Friday, August 27, 2010

THE EXPENDABLES (2010)

Who doesn’t know Slyvester Stallone? Who doesn’t know Jet Li? Kini mungkin semua penggemr film tahu siapa itu Jason Statham? Tapi apakah ada yang tau Dolph Lundgren ? nah yang ini mungkin tidak semua orang tau.


Sempat terpuruk beberapa lama, sekarang Stallone mampu bangkit perlahan-lahan. Secara ˝bergerilya˝, Stallone mendaki naik lagi, tidak sampai ke puncak sih tapi at least tetap exist di Hollywood. Keep up the good work, Stallone.

Sebuah ide untuk menyatukan sebagian aktor laga, baik yang karirnya masih bertahan atau yang sudah hampir di ujung tanduk dalam satu film, mungkin bisa dikatakan impian semua moviegoers penggemar film aksi. Dan Stallone dapat dikatakan berhasil mewujudkan impian tersebut. Film dengan jejeran bintang aksi seperti empat aktor diatas, ditambah Mickey Rourke, Eric Roberts, Bruce Willis (cameo), Arnold Schwarzeneeger (cameo juga).

Namun diantara semua, perhatian gua tertuju pada Stallone, bukan pada performancenya disini tapi lebih kepada jerih payahnya di belakang layar sebagai sang sutradara (Dia pun ikut menulis screenplay). Menurut gua, dia berhasil ‘ mengolah ‘ sebuah film yang mungkin cukup memuaskan sebagian besar penonton (paling tidak mereka tidak kecewa dengan film ini). Lagipula dia tidak terlalu membuat dirinya terlalu ‘super hero’ di film ini.

Satu lagi yang membuat gua tertarik adalah penampilan Statham disini. Menurut gua, dialah bintang dari semuanya. Memang tipikal, tapi entah kenapa disini Statham terlihat pas sekali bahkan menonjol dibandingkan semuanya. Mungkin karena karakternya diberi cerita subplot diluar cerita utama. Cipratan darah yang akibat pisau Statham pun cukup berarti walaupun tidak sedramatis pisau di V for Vendetta.


Mengenai pemeran lainnya, jelas hanya menambah ‘meriah’nya film ini dan mungkin ingin memperluas range jenis penonton. Li pun bisa dibilang sangat tidak menonjol (adegan fightingnya pun biasa saja). Jelas sekali memasukan Li adalah taktik untuk menarik penonton dari Asia. Hope it works, Sly. Mungkin hampir semuanya juga tidak menonjol. Sekali lagi, ini filmnya Statham. Kharismanya terlihat sekali.

Film ini bisa dibilang murni film aksi, hanya sedikit tempelan CGI. Mungkin anda sedikit bosan dengan pameran CGI dalam film-film keluaran Hollywood akhir-akhir ini. Namun jika dibandingkan dengan tim protagonis, dapat dibilang tim antagonisnya terlalu lemah, sehingga tidak terlihat seimbang. Padahal hal ini bisa ditingkatkan untuk meningkatkan intensitas film.

Jika anda ingin film aksi, inilah salah satu kandidatnya. Andai film ini tidak dibintangi oleh para bintang, mungkin film ini bisa terlewatkan begitu saja atau bahkan tidak main di bioskop Indonesia. Jadi beruntunglah The Expendables ditaburi oleh begitu banyak bintang aksi terkenal. Mungkin memang film ini hanya sekedar mengenang memori dimana dulu para jagoan aksi masih ‘bertaring’ dalam kancah perfilman Hollywood.

Wednesday, August 18, 2010

THE LAST AIRBENDER (2010)


Dulu gua pikir James Cameron sedang membuat Avatar yang berasal dari serial buatan Nicklodeon itu. Gua sangat berantisipasi sekali. Begitu mendengar ada dua versi Avatar. Yang disadur dari serial tv adalah yang dibuat oleh M. Night Shyamalan, menggunakan judul The Last Airbender (TLA). Gua masih berantisipasi (mungkin turun sedikit). Begitu melihat trailernya dimana Aang berlatih di puncak batu tinggi lalu dibawahnya kapal perang siap mengepung tempat itu. Gairah gua membara lagi (ampun kata-katanya).

Gua belum pernah menonton film serinya. Tapi gua tau sedikit lah. Tentang elemen-elemen api, air dan sebagainya selalu menarik perhatian gua. Menurut gua, serial animasi ini tidak kalah dengan serial silat buatan Hongkong. Mengenai Shyamalan, gua suka dengan Shyamalan sebetulnya bukan karena Sixth Sense melainkan karena film Signs yang menurut gua sangat bagus sekali. Meskipun menurun kualitasnya (kata banyak orang) tapi gua selalu menonton film-filmnya.

Banyak komentar negatif tentang film ini. Untungnya itu tidak mempengaruhi niat gua untuk menontonnya. Dan hasilnya, gua suka film ini. Akting para pemainnya memang kaku, apalagi yang anak-anaknya. Entah kenapa gua memaklumi hal itu. Seperti gua bilang, gua ga nonton film tivinya tapi gua suka premis cerita mengenai elemen-elemen yang ada dibumi. Jelas cerita pasti dipadatkan ke dalam 103 menit. Apakah berbeda jauh dengan aslinya, gua ga tau. Namun yang pasti gua ngerti jalan ceritanya. Dan menurut gua, dasar cerita film ini kuat sekali (iyalah serialnya pun memiliki fan base yang kuat) meskipun dijejalkan dalam durasi satu jam setengah lebih. Gua merasakan aura film ini (ingat bahwa gua ga pernah nonton serialnya). Banyak hal yang tidak diterangkan atau mungkin belum dijelaskan (kembali karena durasi mungkin atau karena akan ada sekuelnya), membuat gua mengira-ngira sendiri tetapi filmnya masih bisa dinikmati.

Yang membuat gua berkesan adalah visualisasi Shyamalan yang seakan-akan menyedot gua masuk ke dunia lain dengan landscape yang indah dan perpaduan bangunan-bangunan yang eksentrik. Ditambah binatang raksasa itu (ampun, gua bahkan tidak tahu namanya) sangat real sekali apalagi waktu dia berenang membawa Aang dan kawan-kawan. (gua googling, namanya Appa dan dia seekor bison raksasa) Salut buat production designer (Philip Messina) dan departemen special efeknya (ILM). Lagian gua suka adegan fighting di film ini yang menggunakan elemen-elemen seperti air, tanah, udara dan api yang sesuai dengan khayalan gua apabila digunakan dalam sebuah pertarungan. (ini yang paling gua suka)


Gua juga suka dengan iringan musiknya yang pas bahkan sedikit menginspirasi. Thumbs up for
James Newton Howard. (sekarang gua lagi denger hand of fate karyanya di Signs)
Di luar faktor cerita, special efek, production designer dan music score, film ini jelas kurang menarik. Akting pemain yang masih mentah (gua jadi berpikir apakah para pemain mengucapkan dialog-dialog yang menarik atau mereka hanya sekedar memberi gambaran/latar belakang kepada penonton apa yang terjadi di dunia mereka). Salah casting department atau Shyamalan punya visi lain?


Kalo alur cerita yang lambat memang ciri khas Shyamalan bahkan adegan pertarungan pun banyak dalam slow motion, namun kedua hal itu malah membuat gua menikmati film ini. Bahkan sebagai penggemar film silat/kungfu, gua suka dengan fighting choreography dalam TLA Adegan akhir mengingatkan gua akan pengepungan Helm’s Deep di Two Towers. Menang mana, ya jelas menang LOTR lah. Tapi ada sesuatu pada adegan itu yang membuat gua bergetar. Jelas bukan karena akting si Noah Ringer sebagai Aang. (sori gua tidak bahas lebih detil mengenai para aktor dan aktrisnya karena banyak yang gua ga tau). Mungkin hanya satu yang gua tau, Del Patev itu pun karena kemaren gua baru nonton Slumdog Millionaire.

Sebut gua aneh atau apa, karena dari sepuluh orang mungkin hanya satu yang bilang film ini bagus atau suka. Gua ga bilang bagus tapi gua hanya suka film ini dan sangat menantikan sekuel berikutnya.

Tuesday, August 10, 2010

SALT (2010)


Dulu Angelina Jolie pernah bekerja sama dengan Philip Noyce lewat film The Bone Collector (1999). Disini Jolie bermain bersama Denzel Washington. Film thriller ini cukup bagus menurut gua. Memang bukan film aksi. Hampir satu dekade, kini mereka kembali bergabung dalam film spionase, yang menurut gua keren. Sebenarnya Noyce banyak membuat film keren. Seperti kisah Jack Ryan dalam Patriot Games dan Clear and Present Danger. Lalu The Saint. Kemudian setelah The Quiet American, nama Noyce hampir menghilang. Dan gua yakin setelah Salt, karir Noyce akan kembali menanjak.




Pemeran utama film ini adalah Jolie. Menurut kabar sebenarnya peran ini untuk Tom Cruise. Sayang sekali Cruise malah memilih Knight and Day yang cukup mengecewakan. Jolie beradegan aksi sudah tidak aneh. Liat filmography-nya, ada dwilogy Tomb Raider, Wanted, Mr. and Mrs. Smith. Mungkin berbeda dengan pendapat teman-teman yang lain, inilah penampilan terbaik Jolie dalam semua deretan film aksinya. Gua suka adegan slow motion dari Jolie. Jolie terlihat tua tapi tetap menarik. Terutama kakinya kuat sekali. I must admit that Evelyn Salt is too powerful. Dia terlihat sangat hebat dan terampil bahkan lihai, yang akhirnya timbul sedikit pertanyaan kenapa dia bisa tertangkap di North Korea.


Pemain lainnya seakan-akan hanya tempelan, mungkin Liev Schreiber yang sedikit dominan. Performancenya bagus seperti biasa. Yang agak sedikit mis-casting menurut gua adalah Chiwetel Ejiofor. Awal sih masih terlihat pas tapi adegan mendekati akhir merusaknya menurut gua.

Banyak yang menganggap ini adalah Jason Bourne versi cewek. Namun waktu gua menontonnya, gua tidak menangkap image Salt seperti itu. Bahkan perseteruan antara Amerika dan Rusia mengingatkan gua akan thrillernya Ben Affleck, The Sum of All Fears. Lalu adegan recruitment dan training para agen, gua jadi teringat akan Soldier (Kurt Russell)

Penulis cerita patut diperhatikan. Kurt Wimmer juga dikenal sebagai sutradara Ultraviolet (Milla Jovovich) dan Equilibrium (Christian Bale). As a director, Wimmer memang bergerak sangat efektif dalam membuat film dengan pace cepat. Hal ini pun terlihat dengan alur cerita yang termasuk tidak mengenal lelah dari Salt. Jika melihat imdb, banyak juga cerita yang ditulis oleh Wimmer, antara lain Street Kings, The Recruit dan The Thomas Crown Affair. Salt memiliki beberapa twist yang sebenarnya cukup menarik tapi dengan banyaknya “garam” yang gua sudah gua makan hehehe, twist itu tertebak namun tidak mengurangi kenikmatan gua menonton film ini. Bahkan film ini masuk top ranking untuk daftar favorit gua tahun ini. Mungkin yang sedikit kurang dieksplore adalah hubungan Evelyn dengan suaminya sehingga ada momen dimana gua ga peduli dengan apa yang terjadi dengan suaminya.

Satu lagi yang gua perhatikan adalah sang editor. Jujur, diantara filmmaker, yang paling gua perhatikan adalah sang sutradara. Cita-cita gua yang tidak sampai hehe… Stuart Baird sang editor sebenarnya pernah jadi sutradara juga lewat Executive Decision, U.S. Marshall dan Star Trek : Nemesis. Entah kenapa akhirnya beliau kembali menjadi editor.


Gua akui Noyce berhasil meramu sebuah film thriller aksi spionase yang menarik. Gua jamin kalian akan tertegun ke layar selama kurang lebih 100 menit. Melihat aksi keren dari Jolie yang untungnya minim CGI dan it’s not shaky. Bahkan Jolie terlihat cool sekali disini dibandingkan di Wanted. Bujet 110 juta dolar, jelas sudah digunakan dengan baik sekali oleh Noyce. Well done. Kabarnya Noyce sudah berencana untuk membuat sekuelnya. I’m looking forward to it. Dengan kesederhanaan cara Noyce meramu film ini, membuat film ini enak untuk diikuti meskipun pacenya cepat. Maksud gua kesederhanaan disini, Noyce tidak menggunakan style unik atau sejenisnya, paling hanya sedikit flashback. Angle kamera pun biasa (dan yang pasti tidak shaky), CGI sedikit sekali. Gua hampir lupa, adegan awal mengingatkan akan adegan di Die Another Day (untung tidak ada iringan lagu dari Madonna)


Yang gua perhatikan dari film-film Hollywood akhir-akhir ini adalah dimana mereka mengerahkan sekuat tenaga mengenai isi film tapi lupa memperhatikan endingnya. Untunglah ending film ini tidak jelek tapi juga tidak bagus-bagus amat. Bisa dibilang tipikal film spionase atau tipikal bakal ada sekuel. Namun jika bakal dibuat sekuel dan berhasil, maka siap-siaplah untuk menyambut franchise dari Salt.


Akhir kata, yang harus mendapatkan pujian atas Salt adalah Noyce dan Jolie, yang menurut gua berhasil menghidupkan film ini dan melejitkan film ini masuk daftar film favorit gua tahun ini (dan daftar itu sangat sedikit untuk tahun ini)


P.S. Ikut sebagai co-writer adalah Brian Helgeland (di imdb ga ada tapi di Wikipedia namanya tercantum)