Monday, January 31, 2011

THE BRIDGES OF MADISON COUNTY (1995)


Cinta tidak mengenal usia. Inilah yang menjadi tema dari film besutan Clint Eastwood. Terus terang gua sangat suka Eastwood karena dia termasuk deretan aktor yang berubah jalur jadi sutradara (meskipun memang sebagian besar bermain dalam film garapannya sendiri) yang sukses. Sejak A perfect World, hampir semua karyanya Eastwood di atas rata-rata. Kini menggaet aktris Meryl Streep. Gua selalu terkagum-kagum betapa Streep bisa menjiwai suatu karakter. Begitupun disini, betapa dia bisa terlihat sangat kikuk dan muda, jelaslah ini film keluaran 15 tahun yang lalu. Gua juga masih muda kalo waktu itu gua jadi seorang aktor.

Menilik ide cerita yang hampir sama, gua teringat Horse Whisperer (1998) yang disutradarai oleh Robert Redford. Berdasarkan dari novel karangan Nick Evans atau Nicholas Evans. Kebetulan pula The Bridges of Madison County berasal dari sebuah novel. Ditulis oleh Robert James Waller ditulis screenplay-nya oleh Richard LaGraveness. Menurut penilaian gua, Horse Whisperer lebih menang, jika dinilai secara keseluruhan, disini akting Scarlet Johansson cukup memikat ditambah performance dari Kristin Scott Thomas dan Robert Redford yang berkharisma, landscape yang lebih dominan. Tapi jika melihat 30 menit akhir dari The Bridges of Madison County, disinilah jiwa dari film ini. Kekuatan akting Streep dan penggarapan Eastwood yang menurut gua mampu menguras emosi penonton. 30 menit akhir ini merupakan salah satu momen terbaik dalam layar lebar (versi gua yah) Jangan nilai 1 jam awal film, karena itu merupakan appetizer dan menu utama yang biasa saja, Namun anda akan menikmati desert yang luar biasa yang membuat anda akan selalu mengenang film ini.




Seperti yang gua bilang di atas, kekuatan akting Meryl Streep luar biasa sekali. Film berdurasi 135 menit ini dapet nominasi Oscar maupun Golden Globe untuk Meryl Streep dan nominasi Best Picture untuk drama dari Golden Globe. Dengan bujet 35 juta dolar, film ini meraup 70 juta dolar di seluruh dunia.

Saturday, January 29, 2011

DEVIL (2010)


M. Night Shyamalan tapi kali ini bukan dia yang duduk di kursi sutradara. Setelah banyak yang mencela karya terakhirnya The Last Airbender (mudah-mudahan bukan karena ada kata the lastnya menjadi karya terakhir Shyamalan). Dia disini hanya sebagai produser dan penulis cerita. Shyamalan menunjuk John Erick Dowdle sebagai kaptennya. Ide cerita yang sederhana sebenarnya tentang devil. Entah kenapa dengan narasi awal oleh Ramirez, gua teringat akan Lady in the Water yang berkisahkan tentang dongeng seorang wanita. Dan film ini, menceritakan dongeng sang iblis. Bagaikan seorang detektif, para penonton diajak untuk menguji kemampuan masing-masing, apa yang sebenarnya terjadi di dalam elevator dan siapa yang melakukannya. Walaupun tanpa petunjuk-petunjuk yang jelas, kita tetap dibuat sedikit terperangah siapa pelakunya (walau sebenarnya untuk cerita yang ditulis oleh Shyamalan termasuk biasa aja, menurut gua). Bahkan solusi film pun sangat menarik menurut gua. Mengandung nilai moral yang luar biasa. This is the story between human dan devil wrapped in an elevator.


Alur cerita pun biasa lambat di awal, namun intensitas meningkat ketika lima orang terjebak dalam sebuah elevator. Dengan pandainya cerita memutar balikkan fakta, muncul petunjuk baru lalu muncul masalah baru dan begitu seterusnya. Mungkin kita bosan, namun gua yakin bahwa semua akan penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mengasyikan menonton film ini, karena tidak seperti film thriller horor yang biasanya bodoh. Paling tidak film ini tidak terjebak situasi seperti itu.

Gua selalu suka karya Shyamalan bahkan gua suka The Last Airbender. Untuk film ini pun, gua cenderung suka. Dengan pemain yang hampir gua tidak kenal kecuali Bokeem Woodbine, Matt Craven dua-duanya berperan sebagai penjaga di film ini. Bojana Novakovich, gua inget dia pernah maen jadi anaknya Mel Gibson di Edge of Darkness. Yang lainnya gua tidak tahu. Mungkin durasi yang hanya 80 menit cukup membantu stabilitas film sehingga tidak membosankan untuk terus dicermati.

Yang patut menjadi perhatian adalah angle terbalik yang diambil Tak Fujimoto (penata kamera) ketika men-shoot jembatan dan bangunan-bangunan, lalu angle normal di akhir film yang men-shoot jembatan yang sama, gua menganggap ini sebagai simbolisme dari devil tadi. I like it. Yang perlu diingat adalah kata-kata Ramirez di penghujung film. I am not gonna tell you what it is, you should see it for yourself.
Film berbujet 10 juta dolar ini sudah menghasilkan 56 juta dolar di seluruh dunia.

Wednesday, January 26, 2011

JONAH HEX (2010)


Film berdasarkan komik keluaran DC. Gua ga pernah tau ada komik yang berjudul Jonah Hex, sampai ada berita mau dibikin film, baru gua tau. Sejak kemunculan para rombongan superhero, terlihat sekali kalo Marvel yang memegang tampuk pimpinan dibandingkan dengan DC. Tapi sejak kegagahan The Dark Knight yang meraup hasil sangat-sangat luar biasa, TDK dicap sebagai film superhero terlaris, maka DC kini punya kekuatan untuk menumbangkan keperkasaan Marvel.


Sekarang giliran Jonah Hex, sekali lagi gua tidak tau menahu tentang sosok satu ini. Hanya kalo nonton filmnya, dia ini punya kemampuan berbicara dengan orang mati, settingnya jaman koboi, mukanya ga cakep. Menarik minat anda untuk menonton? Seharusnya iya. Ini jenis superhero spesies baru (emang serangga) yang sejujurnya membuat kita merasa bersimpati dengan nasibnya tetapi ingin melihat kemampuannya.


Josh Brolin, nama pemerannya. Dapet nominasi Oscar lewat perannya di Milk. Tapi yang gua ingat, dia maen di Hollow Man dan Planet Terror. Wajahnya cukup keras juga, tapi tidak sekeras besi karena dia bisa kena tembak dan dicap besi panas. Hanya dari pandangan matanya lah kita bisa melihat kemampuan aktingnya, wait, ini film superhero bukan film kelas Oscar, tapi siapa tau dia bisa dapet nominasi Oscar untuk film ini.
Dan yang hampir terlewatkan begitu saja, Megan Fox. Kalo diitung-itung waktu kemunculannya cuma 9-10 menit. Jadi bagi yang suka Megan, harap bersabar dan pelototin dia saat dia muncul, karena kesempatan itu jarang sekali disini. Kalo anda tertidur, mungkin kesempatan itu akan hilang dan tiket anda akan sia-sia saja. Jadi Megan Fox boleh bangga karena namanya dipasang untuk menarik calon penonton meskipun hanya muncul sebentar, seperti kasus Sandra Bullock dalam film A Time to Kill.



Awal film menurut gua, Jonah beraksi cukup luar biasa, bahkan dia bisa berkelit dari terjangan peluru. Skill yang setara dengan Neo di Matrix bahkan tidak perlu slow motion untuk melakukannya, jelas lebih murah biayanya. Termasuk opening yang menarik perhatian gua ditambah illustrasi yang seperti komik. Muncul John Malkovich sebagai antagonis menambah nilai lebih (harusnya), tapi Malkovich seakan-akan mengulang lagi “kesuksesannya” sebagai antagonis seperti waktu dia main di Eragon. Dan satu lagi, apakah gerangan yang terjadi dengan Wes Bentley, gua pikir karirnya akan berkembang setelah membintangi American Beauty, disini hanya tampil sebentar sekali. Gua ralat deh, bukan Megan Fox yang hampir terlupakan oleh gua, tapi yah karakter yang dimainkan oleh Wes Bentley ini yang gua hampir lupa. Tunggu! Ralat lagi deh, ternyata Aidan Quinn sebagai Presiden Grant yang terlupakan oleh gua. Aktor satu ini dulu lumayan ngetop (Legend of the Fall) tapi sekarang uda jarang maen film. Sorry guys, gua ralat lagi …(plak!!!)


Jimmy Hayward yang mengepalai pembuatan film ini, pernah menggarap Horton Hears Who, film animasi yang tidak nyangkut di pikiran gua waktu menontonnya, karena saat itu gua bawa anak gua yang masih kecil, dan yang sepanjang film perhatian gua teralihkan dari layar lebar. Untuk nonton via home theatre yang super canggih dengan layar lebar di rumah gua (gayanya, padahal punya yang standar aja dan tivinya pun bukan LCD atau TV Plasma apalagi LED), ga sempet aja. Hayward sukses membuat awal film koboi yang menarik, dengan gaya-gaya mirip nonton Wild Wild West-nya Will Smith. Namun Hayward tidak konsisten menurut gua. Hilangnya kemampuan sakti Jonah yang bisa berkelit dari peluru bahkan tampak gampang sekali dipecundangi oleh Burke, tangan kanan villain utamanya. Makanya menurut gua film ini sudah kurang mengasyikan lagi setelah 50 menit lewat. Dan bahkan kisah balas dendam ini kembali ke pakem awal yang sudah sering terjadi dalam film-film Hollywood.

Cerita yang ditulis oleh Mark Neveldine cukup menarik, hanya sayang kurang dikembangkan atau durasi film yang terlalu cepat, hanya 81 menit. Sebagai catatan, ternyata Mark yang menjadi sutradara di Crank beserta sekuelnya dan Gamer.
Mungkin yang bisa menjadi nilai tambah film ini adalah, landscape daerah perkoboian yang ternyata bisa dishoot begitu indah, tidak banyak sih tapi cukup buat cuci mata. Spesial efek cukup, cukup standar maksudnya, ga ada nilai plusnya.

So sebagai bukan penggemar komik, maksudnya gua tidak terlalu ngefans banget dengan komik. Jonah Hex bisa dibilang tidak meningkatkan nilai DC di mata gua. Sayang sekali padahal tidak banyak, komik yang mengambil setting jaman koboi kecuali yang gua ingat adalah Lucky Luke. Seharusnya Jonah Hex bisa mengambil kelangkaan itu menjadi suatu keuntungan. Bahkan dengan modal 47 juta dolar, baru menghasilkan 10 juta dolar di seluruh dunia. Dan remember revenge is not good for your health and your mind. Hehehe…

Tuesday, January 25, 2011

FORREST GUMP (1994)


Banyak film yang diambil dari sebuah novel. Memang film dan novel adalah dua media yang berbeda dan banyak yang bilang bahwa dua hal itu tidak bisa dibandingkan. Tapi pasti banyak orang akan selalu membandingkan kedua media tersebut. Don’t blame them. Malah kebanyakan film lebih laris karena banyak orang yang baca novelnya. Btw, gua termasuk yang them itu.
Tapi selalu gua berusaha untuk tidak baca novelnya sebelum gua nonton filmnya. Dengan tujuan mulia, biar lebih mengapresiasikan sebuah novel. Dan gua lebih enjoy baca novelnya karena gua bisa membayangkan bagaimana bentuk nyata dari sebuah karakter karena sudah melihatnya dalam film. It happened with this movie too. Hanya biasanya gua selalu lebih menyukai versi tulisannya daripada versi visualnya. Khusus si Forrest ini, gua lebih suka menontonnya daripada membacanya.


Kisah yang terentang panjang, dari masa kecil sampe tua selalu menggugah hati gua. Begitupun dengan Forrest Gump. Kisah seorang anak yang dinyatakan kurang cerdas tapi bisa mengharubirukan penonton yang cerdas seperti gua (pede abis). Namun ini bukanlah cerita sedih sentimentil yang dibikin dramatis. Forrest seorang yang sangat ceria malah. Ia tidak menganggap kekurangannya sebagai suatu hambatan. Kepolosannya malah bisa menginspirasi orang-orang disekitarnya, termasuk ibunya yang sangat menyayanginya. Dimainkan dengan sangat baik sekali oleh Sally Field (mungkin sekarang dikenal lewat peran ibu juga dalam serial Brothers and Sisters yang juga cukup menarik untuk diikuti).

Forrest pun tidak luput dari problem asmara, gadis yang dicintainya dari kecil, diperankan dengan lumayan baik oleh Robin Wright Penn, gua lupa-lupa inget, kayaknya dulu belum pake nama Penn deh. Ini salah satu poin yang sangat menarik di film ini, karena kisah cinta antara Forrest dan Jenny bukan menu utama tapi merupakan sempilan-sempilan yang membuat film ini menjadi sangat-sangat menarik. Karena ketika fokus film sedang bercerita tentang hal lain, muncullah Jenny. Hal ini terjadi berulang kali dan anehnya hal ini tidak mengganggu malahan kita semakin bersimpati dengan karakter Forrest.
Peran pembantunya pun tidak kalah menarik, ada Gary Sinise yang berperan sebagai atasan Forrest di perang Vietnam. (Mungkin Sinise lebih dikenal lewat CSI : New York)

Two thumbs up, mungkin tiga atau empat deh buat Robert Zemeckis, sang director. Sutradara yang ternyata memiliki nama tengah Lee ini, sebelum ini sukses menggarap film fantasi, trilogi Back to The Future. Zemeckis berhasil membuat kisah “indah” hidup seseorang yang bernama Forrest Gump tanpa berlebihan. Dia tidak memfokuskan pada landscape yang indah. Seperti yang gua bilang tadi, Zemeckis tidak mendramatisir perjalanan hidup Forrest untuk membuat penonton bersimpati atau membuat haru penonton. Dengan bantuan sang penulis Eric Roth, Zemeckis berhasil mengeluarkan potensi yang tersembunyi dari novelnya dan memvisualisasikan “kehebatan” ceritanya.

Kehebatan film ini pun tidak hanya bergema di benak gua, tapi juga menghasilkan 6 piala Oscar, Best actor untuk Tom Hanks, Best director untuk Robert Zemeckis, Best effects, Best film editing, Best writing dan tentu saja Best Picture. Sedangkan untuk Golden Globe, film ini meraih piala untuk Best Director, Best Actor dan Best Picture for Drama.


Tentu saja diatas semuanya, semua ini bisa terwujud lewat kekuatan akting yang mantap dari Tom Hanks, pemeran Forrest Gump. Bisa dibilang inilah penampilan puncaknya, well mungkin setara dengan Cast Away, tapi buat gua, lebih menarik karakternya sebagai Forrest daripada sebagai Chuck Noland di Cast Away. Btw, ga jadi deh ngasih Zemeckis 4 thumbs up, bagi dua yah buat Tom Hanks. Jangan marah yah bro Zemeckis.

Forrest Gump always says Life is like a box of chocolates, you never know what you’re gonna get. That’s what I always feel about this movie. Film diawali dengan manis oleh sehelai bulu yang melayang dan diakhiri oleh hal yang sama ditambah iringan musik yang akan bergema di dalam kuping penonton sehingga akan selalu teringat dengan karakter Forrest Gump yang luar biasa ini. Betapa dia melakukan sesuatu yang biasa tapi dengan kepolosan dan ketulusan hatinya, bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Sebagai tambahan film yang berbujet 55 juta dolar ini menghasilkan 677 juta dolar di seluruh dunia. Luar biasa.

Monday, January 24, 2011

KING OF FIGHTERS (2010)


Another movie based on game. Tapi jangan terlalu berharap banyak dengan film ini. Gua ga terlalu paham dengan game King of Fighters, yang jelas ini adalah game fighting. Jagoannya pun gua ga tau, tapi ada satu nama yang gua kenal Terry Bogart, seorang jagoan bertopi oranye dan rompi oranye. Namun disini Terry adalah seorang CIA yang akhir-akhirnya malah bertingkah laku konyol.

Alkisah, ada seorang petarung bernama Mai, yang jujur aja, what a waste nih karena dimainkan oleh Maggie Q. Seharusnya Gordon Chan, the director bisa memaksimalkan kemampuan Maggie. And kenapa lagi Gordon Chan kok seperti ini, padahal dulu dia yang bikin Thunderbolt-nya Jackie Chan. Yang menurut gua, itu adalah salah satu film terbaiknya Jackie Chan karena meskipun tata kelahinya digarap Samo Hung tapi gerak kamera membuat gebrakan Jackie terlihat mantap di Thunderbolt.

Kisah pertarungan yang diadakan di dimensi lain. Awal film keren banget, dengan memencet tombol di device seperti handsfree buat handphone, Mai langsung berpindah dimensi untuk melakukan pertarungan. Keren, sebenarnya bisa lebih keren lagi kalo landscape pertarungannya dibuat lebih fantastis…namun yang terjadi berikutnya, kita hanya disajikan adegan fighting yang hanya memamerkan gaya tarung khas masing-masing karakter (gua belum pernah maen gamenya, jadi ini hanya tebakan gua aja). Sisanya kayak nonton film kungfu Mandarin jaman dulu. Gua mau cek di imdb siapa penata kelahinya oh si David Leitch, ga pernah denger tentang si David ini. At least masih lebih baik Dead or Alive dengan fighting choreographernya, Corey Yuen.

Sean Faris menjadi jagoan prianya. Dia yang maen di Never Back Down. Tampang sih lumayan ok, kemampuan fightingnya lumayan, hanya aktingnya masih perlu ditempa lagi. Sedangkan Maggie Q, seperti gua bilang tadi, mubazir bahwa talenta Maggie Q tidak dipergunakan dengan baik, malah jadi terkesan fashiow show nih. Ray Park jadi antagonisnya, I say it once again, dia pun lebih terlihat perkasa di G.I. Joe : Rise of Cobra. Disini sih ga ada apa-apanya, terkesan seperti maen-maen malah. Tiap dia muncul bawaannya, malah pengen ketawa bukannya takut.

Dapet score 3,4 dari imdb. Gua liat di BOM pun tidak terdaftar atau karena memang belum maen di Amrik.
Sayang sekali, satu lagi film berdasarkan game yang hasilnya tidak memuaskan sehingga menambah deretan film based on game yang gagal dan menambah keyakinan bahwa kutukan bahwa movie based on game selalu terpuruk. Sebagai trivia, ada Francoise Yip, yang dulu pernah maen bareng Jackie Chan di Rumble in The Bronx.

Wednesday, January 19, 2011

SERENDIPITY (2001)


Ini lagi salah satu film romantis favorit gua, Serendipity. Gua ga pernah menyangka bahwa film ini akan begitu menyenangkan dan menggemaskan di saat bersamaan ketika gua menonton pertama kali. Ide cerita, jelas tentang cinta seorang pria dan wanita. Ide cerita yang tidak pernah bosen untuk digunakan, hanya mungkin reaksi penonton yang berbeda-beda, ada yang suka dan ada yang tidak.


Kate Beckinsale pemeran utama wanitanya, menunjukkan penampilan yang memesonakan (bukan kualitas aktingnya ya). Dan semua itu diimbangi oleh permainan John Cusack yang pas. Kedua pasangan ini sudah menampilkan chemistry yang luar biasa. Ditunggu aja, kapan mereka maen bareng lagi dalam sebuah drama romantis atau sebuah film aksi vampire atau film disaster (mungkin)

Film ini menceritakan tentang takdir. Apakah cinta mereka bisa bertemu atau berakhir sedih? Semua itu tergantung takdir. Berkisah tentang destiny or fate selama hampir 90 menit yang bisa membuat kita terhanyut oleh entengnya cerita bergulir dengan menggemaskan. Sesuai tagnya Destiny…with a sense of humor. Good job, Marc Klein (writer), ternyata dia pernah jadi asisten Jon Turteltaub di While You Were Sleeping.


Angle-angle kamera yang diambil cukup menarik walaupun tidak unik tapi sangat pas mengambil momen-momen indah yang bertebaran sepanjang film. Bisa gua bilang inilah penampilan termanis dari Beckinsale dan salah satu film Cusack yang sangat menarik. Kalo diperhatikan memang Cusack lebih banyak bermain di ranah romantisme. Pemeran lainnya ada Bridget Moynahan, John Corbett dan Jeremy Piven yang membuat cerita semakin menarik dan semakin kompleks.

Sang sutradara, Peter Chelsom berhasil membuat film romantis yang membuat perasaan penonton seperti naek roller coaster (naik turun). Hanya sayang, mungkin karena kurang promosi film ini hanya menghasilkan 77 juta dolar di seluruh dunia. Mungkin lewat short comment gua yang singkat ini, bisa mendongkrak penjualan vcd/dvd original dari film ini (hehehe sok pede banget)

Thursday, January 13, 2011

SLEEPLESS IN SEATTLE (1993)


Salah satu film yang masuk daftar film romantis favorit gua yaitu adalah film ini. Sedikit sih film romantis yang gua suka, abis kan gua cowo hehehe….cowok kan harus macho wakakaka…Ga ding. Cukup banyak juga film favorit gua seperti yang pernah gua bahas yaitu Notting Hill juga termasuk deretan film romantis favorit gua.

Sedikit trivia, banyak orang salah kira. Bahwa Sleepless in Seattle adalah film pertama dimana Tom Hanks dan Meg Ryan. Padahal mereka sebelum ini sudah bekerja sama dalam film Joe Vs The Volcano. Dan setelah Sleepless mereka kembali bersatu dalam You’ve Got Mail.


Meg Ryan mungkin saat itu sedang lagi jaya-jayanya. Film-filmnya laris manis setelah era When Harry Met Sally. Dan di film ini memang Ryan bisa memancing emosi penonton untuk menyukainya. Chemistry antara dia dan Hanks sangat luar biasa. Mungkin karena pernah bermain bersama sebelumnya. Sayang setelah gosipnya dengan Russell Crowe, karir Ryan menurun bahkan sekarang hampir tidak pernah mendengar filmnya lagi.

Sedangkan untuk Hanks, mungkin film inilah yang mendongkraknya menjadi seorang super star dengan pemasukan filmnya yang hampir rata-rata di atas 100 juta dolar. Sebagai catatan, istrinya Hanks, Rita Wilson pun ikut maen di film ini.



Cerita cinta yang sudah umum dibuat dengan manis oleh Nora Ephron sang sutradara. Kita akan dibuat penasaran sepanjang film bahkan sampai akhirpun kita akan dibuat penasaran. Cerita sederhana yang dibuat dengan sederhana menjadi sebuah film sederhana yang menarik sekali. Banyak lagu-lagu yang menghiasi film ini membuat kita seakan-akan terbuai oleh masing-masing karakter. Diselipi oleh humor cerdas yang membuat kita tertawa pas disela-sela suasana romantis.

So I am sure, you gonna love their chemistry in this movie and of course you gonna love the movie as much as I do.

Tuesday, January 11, 2011

THE TOWN (2010) VS TAKERS (2010)



Gua membandingkan dua film ini karena menurut gua temanya yang hampir sama yaitu perampokan. Gua bahas tentang The Town dulu karena gua nonton film ini lebih dulu. Ada beberapa aktor yang cukup piawai menjadi seorang sutradara. Sebut saja Mel Gibson, kemudian opa Clint Eastwood. Dan menurut gua kini muncul satu lagi potensi baru yang terlihat bakatnya. Kita kenal Ben Affleck lewat filmnya Armageddon, Pearl Harbor atau The Sum of All Fears. Meskipun sebenarnya Affleck sudah pernah meraih Oscar lewat skenario terbaik untuk Good Will Hunting bersama rekannya Matt Damon. Setelah menjajal menjadi sutradara lewat Gone Baby Gone (gua belum nonton), maka ini adalah karya keduanya. Affleck cukup piawai memandu para aktor karena mungkin backgroundnya yang memang seorang aktor makanya terlihat sekali bahwa mereka semua berakting dengan “santai” tapi menghasilkan performance yang luar biasa. Secara kesatuan, para pendukung The Town berhasil memberikan cast ensemble yang pas.

Mungkin secara keseluruhan, memang mereka berhasil bermain kompak. Tapi gua memuji penampilan Jeremy Renner. Dia yang paling menonjol diantara semuanya. Pete Postlewaite pun lumyan (gua turut berduka cita karena beliau sudah meninggal sekarang).
Mengenai ceritanya sendiri. Bila ada yang sudah menonton Heat-nya Robert De Niro dan Al Pacino, mungkin akan merasakan bahwa ceritanya mirip. Apalagi ditambah bumbu romance antara Affleck dan Rebecca Hall. Memang The Town lebih menekan drama antar tokohnya, terutama tokoh Claire dan Doug. Sedangkan aksi perampokannya sendiri tidak bisa dibilang spektakuler, hanya bisa dinilai cukup baik (tidak buruk). Endingnya pun klise menurut gua, tidak ada yang baru. Bujet The Town 37 juta dolar, dan sejauh ini sudah menghasilkan 144 juta di seluruh dunia.


Takers, sama seperti The Town memiliki karakter yang cukup banyak. Sebenarnya gua suka film dengan karakter yang jumlahnya cukup banyak, lebih menarik menurut gua. Tema sama, tentang perampokan. Pemainnya pun cukup terkenal seperti Matt Dillon, Paul Walker, Hayden Christensen. But let’s talk about director first. Sutradaranya bernama John Luessenhop. I barely know about him. Kalo dilihat dari imdb, ini adalah film keduanya setelah Lockdown (2000). Jika dibandingkan dengan The Town, film ini lebih berfokus ke aksi perampokannya. Dimana menurut gua, perampokan di awal film cukup jenius. I like it.. Kesulitan para karakter lebih ditekankan di film ini dan menurut gua adegan romance-nya tidak sekental The Town dan itu merupakan hal yang cukup bagus karena sebuah film tidak harus selalu memasukkan adegan romans untuk menjadi sebuah film yang bagus. Untuk adegan aksi ensemble castnya ok tapi kemampuan akting para pemainnya jauh jika dibandingkan dengan The Town. Hanya adegan aksinya memang lebih banyak dibandingkan The Town. Gua melihat Hayden baku hantamnya lebih dewasa dan brutal jika dibandingkan waktu di Star Wars dan Jumper. Akting yang bagus datang dari Matt Dillon dan Jay Hernandez cukup lumayan. Sekali lagi problematik kehidupan para karakter disini lebih dominan dibandingkan dengan The Town. Itu yang membuat film ini cukup menarik.

Ending film pun tidak ada yang istimewa hampir sama tidak menariknya dengan The Town. Dengan bujet yang lebih rendah 5 juta dolar. I wonder padahal adegan rusak merusaknya lebih banyak disini dibandingkan The Town. Takers sudah menghasilkan 68 juta dolar di seluruh dunia. Andai Takers diberi dana lebih banyak, gua yakin adegan aksinya akan lebih menarik lagi.
So keunggulan The Town adalah akting pemainnya yang luar biasa dan gua suka gaya penyutradaraan Affleck lalu Jeremy Renner masuk nominasi Golden Globe untuk aktor pendukung terbaik dan hasil di box office pun lebih tinggi dibandingkan Takers. Sedangkan keunggulan Takers adalah inti ceritanya yang lebih kompleks dengan kesulitan-kesulitan yang dialami para karakternya lalu aksi perampokannya yang lebih menarik.

Monday, January 10, 2011

KICK-ASS (2010)


Setelah menonton Scott Pilgrim vs The World, gua jadi lebih penasaran dengan Kick Ass yang kata banyak orang keren banget. Well, gua cerita dikit dulu. Nicolas Cage dari dulu memang ingin sekali memerankan tokoh superhero. Terwujud dalam film Ghost Rider. Kini kembali terlampiaskan lewat film ini. Seorang karakter bertopeng, mungkin tidak bisa disebut superhero karena tidak punya kekuatan super, toh Batman pun bisa dianggap pahlawan super walaupun tidak punya kemampuan super. He looks old and tired (maybe because in this movie, he lost his wife), Masih ok buat gua, karena disini gua bukannya ingin melihat kesaktian akting Cage. Aaron Johnson pemeran utama di film ini, by the way who is he? Gua kok ga pernah denger tentang dia. Suaranya terdengar mirip si Tobey Maguire. Gua liat imdb dulu, hmmm…pernah maen jadi Charlie Chaplin di Shanghai Knights, pernah maen juga di The Illusionist. And Guess what, bakal ada Kick Ass 2 : Balls to the Wall. Namun diantara semuanya, gua yakin pasti kalian akan sangat-sangat menyukai karakter Hit Girl yang dimaenkan oleh Chloe Grace Moretz dengan sangat-sangat menyakinkan. Dialah motor penggerak yang membuat film ini berjalan maju dengan gagah perkasa. Sudah terlihat bakatnya setelah menonton Chloe lewat film (500) Days of Summer. Dan disini Chloe sudah mengeluarkan kemampuan fisiknya semaksimal mungkin. Two thumbs up. Mark Strong yang berperan sebagai villain, sebenarnya tidak jelek permainannya namun masih kalah jauh dari kharismanya dalam Body of Lies.

Matthew Vaughn, sang sutradara berhasil membuat film superhero yang cukup membuat tensi naek turun bahkan kadang terasa ironis sekali. Vaughn berhasil memvisualisasikan adegan-adegan yang memutarbalikan kebanyakan film Hollywood. And it turned out to be a fun movie. I enjoy the movie. Bahkan gua sampe lupa bahwa ini adalah sebuah film superhero, yang kebetulan diambil dari sebuah komik. Padahal sebelumnya, gua menilai Vaughn gagal menggarap Stardust (Michelle Pfeiffer). But he did it this time.


Dibandingkan dengan Scott Pilgrim, gua lebih memihak film ini karena film ini lebih memiliki aspek-aspek sebuah film. Kebetulan gua lagi inget, sebenarnya sepanjang film banyak dihiasi oleh banyak lagu. Namun menurut gua, ada beberapa musik di film ini, yang pas banget. Menyentuh sekali. Memorable scene. Tapi tolong diingat, tingkat kekerasan dan kesadisan film ini cukup tinggi terlebih lagi hal tersebut dilakukan oleh anak kecil. Jadi harap diperhatikan hal tersebut jika ingin mengajak anak kecil untuk menontonnya.


Padahal film menyiratkan banyak hal yang sebetulnya sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Berbagai sindiran banyak dilontarkan oleh Vaughn. Dan itu yang membuat film ini sangat menarik. Tetapi untuk menjadi rival dari film superhero lain seperti Batman Begins, The Dark Knight dan Watchmen, film ini kurang “perkasa” namun yang pasti masih banyak film-film pahlawan super lain yang lebih jelek dibandingkan Kick Ass.

Wednesday, January 5, 2011

SCOTT PILGRIM VS THE WORLD (2010)


Gua sih tidak termasuk game mania banget, memang gua suka maen game dari konsol jaman jebot, dari Atari, Nintendo, sega, super Nintendo sampai yang sekarang PS2. PS3, Xbox, gua ga beli karena dananya kurang (kalo mau nyumbang, gua terima kasih banget deh).



Menonton film ini, mau tidak mau gua tertawa melihat cara penyajiannya seperti campuran bermain game dan membaca komik. Unik dan brilian menurut gua. Bahkan ketika berhasil menaklukan musuh, maka musuhnya akan berubah menjadi uang yang bisa kita kumpulkan. Kocak. Cerita yang sangat standar untuk golongan remaja tapi dikemas dengan style yang mungkin sudah umum bagi gamer atau pembaca komik tapi baru kali ini ada yang berani mewujudkannya dalam layar lebar. Bahkan bonus 1up menjadi elemen penting dalam film ini (meningatkan gua akan game Super Mario Bros)



Banyak aktor yang mendukung film ini seperti Chris Evans, Brandon Routh, juga ada Kieran Culkin yang cukup pas bermain sebagai gay disini. Aktor utamanya Michael Cera bermain cukup bagus bahkan adegan aksinya pun patut dipuji begitu juga dengan Mary Elizabeth Winstead (rambut berwarnanya mengingatkan gua akan karakter yang dimainkan oleh Kate Winslet dalam Eternal Sunshine of The Spotless Mind). Winstead pun beradegan aksi di film ini, kinda cool.

Banyak lagu yang menghiasi lagu ini, jujur banyak yang gua ga tau lagunya. Tapi lagu-lagu ini yang cukup memberi jiwa untuk film ini bahkan merupakan unsur penting dalam sebuah pertarungan. Luar biasa.


Sekali lagi pembuktian bahwa cerita yang cukup sederhana namun apabila disajikan dengan cara yang tidak biasa bisa menjadi sebuah film yang cukup menarik. Yang pasti gua tidak bosen untuk mengikuti terus kisah Scott Pilgrim sampai akhir. Visualisasi yang tidak biasa dengan polesan spesial efek secukupnya.

Mungkin ini bukan film yang luar biasa banget, bahkan mungkin ini bukan film untuk setiap orang (dalam artian tidak semua orang bakal menyukai film ini). Tapi ini film nyeleneh yang menceritakan tentang topik paling umum dalam sejarah perfilman, yaitu cinta. Maybe you don’t like it, but I like it. Perpaduan maen game dengan visualisasi gaya komik yang cukup berhasil. Two thumbs up for Edgar Wright (director). Mungkin ke depannya pemeran Knives Chau pun cukup menjanjikan karirnya.