Friday, February 27, 2009

MILK (2008)

Genre : Drama Biography

Directed by : Gus Van Sant

Produced by : Dan Jinks, Bruce Cohen

Starring : Sean Penn, Emile Hirsch, Josh Brolin, Diego Luna, James Franco

Written by : Dustin Lance Black

Music by : Danny Elfman

Cinematography : Harris Savide

Edited by : Elliot Graham

Running time : 128 minutes

Budget : US$ 15 millions

Rated : R (for language, some sexual content and brief violence)

Distributed by : FOCUS FEATURE

Harvey Milk adalah seorang politikus Amerika pertama yang mengaku dirinya gay. Milk adalah anggota dari San Fransisco Board of Supervisors, sebelum dirinya ditembak oleh Dan White, mantan teman sejawatnya pada tahun 1978. Sebelum dibesut oleh Gus Van Sant, pernah ada film dokumenter tentang Harvey Milk yang berjudul The Times of Harvey Milk. Film dokumenter ini berhasil memenangkan Oscar tahun 1984.


Film ini mengisahkan kehidupan Harvey Milk di umurnya ke-40 sampai dia menjadi Supervisors dan memperjuangkan penghapusan Proposition 6, yang melarang guru gay atau lesbian mengajar di sekolah.


Yang patut diberikan acungan jempol adalah akting Sean Penn sebagai Milk. Totalitasnya dalam memerankan tokoh ini. Dari bahasa tubuh, cahaya matanya terutama gerakan tangan yang selalu bergerak dipadu dengan suara dan aksen yang memberikan kesan Penn adalah perwujudan dari Milk.


Milk bukanlah seorang pahlawan, dia hanya seorang rakyat jelata. Milk bangkit ketika ada kaumnya yang tertindas. Itupun bukan dengan cara kekerasan. Milk memiliki cara sendiri untuk membela golongannya yang minoritas. Lewat jalur politik. Dia pantang menyerah. Sudah tiga kali gagal terpilih, dia masih berusaha untuk berkampanye lagi dan akhirnya tercapailah posisi yang dia inginkan. Milk tidak mempunyai ambisi kekuasaan. Lihatlah cara dia berpidato, dengan nada suara yang kalem, tidak berapi-api bahkan ketika adu debat dengan salah seorang politikus, Milk selalu tersenyum tanpa memperlihatkan emosi marah ketika pihaknya diserang dan dihina. Hal ini disebabkan karena Milk membela hak kaumnya dengan hati nurani bukan dengan ambisi untuk menang. Tujuan utamanya adalah untuk mencapai sebuah kebenaran dan pengakuan akan kaumnya. Itulah yang membuat tokoh Harvey Milk ini begitu menginspirasi. Bahkan ada yang mengatakan kalau orang hitam punya Martin Luther King Jr, maka kaum gay punya Harvey Milk. Dengan kerendahan hatinya, dia berhasil menoreh suatu keberhasilan untuk kaumnya. Dan hebatnya Penn berhasil memerankan tokoh ini begitu pas dan wajarlah bila dia memenangkan Oscar sebagai aktor terbaik untuk film ini.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa karakter Penn di I am Sam lebih menyentuh tapi disini Van Sant memang tidak ingin membuat anda terharu dengan perjalanan hidup Milk. Van Sant lebih memfokuskan pada kegigihan Milk untuk memperjuangkan persamaan hak dan Van Sant ingin menceritakan sekelumit kehidupan pribadi Milk (kisah cintanya). Karena ini bukan kisah yang mengharu biru, Van Sant tidak ingin anda menangisi apa yang terjadi dengan Milk. Tapi tanamkanlah pandangan hidup Milk yang begitu rendah hati dan apa adanya di dalam pikiran anda atau mungkin hati anda. Dan Van Sant tidak mengagungkan Milk sebagai seorang pahlawan. Dia membiarkan penonton sendiri yang menilai.

Walaupun Josh Brolin yang dinominasikan sebagai aktor pembantu terbaik Oscar 2009. Saya lebih terpikat pada permainan James Franco sebagai Scott Smith. Kekasih Milk yang menemani di awal kampanye tapi memilih mundur ketika Milk menjadi sibuk dengan kampanyenya. Walaupun di akhir film, Milk sempat ingin kembali dengan Scott. Franco bermain apik sebagai sosok yang penuh kasih sayang, begitu lembutnya menatap Milk dan sebenarnya tetap memberi dukungan dari jauh. Penampilan yang sangat berbeda dari Franco. Penampilan sekilas dari Diego Luna sebagai kekasih Milk setelah Scott pun sempat menarik perhatian saya. Sebenarnya penampilan Josh yang berperan sebagai Dan White tidaklah jelek. Hanya saya tidak menangkap transformasi perubahan sikap Dan yang jelas terhadap Milk dalam film ini daripada hanya sekedar marah-marah terhadap Milk. Karena pada awalnya Dan sangat baik terhadap Milk bahkan mengundang Milk ke upacara pembaptisan puterinya. Padahal Dan White adalah tokoh kunci. Juga ada Emile Hirsch yang tampil berbeda. Bahkan saya tidak menyadari bahwa Cleve Jones itu diperankan oleh Hirsch. Dan satu lagi adalah penampilan Alison Pill yang tampil memikat sebagai manager kampanye Milk.

Gus Van Sant berhasil membuat sebuah film yang bagus dengan naskah pemenang Oscar yang ditulis oleh Dustin Lance Black. Dengan bantuan Harris Savide sang kameraman yang pernah ikut membuat Zodiac (filmnya David Fincher), yang bersetingkan San Fransisco pada tahun 70-an juga, Van Sant berhasil menangkap nuansa tahun 70-an dengan background gedung-gedung lama, mode pakaian dan bahkan cuplikan-cuplikan rekaman video dari jaman tersebut.
Ini bukanlah film gay. Walaupun terdapat beberapa adegan ciuman antar pria. ini film tentang persamaan hak. Ini juga bukan film politik, ini film tentang perjuangan seorang pria dalam menegakkan keadilan. Mungkin agak sedikit membosankan di awal tapi mulai menarik ketika Penn berhasil memenangkan hati para pendukungnya. Bahkan adegan akhir cukup mengharukan, meskipun mungkin banyak terdapat adegan sejenis ini di film-film lain tapi masih bisa membuat kita tersentuh (ditambah sedikit rekaman asli). Juga ada keheningan tersendiri dengan adegan dimana Penn sering merekam kata-katanya sendiri. Ditambah adegan penembakan yang cukup dramatis ditampilkan dengan slow motion. Well, mungkin film ini bukanlah film yang luar biasa tapi menonton kehidupan Harvey Milk mungkin bisa memberikan kita sesuatu hal yang positif.

Saturday, February 21, 2009

DOUBT

DOUBT (2008)


Genre : Drama Misteri

Directed by : John Patrick Shanley

Produced by : Scott Rudin

Starring : Meryl Streep, Philip Seymour Hoffman, Amy Adams, Viola Davis

Written by : John Patrick Shanley

Music by : Howard Shore

Cinematography : Roger Deakins

Edited by : Dylan Tichenor

Running time : 104 minutes

Budget : US$ 20 millions

Rated : PG-13 (for for thematic material)

Distributed by : Miramax



Berseting di tahun 1964. Di sebuah Gereja dan juga merupakan sekolah Katolik di Bronx, New York. Father Flynn memberikan khotbah tentang KERAGUAN. Malamnya Sister Aloysius mendiskusikan hal itu dengan sesama Sister lainnya. Dan salah satunya adalah Sister James. Sister Aloysius meminta semua rekannya untuk memperhatikan bila ada hal-hal ganjil yang terjadi di sekolah.


Kebetulan Sister James yang mengajar Sejarah memperhatikan Donald Miller, seorang putra altar dan kebetulan adalah satu-satunya murid berkulit hitam di sekolah itu, bertingkah laku aneh setelah dipanggil ke ruangan Father Flynn. Sister James menjadi curiga. Ditambah dia mendapati nafas Donald berbau alkohol. Kecurigaan Sister James bertambah ketika melihat Father Flynn menyimpan kaos putih di loker Donald.


Mendengar laporan Sister James, Sister Aloysius memanggil Father Flynn dan langsung mendakwanya melakukan ‘sesuatu’ terhadap Donald. Apakah benar Father Flynn melakukan ‘sesuatu’ terhadap Donald? Jika benar, bagaimana Sister Aloysius membuktikannya? Dan apa yang dilakukan Father Flynn untuk mengelak dari semua ini?

Mungkin banyak dari anda yang tidak mengenal sutradara film ini, John Patrick Shanley. Shanley pernah menyutradarai film duet pertamanya Tom Hanks dengan Meg Ryan yang berjudul Joe vs. The Volcano. Dan selebihnya Shanley memang lebih aktif menulis screenplay, seperti Moonstruck, Alive dan Congo. Bahkan mendapat Oscar dalam kategori Best Screenplay pada tahun 1988 untuk Moonstruck. Dan kini juga mendapat nominasi Oscar 2009 untuk kategori yang sama lewat film ini.

Aslinya Doubt adalah drama panggung yang memenangkan Pulitzer tahun 2005. Agak sulit sebenarnya mengadaptasikan ke film. Tapi Shanley berhasil melakukannya. Walaupun sudah berupa film tapi kalau diperhatikan masih terlihat nuansa drama panggungnya. Terlihat dari setingnya yang tidak banyak. Adegan hanya berkutat di dalam lingkungan sekolah. Dengan sudut-sudut pengambilan gambar sedemikian rupa sehingga menambah kemisteriusan yang menyelubungi konflik yang terjadi. Ditambah permainan kuat para aktor dan aktrisnya.

Meryl Streep seakan-akan sudah menghabiskan keceriaan dan kelincahannya di Mamma Mia. Disini Streep bermain sebagai Sister Aloysius yang tegas, kaku dan penuh disiplin juga bisa dibilang kolot. Luar biasa sekali permainan Streep disini. Tapi dibalik semua sikap dinginnya, Sister Aloysius sangat perhatian terhadap seniornya.


Philip Seymour Hoffman sebagai Father Flynn. Kualitas aktingnya sudah diakui dengan memenangkan aktor terbaik lewat film Capote. Hoffman juga dinominasikan untuk Aktor pembantu terbaik.


Sister James yang bingung menentukan berpihak kepada siapa dimainkan dengan ‘lugu’ oleh Amy Adams. Walaupun terlihat, Adams seperti kalah oleh Streep, tapi jangan salah sangka, hal itu terjadi karena karakternya di film ini yang menuntut demikian. Dan jika sampai anda berpikir demikian, maka berarti Adams berhasil memainkan perannya.


Last but not least, Viola Davis yang sebelumnya banyak bermain untuk porsi TV. Berhasil mengimbangi permainan Streep. Lihatlah permainan singkatnya yang meyakinkan sebagai ibu Donald Miller, Viola Davis dan Amy Adams sama-sama dinominasikan untuk aktris pembantu terbaik.


Ada beberapa adegan yang menarik perhatian saya disini. Pertama, adegan ‘pertempuran’ pertama antara Father Flynn dan Sister Aloysius dengan Sister James ditengah-tengah kecamuknya ‘perang’. Sebuah performa akting yang luar biasa dari mereka bertiga. Lihatlah ketangguhan akting Streep dalam memimpin dialog. Perhatikan juga perubahan mimik muka dan emosi Hoffman dalam menanggapi segala perkataan Streep. Dan tidak ketinggalan raut wajah Amy Adams yang bingung dan salah tingkah di tengah perdebatan antara Father Flynn dan Sister Aloysius.


Kedua, ketika Father Flynn berkhotbah tentang gossip. Saya suka visualisasi dari adegan ini.


Ketiga, percakapan antara Sister Aloysius dengan ibunya Donald Miller Banyak yang mengatakan Viola Davis patut diganjar Oscar untuk ini.


Dan adegan terakhir, yang juga merupakan adegan penentuan. Adegan pertarungan final antara Father Flynn dan Sister Aloysius.


Doubt sebuah judul yang singkat dan pas. Keraguan menyebar di benak para tokoh utamanya. Terutama Sister James yang terombang-ambing antara memihak Sister Aloysius atau Father Flynn. Mungkin karakter Sister James adalah yang paling mengena dengan penonton. Karena dia seperti wakil kita di film. Sister Aloysius yang begitu tegas pun akhirnya jatuh dalam keraguan. Dan saya yakin, anda pun akan ragu setelah menonton film ini. Apakah anda sudah tepat memilih film ini sebagai tontonan anda? Atau anda akan ragu dengan pemikiran anda tentang ending dari film ini?


Tapi saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa film ini adalah film yang bagus dengan naskah yang kuat ditambah penampilan akting yang cemerlang dari para pemainnya. Tapi saya pun ragu apakah anda berpikir seperti saya?

Tuesday, February 3, 2009

APPALOOSA

Genre : Crime Drama Western

Directed by : Ed Harris

Produced by : Ed Harris, Robert Knott

Starring : Ed Harris, Viggo Mortensen, Renee Zellweger, Jeremy Irons, Lance Henriksen

Written by : Ed Harris, Robert Knott

Music by : Jeff Beal

Cinematography : Dean Semler

Edited by : Kathryn Himoff
Running time : 115 minutes
Budget : US$ 20 millions
Rated : R (for violence and language)
Distributed by : New Line Cinema

Tahun 1882. Appaloosa adalah nama sebuah kota kecil di dekat New Mexico. Virgil Cole dan teman lamanya, Everett Hitch mendatangi Appaloosa karena diundang oleh petinggi kota untuk mengamankan kota dari gangguan gerombolan Randall Bragg. Pekerjaan mereka adalah penegak hukum sewaan.



Mereka memulai aksinya dengan menembak tiga anak buah Bragg yang membuat kekacauan di bar. Hal ini membuat Bragg mendatangi Virgil dan Everett. Dengan tenangnya Virgil menghadapi Bragg. Untuk sementara kota tenang.
Kemudian datanglah Allison French yang lebih senang dipanggil Allie. Virgil jatuh cinta pada Allie. Sampai berniat membeli rumah di Appaloosa. Lalu muncul lagi seorang anak buah Bragg yang bersedia memberikan kesaksian tentang pembunuhan yang dilakukan Bragg. Bagaimana cara Virgil menghadapi gerombolan Bragg? Menurut kabar burung, Bragg mempunyai koneksi dengan presiden Amerika saat itu. Ditambah datangnya dua bersaudara Shelton yang menurut Virgil mempunyai kemampuan menembak yang hebat.

Setelah Pollock, Ed Harris kembali menduduki kursi sutradara. Ed ikut menulis naskah bersama Robert Knott berdasarkan novel karangan Robert B. Parker. Dan film ini tidak ada hubungannya dengan film western-nya Marlon Brando yang juga berjudul sama.

Ed pun ikut bermain sebagai Virgil Cole yang berpenampilan cool dengan dialog-dialognya yang padat, singkat tapi mengena. Ed mengajak teman mainnya Viggo Mortensen dalam A History of Violence, menjadi deputinya Everett Hitch. Yang hendak bermain menjadi Allie tadinya adalah Diane Lane namun karena suatu hal digantikan oleh Renee Zellweger. Sedangkan aktor watak Jeremy Irons berperan sebagai bajingan Bragg. Lalu ada penampilan dari Lance Henriksen sebagai salah satu Shelton bersaudara.

Ed berhasil membuat sebuah film yang pintar di bagian awal. Adegan demi adegan dipenuhi dialog-dialog yang pandai terutama percakapan antara Virgil dan Everett, juga pertemuan antara Virgil dan Bragg pertama kali. Namun seiring dengan panasnya gurun pasir yang sering divisualisasikan oleh Dean Semler dengan angle yang jauh. Semua itu menguap di paro kedua film. Virgil tidak terlihat tangguh dan cerdas lagi. Beruntunglah Everett masih disisinya. Apakah Ed ingin memperlihatkan perubahan yang dialami oleh seorang pria bila ia sedang jatuh cinta? Menjadi bodoh dan hilang akal sehatnya.

Ed Harris berhasil memainkan peran Virgil dengan baik. Bahasa tubuhnya bisa berbicara banyak. Pandangan matanya tajam. Namun lihat betapa salah tingkahnya Virgil setiap kali dia berhadapan dengan Allie. Itulah yang terjadi jika pria jatuh cinta. Sedangkan Renee Zellweger, tidak ada yang salah dengan permainan Renee disini. Tapi jangan samakan dengan aktingnya di film Cold Mountain. Renee bermain baik tapi saya tidak menyalahkan anda bila nantinya anda membenci karakter Allie di film ini. Jeremy Irons agak sedikit ganjil dalam perannya sebagai Bragg. Yang pertama adalah aksen Inggrisnya. Tapi yang paling membingungkan adalah sang sutradara tidak menjelaskan kepada penonton bagaimana transformasi Bragg menjadi seseorang dengan karakter yang berbeda. Seakan-akan Bragg berkepribadian ganda. Saya tekankan ini bukan salah Irons. Aktingnya memang menyebalkan di film ini. Tapi dia bermain baik. Diluar semua ini, adalah penampilan Viggo Mortensen yang menurut saya sangat menarik. Sedikit bicara. Dengan gayanya yang diam (kaku) dan hanya memperhatikan sekelilingnya, kita sudah bisa melihat isi pikirannya. That’s brilian. Sejujurnya karakter Everett yang membuat saya bertahan menonton film ini. Saya penasaran dengan apa yang akan dia lakukan sepanjang film.

Selayaknya film Western, mungkin anda mengharapkan adegan tembak-tembakan antara para koboi jagoan di film ini, kejar-kejaran seru sambil naik kuda, ledakan-ledakan dahsyat. Jika demikian maka anda akan kecewa. Film ini adalah film tentang cinta. Bukan kisah cinta antara Allie dan Virgil. Banyak yang mengatakan bahwa kisah cinta sebenarnya di film ini adalah antara Virgil dan Everett. Lupakan Brokeback Mountain. Lihat bagaimana Virgil dan Everett saling mempercayai satu dengan yang lain di atas segalanya. Everett selalu mendukung Virgil apapun yang terjadi. Everett selalu mengetahui apa yang diinginkan Virgil bahkan Everett sering membantu dengan kata-kata sulit yang ingin dikatakan Virgil (adegan penyegar dalam film ini). Adegan-adegan yang menarik dalam film ini boleh luntur di bagian akhir film ini tapi karakter Everett tidak pernah luntur. Jika mungkin awal film adalah tentang Virgil tapi saya berani mengatakan bahwa akhir film adalah tentang Everett.