Tuesday, February 16, 2010

LEGION (2010)

Genre : Action - Horror

Directed by : Scott Stewart

Produced by : David Lancaster, Mitchel Litvak

Starring : Paul Bettany, Lucas Black, Tyrese Gibson, Dennis Quaid, Adrianne Palicki, Kate Walsh

Written by : Peter Schink, Scott Stewart

Music by : John Frizzel

Cinematography : John Lindley

Edited by : Steven Kemper

Running time : 100 minutes

Budget : US$ 26 million

Distributed by : SCREEN GEMS


Begitu lihat posternya, kesan yang pertama yang saya pikirkan adalah unik. Malaikat bersayap tapi di kedua tangannya memegang senjata. Sejujurnya saya suka sekali dengan premis ceritanya. Kiamat. Entah kenapa saya selalu suka dengan genre cerita seperti ini. Tapi biasanya film seperti ini dibagi dua. Kiamat oleh bencana alam dan kiamat oleh hal lain. Nah film ini adalah apocalypse yang disebabkan oleh sesuatu diluar bencana alam.


Saya tidak akan menceritakan apa penyebab bencananya, tapi jelas ide cerita film ini cukup langka. Dan sudah terbayang dalam benak saya bahwa akan terjadi sebuah pertarungan mati-matian umat manusia dalam mencegah kiamat ini. Imajinasi saya ternyata benar. Awal film dibuat kelam dibawah guyuran hujan dan kilatan petir. Jelas sesuai dengan jalan cerita. Seperti biasa kita diperkenalkan dengan karakter-karakter lain yang akan mengisi perannya sepanjang film. Lalu mulailah gebrakan pertama. Jantung saya mulai berdebar-debar diiringi musik yang mulai menghentak-hentak. Adegan berikutnya luar biasa menegangkan. Salah satu adegan seru yang pernah saya tonton. Batin saya merasa bahwa ini adalah pilihan film yang tepat yang saya tonton hari itu. Film sedikit menurun ritmenya. Lalu ada sedikit lagi lonjakan. Sampai akhirnya tidak ada lagi yang menarik.

Lenyap sudah bayangan cerita kiamat yang ada di pikiran saya. Yang pasti isi film ini hanya menarik di awal saja, jadi saran saya jangan sampai telat masuk bioskop. Tapi yang pasti anda boleh meninggalkan bioskop sebelum film berakhir.

Padahal jika dilihat dari deretan castnya, ada nama Paul Bettany. Mungkin memang dia tidak pernah bermain film aksi, tapi jelas selama ini dia sudah bermain cukup apik. Tapi penampilannya disini cukup “cool” Lalu ada Dennis Quaid yang makin laris saja. Kedua nama ini sebenarnya sudah merupakan modal yang cukup untuk membuat sebuah film menjadi menarik (ditambah premis cerita yang di atas rata-rata). Hanya sayang ide cerita yang menarik tidak dikembangkan lebih baik. Karakter-karakter yang ada pun tidak dibuat lebih mengesankan. Mereka hanya sekedar tampil untuk menceritakan masa lalu mereka dan kemudian mati. Sudah selesai tugas mereka sebagai aktor/aktris. Jelas ini menurut saya adalah kekurangan dari skenario yang tidak berkembang ke arah yang lebih baik.

Jika melihat “sayap” di film ini, saya langsung teringat dengan Contantine dimana hampir memiliki alur cerita yang sama. Tapi alangkah beda, sayapnya dalam bentuk visual maupun “sayap” dalam pengertian eksekusi cerita. Constantine jelas ide ceritanya malah lebih klise tapi dibuat dengan ramuan yang lebih pas. Sedangkan Legion mempunyai ide yang brilian tapi ramuannya malah mengurangi rasa.

Mungkin Legion mempunyai misi yang tersembunyi. Bayi yang sedang dikandung oleh Charlie. Lalu semua ini terjadi di Paradise Falls. Hanya sayang mungkin karena buruknya film ini, semua hal tersebut benar-benar tersembunyi dan tidak tersangkut di benak penonton. Setelah menonton pun, mereka hanya berkomentar, “That’s it!”

Untunglah sound film ini mendukung. Musik cukup setia memandu setiap adegan dengan pas. Spesial efek pun tidak terlalu dipaksakan. Dengan bujet yang hanya US$ 26 juta, film ini jelas tidak menghamburkan dananya untuk spesial efek yang berlebihan. Mobil-mobil yang diledakkan pun terlihat bukan mobil mahal. Para pemerannya pun bisa dihitung dengan jari, diluar pemain figuran. Padahal District 9 menghabiskan biaya yang tidak jauh US$ 30 juta. Tapi terlihat sekali betapa bagusnya spesial efek film itu.

Sang sutradara, Scott Stewart sering bekerja di belakang layar dalam bagian visual effect seperti film The Lost World : Jurassic Park, Harry Potter and Goblet of Fire, Superman Returns, Pirates of The Carribean : Dead Man’s Chest, Ironman. Tidak buruk untuk bagian awal film, hanya cara meramu Scott di pertengahan film seakan-akan terjebak dengan film yang bergenre sejenis. Tidak harus dengan pola yang sama Bung Scott. Buatlah gaya anda sendiri. Karena anda sudah mempunyai modal, ide cerita yang bagus. Sayang sekali Scott tidak memberi detil yang cukup kepada penonton, apa saja yang bisa dilakukan oleh karakter Gabriel dan Michael. Sehingga mungkin penonton pun akan bingung mengenai konklusi dari ending film. Dan banyak hal lain yang tidak dijelaskan di film ini.

Paul Bettany, ternyata dia menjadi pengisi suara Jarvis di Ironman. Saya tidak pernah mengetahui hal ini. Saya suka Bettany ketika dia bermain (tentu saja) di A Beautiful Mind. Suaranya yang dingin cukup khas. Kemudian berduet lagi dengan Russell Crowe di Master and Commander : Far Side of The World. Sayang penampilan mereka berdua termasuk biasa saja disana. Lalu bermain di The Davinci Code. Kini mencoba film aksi dengan melakukan baku tembak dan baku hantam di film ini. Sebenarnya Bettany cukup bermain bagus disini, hanya naskah cerita yang membatasi gerakannya. Dan ternyata Bettany masih akan bekerja sama lagi dengan Scott untuk proyek berikutnya Priest yang akan dirilis 2011. (masih bergenre action-horror). Semoga kerjasama mereka yang kedua ini akan lebih baik.

Dennis Quaid, semenjak cerai dengan Meg Ryan. Karir aktor berkharisma satu ini menanjak laris manis. Bermain dalam film-film besar seperti The Day After Tomorrow, G.I. Joe : The Rise of Cobra. Film Quaid yang saya suka adalah Frequency dan The Day After Tomorrow.

Jika anda penggemar serial Private Practice atau Grey’s Anatomy, maka akan mengenali sosok Kate Walsh yang berperan sebagai Dr. Addison. Dia berakting sedikit berbeda disini.

Jadi kesimpulannya, jangan sampai telat masuk karena hal-hal yang bagus hanya terjadi di awal film lalu terjun ke jurang kebosanan setelah pertengahan film. Dan dari endingnya bisa ditebak bahwa akhir film memberi jalan untuk sebuah sequel.

Tuesday, February 9, 2010

THE SPY NEXT DOOR (2010)

Genre : Action - Komedi

Directed by : Brian Levant

Produced by : Robert Simonds

Starring : Jackie Chan, Amber Valletta, Madeline Carroll, Will Shadley, Billy Ray Cyrus

Written by : Jonathan Bernstein, James Greer, Gregory Poirier

Music by : David Newman

Cinematography : Dean Cundey

Edited by : Lawrence Jordan

Running time : 89 minutes

Budget : unknown

Distributed by : LIONSGATE

Who doesn’t know Jackie Chan? Aktor laga ini sudah sangat terkenal di Asia. Sudah puluhan film yang dibintanginya. Diawal karirnya dia sempat hanya menjadi seorang stuntman. Mulai main dalam beberapa film tapi sinarnya masih belum terlihat. Tapi ketika dia maen di Snake and The Eagle’s Shadow dan Drunken Master, gayanya mulai terbentuk. Dengan paduan kungfu akrobatik ditambah dengan gaya komedi, mulailah Chan menapakkan karirnya di perfilman Hongkong. Ketegangan aksi Chan dalam film ditambah dengan dia melakukan adegan berbahaya sendiri tanpa menggunakan stuntman. Kita bisa mengetahui hal ini dengan cuplikan adegan shooting di akhir film yang selalu menjadi trademark filmnya Chan. Muncullah film-filmnya yang terkenal seperti Police Story (1-3), Project A (1 &2), Armour of God 1 dan 2 (disini berjudul Operation Condor), kemudian film-film lainnya yang banyak mengambil setting di luar Hongkong, misalnya Rumble in The Bronx, First Strike, Who am I dan lain-lain. Perlu dicatat, produser Hollywood mulai melirik Chan ketika Rumble in The Bronx diputar di bioskop Amerika dan meraih keuntungan yang lumayan.


Ketika hijrah ke Hollywood, film pertama Chan adalah Rush Hour, berpasangan dengan Chris Tucker. Ternyata cukup mendapat perhatian, yang kemudian dilanjutkan dengan sekuelnya yang ternyata meraih penghasilan tertinggi kedua di Amerika tahun itu. Dan akhirnya kini sudah mencapai jilid 3. Juga ada dwilogi Shanghai Noon dan Shanghai Knight, lalu 80 Days Around The World, The Tuxedo. Hanya perlu dicatat, keberadaan Chan di Hollywood sering dianggap sebagai aktor komedi, terlihat dari semua film Hollywoodnya yang didominasi oleh kelucuan khas Chan tapi minus adegan-adegan aksi berbahaya yang sering dilakukan Chan dalam film-film Hongkongnya. Jadi menurut saya pribadi, tidak ada film Hollywood-nya Chan yang betul-betul menarik.

Kini usia Chan sudah mulai menua. Adegan aksi pun sudah mulai dikurangi. Hal ini pun terlihat dari film-film Hongkongnya yang terbaru seperti New Police Story, The Myth dan Shinjuku Incident (tapi walaupun begitu masih tetap lebih bagus dari film Hollywoodnya). Sekarang adalah film terbarunya. Sebuah film keluarga. Diarahkan oleh Brian Levant yang pernah membuat The Flinstones dan Beethoven. Dan jangan berharap akan melihat aksi spektakuler Chan tanpa menggunakan stuntman. Jika anda berharap ingin melihat hal itu, saran saya lebih anda tidak menonton film ini. Tapi jika anda menginginkan sebuah film untuk keluarga anda, mungkin film ini akan mewujudkan keinginan anda.



Chan pun termasuk aktor yang jarang beradegan mesra dengan lawan mainnya. Bahkan untuk berciuman bibir termasuk jarang dan biasanya hal itu dilakukan untuk sekedar lucu-lucuan saja. Yang saya tahu, dia pernah berciuman dalam film Police Story 3, Twin Dragons, The Medallion (mungkin masih ada film lain yang saya lupa). Disini pun beliau beradegan ciuman lagi. Terasa aneh melihat dia beradegan seperti itu karena dia pernah diwawancara dan menjawab lebih sulit melakukannya daripada melakukan aksi tanpa stuntman.

Hanya sayang disini performa Chan tenggelam oleh karakter Ian yang menurut saya sangat memberi jiwa pada film ini. Adegan-adegan dialah yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Jika tidak ada Ian, saya akan pulang dengan muka cemberut dan mencela diri sendiri kenapa menonton film ini tanpa berpikir panjang (terlalu berlebihan ya hehe…).

Satu yang layak diperhatikan di awal film adalah cuplikan-cuplikan dari film-film Chan terdahulu. Yang banyak terlihat adalah potongan adegan dari Armour of God 2 (Operation Condor) juga ada The Tuxedo. Mungkin ingin menguatkan karakter Chan disini yang berperan sebagai seorang agen rahasia.

Chan disini terlihat tua dan gemuk. Aktor kelahiran tahun 1954 ini memang sudah main banyak film. Mungkin karena faktor usia, dia sering bermain lebih aman atau mungkin karena faktor film ini adalah produksi Hollywood makanya dia melakukan adegan yang aman-aman saja. Daftar film Hollywood Chan berikutnya adalah remake Karate Kid dengan Jaden Smith.

Salah satu yang menonjol di Hitch menurut saya adalah Amber Valletta. Disini Valetta bermain sebagai ibu anak-anak yang punya hubungan dengan Chan. Jika ditelusuri di imdb.com ternyata Valletta pernah bermain di What Lies Beneath.

Pemain lain yang patut dicatat adalah Billy Ray Cyrus. Yang jelas dia adalah ayah dari Miley Cyrus (Hanna Montana). Disini dia berperan sebagai partner Chan di agensi.




Ada 3 pemeran cilik yang bermain disini, tapi saya hanya tertarik dengan satu orang. Will Shadley. Dialah pemeran Ian yang menurut saya adalah nyawa film ini. Memang daftar filmnya belum panjang dan biasanya dia hanya jadi pengisi suara dari film-film seperti serial Avatar : The Last Airbender, serial Dirty Sexy Money.

Di film ini sebenarnya perkelahian antara Chan dengan anak muda agen Rusia sebenarnya bisa dibuat lebih menarik. Hanya sayang tidak dikembangkan tapi sekali lagi mungkin karena ini adalah film keluarga.

Jika anda penggemar film aksi Chan, saya tidak menganjurkan untuk menonton film ini. Jika anda penggemar film keluarga, saya sedikit merekomendasikan film ini. Yang sejujurnya menurut saya lebih bagus dari The Pacifier-nya Vin Diesel. Tapi banyak yang bilang sebaliknya juga. Jika anda penggemar Chan, anda tentu sudah tahu saran saya. Dibalik segala kekurangan dan kelebihan film ini, saya menangkap beberapa momen atau nilai keluarga yang tidak saya temui di Pacifier. Dan hal itu yang membuat saya cukup menyukai film ini. Saya ulang lagi, dan hal itu yang membuat saya CUKUP menyukai film ini.

Dan jangan lupa seperti film-film Chan yang lain, ada cuplikan bloopers di akhir film yang biasanya cukup menghibur.