Monday, March 29, 2010

PERCY JACKSON & THE OLYMPIANS : THE LIGHTNING THIEF (2010)

Genre : Adventure - Fantasy
Directed by : Chris Columbus
Produced by : Chris Columbus, Michael Barnathan, Karen Rosenfelt
Starring : Logan Lerman, Brandon T. Jackson, Alexandra Daddario, Jake Abel, Sean Bean, Pierce Brosnan, Uma Thurman
Written by : Craig Titley, Joe Stillman, Rick Riordan (novel)
Music by : Christophe Beck
Cinematography : Stephen Goldblatt
Edited by : Peter Honess
Running time : 118 minutes
Budget : US$ 95 millions
Distributed by : 20th CENTURY FOX


Franchise Harry Potter mendekati akhir karena tinggal jilid terakhir yang filmnya belum muncul dan kabar pastinya akan dibuat dua film untuk melengkapi buku terakhirnya dengan harapan agar penggemar HP bisa terpuaskan oleh filmnya. Dan produser pun terpuaskan dengan banyaknya pundi-pundi dolar yang akan mereka raih.

Sampai saat ini belum ada lagi film fantasi yang diambil dari buku yang bisa mengejar kesuksesan Harry Potter kecuali The Lord of The Rings (TLOTR). (Beruntunglah Harry Potter karena TLOTR hanya terdiri dari tiga jilid) Chronicles of Narnia pun masih tersendat-sendat di filmnya yang ketiga, The Voyage of the Dawn Treader. Eragon pun terjungkal kalah, dan jilid keduanya The Eldest tidak tahu kabar beritanya apakah akan dilanjutkan atau tidak. Kini muncul calon saingan baru. Dengan latar belakang mitologi Yunani yang digabungkan dengan realita modern. Sebuah ide yang cukup bagus, menurut saya. Dan bagaimana hasilnya menurut saya? Apakah bisa menyaingi serial Harry Potter? Nanti di akhir review baru saya berikan opini akhir saya. Harap bersabar.

Sebenarnya saya tidak terlalu mengenal mitologi Yunani. Hanya karena saya pernah bermain dua buah game yang berjudul God of War makanya saya sedikit tertarik dengan mitos ini. Satu faktor lagi yang membuat saya tertarik menonton film ini adalah posternya. Terlihat begitu keren bagaimana Percy memegang Zeus’ Bolt dan seakan-akan berdiri di atas lautan. Dan mungkin karena ada sedikit pengetahuan saya tentang Zeus dan kawan-kawan maka saya tidak bingung oleh alur cerita film ini yang menurut saya agak terlalu cepat. Saya belum baca bukunya, tapi saya yakin banyak sekali informasi-informasi penting yang terlewatkan di film, dengan asumsi bahwa penonton tahu siapa itu Zeus, Hades, Medusa dan lain-lain. Itulah salah satu kelemahan film ini. Sedikit membuat bingung penonton yang tidak mengerti tentang dewa-dewi Yunani. Apalagi jika diperhatikan lebih lanjut, ceritanya kadang bahkan menyindir para dewa-dewa tersebut. Lihat saja Hades yang berpakaian ala rocker. Begitu juga dengan tempat tinggal para Dewa yang ternyata kebetulan sekali berada di Amerika. Beruntunglah Amerika. Jangan lupa, Harry Potter dan kawan-kawan ada di Inggris.

Sebenarnya agak tepat jika kita membandingkan Percy Jackson dengan Harry Potter karena sangat kebetulan sekali bahwa Chris Columbus yang menangani film pertama dari kedua tokoh ini. Tapi sekali lagi, jujur saja, saya tidak pernah mendengar tentang novel Percy Jackson sebelum saya mengetahui tentang filmnya. Berbeda dengan novel Harry Potter yang sudah terkenal dimana-mana sebelum terdengar kabar akan dibuat filmnya. Dan untungnya seri pertama Percy Jackson ini cukup mendapat tanggapan positif dilihat dari pemasukannya di seluruh dunia. Saya sedikit optimis bahwa film ini bakal dibuat sekuelnya. Dan IMHO tampaknya Columbus tidak akan menyutradarainya, mungkin akan beralih ke Alfonso Cuaron? (it’s a joke)

Melihat premise cerita, seharusnya memang banyak menggunakan special efek tapi ternyata untuk film bergenre fantasi, menurut saya film ini tidak termasuk wah untuk ukuran tehnologi Hollywood yang sudah canggih. Terus terang, saya kurang puas dengan penggunaan sepatu terbang, padahal jika diramu adegan yang menggunakan sepatu terbang, film bisa lebih menarik lagi. Adegan pertarungan di angkasa kurang seru. Masih kalah dibandingkan Matrix Revolution atau Spiderman 3. Tapi sayangnya menurut saya, inilah adegan terbaik di semua film. Begitu juga dengan scene air yang bisa dikontrol oleh Percy. Bisa lebih dahsyat lagi. Ditambah villain film ini yang kurang kuat, padahal ini tentang para Dewa Yunani. Salah satu lagi poin yang membuat film menjadi kurang menarik. Jangan harapkan pertarungan para dewa karena disini mereka hanya menjadi bintang tamu. Dan saya berharap mereka akan bertarung di seri keduanya. Jika alasannya ingin memanusiakan dewa-dewa, masih belum dapat feel-nya menurut saya. Malah mereka terlihat lemah. Kurang greget.


Dibandingkan dengan Harry Potter, cast pemain Percy Jackson lebih terkenal. Seperti Pierce Brosnan, Sean Bean (keduanya pernah main bersama dalam Goldeneye), lalu ada Uma Thurman sebagai Medusa. By the way, adegan Medusa pun hanya sekedar lewat untuk mencari sebuah mutiara. Tidak ada unsur ketegangannya sama sekali, padahal Medusa bisa membuat orang jadi patung dengan menatap matanya (mudah-mudahan di seri keduanya Medusa bakal lebih garang). Diantara semua karakter, yang paling menarik adalah Alexandra Daddario. Warna matanya membuat dia cocok menjadi seorang anak Dewi. Selama ini masih banyak bermain dalam serial televisi seperti Damages atau Law & Order. Logan Lerman, sang pemeran utama punya tampang oke, tapi aktingnya masih harus diasah lagi. Padahal dia sudah banyak bermain dalam film seperti 3:10 to Yuma, Gamer, The Butterfly Effect dan bahkan pernah jadi anak Mel Gibson dalam The Patriot. Tentang si half-goat, pantesan saya seperti sudah melihat dia, ternyata dia maen bareng Ben Stiller di Tropic Thunder. Dan sekali lagi dia bertemu dengan Steve Coogan (pemeran Hades) dalam satu scene setelah Tropic Thunder. Sekedar informasi, Seperti Trio Harry – Hermione – Ron. Jagoan kita di film ini pun adalah Trio. I wonder kenapa harus selalu bertiga.

Jadi kesimpulan saya yang belum membaca bukunya. Berilah Percy Jackson sebuah kesempatan untuk melanjutkan ke sekuelnya (jika masih ingin dibuat sekuelnya). Karena ada beberapa aspek yang bisa berkembang dari film pertamanya, seperti para Dewa yang belum bertindak apapun. Beruntunglah Percy Jackson beredar sebelum Clash of The Titans, jika tidak film ini akan terbanting oleh hype-nya. Tapi jika ingin dibuat sekuelnya harus dipikirkan matang-matang segala sesuatunya. Tapi untuk Columbus merupakan sebuah kemunduran karena sebelumnya dia berhasil memvisualisasikan Harry Potter dengan baik dan menjadi start yang luar biasa untuk franchise yang terkenal di seluruh dunia. Sekedar catatan saja, Harry Potter di bawah naungan Warner Bros. Sedangkan Percy Jackson di bawah bendera 20th Century Fox. Apakah akan berbeda jika didanai oleh Warner Bros? (entahlah) Tapi lihatlah New Line Cinema yang sukses menelurkan TLOTR tapi gagal dalam Golden Compass.

Hampir lupa so far, jika dibandingkan dengan Harry Potter, film pertamanya Percy Jackson ini belum bisa disandingkan dengan Harry Potter. Mohon maaf jika ada yang tidak setuju.

Wednesday, March 17, 2010

HOWL'S MOVING CASTLE (2004)

Genre : Animasi
Directed by : Hayao Miyazaki
Produced by : Toshio Suzuki
Starring : Chieko Baisho, Takuya Kimura, Akihiro Miwa
Written by : Hayao Miyazaki, Diana Wynne Jones (novel)
Music by : Joe Hisaishi
Edited by : Takeshi Seyama
Running time : 120 minutes
Budget : ¥ 2,4 billion
Distributed by : TOHO


Film animasi ini memiliki judul berbahasa Jepang yaitu Hauru no ugoku shiro. Film keluaran studio Ghibli ini berasal dari novel berjudul sama karangan Diana Wynne Jones. Sebenarnya pengalaman saya menonton film buatan Ghibli sangat minim bahkan bisa dikatakan mendekati nol (kalau ini sih ungkapan yang berlebihan). Saya tonton Princess Mononoke di VCD dan hanya menonton disc pertama, bukan karena tidak bagus tapi karena disc keduanya error. Lalu saat nonton Spirited Away, setelah hampir setengah jam akhirnya dimatikan karena ada keperluan dan akhirnya tidak dilanjutkan. (sekali lagi bukan karena faktor filmnya tidak menarik). Satu-satunya yang saya tonton habis adalah Grave of the Fireflies. Beruntunglah saya menonton film ini duluan karena menurut banyak orang, film inilah yang paling menyedihkan di antara semua film studio Ghibli. Memang betul, sehabis nonton Grave of the Fireflies, saya tidak bisa tidur untuk beberapa jam ke depan. Karena ending film ini jelas bikin depresi.

Kembali ke Howl’s Moving Castle (HMC), sulit untuk memberi review film animasi dan sejujurnya inilah film animasi pertama yang saya review. Selama ini, saya sering menonton film animasi Hollywood, terutama produksi Disney atau Pixar. Mungkin memang soal teknologi mereka lebih menang. Tapi mengenai cerita, film animasi non Amerika belum tentu kalah. Seperti ketika saya menonton Waltz With Bashir. Saya begitu terpesona oleh penuturan gaya ceritanya, yang menurut saya cukup unik. Soal animasinya mungkin masih kalah tapi hal itu tidak menjadi nilai minus untuk film itu. Dan pengalaman yang sama ketika saya menonton film-film keluaran Ghibli. Jelas animasinya bukan dalam versi 3 dimensi. Bahkan mungkin masih lebih jelek daripada film-film 2D keluaran Disney. Tapi anehnya, kita seperti terserap masuk ke dalam alur cerita film yang, bisa dibilang penuh imajinasi yang luar biasa. Dan kadang-kadang angle yang diambil sineas Asia sedikit unik dan berbeda sehingga memberikan atmosfer yang berbeda bahkan lebih memberikan dampak lebih menekan ke perasaan yang menontonnya. (Film Asia lebih banyak berbicara lewat gambar tanpa dialog)

Tapi sayangnya, seperempat akhir film sedikit membingungkan. Tapi, itu mungkin disebabkan karena pengalaman saya masih minim tentang animasi buatan Ghibli ini. Cerita yang sudah menarik dibangun dari awal dirusak oleh akhir film yang mungkin kurang dimengerti. (bukan endingnya ya). Termasuk musik yang minim untuk ukuran film animasi (mungkin ini memang gaya film animasi Asia). Namun ada beberapa adegan yang mungkin hanya akan ditemui dalam animasi asia. Saya berangan-angan bagaimana kalau adegan itu dibuat live action-nya pasti keren sekali. Yaitu waktu Sophie diajak terbang oleh Howl. Luar biasa imajinatif.

Mengenai novelnya, banyak yang mengatakan bahwa novelnya jauh berbeda dengan filmnya. Seperti kebanyakan juga, banyak yang lebih menyenangi novelnya daripada filmnya. Tapi seperti yang saya bilang, saya menyukai film ini sampai mendekati seperempat bagian akhir. Karena agak sedikit membingungkan untuk menginterpretasikan visualisasi yang tampil dalam film. Berbeda dengan Grave of The Fireflies yang ceritanya lebih membumi. Memang cerita HMC lebih ke arah mistis dengan segala penyihir yang ada serta makhluk-makhluk yang aneh bentuknya. Hanya tidak berkesan menyeramkan atau dark. Awal film masih berlangsung lambat ditambah banyaknya adegan hening tanpa suara. Lalu kelucuan-kelucuan mulai muncul.
Moving Castle-nya pun dirancang sedemikian rupa sehingga bisa berjalan kemanapun pemiliknya ingin pergi.


Diantara semua, saya tertarik dengan tokoh Markl, yang samarannya membuat saya selalu terbahak-bahak. Kocak sekali. Karakter Sophie pun cukup menarik. Setelah paro pertama berakhir, perhatikan perubahan fisik yang selalu terjadi pada diri Sophie. Hal ini termasuk bagian yang menarik dari film. Karakter Sophie yang kuat banyak diperlihatkan, misalnya ketika dia menaiki tangga untuk sampai ke istana dengan memeluk seekor anjing. Juga karakter Calcifer, si setan api punya peranan penting (ternyata).

Entah kenapa, banyak film animasi sekarang, ironisnya adalah bukan untuk konsumsi anak-anak. Seperti HMC pun, menurut saya cocoknya bukan untuk anak-anak, karena bobot ceritanya yang berat. Juga setting ceritanya yang kelam, bakal bikin mereka tidak ceria lagi. (just kidding)


Sebagai tambahan pengisi suara versi Hollywood film ini adalah aktor-aktris yang cukup terkenal seperti Christian Bale, Emily Mortimer, Billy Crystals.
Dan banyak juga yang mengatakan bahwa film ini masih kalah dengan Spirited Away. (sayang sekali, saya belum menonton filmnya sampai selesai), jadi saya belum dapat memberikan perbandingan. Namun pemasukan film ini sudah mencapai sepuluh kali lebih bujetnya.
Mungkin pembahasan saya tentang HMC kurang berkenan, mungkin jika saya lebih sering menonton film-film buatan Hayao Miyazaki, saya akan lebih memahami ide-ide pemikirannya. Saya akan berusaha untuk menonton film-filmnya yang lain. Dan berjanji akan menonton ulang Spirited Away karena hampir di semua review, film inilah yang menjadi masterpiece Hayao.

video

Tuesday, March 9, 2010

COMING SOON : CLASH OF THE TITANS (2010)

Genre : Action - Fantasy
Directed by : Louis Leterrier
Produced by : Basil Iwanyk, Kevin De La Noy, Richard D. Zanuck
Starring : Sam Worthington, Liam Neeson, Ralph Fiennes, Alexa Davalos
Written by : Travis Beacham, Phil Hay, Matt Manfredi
Music by : Ramin Djawadi, Neil Davidge
Cinematography : Peter Menzies Jr.
Edited by : Vincent Tabaillon, David Freeman
Running time : 118 minutes
Budget : unknown
Distributed by : WARNER BROS



Salah satu film yang saya antisipasi tahun 2010 adalah Clash of The Titans (COTT). Film yang menceritakan pertarungan antara dewa-dewi di mitologi Yunani. Tidak seperti Percy Jackson yang dikombinasikan dengan masa modern (yang menurut saya cukup brilian juga ide ceritanya), Tapi COTT memang mengambil setting yang sesuai dengan masanya. Sebenarnya saya tidak terlalu mengetahui tentang mitologi Yunani kecuali nama dewa-dewinya yang sering saya temukan di sebuah film. Tokoh-tokoh seperti Zeus, Hades, dan lain-lain, saya dapatkan di film animasi Hercules keluaran Disney. Tapi yang membuat saya lebih mengenal Zeus dan kawan-kawan adalah ketika saya memainkan dua buah game di PS2, yaitu God of War dan sekuelnya. Game yang masuk dalam daftar favorit saya ini memang bercerita tentang perjalanan seorang Kratos dalam sepak terjangnya bersama karakter-karakter dalam mitologi Yunani. Hal inilah yang membuat saya menantikan COTT. Ditambah yang menyutradarai adalah Louis Letterier. Saya suka penanganan dia akan Jet Li di Danny the Dog (Unleashed), walaupun sebenarnya saya sangat berharap The Incredible Hulk garapannya bagus sekali tapi ternyata masih kurang maksimal (sangat disayangkan). Mudah-mudahan bisa ditebus oleh COTT.

COTT sebenarnya remake dari film dengan judul yang sama yang diproduksi tahun 1981. Kerja berat untuk Louis karena orang akan membandingkan kedua film ini. Kalau soal spesial efek jangan tanya, pasti COTT 1981 akan kalah sangat jauh. Saya belum nonton yang versi dulu jadi belum bisa memberi komentar. Seperti kasus The Day The Earth Stood Still, banyak yang mengatakan bahwa remake-nya yang dibintangi oleh Keanu Reeves cukup mengecewakan. Sekali lagi saya belum menonton versi lamanya, jadi tidak bisa berkomentar tentang filmnya. Tapi menurut saya memang TDTESS versi baru memang serba tanggung.

Sebenarnya rilis COTT adalah 26 Maret 2010, tapi karena pertimbangan tertentu (mungkin tergoda oleh pemasukan Avatar) diundur jadi 2 April 2010 karena akan dibuat versi 3D. Dan jangan takut, saya yakin bahwa film ini akan main serempak atau malahan 1 atau 2 hari lebih cepat dari rilisnya di US. Dan saya sangat yakin bahwa pendapatannya akan melebihi US$ 100 juta di Amrik saja. Kenapa saya yakin? Salah satunya adalah karena faktor 3D itu.



Pemeran utama film ini adalah Sam Worthington. Pernah dengar? Ya, dia lagi laris-larisnya apalagi setelah Avatar bergaung kemana-mana. Seperti apa yang terjadi dengan Kate Winslet dan Leonardo DiCaprio. Sam bermain sebagai Perseus. Siapa itu Perseus bisa dilihat di Wikipedia. Bintang aktor ini lagi terang-terangnya dan beruntung sekali bahwa film yang dibintanginya akhir-akhir ini memperoleh hasil yang memuaskan.



Zeus diperankan oleh Liam Neeson. Jangan tanya soal aktor satu ini, daftar film larisnya cukup panjang, seperti Batman Begins, The Phantom Menace, dan suaranya yang khas mengisi suara Aslan dari film Chronicles of Narnia. Proyek film dia berikutnya setelah ini adalah The A-Team, film yang diambil dari serial televisi jadul. Neeson akan bermain sebagai Hannibal.
Sebagai Hades adalah Ralph Fiennes. Yang pasti film Fiennes satu lagi adalah Harry Potter and The Deathly Hallows sebagai Voldemort. Ternyata Fiennes cocok untuk main protagonis dan antagonis.

video

Tuesday, March 2, 2010

EDGE OF DARKNESS (2010)

Genre : Drama - thriller
Directed by : Martin Campbell
Produced by : Graham King, Tim Headington, Michael Wearing
Starring : Mel Gibson, Ray Winstone, Bojana Novakovic
Written by : William Monahan, Andrew Bovell, Troy Kennedy Martin (miniseries)
Music by : Howard Shore
Cinematography : John Lindley
Edited by : Steven Kemper
Running time : 100 minutes
Budget : US$ 85 millions
Distributed by : SCREEN GEMS


Mel Gibson main film lagi dan jadi polisi lagi. Disini Gibson sebagai Thomas Craven seorang ayah dengan seorang anak perempuan. Tidak diceritakan mengenai istrinya. Terlihat sekali Gibson sudah menua. Kerutan-kerutan di wajahnya lebih kentara ketika terakhir saya melihat Signs. Jika kita melihat sejarah film-film Gibson, maka banyak hal-hal menarik yang sudah dicapai Gibson. Siapa yang tidak tahu Mad Max dan Lethal Weapon?

Selain menjadi aktor pun, Gibson pernah duduk di bangku sutradara, bahkan karya keduanya setelah The Man Without The Face, Braveheart berhasil membuat dia langsung meraih Oscar untuk sutradara terbaik. Lalu The Passion of The Christ berhasil meraup penghasilan box office yang luar biasa ditambah film ini tidak menggunakan bahasa Inggris (Aramaic). Ditambah dengan Apocalypto yang sekali lagi dengan berani Gibson tidak menggunakan bahasa Inggris malahan menggunakan bahasa asli suku Maya. Luar biasa.

Berasal dari miniseries TV di BBC produksi tahun 1985 dengan judul yang sama, juga dengan sutradara dan produser yang sama. Jadi teringat ketika Michael Mann menyutradarai Miami Vice the movie. Kan Mann termasuk yang memotori serial TV Miami Vice. Alhasil karya Mann untuk versi bioskopnya menurut saya cukup berhasil, karena saya suka kerjasama Mann-Fox-Farrell. Disinipun saya mencatat bahwa sound di Miami Vice pun begitu menggelegar.


Yang agak unik dari EOD adalah percikan-percikan memori Thomas Craven akan anaknya yang mengena pada saya. Karena mungkin karena saya punya anak perempuan. Satu lagi yang menarik dari film ini adalah adegan antara Gibson dengan Winstone. Adegan mereka semua menggambarkan adu pikiran, adu pendapat yang diutarakan dengan hati-hati. Dialog-dialog mereka pun singkat tapi tepat ke sasaran.


Martin Campbell terkenal sebagai sutradara film aksi. Yang menarik dari Campbell, adalah bahwa dia menyutradarai dua film James Bond dimana kedua-duanya adalah film pertama dari dua pemeran Bond yang berbeda. Goldeneye dengan Pierce Brosnan lalu Casino Royale yang diperankan oleh Daniel Craig. Dan hebatnya, kedua film itu memperoleh box office yang cukup memuaskan. Mungkin karena saya agak sedikit terpaku dengan nama Campbell di film ini, maka saya akan mengharapkan adegan aksi cepat tapi ternyata film ini berlangsung lambat. Campbell memutar roda film ini dengan perlahan. Hanya sayangnya hal ini membuat segala sesuatu menjadi agak tanggung. Sejujurnya saya menganggap misteri di film ini tidak berkembang dengan baik. Dan jangan juga berharap akan adanya adegan-adegan aksi. Yang sangat terasa adalah soundnya yang luar biasa keras, seperti suara tembakan, suara tabrakan. Cukup menyentak jantung. Tapi mengenai cara Thomas menyelidiki kasus sedikit menarik walaupun tidak semenarik Sherlock Holmes. Namun masih oke lah.


Yang bermain jadi anak Gibson adalah aktris Bojana Novakovic. Jika dilihat dari daftar filmnya, dia pernah bermain di Seven Pounds. Saya kok tidak memperhatikannya (mungkin nanti saya nonton lagi).

Seperti saya tulis di awal, Gibson terkenal dengan film Mad Max dan Lethal Weapon. Penonton menyukai kedua film ini, karena disini Gibson tampil enerjik dan maen “hantam” sana sini. Itulah yang disukai oleh kebanyakan penonton pria. Disini pun memang, Gibson masih maen “gebuk” tanpa basa basi. Hanya terlihat sekali, Gibson agak terbatasi aksinya. Mungkin memang karena faktor skenario juga, bukan karena faktor usia. Tapi jelas akting Gibson masih mumpuni. Tapi yang lebih menarik adalah akting Ray Winstone disini, logat Inggris plus gayanya yang cool dan cuek cukup menarik perhatian saya.

So Edge of Darkness hanya sekedar pelepas rindu akan Gibson. Sayang sekali sebenarnya kalau momen ini tidak digunakan Gibson untuk bermain dalam film yang memorable. Sehingga film ini hanya sekedar menambah daftar panjang film yang dibintangi Gibson dan tidak membekas di hati.