Friday, April 29, 2011

TRON LEGACY (2010)





Dulu waktu jamannya TVRI ada serial yang jagoannya pake baju yang ada kayak ada lampu-lampunya warna biru. Dulu sering gua tungguin nih sampe malem dan akhirnya ga kesampean karena keburu ketiduran. Kan dulu gua masih imut kayak upin dan ipin (apa hubungannya), jadi belum terbiasa bobo malem-malem. Tapi gua selalu inget nih serial karena hanya sempet nonton beberapa kali, judul serialnya AUTOMAN.





Melihat berita-berita tentang TRON apalagi liat cuplikan dan gambar-gambarnya. Impian masa kecil gua yang jarang terpenuhi itu kembali menggelora (gaya bahasanya mantap). Baca-baca infonya ternyata ini adalah remake dari versi 80an. Kebetulan pemainnya pun sama, Jeff Bridges. Lihatlah keajaiban Hollywood lagi dalam menampilkan wajah muda aktor-aktris mereka. Setelah gua terpesona oleh Brad Pitt dan Cate Blanchett dalam The Curious Case of Benjamin Button.



Memang kenangan gua merasuki hati gua kembali (jiwa puitis gua lagi muncul nih), melihat jagoan neon beraksi dalam dunia TRON yang penuh dengan cahaya lampu (jangan khawatir ga ada tulisan PHILIPS di pakaian mereka, apalagi ada 5 watt atau 10 watt). Hanya ada satu kebingungan gua tentang permainan Frisbee neon dan tarung motor mereka, peraturannya yang tidak jelas bagaimana musuh mereka bisa hancur. Ada satu lelucon tentang tongkatnya yang membuat gua tertawa terpingkal-pingkal (sedikit berhubungan dengan Star Wars)



Gua belum nonton versi jadul, tapi jika gua bayangkan waktu itu tentu saja film ini bisa menjadi pusat perhatian moviegoers, namun jika dilihat dari canggihnya Hollywood masa kini, jelas film ini terlihat biasa saja. Yang paling menarik dari film ini adalah music scorenya yang keren, denger-denger Daft Punk yang berdiri di belakangnya. Gua suka Daft Punk, futuristik sekaligus jadul (kalo liat-liat video klip-video klip mereka pasti mengerti maksud gua).



Cerita cukup sederhana tapi makna ceritanya menurut gua dalem. Apalagi ada istilah kreator segala. Itu faktor lain yang membuat gua suka film ini. Mengenai akting jangan terlalu dipikirkan. Dan bisa dibilang dahaga gua waktu kecil sedikit terbayarkan menonton film ini meskipun tidak puas banget.




Bujet cukup besar 170 juta dolar namun sudah menghasilkan 398 juta di seluruh dunia. Lumayan untuk debut pertamanya sang sutradara Joseph Kosinski dan kabarnya dia pun akan segera membuat remake dari The Black Hole. Mengenai Sam Flynn yang diperankan oleh Garrett Hedlund, pantesan wajahnya terasa ga asing tapi gua ga inget dia pernah maen film apa. Ternyata dia pernah maen di Troy, Four Brothers dan Eragon.

Friday, April 22, 2011

HOW TO TRAIN YOUR DRAGON (2010)





Dulu film animasi hanya milik Disney berlanjut ke Pixar. Semenjak Fox membuat Ice Age dan sukses maka studio-studio besar lainnya mulai berlomba membuat film animasi. Salah satunya adalah Dreamworks. Setelah sukses besar dengan ogrenya, kini menjajal dengan naga. Iya naga, Dragon bahasa kerennya. Masih merasa kurang rame dengan tema naga? Atau sudah bosan? Well, mereka menceritakan Naga berperang melawan bangsa Viking. Tetap masih kurang? Mereka menampilkannya dalam dua versi 2D dan 3D. Masih kurang juga? (Ternyata sulit untuk menyenangkan penonton). Anda membaca reviewnya gratis dari blog gua, ga usah bayar? Hehehe... Cukup yah.


Honestly, sebenarnya gua kurang suka dengan Shrek, karena setelah tertawa ngakak saat menonton tapi sesudahnya tidak ada yang tertanam dalam hati gua. (Dreamworks kurang pupuk kayanya). Makanya kalo animasi, gua masih megang Pixar (bukan karena graphisnya bagus yah) tapi ada nilai moral yang gua dapet disitu, kecuali mungkin animasi non pixar terakhir yang gua tonton dan sangat berkesan adalah Despicable Me (sudah pernah gua bahas di blog tercinta kita ini hehehe)




Melihat cuplikan demonya di toko-toko elektronik terutama untuk LED 3D (drooling liatnya, liat LEDnya maksudnya) masih tetap tidak membuat gua berniat untuk menonton film ini. Sampai suatu ketika…hahaha gayanya. Well, akhirnya nonton juga film ini. Tidak terlalu banyak berekspektasi sih, hanya mendapat sedikit bocoran bahwa endingnya tidak terlalu tipikal layaknya film animasi untuk anak-anak. Hal ini yang membuat gua bertekad sepenuh hati untuk menonton film ini sampai selesai. Graphis bagus (tapi memang tidak indah), dan terutama terasa sekali nuansa tiga dimensinya. Cerita cukup unik melawan naga-naga yang bervariasi bentuknya bisa cenderung ke arah seru sebenarnya. Pengisi suara si ayah pun langsung tertebak oleh gua, Gerard Butler (yeah, gua memang hebat hahaha).


Cerita mulai menarik ketika interaksi pertama terjadi dengan Night Fury yang terluka (naganya mengingatkan gua akan Sticth) ditambah musik yang pas. Musiknya menyentuh banget. Tapi sayangnya tetap jadi tipikal film yang bertema zero to hero. Sekali lagi, gua penasaran dengan endingnya yang katanya bukan seperti film-film animasi sejenis. Finally, selesai sudah filmnya.



Kesimpulan gua, efek 3Dnya gua yakin keren kalo nonton di bioskop, apalagi dengan naga-naganya yang siap mencaplok, membakar dan hal-hal lainnya yang biasa naga lakukan kepada kita, umat manusia. Hehehe. Adegan terbang juga keren, sedikit mengingatkan akan Avatar tapi tetap tidak sekeren Avatar. Mengenai endingnya, apakah gua puas dengan film ini. Hmmm...coba aja deh nonton sendiri. (jadi buat apa yah, baca review gua) hahaha...kan baca reviewnya gratis, brother and sister, jadi harap maklum dengan segala kekurangannya (tapi pujilah kelebihannya). Namun diluar aspek graphisnya, gua lebih suka film ini daripada burung hantu-nya Pak Zack Synder. Tapi jika ingin membandingkan dengan keluaran Pixar, kok gua masih lebih suka produk dari Pixar. (diluar review kemaren yang mana, gua bilang kalo gua lebih suka Despicable Me daripada Toy Story 3).


So sorry buat penggemar Naga, menurut gua How To Train Your Dragon, tidak cukup membuat gua menyukai film ini, meskipun endingnya bisa dibilang sedikit berbeda tetap tidak membantu. Bujet film yang berdasarkan novel karangan Cressida Cowell ini, cukup tinggi 165 juta dolar tapi di Amrik saja sudah meraup 217 juta dolar.

Monday, April 4, 2011

RED (2010)



Gua sebutin dulu yah deretan pemerannya : Bruce Willis, Morgan Freeman, John Malkovich, Helen Mirren, Richard Dreyfuss. Anda tau mereka ? Jika anda tau maka anda adalah penggemar film sejati kayak gua hehehe. Setelah The Expendables, yang pemainnya kebanyakan aktor kawakan, nah kini muncul RED yang lebih kawakan lagi. By the way, RED itu singkatan dari Retirement : Extremely Dangerous. Jika lihat opening creditnya, ternyata film ini berasal dari sebuah komik.





Film tentang pensiunan CIA, cukup menarik sebetulnya. Gua jadi teringat Space Cowboys tentang pensiunan NASA. Willis, Freeman, Malkovich dan Mirren cocok jadi pemerannya. Jika anda kangen dengan film aksi “antik” mungkin anda akan menyukai film ini, bernostalgia ditengah-tengah film-film yang dibanjiri aktor-aktris muda. Bahkan Spiderman yang masih muda masih mau dibikin lebih muda lagi. Kembali ke aktor-aktris kawakan, Willis sudah banyak membintangi film-film aksi, kini usianya sudah tidak muda lagi. Namun keplontosan kepalanya masih membuat dia gagah walau memang kerutannya bertambah. Ada satu adegan yang mengingatkan gua akan film apa gitu. Ketika dia keluar dari mobil lalu mobilnya bergerak mendekati. Keren. Hanya sayangnya tidak banyak adegan aksi di film ini jika anda mengharapkan lebih. Intrik-intrik yang ada pun bahkan tidak mampu mengintriksasi gua (bahasa apaan ini). Freeman bermain santai, well selalu santai menurut gua. Malkovich lumayan tampil sebagai paranoid, yang terus terang interaksinya dengan para anggota yang lain cukup membuat tawa. Sang Ratu bermain ganas dengan senjata otomatisnya, well sayang tidak banyak membantu film ini (Mirren masih lebih baik bermain di National Treasure 2). Mungkin yang cukup menarik juga adalah karakter yang dimainkan Karl Urban. Sayangnya script tidak memberikan ruang lebih untuknya. Di atas semuanya, ada satu karakter yang bermain sangat bagus sepanjang film bahkan menurut gua dialah nyawa film ini, yang membuat gua masih betah untuk menonton sampai habis. Mary Louise Parker sebagai Sarah. Umur aslinya 46, wow ga kelihatan tuh.


Yang duduk di kursi sutradara adalah Robert Schwentke, ternyata dia yang menggarap Flightplan-nya Jodie Foster lalu Time Traveler’s Wife-nya Rachel McAdams. Sebenarnya ide menggambarkan kota-kota dalam film lewat postcard cukup menarik hanya entah kenapa secara keseluruhan film terasa nanggung.




Singkat kata, film ini hanya pelepas kangen bagi penggemar para aktor aktris kawakan ini. Mungkin itu yang membuat film ini banyak disukai tapi gua kurang suka film ini. Tapi hebatnya film ini mendapat nominasi Golden Globe untuk Best Motion Picture – Musical or Comedy. Dan untungnya dengan modal 58 juta dolar sudah menghasilkan 185 juta dolar di seluruh dunia. Makanya jangan heran jika nanti ada sekuelnya.