Friday, September 24, 2010

PASSENGER 57 VS DROP ZONE

Sudah jarang liat Wesley Snipes di layar bioskop. Kebanyakan filmnya kini straight to DVD. Mungkin film terakhirnya berjudul Brooklyn’s Finest (gua belum nonton). Kebetulan kemaren gua nonton berturut-turut dua filmnya Snipes, yaitu Passenger 57 (1992) dan Drop Zone (1994). Sekedar nostalgia, dulu gua nonton Passenger 57 (P57) dalam bentuk LaserDisc.
Sedangkan Drop Zone (DZ) dulu pertama kali nonton lewat VCD.
Banyak yang bilang bahwa karir Snipes mulai memuncak lewat P57. Film yang bercerita tentang pembajakan pesawat yang lumayan seru. Diarahkan oleh Kevin Hooks. Kini kebanyakan Hooks banyak berperan dalam film serial TV seperti Prison Break, 24 atau Bones. Sebelum ada Air Force One, P57 termasuk film pembajakan yang cukup bagus meskipun tidak bisa dibilang spektakuler.
Mengenai DZ, hampir sama masih mengenai hal-hal yang berhubungan dengan ketinggian, lebih tepatnya mengenai skydivers. Digarap oleh John Badham. According to his filmography, jelas Badham lebih unggul dibandingkan Hooks. Ada Saturday Night Fever, Bird on a Wire (Mel Gibson) lalu Nick of Time (Johnny Depp) juga ada Point of No Return yang merupakan remake dari La Femme Nikita kalo gua ga salah. Dan menurut opini gua, memang DZ lebih menarik daripada P57. Sayangnya Badham pun sekarang hanya berkecimpung di dunia pertelevisian, dari Heroes, Criminal Minds, The Beast sampe Psych.

Mengenai bintang utamanya Snipes. Penampilan dia lebih baik di DZ daripada P57. Aksi tarungnya lebih mantap, jelas sesuai dengan karakternya yang seorang Marshall (ya kebalikan dari perannya disini, di U.S Marshall, Snipes yang diburu oleh tim Marshall yang dipimpin oleh Tommy Lee Jones). Soal akting jangan ditanya, Snipes jelas tidak dilirik Oscar. Kalo soal kemampuan bertarung terbaik Snipes menurut gua jelas dipegang oleh Blade 2, itupun menurut gua karena berkat penata laganya yaitu Donnie Yen dan sang sutradara Guillermo Del Torro. Yang kedua mungkin waktu Snipes beraksi di Art of War. (lucunya waktu naek pesawat di P57, Snipes membaca buku The Art of War). Sayangnya Snipes kini banyak beraksi di film-film kelas 2 seperti Jean Claude Van Damme dan Steven Seagal.
Lewat P57, banyak aktor aktris yang sekarang termasuk terkenal seperti Elizabeth Hurley, Bruce Greenwood dan Tom Sizemore. Bisa dibilang ini film Hollywood pertamanya Hurley. Film ini berhasil meraup 44 juta dolar di Amrik dan mendapat rating 5,5/10 di imdb.

Sedangkan DZ meraih 28 juta dolar di Amrik dengan bujet 45 juta dolar, sedangkan di imdb dapet score 5,2/10. Tapi menurut gua film ini lebih bagus dari P57, bahkan musiknya pun sangat bagus, apalagi adegan skydivingnya cukup menegangkan. Bisa dikatakan levelnya sedikit di bawah Terminal Velocity-nya Charlie Sheen.

Sedangkan antagonisnya di P57, Bruce Payne cukup keji sebagai villain (tatapan matanya menakutkan) dan di DZ, Gary Busey masih kalah setingkat dibandingkan Payne tapi untung tampangnya memang sudah licik.
Gua bikin review ini untuk mengangkat kembali nama Snipes di kancah perfilman Hollywood (hehe gayanya). Cukup mengejutkan jika melihat hasil box officenya Snipes bahwa tidak ada filmnya yang berhasil mencapai 100 juta dolar. Namun ternyata Snipes berhasil exist di Hollywood untuk beberapa waktu. Pencapaian paling tinggi di Amrik yaitu Blade 2 (82 juta dolar).

Monday, September 13, 2010

SKY CAPTAIN AND THE WORLD OF TOMORROW (2004)


Judulnya panjang yah. Bahkan mungkin terlihat tidak nyambung antara Kapten Angkasa dan Dunia Masa Depan. Film petualangan yang dibalut science fiction ini sebenarnya sangat menjanjikan jika tidak dibuat dengan black and white style ditambah brown (menyebabkan tidak terlihat kemegahan filmnya) seperti Sin City. Namun dijamin anda akan terperangah oleh visualisasi yang ditampilkan. Ceritanya sangat simple sekali (tidak jelek sebenarnya)

Sang sutradara, Kerry Conran. Film ini adalah debutnya. Termasuk luar biasa untuk ukuran sebuah karya awal. Andaikan film ini dibesut oleh Zack Synder mungkin hasil box officenya bisa lebih tinggi lagi. Mungkin film ini adalah salah satu film yang sutingnya hampir semuanya di dalam studio menggunakan blue screen. Para aktor pun tidak tahu bagaimana akan jadinya film mereka.


Hal pertama yang menarik gua setelah menonton film ini adalah adegan humor yang cukup efektif dan membuat gua tertawa. Tidak banyak tapi cukup efektif. Itu nilai plus film ini selain nilai artistik yang dibawa oleh film ini yang menurut gua sangat menarik sekali. Hanya sayang hitam-putih-coklat-nya membuat adegan terlihat tidak wah. Unik iya tapi tidak spektakuler jadinya.



Duet Jude Law dengan Gwyneth Paltrow sangat dinamis. Anda akan menyukai interaksi mereka berdua yang saling menyembunyikan perasaan mereka hanya sayangnya hal ini hanya diselipkan sekilas dengan singkat di antara adegan-adegan lain. (jadi tidak terlalu dominan). Angelina Jolie hanya tampil dalam beberapa scene (dan sayangnya tidak bisa menjadi scene stealer). Dengan kecanggihan teknologi pun, almarhum Sir Laurence Olivier dapat tampil di film ini. (kapan ya Indonesia bisa mengejar kecanggihan Hollywood, bahkan Hongkong pun belum bisa menandingi mereka)


Sedangkan cerita jelas menghibur saja tanpa beban apapun. Padahal esensi cerita di bagian akhir bisa ke arah yang lebih universal. Lebih ke arah patriotisme dan melibatkan emosi masyarakat dunia. Mungkin itu bukan tujuan awal film. Jadi kita hanya bisa menontonnya saja tanpa berharap lebih di bagian itu.



Conran mungkin kurang beruntung saja karena filmnya hanya mengumpulkan 57 juta dolar di seluruh dunia dengan dana yang lumayan besar yaitu 70 juta dolar. Jelas sebagai debutnya, Conran sudah sangat berhasil membuat suatu kreasi baru di dunia perfilman. Sampai sekarang belum ada lagi karyanya Conran. Jika Conran membaca tulisan ini, jangan menyerah, buatlah lagi karya baru, mungkin dengan modal yang lebih kecil. Semacam film pendek bisalah. Don’t give up, bro.