Saturday, August 30, 2008

WANTED

Film diawali dengan, pengenalan tokoh utama kita, Wesley Allan Gibson (James McAvoy) yang menceritakan rutinitas kehidupannya yang membosankan. Tentang pekerjaannya, atasannya, kekasihnya yang selingkuh dengan teman baiknya. Lalu cerita beralih kepada seorang pembunuh bayaran, Mr. X (David Ohara), yang harus melompat antar gedung (seperti Neo di The Matrix) lalu dengan cekatan membunuh empat orang pembunuh lain dimana dia membunuh salah satunya yang bersembunyi di belakang tembok dengan membengkokan arah peluru. Tapi setelah itu Mr. X mendapat telepon dari seseorang yang kemudian membunuh Mr. X dengan senapan jarak jauh.

Kembali kepada kesibukan Gibson. Ketika dia sedang mengambil obat stresnya di supermarket. Dia bertemu Fox (Angelina Jolie), yang mengaku mengenal ayahnya dan mengatakan bahwa ayahnya terbunuh kemaren. Lalu Fox melihat seseorang dan mengatakan kepada Gibson bahwa orang itulah yang telah membunuh ayahnya. Lalu terjadi tembak-menembak di supermarket, dilanjutkan dengan kejar-kejaran mobil di jalan raya. Disini ada adegan aksi yang keren, ketika Fox harus keluar mobil dan hampir kepalanya terserempet bis, lalu ada Fox mengendalikan mobilnya hingga mobilnya salto di atas kepungan mobil polisi dan menabrak bis hingga bisnya terbalik lalu melarikan diri dari pengejarnya dan para polisi. Sebuah adegan aksi yang spektakuler.
Ketika tersadar, Gibson berada di sebuah bangunan. Disini Gibson berkenalan dengan Sloan (Morgan Freeman) dan pembunuh-pembunuh lainnya selain Fox. Mereka tergabung dalam kelompok The Fraternity. Sloan mengajak Gibson untuk masuk ke Fraternity untuk membalaskan dendam ayahnya yang terbunuh. Sloan mengatakan bahwa Gibson mempunyai kemampuan yang langka seperti almarhum ayahnya. Gibson menolak tawaran itu.
Gibson terbangun keesokan harinya. Dia merasa peristiwa kemaren adalah mimpinya yang aneh. Tapi ternyata pistolnya yang dia gunakan kemaren untuk menembak sayap lalat terjatuh dari bajunya, lalu rekening banknya bertambah sesuai perkataan Sloan. Lalu dia melihat berita tentang penembakan ayahnya di atas gedung. Terdorong oleh sindiran bosnya Janice (Lorna Scott). Emosi Gibson tidak bisa dibendung lagi. Dia melampiaskan kemarahannya pada Janice dan memukulkan keyboard komputernya ke wajah teman baiknya. Gibson merasa seperti orang yang baru.
Diantar oleh Fox ke markas Fraternity yang terselubung oleh pabrik tekstil. Disini Gibson mengalami latihan-latihan yang sangat brutal sampai akhirnya dia mampu membelokkan peluru (curve the bullet).
Tibalah tugas pertama untuk Gibson lalu diikuti tugas kedua. Sampai suatu ketika, Gibson melewati apartemennya yang dulu untuk mengambil pistol ayahnya. Gibson bertemu dengan Cross, mengejarnya sambil baku tembak. Namun sialnya, tanpa sengaja Gibson menembak The Pharmacist hingga tewas.
Melalui peluru yang ditembakkan Cross yang mengenai lengan Gibson, Gibson menelusuri asal peluru itu. Muncullah nama Pekwarsky (Terence Stamp), pembuat peluru unik itu. Gibson memaksa Pekwarsky dengan todongan pistol untuk mengatakan dimana Cross berada. Pekwarsky hanya bisa mengadakan pertemuan di sebuah stasiun kereta. Ketika mengejar Pekwarsky yang berusaha melarikan diri, Gibson melihat sekilas bahwa Cross berada di dalam kereta. Sebelum kereta berangkat, Gibson sempat masuk ke dalam kereta. Sedangkan Fox mengejar kereta tersebut dengan mobil rampasan. Melihat Gibson sedang bertarung dengan Cross, Fox menghantamkan mobilnya ke badan kereta sehingga jebol dindingnya. Hal ini menyebabkan kereta terguling di sebuah jembatan yang tinggi dan gerbong kereta terguling satu demi satu ke bawah jurang. Disinilah Gibson mengetahui siapa dia sebenarnya. Apakah yang terjadi selanjutnya dan bagaimana akhir dari film ini? Lebih baik tonton film ini. Dijamin cukup menghibur dan anda akan disuguhkan dengan adegan-adegan aksi yang fantastis walaupun agak impossible.

COMMENT
Bravo buat Timur Bekmambetov. Sutradara asal Rusia ini sukses dengan film Night Watch dan Day Watch. Sebenarnya film tentang pembunuh bayaran sudah umum di Hollywood, tapi dengan imajinasi Timur yang luar biasa, membuat film ini jadi penuh dengan adegan aksi fantastis. Walaupun terlihat tidak mungkin tapi yah namanya film yang diambil dari komik…apapun bisa terjadi. Kita nikmati saja filmnya tanpa perlu berpikir keras.
Satu lagi yang menarik hati saya. Muncul istilah baru dalam dunia perfilman, yaitu Curve The Bullet (membelokkan peluru). Dimana peluru ditembakkan sehingga arahnya bisa membelok. Suatu hal baru dalam dunia perfilman dunia. Chou Yun Fat pun tidak bisa berbuat hal itu dalam film-filmnya John Woo.
Para pemerannya pun cukup terkenal seperti Morgan Freeman, Angelina Jolie, Terence Stamp. Walaupun Morgan Freeman dan Angelina Jolie berakting sangat standar dalam film ini (bukannya jelek). Mungkin nama-nama tenar itu bertujuan untuk menarik minat para penonton untuk menonton film ini. Malahan pemeran utamanya belum terlalu dikenal di Indonesia. James McAvoy pernah bermain dengan Forest Whitaker dalam The Last King of Scotland. Atau mungkin anda tidak menyadarinya, James McAvoy juga bermain sebagai Mr. Tumnus (si kaki kambing) dalam film The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch and The Wardrobe.

BEST SCENE
Menurut saya adegan terbaik adalah adegan kereta api. Angelina Jolie menabrakkan mobilnya ke kereta. Gerbong-gerbong kereta jatuh satu persatu ke jurang. Adegan tembak-tembakan di dalam kereta. Juga adegan dimana Gibson menembak kaca kereta untuk melarikan diri dari Fox. Hampir semuanya dilakukan dengan adegan slow motion. Menakjubkan.
Lalu satu adegan yang tidak kalah menarik adalah adegan di akhir film ketika Gibson berlari menyerbu masuk sambil menembaki para pembunuh yang ada (dalam slow motion lagi). Sebuah adegan aksi yang keren banget, menurut saya.

Akhir kata saya memberi dua bintang untuk film ini. Satu bintang untuk Timur Bekmambetov dalam menyuguhkan adegan aksi yang memukau. Sebuah cara yang hebat untuk menerobos Hollywood. Congratulations. Satu lagi saya bagi untuk adegan kereta, adegan akhir dan untuk istilah CURVE THE BULLET.

Wednesday, August 20, 2008

THE HAPPENING

8:33 am, CENTRAL PERK, NEW YORK CITY

Film dimulai dengan dua orang wanita yang sedang duduk di bangku taman, lalu salah seorang wanita melihat para pengunjung Central Perk seperti terdiam dan memandang sesuatu. Lalu terdengar jeritan di kiri kanan mereka sampai akhirnya teman sebangkunya mencabut konde rambutnya dan menusuk lehernya dengan benda itu.

8:59 am, THREE BLOCKS FROM CENTRAL PERK.

Para pekerja bangunan sedang bersenda gurau ketika salah seorang teman mereka jatuh dari ketinggian, disusul oleh teman-teman mereka yang lain. Dan akhirnya semua yang sedang bekerja di atas beramai-ramai menerjunkan diri ke bawah.


9:45 am, PHILADELPHIA HIGH SCHOOL
Elliot Moore (Mark Wahlberg), seorang guru science sedang mengajar ketika Kepala Sekolah memanggilnya untuk berkumpul di aula dimana para guru lain sedang berkumpul. Dilaporkan bahwa terjadi serangan teroris di New York. Para murid-murid disuruh pulang ke rumah sampai pemberitahuan berikutnya.



Julian (John Leguizamo) teman kerja Elliot mengajak Elliot beserta istrinya Alma Moore (Zooey Deschanel), untuk pergi keluar kota naik kereta. Elliot memberitahu bahwa dia dan Elma sedang bertengkar tapi dia setuju untuk ikut pergi ke luar kota. Tapi ternyata istri Julian tidak bisa ikut karena terhalang sesuatu dan akan menyusul dengan kereta berikutnya. Yang ikut hanya anaknya Julian yang bernama Jess (Ashlyn Sanchez).

11:31 AM, RITTENHOUSE PARK, PHILADELPHIA
Seorang polisi bertanya kepada seorang supir taksi yang terjebak kemacetan tentang cuaca hari ini. Lalu sang polisi menembak kepalanya sendiri lalu diikuti oleh supir taksi dengan memakai pistol sang polisi dan diikuti lagi seorang wanita yang berada di dekatnya.


Untungnya Elliot berempat sudah meninggalkan Philadelphia. Di dalam kereta, Alma ditelpon oleh Joey, seorang teman yang pernah berkencan dengannya. Dari Joey, Alma tahu bahwa Philadelphia sudah diserang wabah menakutkan itu. Kebetulan istri Julian sudah meninggalkan Philadelphia menuju Princeton.

Ditengah perjalanan, kereta terpaksa berhenti di sebuah kota kecil Filbert, Pensylvania. Ketika Elliot bertanya kepada petugas kereta. Petugas kereta menginformasikan bahwa mereka kehilangan kontak dengan siapapun. Di sebuah restoran lokal, Elliot melihat berita bahwa ini bukan serangan teroris melainkan gejala alam yang misterius. Wabah ini menyerang bagian timur Benua Amerika dan Filbert berada di area tersebut. Beruntung Elliot mendapat tumpangan mobil dari penduduk lokal. Sedangkan Julian ingin mencari istrinya di Princeton. Dengan terpaksa Julian meninggalkan anaknya Jess bersama Elliot dan Alma.

Namun malangnya ditengah perjalanan menuju Princeton yang ternyata sudah terjangkit wabah itu, mobil yang ditumpangi Julian, ada sebuah lubang di tingkapnya. Dengan kecepatan yang cepat, mobil itu ditabrakan oleh supirnya ke arah pohon besar sehingga supirnya terpental ke depan.

Elliot bertiga menumpang mobil sepasang suami istri. Mereka berpapasan dengan banyak orang di sebuah persimpangan. Sang suami, menyatakan teorinya bahwa wabah ini mungkin disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh tumbuhan. Setelah berdiskusi, akhirnya rombongan yang berkumpul itu setuju untuk berpisah menjadi dua kelompok. Elliot bertiga berpisah dengan pasangan suami istri itu. Dalam perjalanan mereka, Alma mengaku bahwa ia membohongi Elliot. Alma pernah berkencan dengan seorang pria bernama Joey. Lalu rombongan Elliot mendengar bunyi tembakan berkali-kali yang ternyata berasal dari kelompok yang satunya lagi. Elliot berpikir keras, mengapa hal ini bisa terjadi. Lalu dia menyimpulkan bahwa kelompok mereka harus diperkecil. Lalu mereka berpencar sambil berlarian ketika angin menerpa mereka.
Kini kelompok Elliot menjadi berlima ditambah dua anak remaja. Di tengah-tengah perjalanan mereka, Elliot berhenti di sebuah rumah untuk meminta sedikit makanan. Ternyata pemilik rumah merasa terancam dan menembaki mereka sehingga dua anak remaja itu tewas seketika. Elliot harus berlari lagi, sampai mereka menemukan sebuah rumah dengan seorang wanita tua yang tinggal disana. Walaupun terlihat agak aneh, wanita tua itu memberikan makan malam dan mengijinkan mereka menginap untuk semalam. Saat makan malam, wanita tua itu menceritakan tentang sebuah rumah di belangkang rumahnya. Keajaibannya, apabila ada seseorang di rumah itu, kita bisa berbicara dengannya seakan-akan dia berada di ruangan yang sama.
Keesokan harinya ketika Elliot terbangun, dia tidak menemukan Alma dan Jess, malah dia menyebabkan wanita tua itu marah dan ketika wanita tua itu keluar. Elliot melihat bahwa wanita itu terkena wabah yang sama. Dan wanita tua itu membenturkan kepalanya ke jendela sampai pecah. Elliot berlari mencari tempat tertutup supaya terhindar dari toksin. Sampailah dia di sebuah gudang tertutup, lalu dia mendengar suara Alma dan Jess yang ternyata mereka sedang bermain di rumah belakang tapi suara mereka bisa terdengar seakan-akan mereka berada di ruangan yang sama.
Ternyata angin bertiup semakin kencang. Inilah tanda bahwa toksin sedang bekerja mencari mangsa. Namun karena merasa diakhir hidupnya, dan Elliot tidak ingin berpisah dengan Alma, maka Elliot nekad keluar untuk menemui Alma di rumah seberang.

COMMENT
M. Night Shyamalan, nama yang menjadi tersohor setelah filmnya The Sixth Sense mengejutkan dunia dengan endingnya yang sangat-sangat tidak terduga. Dilanjutkan oleh Unbreakable, The Signs, lalu The Village sampai yang terakhir Lady in The Water, yang tampaknya M. Night Shyamalan mulai menghilangkan ciri khasnya dengan twisted ending.
Sebenarnya idenya sendiri bagus, mengenai toksin yang dikeluarkan oleh tumbuhan yang menyebabkan jaringan syaraf manusia terganggu sehingga cenderung untuk melukai diri sendiri. Namun mungkin karena kita terbiasa dengan ciri khas Shyamalan (twist ending), maka mungkin menyebabkan kita mencap film ini jelek atau biasa-biasa saja.
Plus barisan yang tidak terlalu terkenal kecuali Mark Wahlberg, maka film ini tidak bisa berbuat banyak. Dengan bujet 60 juta dolar, film ini sudah balik modal di Amerika sana, dengan pendapatan sedikit diatas 60 juta dolar plus pendapatan di seluruh dunia. Namun tidak sesukses film-film sebelumnya kecuali Lady in The Water. Mungkin sebaiknya untuk film selanjutnya, Shyamalan tidak membuat film dengan bujet yang besar. Cukup dengan bujet yang kecil tapi dengan ide cerita yang luar biasa.
Adegan terbaik menurut Bang Mupi adalah ketika mandor bangunan melihat rekan-rekannya terjun dari ketinggian gedung. Sebuah pemandangan mengenaskan.
Akhir kata, Bang Mupi hanya memberikan satu bintang untuk film ini. Satu bintang itu untuk M. Night Shyamalan atas ide ceritanya tentang toksin yang dikeluarkan oleh tumbuh-tumbuhan. Mungkin Shyamalan ingin mengajak kita untuk lebih memperhatikan lingkungan. SAVE OUR EARTH.