak sedikit terlalu canggih. (gua ga ngikutin tehnologi, jadi ga tau apakah benar, alat-alat itu semua memang ada dalam kenyataan) tapi jelas tanpa alat-alat canggih itu mungkin Ethan Hunt tidak akan berhasil beraksi di Burj building (there, gua promosi lagi tuh)

Sekarang penilaian gua terhadap Mission Impossible Ghost Protocol.  Bagi yang sudah bosan dengan Tom Cruise, masih ada harapan untuk memperbaiki hubungan anda dengan Cruise (kayak psikolog aja) apalagi ditambah dengan menonton behind the scenenya karena bener-bener ga boong kalo Tom Cruise sendiri yang bergelayutan di Burj building.  Mengenai Brad Bird sang sutradara, menurut gua dia berhasil melompat dengan sangat baik dari film animasi ke live action, gua tunggu karyamu berikutnya brother Bird (bukan sekuel dari Brother Bear ya).  Sayang sekali villain di film ini “kurang villain” sehingga tidak cocok menggunakan judul Impossible karena diantara keempat serinya inilah villain yang paling “lemah”.  Jeremy Renner lumayan berhasil sedikit menjadi scene stealer dengan kisah sendunya, sisanya terkesan lucu dengan tampangnya yang sok cool.  Endingnya cukup manis, sesuai dengan tipe ending yang gua suka.  Jadi menurut gua seri keempatnya ini bisa dibilang cukup berhasil tapi mungkin berbeda dengan pendapat yang  lain (gua memang selalu berbeda aja, ga tau salahnya dimana), favorit gua tetap Mission Impossible 3.  Mumpung ingat, disini satu-satunya episode yang tidak menggunakan topeng “canggih” untuk menyamar jadi orang lain. Wait, setelah diingat-ingat, ada satu adegan yang menggunakan topeng.
TV SERIES YANG LAMA SEASON 5

TV SERIES VERSI BARU
Sebagai tambahan, jika kita searching IMF di google.com.  Jangan harap kita akan mendapatkan situs tentang IMF yang merupakan singkatan dari Impossible Mission Force, tapi yang kita temui adalah International Monetary Fund (Dana Moneter Internasional).  Karena memang IMF adalah sebuah agen fiktif berbeda dengan FBI atau CIA yang memang benar-benar ada.  Kembali ke soal film.  Mission Impossible, serialnya dimulai tahun 1966-1973 (lumayan panjang 171 episode) dengan Peter Graves sebagai Jim Phelps, juga ada Martin Landau dan Greg Morris.  Dan jangan harap ada karakter Ethan Hunt di serial televisinya.  Serial Mission Impossible versi tahun 1966 berhasil memenangkan 3 Golden Globe. Kemudian terhenti dan dilanjutkan dengan New Mission Impossible di tahun 1988 (tapi sayang hanya bertahan 2 season). Sang pemimpin masih diperankan oleh Peter Graves, aktor lainnya adalah Phil Morris, anaknya dari Greg Morris.  Mungkin yang menggemari serial Smallville, Morris beberapa kali muncul sebagai Martian Manhunter yang menolong Clark beberapa kali.


Jadi kesimpulan gua, Mission Impossible Ghost Protocol berhasil membuktikan bahwa Brad Bird mampu membuat film non animasi menjadi cukup menarik.  Tom Cruise pun bernasil menaikkan lagi pamornya.  Jika anda ingin melihat Tom Cruise bermain layaknya Spiderman di Burj building, jangan lewatkan film ini.