Sunday, May 30, 2010

LETHAL WEAPON (1987)

Genre : Drama - Romantis
Directed by : Richard Donner
Produced by : Richard Donner, Joel Silver
Starring : Danny Glover, Mel Gibson, Gary Busey
Written by : Shane Black
Music by : Michael Kamen, Eric Clapton, David Sanborn
Cinematography : Stephen Goldblatt
Edited by : Stuart Baird
Running time : 110 minutes
Budget : US$ 15 millions
Distributed by : WARNER BROS


Lethal Weapon bisa dikatakan awal masuknya Mel Gibson di kancah Hollywood, walaupun sebenarnya orang sudah mengenal dia lewat film Mad Max. Masih muda, jika dibandingkan dengan dalam Edge of Darkness (jauhlah...). Begitu juga Danny Glover dibandingkan dalam 2012. Musuh abadi mereka memang waktu. Seperti yang mereka katakan di Lethal Weapon 3. Karena gua belum pernah nonton film ini sedangkan gua uda nonton film lainnya. Jadi disinilah gua baru mengerti kenapa judulnya Lethal Weapon.

Film tentang polisi yang urakan, berani mati dan ugal-ugalan sangat menarik pada jaman itu seperti Dirty Harry. Mungkin sekarang ini bukan masanya lagi. Jadi waktu gua nonton ini, kebetulan gua belum pernah nonton film perdananya ini, kalo sekuel-sekuelnya gua uda nonton. Gua terbawa oleh rasa kangen akan karakter seperti ini dan terbawa ke dalam cerita. Ditambah, latar belakang Riggs memberikan alasan perangainya seperti itu. Beruntunglah hatinya baik.

Mungkin karena bosan dengan alur cerita pada film-film masa kini, gua puas dengan film ini. Bayangkan film ini dibuat 23 tahun yang lalu, tapi bukan berarti gua tidak terpuaskan. Malahan ada perasaan aneh di benak gua. Perasaan apa itu, biarlah gua simpan sendiri (gayanya...) Untungnya film ini tidak menggunakan CGI sehingga gua tidak mengalami kemunduran tehnologi perfilman. Tapi patut diacungi jempol untuk stunt actionnya.

Sebagai sutradara, Richard Donner yang sebelumnya cukup piawai menggarap Superman the movie beserta spesial efeknya, berhasil “membumi“ dengan film ini. Memang jika dibandingkan dengan sekuel-sekuelnya yang lebih menonjolkan adegan aksinya dan unsur komedinya lebih banyak. Tapi disini unsur dramanya memang sama-sama menonjol. Sebuah film pertama yang berhasil menurut gua. Memiliki dasar yang kuat untuk para lanjutannya. Donner memang pantas untuk menyutradarai keempat film Lethal Weapon.

Gibson dan Glover pun tetap bermain apik sampai jilid empatnya. Bahkan nanti muncul karakter-karakter baru yang menambah suasana “hiruk pikuk“ franchine film ini. Bisa dikatakan juga inilah film yang lebih mengangkat nama Gibson di kancah Hollywood. Mungkinkah akan ada seri ke-5nya? Kita tunggu saja.

Penulis cerita Shane Black, cukup piawai dalam menggabungkan dua karakter berbeda dalam satu film lalu meneruskannya hingga beberapa seri. Walaupun yang seri terakhirnya terselamatkan berkat penampilan Jet Li (menurut gua). Satu hal lagi yang jadi perhatian gua bahwa editor film ini Stuart Baird adalah orang yang nantinya menyutradarai Executive Decision dan U.S. Marshalls. Jangan lupakan juga sang produser Joel Silver, yang kelak menjadi produser The Matrix Trilogy.

Sebagai referensi saja. Lethal Weapon menghasilkan US$ 120 juta di seluruh dunia (di Amrik US$ 65 juta) modalnya US$ 15 juta. Lethal Weapon 2 memperoleh US$ 227 juta (di Amrik US$ 147 juta). Lethal Weapon 3 mendapatkan US$ 321 juta (di Amrik US$ 144 juta) dengan bujet US$ 35 juta. Film terakhirnya mengantongi US$ 285 juta (di Amrik US$ 130 juta) dengan dana yang lebih besar US$ 140 juta.

Monday, May 24, 2010

A WALK TO REMEMBER (2002)

Genre : Drama - Romantis
Directed by : Adam Shankman
Produced by : Denise Di Novi, Hunt Lowry
Starring : Shane West, Mandy Moore, Peter Coyote, Daryl Hannah
Written by : Nicholas Sparks (novel), Karen Janszen (screenplay)
Music by : Mervyn Warren
Cinematography : Julio Macat
Edited by : Emma E. Hickox
Running time : 102 minutes
Budget : US$ 11 millions
Distributed by : WARNER BROS

Dulu gua pernah baca buku berjudul Message in a Bottle (MIAB). Gua juga ga tau kenapa gua baca buku ini. Padahal gua biasanya baca buku sci-fi seperti karangan almarhum Michael Crichton atau novel tentang pengacara karangan John Grisham. Tapi ketika gua membaca MIAB, gua terhanyut oleh ceritanya. (yeah gua ga malu ngakuin, kalo gua jadi suka baca buku romance haha) Mungkin suatu hari nanti gua cerita tentang Horse Whisperer (hehe). Tapi begitu gua nonton film MIAB. Hancur sudah khayalan romantis gua. Memang, buku tidak bisa dibandingkan dengan filmnya karena mereka adalah dua hal yang berbeda. Tapi tetap film “berhutang” kepada buku karena biasanya orang berbondong-bondong menonton film saduran dari buku karena sudah membaca novelnya. Can’t blame the readers. Film yang dibintangi oleh Kevin Costner itu bukan jelek tapi tidak berhasil mewujudkan keromantisan gua. Gua memang orang yang romantis kok. Tanya aja istri gua kalo ga percaya, hehe.

Dan entah kenapa juga, terakhir-terakhir ini gua lagi cenderung pengen nonton film drama romantis. Mungkin ingin mengasah tingkat keromantisan gua ket tingkat yang lebih mumpuni atau mungkin gua ingin meningkatkan nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat. Buset gua mulai melantur. Setelah kemaren, gua nonton While You Were Sleeping. Kini gua nonton A Walk To Remember. Berdasarkan novel karangan Nicholas Sparks yang juga mengarang MIAB. Gua belum baca A Walk to Remember, tapi setelah menonton film ini, gua berniat untuk membacanya.


Kisah cinta remaja yang dikemas secara menarik, meskipun awal film tidak menggambarkan sebuah cerita yang bakal terjalin dengan indah. Sampai akhirnya gua pun terkesima dengan beberapa adegan yang sangat menyentuh. Kredit lebih gua berikan kepada Mandy Moore yang berakting sangat natural dan pas sekali. Padahal basicnya dia adalah seorang penyanyi. Mungkin karena faktor inilah, dipilih Mandy karena ada beberapa adegan yang mengharuskan dia mengeluarkan talentanya. Juga Peter Coyote sebagai ayahnya yang bermain sangat baik. Memperlihatkan sosok ayah yang bijaksana. Dan tentu saja, tepuk tangan gua berikan kepada sang sutradara Adam Shankman. Bravo. Bikin lagi drama romantis based on Nicholas Sparks’ books hehe. Masih ada The Rescue yang belum difilmkan kalo ga salah.


Lagu-lagu indah yang menghiasi hampir sepanjang film menambah nilai sentimentil film. Membawa gua lebih masuk ke dalam atmosfer film. Landon yang diperankan oleh Shane West bisa dianggap berhasil tapi di beberapa adegan agak terlihat bahwa Shane sedikit kurang pas tapi masih okelah.


Menurut penilaian gua, film ini adalah bukan tentang Jamie tapi tentang Landon. Perubahan yang dialaminya dari seorang anak yang bengal menjadi anak yang ingin selalu menjadi lebih baik. Semua itu dikarenakan cinta yang hadir diantara dia dan Jamie. Semua hal buruk di kehidupan Landon berubah berkat cintanya kepada Jamie. Dari cita-citanya, hubungan dengan teman satu gengnya, juga hubungan dengan ayahnya. Maka gua bisa mengatakan bahwa ini adalah kisah cinta remaja yang tidak ringan tapi berbobot. Yang tadinya gua pesimis melihat adegan awal, lambat laun gua terbawa suasana. Jujur saja hal ini terjadi setelah Jamie bernyanyi di panggung sandiwara. Gua seakan-akan terhipnotis oleh indahnya cinta mereka. Dan....lebih baik anda tonton sendiri saja. Yang pasti film ini langsung masuk daftar film drama romantis favorit gua. So very recommended guys!!!

P.S. Tadinya gua hanya suka lagi Cry, tapi kini gua juga jadi suka lagu Only Hope, juga dinyanyikan oleh Mandy Moore.

Wednesday, May 19, 2010

IP MAN 2 (2010)

Genre : Drama - Aksi
Directed by : Wilson Yip
Produced by : Raymond Wong
Starring : Donnie Yen, Sammo Hung, Lynn Hung
Written by : Edmond Wong
Music by : Kenji Kawai
Cinematography : Poon Hang Sang
Edited by : Cheung Ka Fai
Running time : 109 minutes
Budget : US$ 12 millions
Distributed by : MANDARIN FILMS



Sepanjang pengalaman menonton film martial arts Hongkong, sekuel terbaik menurut gua adalah Kungfu Master 2 (Once Upon A Time in China 2) yang dimainkan oleh Jet Li. Tsui Hark berhasil membuat sekuel yang lebih baik dari pelopornya (disutradarai oleh Tsui juga). Tingkat cerita yang dibawa oleh Kungfu Master 2 lebih berbobot. Adegan tarungnya pun menarik, digarap oleh Yuen Wo Ping. Kebetulan juga Kungfu Master 2 ikut diperankan oleh Donnie Yen sebagai musuh Li.

Kembali ke IP Man 2, saat gua menonton film perdananya, gua terperangah melihat fighting scenesnya yang minimalis tapi mantap. Gua uda tau style film-filmnya Donnie seperti Black Protector 4 (In The Line of Duty 4), Tiger Cage 1 dan 2 dan film-film terbarunya seperti SPL atau Flash Point. Memang gaya Yen berbeda dengan Jet Li atau Jackie Chan. Yen bermain cepat dan praktis. Lihatlah perbedaan Blade 2 dengan Blade lainnya dan Highlander : End Game, dimana penata laga di kedua film itu adalah Yen. Tapi yang gua surprise bahwa ternyata penata lagi di IP Man adalah Sammo Hung. Memang dia adalah termasuk aktor laga yang handal, tapi sejauh ini belum ada fighting scene ciptaan Sammo yang membuat gua terkesima. Baru lewat IP Man lah, gua berdecak kagum dan salut pada Sammo. Begitupun sekuelnya ini, masih meng-hire Sammo sebagai penata laga ditambah dia ikut tampil pula. Jelas bukan prestasi yang menurun untuk Sammo, karena gua menikmati adegan fight di film ini. Hanya yang kurang adalah waktu di film pertamanya, musuh Donnie sering dilihat close-up seakan-akan mereka benar-benar kena gebuk atau kena tendang, di film keduanya ini hal itu dikurangi. Teman-teman bakal terkagum-kagum melihat pertarungan di meja bundar. Satu lagi yang membuat gua terkagum-kagum adalah pertarungan pertama dengan calon muridnya yang menurut gua sangat bagus sekali. Mengenai ending film ini, kalo yang pertama gua ga terlalu suka karena ga terlalu spektakuler. Kalo yang kedua, terlalu didramatisir sehingga malah jadi membuat gua bête.

Berusaha eksis di Hollywood dengan bermaen cameo di kedua film (Blade dan Highlander) lalu bermain jadi antagonis di Shanghai Noon, masih belum bisa mengangkat nama Donnie Yen di kancah Hollywood. Tapi setelah hijrahnya beberapa aktor nomor top Hongkong ke Hollywood seperti Jet Li, Jackie Chan, Chou Yun Fat dan lain-lain. Membuka peluang buat Yen berkiprah di Hongkong dan memang Yen termasuk laris untuk main film-film aksi Hongkong. Lihat saja film-film terakhir yang masuk ke Indonesia seperti Bodyguards and Assasins, 14 Blades semua diperankan oleh Yen. Disini Yen memang pas sekali bermain sebagai Yip Man dan gua pun tidak bisa membayangkan kalo karakter ini dimainkan oleh siapapun bahkan Li sekalipun. Yen is the perfect man for this character. Hampir sulit untuk menilai pemain lain, karena benar-benar Yen adalah magnet yang membuat film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton. Kebijaksanaannya, kerendah hatiannya dan terutama gaya berkelahinya yang cool dan mantap. Sayang sekali Wilson Yip sang sutradara kurang memberikan nilai lebih untuk bobot dramanya, hanya menggugah di awal-awal saja. Begitu juga dengan karakter Simon Yam yang tidak diperlihatkan lebih banyak lagi. Padahal ini bisa menambah bobot cerita. Bagi yang belum nonton film petama, mungkin agak sedikit bingung dengan tokoh yang diperankan Yam karena ini merupakan salah satu benang merah dari film pertama. Yam itu adalah temanYip waktu di Foshan yang sering membantu keluarga Yip.

Menonton film ini membuat gua membandingkannya dengan Iron Man 2. Memang berbeda genre, tapi yang gua perbandingkan adalah kepuasannya. Gua lebih puas nonton IP Man 2 daripada Iron Man 2 yang menurut gua membosankan. Sedangkan IP Man 2 hanya membosankan di bagian akhir. Jadi gua lebih merekomendasikan IP Man 2 buat ditonton. Don’t Miss it!

Gua nonton di Ciwalk XXI ditulis di display bahwa subtitle kurang jelas. Memang banyak yang ga ada subtitle di beberapa adegan tapi tidak membuat gua tidak mengerti jalan ceritanya. Jangan membuat yang lain urung untuk menonton yah. Karena memang jalan ceritanya simple kok.

Monday, May 10, 2010

WHILE YOU WERE SLEEPING (1995)

Genre : Drama - Komedi
Directed by : Jon Turteltaub
Produced by : Roger Birnbaum, Joe Roth
Starring : Sandra Bullock, Bill Pullman, Peter Gallagher, Peter Boyle, Jack Warden
Written by : David G. Sullivan, Fredric LeBow
Music by : Randy Edelman, Diane Warren
Cinematography : Phedon Papamichael Jr.
Edited by : Bruce Green
Running time : 103 minutes
Budget : US$ 18 millions
Distributed by : HOLLYWOOD PICTURES


Who knows the movie called The Vanishing (1992) yang dibintangi oleh Kiefer Sutherland? Or maybe ada yang tau film Love Potion No. 9 (1993)? Ah kalo yang ini mungkin pada tau, film Demolition Man? Kalo tau, mungkin dikarenakan pemainnya adalah Slyvester Stallone. Gua ganti deh pertanyaannya, tau film Speed? Gua yakin pasti pada tau semua. Semua yang gua sebutkan diatas adalah film dimana Sandra Bullock berperan, dan iya setelah Speed lah namanya menjulang naik. Begitu pula dengan Keanu Reeves.


Lewat film ini, Sandra pun makin mengukuhkan namanya di kancah Hollywood. Gimana tidak, dengan bujet US$ 18 juta bisa menghasilkan US$ 182 juta di seluruh dunia (di Amrik US$ 81 juta). Sebenarnya gua uda nonton film ini dulu, tapi penilaian gua hanya di atas rata-rata, tapi kemaren gua nonton lagi dan it turned out to be a very sweet movie. (did I say very sweet?) yeah, I am not ashamed to admit it. Because film ini memang bercerita dengan manis sekali. Sandra pun bermain manis sekali disini. Senyumnya, tatapan matanya, gerak geriknya bahkan tutur katanya. Jelas dia berhasil memesonakan penonton. Sebuah cerita yang simple tapi diramu dengan sangat tepat oleh sang director, Jon Turteltaub. Dialog-dialognya yang lucu, situasi-situasi yang menggemaskan dan yang pasti tidak membosankan untuk ditonton berkali-kali. Ditambah beberapa music score yang sangat mendukung.

Jon mungkin dikenal sekarang sebagai sutradara film dwilogi National Treasure. Sebenarnya gua menyukai dua film Jon yang lain Phenomenon (John Travolta) dan The Kid (Bruce Willis), tapi ntar gua tonton lagi ah, siapa tau persepsinya berbeda kalo nonton lagi. Tapi disini, Jon berhasil membuat penonton (gua) terkesima dengan ringannya adegan demi adegan mengalir, menariknya hubungan antara para karakter. Tawa, gemas dan haru bercampur jadi satu. Tidak banyak film drama romantis seperti ini apalagi jika dibandingkan dengan film-film baru yang mungkin ide ceritanya sudah semakin sulit dijaga keasliannya. Ditambah iringan musik yang selalu membantu menekankan keadaan film apakah lagi gembira, lucu, mengharukan atau lagi jatuh cinta.


Pasangan main Sandra adalah Bill Pullman. Disini dia bermain manis juga. Buset semuanya gua sebut manis. Bahkan tidak bisa dipungkiri, penulis review ini pun orang yang manis (halah…) Kembali ke Bill, kelak dia akan bermain gemilang di Independence Day sebagai Presidan Amerika. Gua suka penampilan simpatik Bill di ID4, bahkan pidatonya menjelang invasi merupakan salah satu momen yang sangat menginspirasi. Sayang bintang terangnya redup setelah ID4. Tidak ada filmnya yang benar-benar memorable. Sori, gua ketinggalan, sebelum ID4, Bill pernah bermain bagus juga di Casper.

Jadi saran gua, bagi seluruh teman-teman yang mengaku orang romantis, tontonlah film ini. Karena jujur ini film romantis banget. Chemistry antara Bill dan Sandra yang terlihat kikuk malah menambah nilai film ini. Dan hebatnya masing-masing karakter membantu keutuhan film ini. Mereka berperan seakan-akan bukan sedang berakting.


Gua membahas film ini dalam rangka menyambut Hari Valentine yang masih 9 bulan lagi (masih jauh kaleee). Penuhilah hari-hari kita dengan kasih sayang. Jika anda sudah punya keluarga, hargailah keluarga anda. This is a movie about family values. Please watch it. :D

Thursday, May 6, 2010

IRON MAN 2 (2010)

Genre : Drama - Aksi
Directed by : Jon Favreau
Produced by : Kevin Feige, Avi Arad, Susan Downey
Starring : Robert Downey Jr. , Don Cheadle, Gywneth Paltrow, Scarlett Johansson, Mickey Rourke
Written by : Justin Theroux
Music by : John Debney, Tom Morello
Cinematography : Matthew Libatique
Edited by : Dan Lebental, Richard Pearson
Running time : 12 minutes
Budget : US$ 200 millions
Distributed by : PARAMOUNT PICTURES

Sudah nonton Iron Man 2? Gua sudah (sedikit bangga) dan gua sekarang mau kasih reviewnya. Tapi jika anda ingin berniat nonton film ini, lebih baik anda tidak membaca review gua. Ocehan gua ini mungkin tidak sesuai dengan beberapa teman-teman lain dimana mereka menyukai sekuel Manusia besi yang bisa dibilang pembuka deretan film musim panas. Sebagai summer movies, film ini tidak terlalu hot. Kata orang jangan terlalu berekspektasi lebih sebelum menonton dan itu yang gua lakukan tapi ternyata tetap tidak menolong.

Film dibuka dengan kilas balik film pertama (bagian pidato terakhir Tony Stark) tapi tidak sememorable pembukaan Spiderman 2 yang menurut gua salah satu opening credit terbaik di antara film ber-genre superhero. Gua bersemangat melihat adegan berikut munculnya Ivan Vanko, salah satu musuh Iron Man. Bagus pembawaan Mickey Rourke. Dalam batin, gua berpikir yeah, a good start. Diikuti oleh adegan persidangan yang menarik. Hmm…another point to make this a good movie. And adegan di Monaco. Oh my…absolutely this is one of best movies for this year. Gua lagi di awang-awang, film yang menyenangkan. And then, drama…komedi…drama again…komedi again, sampai gua berpikir kapan nih film selesai. Dan akhirnya BAM…kesalahan Jon Favreau di film pertama muncul kembali. Sekedar mengingatkan , film pertama bisa dikatakan sukses sebagai film yang menceritakan munculnya karakter Iron Man meskipun gua akui film perdananya kurang maksimal, kurang klimaks di bagian akhir. Dan sayangnya ini terjadi lagi di sekuelnya. Jadi dengan terus terang, gua menggolongkan film ini sebagai film drama bukan film aksi superhero. Drama plus komedi lebih tepatnya dan mungkin pameran gadget-gadget keren yang mungkin sebagian besar tehnologinya belum ada saat ini.



Keseragaman sekuel-sekuel film Hollywood terakhir-terakhir ini adalah harus dibuat lebih megah, lebih gempita, lebih banyak karakter dan tentu saja lebih banyak uang mengalir. Tapi sayangnya hal itu belum tentu berarti hasilnya lebih baik dari yang pertama. Seperti kasus Transformers 2, menurut gua ini terjadi lagi di lanjutan Iron Man. Jadi nasehat gua sebagai seorang pakar film hehe ga lah, gua mah cuma seorang penggemar film, jangan terlalu berharap banyak dengan film ini. Tontonlah sebagai sekedar pengisi waktu karena film ini memang efektif untuk menghabiskan waktu hampir dua jam dibioskop dengan hiburan badut berupa robot merah orange atau merah kuning. Ditambah robot-robot besar lain (tapi tidak sebesar robot di Transformers) yang menurut gua kok jadi kayak mirip golden army-nya Hellboy 2.

Hilanglah feel yang gua rasakan waktu menonton film sebelumnya. Memang sudah lazim jika superhero sekarang harus lebih dimanusiawikan. Tapi harap jangan terlalu berlebihan. We still need a hero sometimes. The World needs superhero. Especially superhero movies. Gua tidak merasa kasihan dengan nasib yang menimpa Tony Stark. Juga hilang sudah kegemasan gua melihat hubungan Tony dengan Miss Potts disini. Hilang sudah 17 ribu gua.

Bila anda merasa satu villain kurang. Jon memberi satu lagi yaitu Justin Hammer. Jika masih kurang, Jon memberikan lagi War Machine untuk mendampingi Iron Man. Masih kurang, Jon memberikan Natasha alias Black Widow. Masih kurang lagi, buatlah film sendiri. Banyak yang bilang kehadiran Scarlett membuat mata segar. Memang iya walaupun gua lebih suka penampilan dia dalam The Island. Lebih mengena dengan karakter wajahnya. Scarlet jelas memberi kesegaran pada mata tapi tidak pada hati. Jujur saja penampilan dia tidak membuat film ini menjadi lebih baik. Membuat gua tidak puas hati, hati tidak enak, serasa ada yang mengganjal di hati, hati mangkel, hati berang dan berbagai jenis macam hati lainnya (mulai lebay, uda jam 2 subuh sih)

Seperti film sebelumnya, sesudah ending credit…lama banget, muncullah sekilas scene tentang film marvel berikutnya. Waktu gua nonton di blitz, hampir setengah penonton menunggu adegan ini. Terima kasih buat blitz yang sudah memutar filmnya sampai habis dan para crewnya yang sabar menunggu kita pulang. (gua nonton hari Selasa tanggal 4 Mei 2010 jam 8.15 di Audi 1 blitz Paris Van Java)

Jon Favreau sebagai sang sutradara yang cukup berhasil membuat Iron Man pertama menjadi salah satu film Superhero yang laris kini sayangnya ketularan M. Night Shyamalan yang tampil banyak di Lady in The Water. Kini Jon pun tampil lumayan sering, walaupun memang dia seorang aktor yang pernah muncul di Daredevil, Deep Impact bahkan pernah muncul di serial Friends. Kalo dibilang hal ini membuat film menjadi kurang maksimal tidak juga. Lihat saja Mel Gibson yang melakukan segalanya di Braveheart, buktinya hasil filmnya bagus. Ini semua di skenarionya yang kacau, tidak jelas arahnya kemana. Bahkan yang terlihat sangat dominan adalah sebuah cerita pengantar untuk kisah The Avengers. Hal ini membuat sedikit rancu, karena pada kemana superhero anggota The Avengers lainnya ketika kota tempat Stark Expo dikacaukan oleh para robot-robot keluaran Hammer industry. Bagi penggemar komik Marvel jelas pasti sangat antusias menyambut kehadiran The Avengers dengan segala deretan superhero-superheronya. Tapi bagi yang bukan penggemar komik, mungkin merasa biasa saja. Bahkan mungkin tidak sadar bahwa Tony Stark menggunakan perisai Captain America sebagai penyangga pipa. Menonton film ini membuat gua berangan-angan andai film ini bukan berjudul Iron Man 2, apakah akan banyak orang yang berduyun-duyun untuk menonton film ini? Teman-teman tau kan arti berduyun-duyun? Berduyun-duyun tuh artinya berbondong-bondong, beramai-ramai.

Tapi beruntunglah pahlawan-pahlawan super yang join di klub Marvel karena waktu kalian sudah tiba untuk bermunculan di layar lebar. Sebentar lagi ada Captain America, Thor dan bahkan The Avengers. Sedangkan di kubu DC, hampir adem ayem promosinya. Paling juga Green Lantern, sekuel dari Batman sedangkan pahlawan super gua, Superman entah sedang terbang kemana?



Sebagai Tony Stark masih
Robert Downey Jr. Aktor satu ini makin laris saja. Berkat perannya sebagai Ironman namanya meroket, bahkan memerankan tokoh lain yang tidak kalah populernya, Sherlock Holmes. Entah bagaimana jadinya kalo Downey diganti aktor lain. Dia sudah kadung jadi Ironman yang menurut gua cukup pas. Sedangkan Rhodes yang dulu diperankan oleh Terence Howard karena sesuatu dan lain hal (ehem…money) kini diganti oleh Don Cheadle. Banyak yang menganggap Cheadle tidak dapat menggantikan Terence. Tapi buat gua, ga menjadi masalah asalkan jangan digantikan oleh aktor kulit putih.




Dua pemanis di film ini adalah Ms. Potts dan Natasha Romanoff. Potts tetap dimainkan oleh
Gywneth Paltrow. Salah satu aspek yang membuat gua suka dengan Ironman pertama adalah interaksi “malu-malu onta” antara Potts dan Stark. Hanya sayang disini tidak terlalu difokuskan lagi. Disini lebih difokuskan antara karakter masing-masing. Dilema yang dihadapi oleh Stark karena keracunan Paladium dan Potts yang harus memegang jabatan CEO Stark Industries. Sedangkan Natasha Romanoff aka Black Widow (janda hitam jelas bukan sejenis tarantula) namun gebrakannya mantap. Sekali lagi penampilan Scarlett tidak membantu film ini meskipun gua akui ini bukan kesalahan Scarlett, dia sudah bermain ok.




Sumber kekacauan di dunia manusia besi adalah Ivan Vanko yang diperankan dengan cukup baik oleh
Mickey Rourke jelas mempunyai semua motivasi untuk membunuh Stark. Di awal film, hal ini cukup memberi ketegangan yang intens sampai adegan balap mobil di Monaco.
Musuh kedua adalah kompetitor Stark yaitu Hammer industries. Dimainkan oleh
Sam Rockwell. Robot hasil kreasi antara Hammer dengan Ivan Vanko harusnya bisa menjadi musuh yang tangguh dibandingkan Ironmonger di film pertama. Sekali lagi gua bilang Jon membuat kesalahan yang sama dengan membuat klimaks yang sangat singkat. Penantian yang sia-sia sepanjang film.

Satu lagi tokoh kunci adalah Nick Fury yang diperani oleh
Samuel L. Jackson. Ya inilah benang merah antara semua karakter di dunia Marvel dalam membentuk The Avengers. Mudah-mudahan tetap Samuel yang memainkan peran ini dalam semua filmnya Marvel yang related to The Avengers. Gua bingung bagaimana mereka memadukan semua karakter superhero dengan masing-masing pemerannya dalam satu film. Bagaimana dengan honor mereka yang pastinya?

Gua lupa satu lagi pengisi suara computer si Jarvis adalah
Paul Bettany.

Beruntunglah film ini memiliki judul Iron Man, andaikan berjudul The Story of a robot, jelas belum tentu laku dengan kualitas seperti ini. Menghibur banyak orang, tapi yang pasti bukan gua. Hanya beberapa kali, gua tertawa. Kalo berharap akan banyaknya aksi, lebih baik jangan nonton. Kalo dibandingkan dengan yang pertama, jelas lebih bagus yang pertama. Cukup sudah sekuel Iron Man, langsung saja loncat ke The Avengers.

Saturday, May 1, 2010

MISSION TO MARS (2000)

Genre : Drama – Scifi
Directed by : Brian De Palma
Produced by : Tom Jacobson
Starring : Gary Sinise, Tim Robbins, Connie Nielsen, Don Cheadle, Jerry O’Connell
Written by : Lowell Cannon, Jim Thomas, Jon Thomas, Graham Yost (screenplay)
Music by : Ennio Merricone
Cinematography : Stephen H. Burum
Edited by : Paul Hirsch
Running time : 114 minutes
Budget : US$ 100 millions
Distributed by : TOUCHSTONES PICTURES

Pertama kali gua nonton film ini ya tahun 2000. Waktu itu nih film pernah jadi cover Cinemags. Gua lupa edisi berapa, males mau nyarinya. Dan gua juga lupa duluan mana film yang gua tonton. Ini atau Red Planet-nya Val Kilmer. (terlalu banyak film yang gua tonton, dan anehnya selalu saja ada film yang belum pernah gua tonton). Tapi feeling gua bilang sih, gua nonton film ini dulu karena beberapa saat kemudian, gua baru berpikir bahwa lebih bagus Red Planet daripada Mission to Mars. Tapi setelah gua tonton lagi nih film, pendapat gua sedikit berubah. Film ini punya nilai tersendiri.

So guys, review gua ini berdasarkan pengalaman menonton untuk yang kedua kalinya. Tema yang terkandung di film ini ternyata sulit untuk ditebak. Bahkan ketika film sudah selesai, gua masih merenung solusi dari film ini. Is it possible? Gua sih tidak mempermasalahkan masalah itu, hanya menurut gua itu salah satu nilai lebih film ini.


Jika dilihat keseluruhan, film ini tidak mempunyai klimaks yang berarti kecuali kesimpulan film yang cukup mengejutkan. Walaupun demikian, ada beberapa adegan yang cukup untuk membuat gua terkesima seperti munculnya bentuk wajah di permukaan Mars lalu juga adegan menari di kapal luar angkasa. Dan ada yang cukup membuat gua menahan napas ketika semua crew terpaksa mengungsi keluar dari pesawat mereka dan berjalan hmm…mungkin istilah tepatnya melayang di luar gravitasi Mars. Minimnya suara membuat adegan ini lebih menegangkan lagi. Kalo berdasarkan tehnologi sekarang jelas film ini sangat terlihat biasa. Tapi jika diukur 10 tahun yang lalu jelas spesial efek film ini masih terlihat biasa juga. Hehe. Perjalanan ke angkasa dengan pesawat luar angkasa yang membuat gua kagum itu adalah filmnya Ridley Scott, Alien. Hampir 32 tahun yang lalu tapi Hollywood sudah bisa membuat hal seperti itu.

Sang sutradara, Brian De Palma. Tidak banyak filmnya yang gua tonton. Bentar gua liat dulu daftarnya. Hmm… The Untouchables-nya Kevin Costner, gua hanya tonton sebagian, Casualties of War-nya Michael J.Fox juga cuma nonton separo. Jadi yang gua tonton sampe abis adalah ... sori ketinggalan Raising Cain juga gua tonton sebagian. Bukannya film-film tersebut jelek tapi karena gua tonton di TV, karena banyak iklan jadi nontonnya sebagian-sebagian aja. So film Brian De Palma yang gua suka adalah Mission Impossible dan Snake Eyes. Dan kebetulan dua-duanya gua suka. Iyalah, hanya 2 film itu yang gua tonton dari awal ampe habis. Sayangnya sesudah M2M (bukan grup musik tapi singkatan judul film ini) tampaknya sedikit film yang dibuat oleh Brian dan yang masuk ke Indonesia mungkin hanya Black Dahlia. Satu lagi yang ketinggalan, Bonfire of The Vanities (yang maen Tom Hanks) kalo yang ini gua tonton di Laserdisc dan sayangnya gua uda lupa ceritanya. Tapi yang pasti bukan film Hanks favorit gua nih.




Dengan pertimbangan yang tidak jelas, gua menetapkan peran utama film ini adalah Gary Sinise. Setelah tampil gemilang dalam Forrest Gump, mungkin hanya Apollo 13 yang cukup mumpuni. (kedua kalinya Gary bermain bersama Hanks). Gua juga suka Impostor dan Ransom. Tapi mungkin sekarang ini yang membuat Gary terkenal adalah serial CSI : New York. Ada pepatah yang mengatakan bila aktor/aktris layar lebar yang sudah bermain di serial televisi sulit untuk mengangkat namanya lagi. Entah benar atau tidak. Tapi Robert Downey Jr. ternyata bisa kembali meraih sukses di film bioskop.

Pemeran pembantunya, ga enak ah, katanya diganti dulu. Pemeran pendukung, nah ini lebih pas. Tim Robbins. Filmnya Tim banyak sekali. Kalo disebutin satu persatu, bisa besok baru selesai reviewnya. Jadi gua ambil singkat aja, film Tim yang gua suka yaitu Arlington Road. Kenapa? Bukan karena aktingnya tapi karena endingnya yang cukup twisted. Dan sayangnya tidak banyak orang tau film ini. Jadi gua sering memendam endingnya untuk diri gua sendiri. Kalo ada yang uda nonton boleh ntar sharing ama gua.

Aktor yang ketiga adalah Don Cheadle. Gua merasa ketika Don bermain santai, semua karakternya hampir tipikal semua. Mungkin hanya di Hotel Rwanda yang membuat dia mendapat nominasi Oscar untuk aktor terbaik. Dan gua pengen liat apakah Don bisa menggantikan Terence dengan baik di Ironman 2.


Jerry O’Connell, pria lagi. No complain guys, ini tentang Mars, si planet merah mewakili sang pria. Kalo judulnya Mission to Venus, baru pemainnya cewe semua. Tidak banyak yang tahu bahwa Jerry pernah punya kekuatan super ketika dia bermain serial tv berjudul My Secret Identity. I like this series.

Tolong jangan komplen lagi yah. Gua kasih nih Connie Nielsen. Setelah film ini, Connie main bareng Russell Crowe di Gladiator. Masih kurang tentang Connie? Dia juga pernah maen bareng John Travolta di Basic. Di M2M, Connie memperagakan gerakan luwesnya dalam keadaan zero gravity. Adegan yang menarik.

Menurut gua Mission to Mars punya “misi” tersendiri yang dibawa oleh film ini. Dan gua suka film sains seperti ini, mencoba merambah “lahan” ide baru. Kembali lagi ke kita mau percaya atau tidak. Dan kembali lagi, ini hanya sebuah film.