Tuesday, August 23, 2011

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS PART 2 (2011)





Penantian yang sebenarnya tidak lama tetapi karena ada masalah MPAA, seakan-akan terasa lama menunggu seri terakhir dari franchise penyihir Harry Potter. Setelah beredar hampir satu bulan di Indonesia, gua baru sempet nonton film ini.


Sedikit kecewa dengan part 1, berharap perasaan itu bisa disembuhkan dengan lanjutannya. (gaya bahasanya mantap hehehe) Berangan-angan keinginan itu terkabul, terpenuhi, terpuaskan dahaga gua. Dengan sedikit memendam rasa yang demikian kuat, ternyata film ini belum sanggup untuk menghapus segala kecewa akibat dari film sebelumnya. Haha sedikit puitis (baca : konslet) akibat kena percikan kutukan avada Kevadra. Namun perlu gua akui, film ini lebih baik dari sebelumnya. Tapi untuk menjadi favorit gua, film ini belum bisa gua masukan ke daftar.


Tidak puas dengan Order of Phoenix, gua agak tidak menyukai David Yates. Tapi kemudian, ternyata gua suka dengan Half Blood Prince, gua jadi agak menyukai Yates. Tidak puas lagi dengan Deathly Hallows Part one, tapi karena efek dari Half Blood Prince, gua memaafkan Yates. Berdasarkan grafik nilai kesukaan gua akan Yates, harusnya gua bakal menyukai bagian keduanya. Tapi karena keadaan iklim yang berubah-ubah, grafik gua sedikit ngaco, jadinya gua tidak terlalu puas dengan bagian kedua ini. Banyak bagian yang harusnya punya potensi untuk dikenang, malah lewat begitu saja. Padahal tujuan dibagi jadi jilid, karena agar seluruh detil film bisa masuk. Mungkin memang masuk semua tapi hanya sekedar numpang lewat saja. (masuk jalur cepat kayaknya). Pertarungan di Hogwarts pun, katanya bagi yang sudah baca novelnya adalah pertarungan yang dinanti-nantikan di film ini, tapi lho kok hanya gitu-gitu aja. Banyak tokoh yang mati pun, kok gua ga peduli karena diceritakan dengan kecepatan 300 km/detik. Sayang sekali, karena sebenarnya momen-momen ini sangat penting untuk tidak dilewatkan begitu saja.





Melihat dari semua film Potter, sepertinya yang ini bisa dibilang filmnya Daniel Radcliffe, karena hampir semuanya ada dia di layar. Kemampuan aktingnya pun ada peningkatan. Hanya sayang, hal ini menyebabkan karakter-karakter yang lain terabaikan (mengingat rencana awal bahwa film ini dibagi dua demi kepuasan penggemar HP). Berarti bisa dilihat motif dibalik dibagi duanya film ini. Gua kasihan dengan karakter Hagrid, paling wajahnya hanya terlihat beberapa kali di layar. Begitu juga dengan hubungan Ginny dan Potter. Nelangsa nontonnya.




Adegan favorit gua di film hanya ada satu, ketika semua guru di Hogwarts membuat tirai perlindungan di sekeliling asrama diiringi musik yang terdengar di telinga gua sangat bagus sekali. And That’s it. Adegan lainnya gampang terlupakan, mengingat padahal ini adalah jilid pamungkas yang akan mengakhiri kisah Harry Potter. Dan kesan yang ditinggalkan kok begini saja buat gua. Itu menurut gua yah.


Bisa sajalah film ini menjadi film Harry Potter terlaris tapi yang jelas bukan film Hary Potter favorit gua.

Sunday, August 7, 2011

TWISTER (1996)





I always love disaster movie. Seperti yang sering gua bilang, alasannya karena di sebuah film disaster lah, biasanya umat manusia saling bersatu. Dimana biasanya sulit sekali umat manusia untuk bersatu padu. Itulah yang gua suka dari genre film bencana. Dan biasanya tentu saja ada cinta, cinta keluarga maupun cinta asmara. Namun yang pasti biasanya ada pengorbanan. Film bencana apapun, biasanya minumnya teh botol sosro…hehe, maksud gua biasanya memakai formula seperti yang gua sebutkan di atas. Tapi bisa dibilang, Twister tidak mengadopsi semua resep-resep di atas. Ada sih beberapa, tapi kadarnya tidak terlalu berat di sini.


Hal lain yang gua perhatikan di film ini adalah sang sutradaranya. Jan De Bont, waktu itu De Bont berada di puncak berkat besutan pertamanya Speed yang fenomenal (masuk kategori film favorit gua). Langsung dipercaya oleh Spielberg menggarap film Twister. Yang dalam candaan De Bont. Speed kan tentang kecepatan, well film ini lebih cepat lagi katanya. Salah satu kelebihan De Bont dalam kaca mata pengamatan gua, dia punya skill dalam mengambil gambar, jelaslah karena dia sebelumnya sering menjabat sebagai director of photography. Terlihat sekali kepiawaiannya dalam menggarap Speed. Dan di Twister, terlihat sekali kemampuannya dengan banyaknya pengambilan gambar dari atas. Namun jika dilihat dari teknik pengambilan gambar, jelas Speed lebih unggul. Tapi Twister (layaknya film bencana) jelas lebih unggul di special efek dibandingkan Speed yang lebih realistis.



Memakai Helen Hunt yang waktu itu belum terlalu tenar di Hollywood kecuali lewat perannya dalam serial Mad About You. Dan peran prianya oleh Bill Paxton yang juga belum terkenal-terkenal amat. Mungkin yang terlewatkan oleh orang-orang adalah Philip Seymour Hoffman yang disini hanya kebagian peran kecil. Dan tidak disangka-sangka bahwa dia akan menjadi aktor watak yang patut diperhitungkan sekarang. Yang pasti pemeran utama di film ini adalah Twister dari segala jenis ukuran (kayak baju aja). Dengan deretan cast yang disebutkan sebelumnya, film ini berhasil menjadi film terlaris nomor dua waktu itu di US setelah Independence Day (yang tentu saja sangat sulit untuk ditandingi saat itu). Meskipun menduduki posisi kedua terlaris di Amrik tahun itu, sudah cukup bagi De Bont untuk semakin mengukuhkan namanya di kancah Hollywood sebagai seorang sutradara yang jempolan. Tapi sayang kini namanya meredup sejak menyutradarai film yang kurang laris seperti Speed 2 lalu Tomb Raider 2.




Secara pribadi, ini salah satu film disaster yang kurang gua suka, karena resep bersatu dan pengorbanannya kurang. Hal ini sedikit mengurangi nikmatnya menonton film jenis ini. Tapi karena faktor Jan De Bont yang sejujurnya gua sangat suka dia lewat Speed, nilai gua untuk film ini sedikit naik. Karena sebenarnya cerita yang ditulis oleh almarhum Michael Crichton beserta istrinya sangat singkat sekali. Tentang perburuan angin tornado dan hampir tidak ada intrik-intrik antar karakter yang berarti kecuali antara Hunt dengan Paxton dan calon istri barunya beserta teman-teman kelompoknya dan penduduk di desa bibinya. (lho kok jadi banyak intriknya) hehehe…becanda. Paling antara Hunt dengan Paxton dengan calon istri barunya.
Kesimpulan gua, film ini cukup menegangkan dengan iringan musik yang pas menghantar kehadiran angin tornado yang bergerak cepat, memutar, merusak segala sesuatu yang dilaluinya. Tapi sebagai film disaster, film ini tidak terlalu mengangkat tema kemanusiaan. Jadi kalo ingin film bencana seru, Twister bisa jadi pilihan yang pas untuk ditonton. Sebagai tambahan, gua suka end credits di film ini dengan mengambil lokasi di awan-awan dengan iringan musik yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, karena memang tidak ada liriknya alias instrumental. Hehehe…


Sekedar tambahan, film berbujet 92 juta dolar ini meraup 494 juta di seluruh dunia.