Monday, July 20, 2009

TRANSFORMERS : REVENGE OF THE FALLEN (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : Michael Bay

Produced by : Steven Spielberg (executive producer), Lorenzo di Bonaventura, Ian Brcye, Tom DeSanto, Don Murphy

Starring : Shia LaBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro

Written by : Roberto Orci, Alex Kurtzman, Ehren Kruger

Music by : Steve Jablonsky, Linkin Park

Cinematography : Ben Seresin

Edited by : Roger Barton, Paul Rubbel, Joel Negron, Thomas Muldoon

Running time : 150 minutes

Budget : US$ 200 millions

Distributed by : PARAMOUNT PICTURES

Jika anda mempunyai khayalan waktu kecil mengenai mainan robot anda yang bisa bergerak leluasa atau mungkin berkelahi dengan robot lain. Transformers adalah salah satu visual nyata dari khayalan anda ditambah bonus, robot anda bisa berubah menjadi benda lain. Dimulai dari berupa mainan robot keluaran Hasbro. Difilmkan dalam live action oleh Michael Bay pada tahun 2007 dengan executive producer-nya Steven Spielberg. Dengan bujet US$ 150 juta menghasilkan kurang lebih US$ 709 juta di seluruh dunia. Dengan crew dan pemeran yang hampir sama dengan film pertamanya dibantu dengan tambahan bujet menjadi US$ 200 juta, Bay melanjutkan sekuelnya dengan judul tambahan Revenge of The Fallen.

Apa perbedaannya dengan film yang pertama? Yang pasti lebih banyak adegan aksi, ledakan lebih besar, robot lebih banyak. Sayangnya kini Megatron (pengisi suara Hugo Weaving) hanya menjadi pembantu seorang robot yang bernama The Fallen (pengisi suara Tony Todd). Ya, penampilannya mirip Predator dalam bentuk raksasa dan badannya berbalut metal. Inilah musuh yang harus dihadapi oleh para Autobots, yang mana BumbleBee dan Ironhide hanya sebagai peran “pembantu”. Nothing more. Disini Optimus Prime lebih berperan dan lebih terlihat hidup dari sebelumnya.

Disini saya suka dengan karakter Lennox, walaupun lebih banyak beraksi di Transformers pertama. Disini karakternya lebih kokoh dari yang pertama. Hanya sayang tidak diberi gerak lebih oleh Bay (atau skenario). Mungkin untuk film selanjutnya, bisalah tokoh Lennox ini diberi peran yang lebih besar, karena tokoh Sam ini sudah terlalu diforsir sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi yang dapat kita lihat dari karakter satu ini. Mudah-mudahan Bay membaca tulisan saya lagi, karena salah satu komentar saya untuk film yang pertama adalah terlalu cepatnya adegan pertarungan antar robot sehingga tidak terlihat jelas bagaimana gerakan mereka dan hal itu diperbaiki oleh Bay dalam sekuelnya ini. Banyak adegan slow motion pada pertarungan antar robot.

Sebenarnya hanya ada beberapa adegan dalam film ini yang membuat saya berkesan. Pesan saya, jangan sampai telat masuk ke dalam bioskop, karena adegan awal di Shanghai termasuk adegan yang menarik. Adegan satu lagi adalah pertarungan Optimus Prime dengan tiga robot dari Decepticons. Adegan ini mengingatkan saya dengan Hulk ketika bertarung dengan tiga anjing raksasa.

Jika anda penggemar Bay, pasti anda sangat mengetahui trademarknya Bay. Antara lain ; slow motion, adegan pesawat atau helikopter dengan background matahari, pergantian adegan tiap beberapa detik, kamera berputar dengan poros salah satu karakter atau dua karakter. Selain itu Bay senang bermain dengan pergerakan kamera dalam mengambil adegan. Terus terang, sebenarnya banyak yang sudah bosan dengan trademark Bay tapi disini menurut saya inilah yang membantu saya untuk tetap bertahan menonton film ini. Jika anda penggemar adegan aksi yang penuh ledak-ledakan, anda pasti tidak akan mengalami kejenuhan seperti saya. Mungkin durasi film yang terlalu panjang adalah salah satu faktor penyebabnya.

Ternyata dengan menambah jumlah berat metalik (tambahan jumlah robot maksudnya) tidak membuat film ini menjadi lebih baik.
Megatron pun tidak terlihat segarang waktu film pertama. Mungkin ini bukan tentang dia tapi The Fallen pun tidak terlihat kemampuan aksinya yang hebat.
Sudah menjadi sedikit trend di Hollywood dimana karakter yang kecil sering terhimpit di tengah-tengah pertarungan karakter-karakter yang lebih besar dengan tujuan untuk membuat penonton menahan napas. Hal ini dapat kita lihat dalam film Jurassic Park terutama yang ketiga. Lalu ketika Kingkong berkelahi dengan T-Rex dimana Naomi Watts berada di tengah mereka. Di film ini bisa kita temui dimana Sam berada ditengah-tengah pertarungan antara Optimus dengan tiga robot lain di hutan.

Pupus sudah harapan saya bahwa film sekuel Transformers ini akan menjadi salah satu film favorit saya tahun 2009 ini. Bolehlah (sampai saat ini), film ini merupakan pengumpul dolar terbanyak tahun ini, tapi menurut saya pribadi, film ini tidak pantas menjadi film paling laku tahun ini. Walaupun mungkin anda akan terpesona dengan segala kecanggihan yang terlihat pada layar, ledak-ledakan yang menggelegar di kuping anda yang membuat pandangan anda tidak pernah lepas dari layar. Sedangkan saya (pandangan sih memang tidak pernah terlepas dari layar) merasakan kejenuhan dan kebosanan akan tontonan yang diberikan Bay kali ini. Durasi film yang harusnya bisa lebih dipersingkat dengan memasukkan adegan-adegan yang perlu saja. (Bay, anda tidak perlu harus selalu memasukkan adegan-adegan lucu di tengah-tengah adegan tegang) Beruntunglah kalau itu memang adegan yang mengundang gelak tawa. Saya hanya tertawa ngakak ketika Leo, teman sekamarnya Sam, tersengat listriknya sendiri. Adegan lainnya hanya mampu membuat saya nyengir kuda dan adegan ‘lucu’ itupun segera terlupakan.

Sejujurnya tidak adil bila saya mengatakan bosan dengan film ini. Sekali lagi saya bilang, adegan awal di Shanghai cukup menggetarkan. Rusak-merusak sebuah kota merupakan ‘keahlian’ Bay. Dia punya jam terbang yang banyak untuk adegan seperti ini. Tidak banyak sutradara yang bisa ‘sekelas’ Bay dalam meramu adegan sejenis. Pertarungan tiga lawan satu di hutan (memang tidak orisinil) tapi dapat membuat saya berdecak kagum dan merasakan semangat Transformers yang sesungguhnya. Sisanya hanya adegan-adegan yang memperpanjang durasi film dan cuma memberikan kesempatan pada robot-robot lain untuk sedikit memperlihatkan sosoknya tanpa peran yang berarti. Bahkan mungkin anda akan sedikit bingung mana pihak lawan atau kawan. Dan ada beberapa robot yang bergabung menjadi sebuah robot besar yang mampu mengisap segala sesuatu di sekelilingnya. Robot ini adalah bintang tamu yang sangat istimewa sebenarnya. Tapi… (tonton sendiri saja deh).

Lupakan jalan ceritanya jika anda menonton film ini. Nikmati saja kemegahan special efek di film ini yang benar-benar dimanfaatkan sedemikian rupa sepanjang film ditambah adegan-adegan aksi yang memang benar-benar eye-candy. Jika anda bisa melakukan hal itu, maka anda akan merasa terpuaskan dengan film ini. Mungkin anda tidak akan merasa jenuh seperti saya. Bahkan mungkin anda akan tergoda untuk menontonnya sekali lagi, lagi dan lagi, terutama untuk para penonton pria. (iya bro, katanya Megan Fox adalah CGI terbaik dari film ini, hehe)
Akhir kata, mungkin ini adalah film terlaris Michael Bay tapi sayangnya bukan yang terbaik.

Thursday, July 2, 2009

PUSH (2009)

Genre : Action – Science Fiction

Directed by : Paul McGuigan

Produced by : Bruce Davey, William Vince, Glenn Williamson

Starring : Chris Evans, Dakota Fanning, Camilla Belle, Djimon Hounsou

Written by : David Bourla

Music by : Neil Davidge

Cinematography : Peter Sova

Edited by : Nicolas Trembasiewicz

Running time : 111 minutes

Budget : US$ 38 millions

Distributed by : SUMMIT ENTERTAINMENT

Sebenarnya Push mempunyai peluang yang bagus tahun ini karena sedikitnya film yang bertemakan super hero yang muncul. Tapi sayangnya hal ini tidak ditunjang oleh skenario film yang bagus. Temanya tidak diambil dari komik walaupun memang masih mengikuti trend X-Men atau mungkin serial Heroes (tapi menurut kabar sebenarnya proyek ini ada sebelum serial Heroes muncul).

Sebenarnya saya menyukai film dengan banyaknya karakter. Namun sayangnya film ini tidak memberikan waktu lebih untuk para penonton mendalami masing-masing karakter.

Disini kita diperkenalkan dengan istilah-istilah seperti Watchers (peramal), Movers (Pemindah benda dengan kekuatan pikiran), Pushers (yang bisa mempengaruhi pikiran orang lain), Shifters (yang bisa mengubah bentuk benda) dan banyak lagi yang lain. Sebenarnya dengan adanya Pushers ini , cerita berpeluang untuk menjadi bertambah rumit dan bisa mengarah ke berbagai sisi yang diinginkan oleh pembuat cerita sehingga menjadi lebih menarik. Tapi sayangnya hal ini tidak dilakukan. Adanya bermacam-macam twist tidak membuat film ini menjadi lebih baik. Hal-hal seperti itu dibiarkan begitu saja lewat. Bukannya meng “PUSH” penonton menikmati film ini malahan membuat penonton bingung dan berpikir keras sampai akhir film.
Sebenarnya klimaks film ini bisa sangat menarik dimana Nick berusaha mengecoh Watcher pihak musuh tidak bisa memprediksi masa depan. Tapi sekali lagi sayangnya sang sutradara, Paul McGuigan tidak bisa mengelola ini menjadi adegan yang menarik untuk diikuti.

Sebenarnya karakter Nick Grant (seorang movers amatiran) yang diperankan oleh Chris Evans disini lebih menarik dibandingkan dengan Johhny Storm dalam Fantastic Four. Sama-sama memiliki kekuatan khusus tapi dengan segala kekurangannya sebenarnya tokoh Nick bisa menarik simpati penonton.

Dakota Fanning berperan sebagai Cassie, disini diceritakan memiliki kemampuan sebagai Watcher (sayangnya kemampuannya ini tidak dimiliki dalam kehidupan nyata sehingga Fanning mau-maunya ambil peran dalam film ini). Memang disini Fanning terlihat lebih dewasa dengan pakaian dan gaya rambutnya. Tapi tidak lebih. Hanya itu yang didapat penonton dari karakter yang dimainkannya. Kata-katanya tentang ramalan kematian para tokoh protagonis tidak membuat kita merasa ikut khawatir dengan nasib para tokoh yang bersangkutan. Juga perhatikan adegan ketika dia mabuk untuk bisa melihat masa depan lebih jelas. Ada apa dengan adegan ini? Apakah dia bermaksud melucu? Tapi Setidak-tidaknya saya tertawa dengan lelucon tentang buah olive.

Camille Belle sebagai Kira pun tidak bisa berbuat banyak padahal dialah tokoh sentral di film ini. Untunglah wajahnya masih membuat segar mata penonton untuk terbuka setidaknya sampai pertengahan film.

Djimon Honshou adalah Henry Carver, seorang pushers seperti Kira. Dialah yang ada dibalik Division yang mengejar-ngejar Kira dengan tas-nya yang diincar oleh banyak pihak. Perlu saya ingatkan, tas ini hanya sekedar alasan untuk semua pihak di film ini untuk mengejarnya. Penonton tidak dibuat penasaran dengan apa isi tas itu. Rasa penasaran itu hanya muncul di awal film dan kemudian menghilang sampai batas penonton tidak peduli lagi dengan isinya. Mengenai aktingnya disini Djimon sangat biasa sekali.

Bila anda berpikiran film ini adalah versi lebih baik dari serial Heroes, well, silakan anda menonton film ini. Tapi bersiap-siaplah untuk kecewa karena nonton film ini seperti makan permen karet. Dimana lama kelamaan permen itu terasa hambar. Mungkin menurut perkiraan anda, setidak-tidaknya adegan aksinya patut dilihat. Hmm, maafkan saya jika saya berkata jujur bahwa adegan aksinya tidak terlihat spektakuler bahkan sangat biasa sekali. Film ini seperti drama ringan tentang manusia yang memiliki kemampuan khusus dengan dibalut sedikit adegan aksi yang biasa saja. Bagaimana dengan twistnya? Memang ada beberapa twist tapi anda tidak akan merasa terbawa oleh twist itu. Hanya sekedar sebagai pelengkap cerita saja. Ditambah banyaknya dialog-dialog yang hanya sekedar diucapkan oleh para karakter tanpa diikuti oleh penjelasan dalam film.

Entah apa yang salah dengan film ini? Idenya yang sudah membosankan sejak adanya X-Men, Heroes atau mungkin Sky High? Atau skenario cerita yang tidak berkembang? Atau akting pemainnya yang standar? Atau sang sutradara kurang bisa meramu semuanya menjadi tontonan yang menarik? Bahkan yang lebih parah, ada yang berkomentar bahwa tolong bawa seorang wiper (yang bisa menghapus memori) ke hadapannya untuk menghilangkan ingatannya tentang film ini. Sebegitu parahkah film ini?
Jangan terlalu diperhatikan kata-kata di atas, semua ini kembali lagi berpulang kepada anda setelah anda menonton film ini.

Satu-satunya yang membuat saya tertarik adalah pengambilan background kota Hongkong, daerah padat dengan gedung-gedung modern dan munculnya credit title di penghujung film (menandakan film sudah berakhir). Well, sebenarnya saya sedikit berbohong. Saya suka adegan ketika Nick menodongkan pistol melayang ke hadapan Carver setelah sebelumnya pistolnya melayang di langit-langit restauran. Memang mengingatkan saya akan adegan ketika Magneto menodongkan pistol ke semua polisi di X-Men pertama. Hanya disini diperlihatkan seakan-akan pistol itu dipegang langsung oleh Nick dan ketika Nick ragu, pistol itu pun ikut bergetar mengikuti keraguan Nick.