Tuesday, March 31, 2009

BODY OF LIES (2008)

Genre : Action – drama - thriller

Directed by : Ridley Scott

Produced by : Ridley Scott, Donald De Line

Starring : Leonardo DiCaprio, Russell Crowe, Mark Strong, Golshifteh Farahani, Alon Abutbul

Written by : David Ignatius (novel), William Monahan (screenplay)

Music by : Marc Streitenfeld

Cinematography : Alexander Witt

Edited by : Pietro Scalia

Running time : 128 minutes

Budget : US$ 70 millions

Rated : R (strong violence including some torture and for language throughout)

Distributed by : WARNER BROS


Ridley Scott sudah pernah bekerja sama dengan Russell Crowe dalam Gladiator (2000), A Good Year (2006) dan yang terakhir American Gangsters (2007) dan ditunggu saja kerja samanya yang kelima dengan Crowe dalam Robinhood yang rencana rilisnya tahun 2010. Sedangkan Crowe pernah bekerja sama dengan Leonardo Di Caprio lewat The Quick and The Dead (1995). Kini ketiga orang ini berkumpul dalam satu film berbasis spionase di Timur Tengah.

Bercerita tentang seorang agen CIA, Roger Ferris yang dibawah pengawasan Ed Hoffman berusaha mencari pemimpin peledakan bom di kota-kota besar Eropa yang bernama Al-Saleem. Dalam penyelidikannya, Ferris harus bekerja sama dengan Hani Salaam, pimpinan intelijen dari Yordania. Ferris harus mengadu strategi dengan Hoffman maupun dengan Hani. Konflik bertambah pekat dengan hubungan Ferris dengan seorang suster asal Iran bernama Aisha.

Jauh dari “King of the World”, kini Leonardo DiCaprio bersembunyi di balik jenggotnya. Disini Ferris fasih berbahasa Arab. Disini Ferris bimbang dengan segala tindakannya. Dia ragu untuk memihak antara Hani atau Hoffman. Ditambah kekasihnya Aisha di culik orang. Leo berhasil memainkan seorang agen CIA yang penuh dengan konflik pekerjaan dan asmaranya. Leo berhasil meninggalkan era remajanya hingga terlihat aktingnya yang semakin matang dan perannya yang semakin beragam.

Hoffman bekerja di belakang layar, seperti laba-laba yang bekerja di sarangnya di Langley. Penampilan Russell Crowe sangat 'biasa' sekali, dia terlihat nyantai dengan perannya sebagai agen Hoffman. Hoffman yang begitu biasa menangani masalah spionase sambil mengerjakan rutinitas seorang ayah. Crowe harus menambah bobotnya sehingga terlihat gendut karena memang Hoffman hanya bergerak di belakang layar sambil sekali-kali datang ke ‘war zone’. Walaupun berkutat dengan rutinitas bersama keluarga. Tapi Hoffman tak segan-segan mengorbankan anak buahnya dalam operasi lapangan termasuk Ferris. Tapi sayangnya karakter Crowe yang paling lemah diantara Leo dan Strong. Mungkin skenario yang tidak memungkinkan sehingga Crowe tidak bisa berakting lebih. Atau mungkin inilah tujuan dari munculnya karakter Hoffman, orang yang terlihat biasa saja tapi justru lebih berbahaya. Karena bisa mengambil keputusan yang menyebabkan orang tidak bersalah tewas asalkan tujuannya tercapai.


Diatas semuanya adalah penampilan dingin dari Mark Strong (ada yang mengatakan wajahnya sepintas mirip aktor Andy Garcia) sebagai Hani. Perlu dicatat Strong adalah aktor Inggris namun berhasil memainkan agen rahasia Yordania yang berkharisma. Setiap adegan, Strong berhasil mencuri perhatian kita dengan karakternya. Dialah bintang dari film ini. Kita dibuat terpesona dengan penampilannya. Pesonanya mengalahkan Leo dan Crowe. Bahkan terlihat jelas Ferris takut dan segan padanya. Hoffman pun terlihat tidak berkutik di hadapan Hani.

Screenplay ditulis oleh William Monahan (The Departed) berdasarkan novel karangan David Ignatius (seorang jurnalis). Ada beberapa yang diubah dari novelnya. Dalam novel Ferris tertarik dengan sukarelawan asal Amerika tapi disini digantikan oleh suster Yordania.

Film ini memiliki alur spionase yang rumit dengan tingkat cerita yang padat sehingga harus diikuti dengan seksama agar tidak ketinggalan jalan cerita. Apalagi ditambah lokasi cerita yang sering berpindah-pindah. Mungkin anda akan mengerutkan dahi di awal sampai pertengahan film. Karena memang, cerita film ini berbelit-belit dan sering berpindah lokasi dengan cepat. Intrik-intrik yang terjadi harus dicermati agar tidak ketinggalan alur cerita. Setelah satu jam berjalan, film mulai menunjukkan tujuannya. Anda akan menikmati permainan politik seperti ketika Ferris merencanakan untuk memakai seseorang sebagai teroris palsu (ini salah satu faktor yang menarik dari Body of Lies). Teknologi canggih yang mengubah cara pandang kita tentang operasi spionase yang modern. Adegan yang dilakukan untuk menutupi apa yang sedang terjadi di permukaan bumi agar tidak terlihat oleh satelit yang digunakan untuk memonitor kegiatan Ferris. Hal-hal seperti ini memberi nilai plus untuk film ini. Hanya sayang adegan ledakan tidak sedahsyat dalam The Kingdom, efek ledakannya tidak terlalu mengesankan, hanya sekedar tempelan. Tidak membuat penonton merasa ngeri dengan peristiwa itu. (Saya sempat terpana melihat ledakan kedua di The Kingdom)

Namun perlu diingatkan bahwa ini bukan cerita seorang agen CIA yang jagoan. Lihat ketika Ferris digigit seekor anjing lalu harus dirawat oleh seorang suster yang membuatnya jatuh hati. Pernah terbayangkan oleh anda apabila James Bond digigit oleh seekor anjing dan kemudian harus disuntik anti rabies. Inilah kerja asli seorang agen rahasia sesungguhnya. Rumit dan tidak menyenangkan. Kehilangan partner. Harus mengambil keputusan pahit di saat-saat genting. Dikhianati. Bahkan sampai disiksa.

Jika anda mencermati film Scott yang lain seperti Black Hawk Down, ada beberapa adegan yang mirip. Seperti pengawasan melalui TV besar via satelit. Beberapa adegan dishoot dari atas. Scott ahli dalam membuat adegan klimaks dalam pace yang lambat tidak seperti saudaranya selalu membuat film dengan pace cepat (maksudnya Tony Scott). Tapi yang patut diperhatikan juga adalah bagaimana Scott berhasil memperlihatkan bagaimana kultur kebudayaan di Yordania. Hal ini digambarkan dengan cukup signifikan dengan hubungan antara Aisha dengan Ferris. Cukup menarik.

Jika anda menyukai film thriller minus adegan aksi yang spektakuler, mungkin Body of Lies termasuk yang anda cari. Sepanjang film mungkin anda akan bertanya siapa yang lebih berbahaya, Ferris, Hoffman atau Hani. Atau anda akan bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan karakter Ferris. Ini yang membuat film menjadi seru. Tapi juga jangan salah kaprah, jika anda tidak kuat mungkin anda akan kebosanan dengan film ini sehingga tidak kuat untuk tetap menonton sampai akhir film. Sangat disayangkan bila itu terjadi karena film ini baru menunjukkan tajinya yang kuat di seperempat akhir film.

Saturday, March 28, 2009

DRAGON BALL EVOLUTION (2009)

Genre : Action – Adventure - Fantasy

Directed by : James Wong

Produced by : Stephen Chow, James Wong

Starring : Justin Chatwin, Chou Yun Fat, Jamie Chung, Emmy Rossum

Written by : Ben Ramsey, James Wong (screenplay) ; Akira Toriyama (comic)

Music by : Bryan Tyler

Cinematography : Robert MacLachlan

Edited by : Chris G. Willingham

Running time : 84 minutes

Budget : US$ 100 millions

Distributed by : 20TH CENTURY FOX

Menonton film ini, jadi teringat sebuah film garapan Roland Emmerich yang berjudul Godzilla, Namun ternyata hanya namanya saja yang dicomot. Sedangkan bentuk dan asal muasalnya pun dirombak sehingga tidak mencerminkan sosok Godzilla yang asli dari Jepang. Saya akui filmnya di atas rata-rata tapi cukup mengecoh para penggemar Godzilla. Bahkan sampai sekarang pun film Godzilla-nya Emmerich masih sulit ditandingi kedahsyatan special effectnya. Dan entah kenapa ketika menonton film ini, pikiran saya langsung teringat “Godzilla” ini.

Dragon Ball adalah komik rekaan Akira Toriyama yang memiliki jutaan penggemar. Pemeran utamanya Goku, kini diperankan oleh seorang pemuda bule. Masih ada tokoh Master Roshi, Bulma, Chi chi dan Yamcha. Dan tokoh penjahatnya di film ini adalah Piccolo. Tujuh bola naga masih menjadi bahan rebutan. Yang berbeda adalah jalan cerita dan latar belakang para tokoh yang dipadatkan dalam durasi film yang terbilang sangat singkat.

Apa yang diharapkan oleh para penggemar Dragon Ball adalah visualisasi dari komik yang terealisasikan ke layar lebar. Pernah ada film animasi Dragon Ball yang dibuat persis komik bahkan ada beberapa adegan tambahan yang dibuat lebih panjang. Tapi tetap tidak melenceng dari komik. Apakah ini yang anda inginkan? Bila iya, maka anda akan kecewa berat. Film ini hanya mengambil ide utamanya saja berikut beberapa tokoh utamanya, lalu dibuat cerita baru yang bisa dikatakan keluar dari jalur. Apakah ini suatu hal buruk? Jujur saja, bagi saya yang bukan fans Dragon Ball (meskipun saya pernah baca komiknya) , hal ini tidak menjadi masalah. Sah-sah saja jika mereka ingin merubah jalan cerita. Mereka sudah membayar royalti atau mungkin ini salah satu taktik dagang Hollywood agar menarik calon penonton. Karena nama-nama seperti Godzilla dan Dragon Ball sudah dikenal luas. Sayangnya hal ini menjadi bumerang bagi para pembuat film yang bersangkutan. James Wong dicaci maki. 20th Century Fox dikutuk. Teringat kasus Final Fantasy: Spirit Within yang alur ceritanya menyimpang dari game-gamenya sehingga membuat Final Fantasy terpuruk di box office ditambah bujet film yang terlalu tinggi.

James Wong dipuji berhasil menghidupkan film Final Destination 1 dan 3 menjadi film yang cukup seru untuk dinikmati. Lewat film teranyarnya ini, Wong tidak berhasil menggunakan semua asset yang ada. Adegan pertarungannya bagus di awal tapi menghilang di pertengahan film, padahal wong pernah berpengalaman menggarap Jet Li lewat The One. Banyak hal yang hilang dipangkas. Hal ini yang membuat penggemar Dragon Ball mencak-mencak sedangkan buat yang non pengemar bingung akan jalan cerita yang super cepat. Apakah ini sebabnya judulnya ditambah kata Evolution? Sehingga bisa digunakan sebagai dalih dari pihak pembuatnya bila ada yang protes dengan perbedaan yang ditemukan dalam film.

Justin Chatwin berperan sebagai Goku. Sulit untuk mencari pemeran Goku yang pas. Toh dikomiknya dia seorang anak kecil tapi berilmu tinggi. Mungkin anda pun bingung siapa yang pantas menjadi Goku. Apakah anak kecil yang sering berperan sebagai anak Jet Li seperti dalam Appointment with Death? Apakah partnernya Boboho yang sering berperan sebagai jagoan dari Shaolin? Jadi biarkanlah Justin menikmati perannya sebagai jagoan di film ini, toh belum tentu ada sekuelnya melihat hasil peredarannya yang kurang memuaskan. Sekedar informasi Justin sebelumnya bermain sebagai anak Tom Cruise dalam War of the World.

Sebagai Master Roshi yang mata keranjang adalah Chou Yun Fat. Mungkin anda akan berkata, kok tidak terlalu mata keranjang bahkan terlihat bijaksana. Kalo hal ini saya agak setuju. Chou Yun Fat tidak terlalu pas memerankan Master Roshi. Malah sebaiknya sang produser , Stephen Chow yang cocok berperan sebagai Master yang konyol, tinggal dihias plontos dan agak tua. Mengenai karakter Bulma, Emmy Rossum cukup baik permainannya dan terlihat cantik dengan dandanannya. Mungkin yang agak menarik perhatian penonton adalah Jamie Chung sebagai Chi Chi. Kita lihat penampilan Jamie Chung berikutnya. Satu lagi yang menjadi pertanyaan saya sepanjang film adalah pemeran Mai, asistennya Piccolo. Siapa gadis ini? Setelah saya ingat-ingat ternyata dia adalah pemeran wanita yang digandrungi Hiro di serial Heroes ketika Hiro kembali ke masa lalu.

Saran saya pada anda jika ingin menonton film ini, simpanlah kenangan anda akan komik Dragon Ball di luar pintu bioskop dan tontonlah film ini tanpa memori indah tentang Dragon Ball. Dengan begitu anda akan lebih menikmati film ini. Film ini tidaklah buruk namun belum mencapai tahap yang cukup memuaskan sebagai transformasi dari komik ke layar lebar. Mudah-mudahan kasus ini menjadi bahan pembelajaran bagi para film maker yang ingin membuat Cowboy Bebop ke layar lebar.

Thursday, March 19, 2009

IP MAN (2008)

Genre : aksi - kungfu

Directed by : Wilson Yip

Produced by : Raymond Wong

Starring : Donnie Yen, Simon Yam, Siu Wong Fan, Hiroyuki Ikeuchi

Written by : Edmond Wong (screenplay)

Music by : Kenji Kawai

Cinematography : O Sing Pui

Edited by : Cheung Ka Fai

Running time : 108 minutes

Budget : HK$ 40 millions

Distributed by : MANDARIN FILMS DISTRIBUTION CO. LTD.

Setelah Fist of Legend-nya Jet Li jarang sekali menemukan film kungfu yang cukup bagus. Apalagi setelah hijrahnya Jet Li dan Jackie Chan ke Hollywood. Dan tampaknya tidak sulit untuk Donnie Yen 'menguasai' film kungfu di Hongkong. Banyak film yang dibintangi oleh Yen akhir-akhir ini. Misalnya Dragon Tiger Gate, SPL, Flash Point (kebetulan semuanya juga disutradarai oleh Wilson Yip), juga ada film silat klasik seperti Seven Swords, Painted Skin, An Empress and the Warriors. Sebenarnya gaya berkelahi masing-masing aktor kungfu ini berbeda. Seperti Jackie Chan lebih ke gerakan akrobatik dan komedi. Kalau Jet Li lebih ke stylish dan serius. Nah kalau Donnie Yen lebih ke gerak cepat dan praktis. Gaya Yen sebagai penata gaya membuat adegan aksi menjadi berbeda dalam film Blade 2 dan Highlander End Game.

Disini Yen berperan sebagai Yip Man seorang ahli bela diri Wing Chun asal Foshan. Awal film sangat 'ringan' atau bisa saya katakan sangat menyenangkan, menceritakan kisah sehari-hari Yip shifu yang hobinya mempelajari kungfu tapi sangat low profile. Anda akan menikmati seluruh adegan perkelahian di awal film yang sangat realistis tapi menakjubkan. Bahkan terlihat sangat nyata semua pukulan dan tendangan. Salut buat Sammo Hung yang jadi penata laganya. Inilah koreographi terbaik dari Sammo setelah Thunderbolt-nya Jackie Chan.

Namun ternyata bobot cerita yang menyenangkan berubah jadi 'berat' dengan datangnya tentara Jepang. Masih tersedia beberapa pertarungan yang menarik tapi jika ingin dibandingkan, tidak semenarik pada paro awal film.

Yang saya suka dari film ini dibandingkan dengan Fist of Legend adalah realita yang dihadapi oleh sang master kungfu ini. Betapa hebatnya kungfu seseorang toh bukan berarti dia menjadi pahlawan dengan kungfunya tapi hati dan jiwanya lah yang menentukan. Bahkan disini Yip harus bekerja demi memenuhi nafkahnya. Itu yang tidak saya temukan di Fist of Legend. Walaupun ini kisah nyata tapi saya dengar ada beberapa yang diubah supaya lebih filmis dan lebih menarik.

Kembali ke Donnie Yen. Yen mulai dikenal sejak diarahkan oleh Yen Ho Ping lewat film In the Line of Duty IV, main bersama Chyntia Khan. Di Indonesia lebih dikenal dengan judul Black Protector, dimana seri satu dan duanya diperani Michelle Yeoh. Lewat film ini pertarungan diperlihatkan secara detil dan begitu nyata. Pukulan dan tendangan yang dilancarkan begitu mengena pada sasarannya (diperlihatkan secara jelas). Dan yang saya suka adalah gaya kungfu minimalis yang diperagakan oleh Yen begitu mumpuni dan tidak mengada-ngada (sekali lagi terima kasih kepada Sammo Hung sang koreographer). Sejujurnya perfilman Hongkong memang sudah terkenal dengan film-film kungfunya yang legendaris bahkan akhirnya ditiru oleh Hollywood namun tetapi tidak bisa mengalahkan sumber daya manusia yang dimiliki oleh perfilman Hongkong. Dan Donnie Yen adalah salah satu asset berharga yang dimiliki oleh perfilman Hongkong.
Sebelum ini Yen pernah bekerja sama dengan Simon Yam dalam Tiger Cage dan SPL. Kali ini Yam berperan sebagai teman dekatnya Yip yang bernama Quan.

Donnie Yen sebenarnya pernah main film Hollywood selain Highlander dan Blade 2 yaitu Shanghai Knights, namun dia hanya jadi tokoh antagonis, lawannya Jackie Chan. Dan sebagai tambahan juga pernah melawan Jet Li dua kali dalam Hero dan Once Upon a Time in China 2 (Kungfu Master 2). Kita lihat bagaimana kiprah Yen di masa yang akan datang, karena saya menilai inilah salah satu film terbaiknya. Film ini mendapat 12 nominasi Hongkong Film Awards termasuk Best Picture, Best Actor dan Best Director. Dan kabarnya pun akan dibuat sekuel dari Ip Man.

Dan satu lagi yang perlu dicatat, penampilan Siu Wong Fan sebagai jago kungfu yang menantang seluruh pesilat di Foshan. Dia pernah bermain film Stone Age Warriors (Ekspedisi Harta Karun) yang mengambil lokasi suting di Irian Jaya. Film yang ditangani oleh Stanley Tong ini melibatkan pemain Indonesia seperti Advent Bangun dan juga aktris Hongkong Nina Li-Che (istrinya Jet Li yang sekarang)

Tuesday, March 10, 2009

THE DAY THE EARTH STOOD STILL (2008)

Genre : Drama Sci-fi

Directed by : Scott Derrickson

Produced by : Erwin Stoff, Paul Harris Boardman

Starring : Keanu Reeves, Jennifer Connelly, Jaden Smith, John Cleese, Kathy Bates

Written by : David Scarpa (screenplay), Harry Bates (story)

Music by : Tyler Bates

Cinematography : David Tattersall

Edited by : Wayne Wahrmann

Running time : 103 minutes

Budget : US$ 80 millions

Rated : PG-13 (for some sci-fi disaster images and violence)

Distributed by : 20TH CENTURY FOX, ALLIANCE FILMS

Hollywood membuat remake lagi. Kali ini yang dibuat ulang adalah The Day The Earth Stood Still yang diproduksi tahun 1951. Disutradarai oleh Robert Wise. Klaatu diperankan oleh Michael Rennie. Dan robot Gort diperankan oleh Lock Martin yang berkostum robot. Yang menjadi isu cerita adalah Perang Nuklir. Dalam versi terbarunya ini, yang menjadi isu permasalahan adalah pemanasan global dan berbagai ulah manusia dalam menghancurkan baik diri sendiri maupun lingkungannya. Saya belum menonton versi orisinilnya maka saya memberikan review ini terlepas dari film aslinya.

Film drama sci-fi ini bisa dikatakan serba tanggung. Dari segi ketegangan, adegan aksinya pun tidak terlalu luar biasa, motivasinya terlalu dipaksakan untuk masuk ke alur cerita walaupun sebenarnya ide cerita sangat menarik.

Sebelum ini Scott Derrickson pernah menggarap film horor cerdas yang berjudul The Exorcism of Emily Rose. Saya terpana dengan film horor tersebut. Scott berhasil menyatukan unsur logika dan religius dalam satu film dengan sangat menarik. Namun disini, Scott seperti kehilangan kepiawaiannya Adegan awal masih bisa dikatakan cukup mendebarkan meskipun Scott langsung ke inti cerita. Padahal momen ini bisa digunakan untuk meningkatkan ritme film. Penampilan robot raksasa Gort di awal keluarnya cukup meyakinkan. Namun sayangnya tidak banyak adegan aksi yang dilakukan Gort selain berubah menjadi serangga-serangga kecil yang bisa memakan semua benda termasuk lapangan football.

Keanu tidak beradegan aksi seperti dalam Speed dan Matrix trilogy. Disini dia memakai jas seperti dalam Johnny Mnemonic namun dengan penampilan lebih baik. Melihat bobot cerita seharusnya penampilan Keanu Reeves sebagai Klaatu bisa disejajarkan dengan Constantine. Namun sayangnya dilihat dari berbagai aspek film, Klaatu hanyalah sekadar alien yang bisa mengendalikan alat elektronik. Seperti ketika dia berbalik menginterogasi si operator poligraph. Sebuah adegan yang cukup lucu menurut saya.

Jennifer Connelly bermain cukup meyakinkan sebagai astrobiologis, Dr. Helen Benson. Tapi akting Connely seakan-akan terlihat biasa di film yang ‘biasa’ ini.

Jaden Smith bermain 'menyebalkan' sebagai anak tiri Helen. Tapi yang lebih menyebalkan buat saya, anak ini memiliki wajah manis yang tidak bisa berakting menyebalkan. Ditambah adegan harunya pun tidak membuat saya terbawa suasana.

Selain itu aktris Kathy Bates yang berperan sebagai Menhankam Regina Jackson, yang tugasnya alih-alih mengatur pertahanan, beliau malahan ‘membantu’ penonton dalam menyimpulkan apa yang sedang terjadi dengan kedatangan Klaatu. Maaf sekali, tapi Bates tidak sesuai memerankan seorang menteri pertahanan. Satu lagi yang mungkin tidak terperhatikan adalah Robert Knepper (salah satu pemain Prison Break) bermain tidak menyolok sebagai kolonel tentara pemimpin penyerangan terhadap Gort atau ribuan serangga. Juga ada Kyle Chandler (pemeran Gary dalam serial Early Edition) sebagai John Driscoll.

Sebenarnya banyak adegan yang menarik. Cuma porsinya tidak banyak sehingga mungkin tidak terperhatikan. Atau karena penonton mengharapkan adegan aksi spektakuler yang berbalut spesial efek canggih. Bukankah kebanyakan penonton awam berharap hal seperti itu dari sebuah film sci-fi. Walaupun film sci-fi yang bagus tidak selalu membutuhkan spesial efek canggih.

Salah satu adegan yang menarik, menurut saya adalah adegan di McDonald, bukan adegan dalam bahasa mandarin, tapi adegan dalam bahasa Inggris yang harusnya cukup memiliki makna yang signifikan. Juga adegan percakapan menarik antara Klaatu dengan Profesor Barnhardt (diperankan oleh John Cleese). Harusnya percakapan ini menjadi salah satu motivasi Klaatu dalam mencegah penghancuran manusia di bumi. Juga ketika Klaatu menanyakan tentang siapa pemimpin dunia. Bukankah ini sebuah sindiran yang tepat. Namun sayang sekali adegan-adegan bagus ini tercampur dengan adegan-adegan tanggung yang membuat nilai film dengan ide yang sangat pas untuk jaman sekarang menjadi berkurang. Sebenarnya penonton seharusnya diberi sedikit latar belakang kenapa bumi harus dihancurkan oleh Klaatu. Jika hal ini dilakukan maka penonton akan lebih ikut terlibat dan mungkin merasa ‘ikut bersalah’ terhadap bumi. Sayangnya hanya sedikit diperlihatkan ‘kejelekan’ manusia yang terekam oleh Klaatu lewat adegan di stasiun. Ditambah adegan pengungsian yang hanya terekam lewat televisi. Meskipun sebenarnya memang 'masalah' bumi sudah menjadi pengetahuan umum.

Dan sayang ending film pun dibuat tidak maksimal. Malih rupa robot Gort menjadi serangga-serangga kecil bisa memiliki dua arti. Serangga-serangga itu bergerak seperti wabah yang menyerang seluruh kota (seharusnya ditambah iringan musik yang menunjang). Adegan ini bisa membangkitkan rasa ngeri penonton. Namun juga hal ini membuat robot Gort yang berpenampilan 'polos' yang tampil menggetarkan di awal film, hanya sekedar bintang tamu.

Mungkin banyak persepsi yang salah diterima oleh penonton. Contohnya, judul The Day The Earth Stood Still itu bukan berarti Hari dimana Bumi masih bertahan tapi berarti hari dimana bumi berhenti ‘berputar’. Divisualisasikan dengan sekejap tanpa memiliki arti. Padahal ini momen utama dari film. Lalu ketika Regina menyimpulkan bahwa bola-bola energi itu adalah ark dan mengatakan bahwa yang timbul setelah the ark is the flood. Maksud Regina adalah bukan banjir tapi bencana yang akan menghancurkan bumi. Dan banyak yang mengatakan bahwa “Klaatu Barada Nikto” tidak diucapkan dalam film remake ini. Koreksi saya jika salah. Saya mendengarnya sesaat di awal film ketika Dr. Helen Benson terciprat darah karena Klaatu ditembak dan Gort hendak menyerang balik. Terdengarlah “Klaatu Barada Nikto” walaupun tidak terlalu jelas.